Minggu, 25 Okt 2026
light_mode

MANDAILING BUKAN BATAK

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 23 Okt 2014
  • print Cetak

 

Pada “Konvensyen Sejarah dan Budaya Negeri Perak Darul Ridzuan” di Dewan Jubli, Politeknik Ungku Omar, Ipoh, Perak, Malaysia, 29 September 2001 lalu, sejarawan Malaysia Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa Mandailing bukan Batak.

Dalam makalah bertajuk “Sejarah kedatangan orang-orang Mandailing ke semenanjung tanah Melayu”, Mohamed Azli Bin Mohamed Azizi mengatakan bahwa pendapat tersebut telah didukung oleh sarjana Belanda, Jerman dan Indonesia. Mereka adalah Prof. Dr. G.A. Wilken Hoogleeraar Van Het Rijks dari Universitas Leiden, Dr. Van Deur Tuk, dan Dr. Jughun. Pendapat mereka didukung pula oleh Abdullah Lubis, Mangaraja Ihutan, Dada Muraxa, Pangaduan Lubis, dan Arbain Lubis.

Puncak kekeliruan mengenai “Mandailing bukan Batak” telah tercetus dari satu peristiwa pada tahun 1922 di Kayu Laut, Mandailing. Dalam peristiwa tersebut seorang kepala sekolah HIS bernama Todung Gunung Mulia yang bersekongkol dengan seorang kolonial tentara Belanda dari Sibolga untuk menguatkan orang Mandailing itu sebagai satu rumpun dengan orang Batak demi kepentingan agama dan politik serta pentadbiran (mengelola pemerintahan) bagi penjajah Belanda.

Usaha Todung dan kolonial Belanda tersebut berhasil mendapatkan tanda tangan 14 orang kepala Kuria di Mandailing (yang dari mulanya dilantik sebagai kepala Kuria oleh pihak pentadbiran Belanda) diatas surat pengakuan bahwa Mandailing itu adalah sebagian dari daerah Batak.

Pengakuan tersebut telah membawa arti bahwa tanah Mandailing tergolong dalam daerah tanah Batak dan dengan kemiripan budaya antara kedua etnik itu, maka Mandailing dengan mudah dikategorikan sebagai yang berasal dari suku Batak.

Dalam peristiwa ini, orang- orang Batak yang beragama Kristen sangat disenangi oleh Belanda, sehingga tercetuslah hasrat mereka untuk menonjolkan etnik Batak sebagai ibu rumpun bagi kaum-kaum yang mempunyai persamaan dalam beberapa aspek budaya di Sumatra Utara yang meliputi daerah Tapanuli Selatan, yaitu Mandailing.

Kenyataan ini juga seakan-akan menggambarkan missionaris Kristen telah berjaya mengkristenkan daerah Tapanuli lebih dari 60% penduduknya, padahal mereka gagal di Tapanuli Selatan dan Mandailing. Jika benar Mandailing itu Batak, kenapa perlu ada satu pengakuan (1922) di Kayu Laut sebagai pengakuan Mandailing bagian dari rumpun Batak?

 

AGENDA TERSELUBUNG

Jelas sekali Todung, missionaris Kristen, dan kolonial Belanda dari Sibolga itu mempunyai agenda terselubung untuk menjadikan daerah Mandailing sebagai daerah Batak sekaligus menjadikan Mandailing sebagai rumpun Batak yang kebanyakan telah menjadi Kristen.

Peristiwa ini  (yang merupakan satu penipuan oleh kaum Batak dengan Belanda) telah ditentang habis-habisan oleh masyarakat Mandailing hingga kemuka pengadilan Mahkamah Tinggi di Folks Road, Batavia pada tahun 1922. Seorang ahli antropologi yang sangat disegani, H. Van Wageningen dari Holland, telah memberi ulasan di Mahkamah mengenai bantahan orang-orang Mandailing itu.

Peristiwa penipuan Batak/ Belanda ini juga dikenal sebagai “Batak Maninggoring” dan telah berakhir dengan keputusan pengadilan di Folks Road yang menyatakan dengan jelas bahwa Mandailing asalnya bukan Batak dan bukan pula bagian dari daerah Batak, dan tidak pernah ditaklukan oleh orang Batak.

Ada juga peristiwa yang menyangkal anggapan Mandailing itu Batak. Kisah tanah wakaf bangsa Mandailing di Sungai Mati, Medan yang memperlihatkan tuntutan Batak Islam untuk dikebumikan ditanah wakaf khusus untuk orang-orang Mandailing. Perkara ini telah dibawa ke pengadilan Mahkamah Syariah Islam dan juga Mahkamah Raad Van Justice di Medan.

Keputusan kedua mahkamah itu menyatakan, orang- orang Batak meskipun beragama Islam tidak boleh dikebumikan di tanah wakaf yang dikhususkan untuk orang- orang Mandailing karena mereka tetap bukan orang Mandailing. Orang batak yang telah Islam dan tinggal di tanah Mandailing juga tidak benar dikebumikan di tanah wakaf Sungai Mati di Medan karena meraka bukan orang Madailing. (Abdul Wahid Lubis)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Madina Temukan 3 Ha Ladang Ganja

    Polres Madina Temukan 3 Ha Ladang Ganja

    • calendar_month Jumat, 8 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sita 2 Senjata Api dari Tersangka Pemilik Kebun PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kebun ganja seluas sekitar 3 hektar kembali ditemukan di perbukitan Tor Sihite, Panyabungan Timur, Mandailing Natal, Jum’at (8/4/1016). Ladang itu ditemukan tim Polres Madina pukul 06.00 Wib yang melakukan penyisiran di perbukitan itu. Jumlah batang tanaman ganja yang ditemukan sebanyak sekitar 5.000 batang […]

  • Enam Rumah Terbakar di Panyabungan, Atika Datangi Lokasi

    Enam Rumah Terbakar di Panyabungan, Atika Datangi Lokasi

    • calendar_month Kamis, 16 Mar 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Enam rumah terbakar di Pasar Lama, Lingkungan 1, Kelurahan Panyabungan 1, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut Kamis (16/3/2023) dini hari, sekitar pukul 12.30. Kawasan pemukiman terbakar tak jauh di arah belakang Madina Square. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Kerugian yang diderita para pemilik rumah sejauh ini belum diketahui. […]

  • Tol Sumatera, pusat hanya janji

    Tol Sumatera, pusat hanya janji

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Soeharsojo, meminta pemerintah segera merealisasikan pembangunan jalan tol Trans Sumatera. Ditegaskannya, bahwa selama ini masyarakat Sumatera hanya mendapatkan janji tentang rencana pembangunan jalan Trans Sumatera. “Rencana pembangunan Trans Sumatera harus direalisasikan dan jangan ditunda lagi, karena sejak 15 tahun yang lalu pemerintah […]

  • Tor Simarsayang Sepi Pengunjung, Pedagang Terancam Gulung Tikar

    Tor Simarsayang Sepi Pengunjung, Pedagang Terancam Gulung Tikar

    • calendar_month Rabu, 23 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN- Razia intens yang dilakukan Polres Padangsidimpuan bersama Pemko, MUI, dan elemen lainnya baru-baru ini ini ternyata berimbas negatif terhadap usaha para pedagang di Tor Simarsayang. Sebanyak 31 pengusaha tenda di lokasi objek wisata itu mengaku sudah dua hari tidak mendapatkan pelanggan. Mereka mengaku terancam gulung tikar. Boru Manalu, salah seorang pedagang di Tor Simarsayang […]

  • Polisi Bantah Insiden RSAD Terkait Perang Geng

    • calendar_month Jumat, 24 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta – Kepala Polres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol, mengatakan kasus penyerangan di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) tidak ada kaitannya dengan perang antar kelompok. “Itu murni kriminalitas,” kata Yoyol pada Jumat, 24 Februari 2012.”Kami tidak bisa menyebutkan motifnya karena masih dalam pengembangan.” Saat ini polisi telah menetapkan tiga […]

  • “Naik Darah Tinggiku Ngurus Kartu Keluarga di Pemkab Madina Ini”

    “Naik Darah Tinggiku Ngurus Kartu Keluarga di Pemkab Madina Ini”

    • calendar_month Senin, 15 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    “Katanya bupati sekarang berjanji pelayanan ngurus KTP sama Kartu Keluarga mudah untuk rakyat Madina. Apanya yang mudah. Susahnya bikin darah tinggi saya naik,” kata Sarimuddin, warga Desa Gunung Tua Lumban Pasir, Kecamatan panyabungan, Sabtu (13/8) lalu di warung tak jauh dari Dinas Dukcapilsosnakertrans Madina. Betapa tidak naik pitam, sejak hari Rabu (10/8/2016) dia mengurus Kartu […]

expand_less