Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke ‘Lain Hati’

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 20 Sep 2013
  • print Cetak

Pria kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan.

Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman.

Beranjak dewasa, Johnson pindah ke Kairo, Mesir bersama kedua orang tuanya dan masuk ke sebuah sekolah menengah. Johnson mengaku tidak merasakan kesulitan dalam mendapatkan teman ketika orang tahu ia adalah warga Amerika yang tinggal di Kairo.

“Teman-teman di Kairo adalah orang yang kaya intelektual tentang islam, jadi saya banyak bertanya tentang islam pada mereka, meskipun saya belum benar-benar paham” katanya.

Saat usianya menginjak 18 tahun, Johnson pindah ke Amerika Serikat, tepatnya di Columbus, Ohio. Masuk masa kuliah di universitas bernama Franklin University, Johnson muda semakin mantap untuk belajar agama islam. Ia mulai menggali keingin tahuannya tentang tata cara beribadah seperti shalat, puasa bahkan mengaji dan mempraktikkannya.

Johnson sering diajak melakukan shalat dan puasa bersama orang tuanya. Meskipun ia belum terbiasa, ia menuturkan merasa senang bisa berbuka puasa bersama keluarga kecilnya di Amerika.

Ia masih mengingat puasa pertamanya sangat berat. Ramadhan di Amerika biasanya jatuh pada musim panas yang artinya waktu imsak datang lebih awal dan siang hari lebih panjang. Ia mengaku, ia dan keluarganya sering berbuka puasa di masjid An-Nur, yang tak jauh dari rumahnya.

“Pengalaman buka puasa pertama saya, adalah di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, disana saya makan rendang dan masakan Indonesia lainnya” ujarnya sambil mengenang masa kuliahnya.

Johnson tidak mendapatkan mata pelajaran agama ketika ia kecil. Kondisi itulah yang membuat ibunya mendaftarkan Johnson untuk ikut sekolah agama di sebuah masjid bernama An-Nur, tak jauh dari rumahnya di Ohio.

Ketika ia menjadi seorang mahasiswa, ia belajar ilmu Teologi dan sering ikut sebagai relawan dalam sebuah komunitas. Ia juga sering mengikuti berbagai kegiatan hiburan yang bertujuan untuk amal seperti ‘Fund Raise’ yang bertujuan menghimpun dana untuk pembangunan masjid di kampusnya. Tak jarang ia membantu pengalokasian zakat bersama mahasiswa muslim lainnya yang tergabung dalam MSA (Moslem Social Association).

Tumbuh menjadi muslim yang semakin taat di Amerika Serikat, Johnson mengaku pernah merasakan diskriminasi. Meski ia enggan menjelaskan detail perlakuan diskriminatif seperti apa yang ia alami. Menurutnya, diskriminasi bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Ia percaya, bahwa orang yang melanggar hukum pasti dikenakan sanksi suatu saat.

Pada tahun 2000, Johnson bertemu Eka, wanita menjadi istrinya. Mereka bertemu ketika masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Johnson menikah pada tahun itu pula. Saat prosesi ijab kabul di AS, hanya ibu mertuanya yang datang ke Seattle.

Eka adalah wanita asli Indonesia yang berasal dari Bandar Lampung. Tiga tahun berselang, Johnson pergi ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dengan maksud dan tujuan menemui keluarga besar Eka, ia sekaligus menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Dalam pesta itu, Johnson mengaku terkesan dengan baju adat yang dikenakannya.

Johnson dan Eka kini dikarunia tiga orang anak yang diberi nama Maimuna Johnson (12 tahun), Omar Johnson (8 tahun) dan Maryam Johnson (2 tahun).

Empat tahun berselang, Johnson akhirnya mendapat kesempatan berkunjung ke tanah suci. Saat itu ia mendapat undangan dari Yayasan Chaplin–sebuah yayasan yang bekerja untuk negara–untuk mendampingi narapidana muslim melakukan ibadah Umrah di Arab Saudi.

Johnson mengaku terkesan dengan perjalanannya. Ia menuturkan menjumpai hal-hal spiritual luar biasa yang semakin menambah keyakinannya tentang islam.

Baru setahun Johnson tinggal di Indonesia, Johnson tertarik untuk mempresentasikan muslim di Amerika pada muslim di Indonesia. Ia merasa harus meluruskan miskonsepsi yang dirasa selama ini menjadi jarak antara rakyat Indonesia dan rakyat Amerika.

Ketika ditanya tentang kenyamanan tempat tinggal, ia memilih Seattle sebagai kota yang ingin ia tuju untuk menjalani kehidupannya. Meski begitu, ia merasa kesempatannya ada di Jakarta sangat berharga. “Saya suka suasana Jakarta, hanya saja macet terkadang membuat saya sedikit kesal.. Tapi saya merasa banyak mendapat pengalaman di Jakarta” katanya.

Hingga kini, Johnson tidak pernah berpikir untuk pindah ke agama lain. Menurut dia, agama adalah sebuah pilihan yang lahir dari keyakinan. Ia mengaku, iman terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai nabi terakhirlah, yang membuatnya masih memeluk agama islam.

“Saya percaya, bahwa keyakinan tersebut ada di dalam diri saya. Dan selama saya masih yakin, saya ingin menjalankannya..” Katanya sambil menutup perbincangan dengan tersenyum.(republika.co.id)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Efek Bahaya Melihat Langsung Gerhana Matahari

    Efek Bahaya Melihat Langsung Gerhana Matahari

    • calendar_month Selasa, 8 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masyarakat wajib berhati-hati saat melihat Gerhana Matahari Total (GMT) besok, Rabu 9 Maret 2016. Masyarakat diimbau tidak menggunakan mata telanjang saat melihat gerhana. Sebab efek samping yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi mata. Menurut Dokter Spesialis Mata Bayu Sasangko melihat langsung Gerhana Matahari dapat menimbulkan beberapa efek kerusakan pada mata yang disebut solar eclips retinopathy. Gejalanya, […]

  • Sigale-gale akan tampil di depan SBY

    Sigale-gale akan tampil di depan SBY

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Tarian khas Sumatera Utara Sigale-gale akan ditampilkan pada hari ulang tahun kemerdekaan RI di Istana Merdeka pada 17 Agustus mendatang. Tarian ini akan dibawakan 53 penari asal Sumut. Para penari ini terdiri dari siswa SMAN 2 Soposurung Balige dan Sanggar Tari Soposurung. Dalam sambutannya saat pelepasan tim penari di Aula Martabe Kantor Gubernur […]

  • Pencairan Dana Sertifikasi Guru Madina Tuntas Pekan Ini

    • calendar_month Selasa, 17 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 6Komentar

    PANYABUNGAN, – Dalam wawancara live by phone dengan Madina Prima FM 95,1 pada Program Pemberitaan “Madina Episentrum” Senin kemarin dengan Kepala Dinas Pendidikan Madina, Drs H Imron Lubis MM, terungkap bahwa pencairan dana sertifikasi guru madina untuk tiga bulan pertama dan kedua akan tuntas dalam seminggu ini. Tetapi, Imron Lubis belum dapat menggambarkan waktu pencairan […]

  • 2 Otak Kerusuhan Madina, Ketangkap Di Jakarta

    2 Otak Kerusuhan Madina, Ketangkap Di Jakarta

    • calendar_month Minggu, 15 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Petugas reskrim Polda Sumatera Utara dipimpin Kompol Andry Setiawan dan AKP Syafrijal berhasil meringkus dua orang diduga kuat sebagai otak pelaku terjadinya kerusuhan di Madina. Kedua tersangka diamankan petugas dari lokasi persembunyian mereka di daerah Jakarta. Informasi berhasil dihimpun wartawan, Jum’at (13/1) , para tersangka berhasil yang diamankan petugas masing-masing, Drs. H. Izuddin Marzuki […]

  • Meski Dalam Suasana Bencana, Tambang Emas Ilegal di Desa Rantobi terus Beroperasi

    Meski Dalam Suasana Bencana, Tambang Emas Ilegal di Desa Rantobi terus Beroperasi

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Batangnatal ( Mandailing Online ): Disaat warga masih berduka akibat banjir dan tanah longsor yang menimpa Kecamatan Batang Natal, Batahan, Natal dan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) yang diduga selain faktor hujan juga akibat aktifitas tambang emas ilegal. Para pelaku tambang masih saja tidak perduli. Mereka tetap melakukan aktifitas penambangan seperti […]

  • Trenggiling diburu bahan sabu-sabu

    Trenggiling diburu bahan sabu-sabu

    • calendar_month Senin, 4 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, (MO)  – Kepala Balai Besar Sumber Daya Alam  (BBKSDA) Provinsi Sumut Istanto menjelaskan bahwa populasi Trenggiling yang paling banyak dapat ditemui di hutan Leuser. Bahkan, jumlahnya pun belum sempat dihitung. Istanto menyebutkan, selain berkahasiat untuk kosmetik dan bahan baku narkoba jenis  sabu-sabu, kenikmatan daging Trenggiling dan nilai jualnya yang tinggi menjadikan Trenggiling kerap diincar […]

expand_less