Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

ISU GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA (2-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Sep 2016
  • print Cetak
Moechtar Nasution

Moechtar Nasution

Oleh :  Moechtar Nasution
Wakil Direktur GEREP Institute

 

Bila kearifan lokal ini dapat dilembagakan, maka akan sangat efektif sebagai upaya untuk penanggulangan resiko bencana karena langsung tersentuh pada sendi – sendi kehidupan bermasyarakat, terutama ketika menjadi syair yang dinyanyikan oleh ibu – ibu saat menidurkan anaknya akan sangat melekat dalam jiwa mereka sampai dewasa.

Anak tersebut juga akan memahami apa yang mesti dilakukan saat bencana tiba. Seperti contoh anak – anak di Jepang, saat gempa datang mereka semua langsung mengambil posisi di bawah meja yang bisa melindungi kepala mereka. Seperti yang berlaku pada warga dan orang tua di kabupaten Simeulue yang mewariskan cerita secara turun temurun bahwa bila terjadi gempa dan air laut surut, maka segera mencari tempat yang lebih tinggi karena air laut akan menerjang daratan. Hal ini terbukti seperti ungkapan dalam bahasa Simeulue “Nga Linon Fesang Smong” (“jika ada gempa, lari ke gunung karena akan ada air tinggi”). Ungkapan ini setiap hari di sampaikan oleh orang tua kepada anaknya baik melalui syair – syair, maupun saat berkumpul dengan sesama warga dan keluarga di rumah menjelang makan malam.

Cerita rakyat berbasiskan bencana yang di sampaikan oleh para ibu ini sudah terbukti ampuhnya seperti di Kabupaten Simeulue. Hampir semua warga dan anak – anak sangat memahami kode alam yang dilihatnya. Hal ini terbukti dengan minimnya jumlah korban di Simeulue saat Tsunami tahun 2004 silam jika di bandingkan dengan daerah – daerah lain.

Pengetahuan lokal seperti ini selayaknya dijadikan sebagai budaya pada masyarakat dan harus dijadikan sebagai pengetahuan lokal untuk mengurangi resiko bencana. Bukankah daerah kita juga banyak memiliki kearifan lokal? Ragam nasehat (poda) juga banyak yang berlaku didaerah yang dijuluki sebagai Serambi Mekkah ini? Di desa Manyabar dan sekitarnya berlaku poda yang menyebutkan jika keong sudah naik kedaratan mengartikan bahwa kemungkinan besar sungai akan meluap.Dan masih banyak lagi poda lainnya yang berlaku didesa lainnya.

Salah satu poda yang terkenal di Mandailing Natal adalah Poda Nalima yaitu Paias Rohamu,Paias Pamatangmu, Paias Parabitonmu, Paias Pakaranganmu. Poda ini telah diwariskan secara turun temurun lintas generasi kendatipun sekarang sudah mulai ditinggalkan generasi muda. Sejatinya, jika poda ini tetap dilestarikan masyarakat khususnya poda tentang pekarangan maka tentu saja lingkungan akan tetap terjaga. Orangtua terutama ibu punya peranan besar untuk mewujudkan ini sembari mencontohkannya kepada anak misalnya dengan menanami pekarangan dengan tumbuh-tumbuhan atau juga membersihkan parit atau selokan.

Bagi masyarakat Mandailing sejak zaman dahulu, halaman rumah biasanya dipergunakan untuk lahan tanaman tanaman tradisional yang erat kaitannya dengan kesehatan seperti layaknya kita kenal sekarang istilah apotik hidup atau Toga (Tanaman Obat Keluarga). Jika ada sanak saudara yang mengalami penyakit, maka oleh ahli pengobatan alternatif atau dikenal dengan istilah datu biasanya akan menyuruh untuk mengumpulkan bahan obat-obatan yang berasal dari tanam-tanaman – dan biasanya juga tanaman ini ada dipekarangan rumah.   Pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan tanaman obat-obatan memberi bukti kepada kita betapa sesungguhnya masyarakat Mandailing amat sangat erat hubungannya dengan alam dan lingkungan. Paias pakaranganmu ini turut memberikan andil yang besar bagi penghijauan dan sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu secara alamiah.

Kesenian Mandailing ini sarat dengan kekayaan bunyi-bunyian alam yang menandakan masyarakat Mandailing sudah sangat harmoni dengan alam. Bisa disebutkan bahwa gordang sambilan adalah musikalisasi suara alam. Ini bisa juga menjadi contoh yang harus diceritakan kepada anak-anak bahwa sejak zaman dahulu masyarakat Mandailing sudah akrab dengan lingkungan.Coba simak alunan suara gordang sambilan maka akan ditemukan alunan suara seperti gemuruh api yang membakar hutan (gondang roba namosok), atau alunan suara batu yang menggelinding dari gunung (gondang sampuara batu magulang) atau juga alunan suara tepian sungai (gondang hadadingin).

Masyarakat Mandailing menjadikan alam sebagai inspirasi dan sumber musik yang tertata secara apik mulai dari suara yang merdu sekali seperti suara dedaunan yang tertiup angin sampai kepada suara gemuruh yang menakutkan seperti suara api yang membakar hutan seakan-akan mereka membakar hutan untuk membuka lahan pertanian. Gordang sambilan ini juga salah satu kearifan lokal masyarakat Mandailing yang jika dikaitkan dengan harmoni alam akan menjadi pelajaran sekaligus pembelajaran manusia dizaman sekarang ini tentang sinergi manusia dengan alam.

Bagi anda yang tergolong penikmat buku, bisa juga anda menceritakan kepada anak-anak bagaimana Willem Iskander menceritakan eksotisme keindahan alam Mandailing dalam buku “Sibulus-Bulus Sirumbuk-Rumbuk”  yang dicetak pertama kali tahun 1872 di Batavia. Disitu terlihat jelas bagaimana panorama alam Mandailing yang dilukiskan melalui kata demi kata. Selain menceritakan keindahan alam, sajak ini juga menceritakan bagaimana keadaan masyarakat ketika itu dalam aktifitas keseharian mereka.

Hal yang sangat menarik adalah bagaimana Willem Iskander memberikan pencerahan melalui sajak tersebut tentang bencana. Kita selama ini hanya mengenal Willem Iskander dalam persfektif pendidikan an-sich, namun lebih dari itu ternyata sosok Sati Nasution ini juga adalah orang yang sangat peduli dengan lingkungan khususnya yang berkaitan dengan bencana. Didalam sajak ini, ditemukan bait yang bercerita tentang banjir. “Muda ro sirumondop udan, Magodangma batang aek, Dibaen sompit adabuan, Jadi tudarat doma manaek” (Jika hujan turun, Sungaipun banjir, Karena sempit tempat mengalir, jadi kedaratlah melimpah).

Tentunya yang dituliskan tokoh kebanggaan masyarakat Mandailing dalam bidang budaya ini benar adanya, jika sungai mengalami pendangkalan atau penyempitan maka dipastikan air sungai akan melimpah kedaratan pada saat banjir karena sungai sudah tidak bisa menampung debit air lagi.

Yang disampaikan Willem Iskander ini sungguh merupakan kearifan sekaligus kecemerlangan pola pikirnya dalam menatap masa depan wilayah Mandailing. Kecermatannya menuliskan tentang banjir ini sangat mungkin dipengaruhi oleh letak geografis Mandailing yang dipenuhi dengan banyaknya sungai sungai besar seperti yang disebutkan dibait-bait sebelumnya seperti aek  Batang Gadis, aek Godang, dan Batang Singkuang.

 

PENUTUP

Korban jiwa perempuan selalu mendominasi saat terjadi musibah atau bencana yang sifatnya massif. Penelitian yang dilakukan Oxfam menyebut data bahwa 70 % korban tewas akibat tsunami di Aceh adalah perempuan. Fakta ini sejatinya harus mendapatkan perhatian serius dari semua stake holders utamanya pemerintah dan kalangan perempuan tentunya.

Perempuan harus mampu menunjukkan bahwa mereka juga memiliki tanggungjawab yang sama untuk berperan secara aktif dalam penanggulangan bencana. Tentunya tidak ada cara lain selain belajar dan belajar. Semoga perempuan Indonesia semakin tangguh..semakin cekatan..semakin lincah guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh menghadapi bencana. Semoga….

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desa Huraba Menggelar Magrib Mengaji

    Desa Huraba Menggelar Magrib Mengaji

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Siabu (Mandailing Online) – Desa Huraba Kecamatan Siabu, Mandailing Natal menggelar Magrib Mengaji di mesjid raya Al Istiqomah. Pelaksanaan Magrib Mengaji ini dilakukan setiap malam dengan peserta para anak-anak desa yang diasuh oleh guru mengaji. Materi pengajian adalah mempelajari membaca huruf arab dan Al-Qur’an. Nazir mesjid Raya Al Istiqomah Desa Huraba, Abdul Halim Pulungan, Minggu […]

  • Ditengah Efisiensi Anggaran, Kejaksaan dan PN Dapat Hibah Kendaraan dari Pemkab Madina

    Ditengah Efisiensi Anggaran, Kejaksaan dan PN Dapat Hibah Kendaraan dari Pemkab Madina

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ditengah Efisiensi anggaran pemerintah di tahun 2025 ini. Intansi Kejaksaan Negeri Madina dan Pengadilan Negeri ( PN ) masih dapat jatah hibah kendaraan roda empat dari Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Dari data yang di dapat total anggaran pembelian 2 unit kendaraan roda empat ini senilai Rp. 830.665.000. Ada 2 mata […]

  • Mandailing Miliki Budaya dan Sejarah Ribuan Tahun

    Mandailing Miliki Budaya dan Sejarah Ribuan Tahun

    • calendar_month Jumat, 4 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution menyatakan bahwa Bumi Gordang Sambilan memiliki pesona kearifan budaya dan catatan sejarah yang panjang sejak ribuan tahun yang lalu. Mandailing tercatat dalam sejarah nusantara sebagai negeri yang bermartabat dan menjadi incaran kerajaan-kerajaan nusantara lain. karena itu kawasan ini selalu menjadi objek kajian yang menarik bagi […]

  • Polisi Buru Anak Ketua DPRD Labuhanbatu yang Menjadi Bandar Judi

    Polisi Buru Anak Ketua DPRD Labuhanbatu yang Menjadi Bandar Judi

    • calendar_month Senin, 11 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Petugas Kepolisian Resor (Polres) Labuhanbatu memburu pria berinisial RS yang merupakan anak Ketua DPRD Labuhanbatu Ellya Rosa Siregar, terkait penggerebekan rumah pribadi Ellya yang diduga dijadikan markas perjudian jenis toto gelap (togel). Pengganti Sementara Kepala Bidang (Kabid) Humas Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut) Komisaris Besar (Kombes) Pol Herry Subiansauri mengimbau agar RS segera […]

  • Di Madina, Dana PSKS Mulai Disalurkan

    Di Madina, Dana PSKS Mulai Disalurkan

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PT Pos Indonesia Cabang Kabupaten Mandailing Natal mulai menyalurkan dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) sejak Minggu (23/11). Kepala Cabang Kantor Pos Panyabungan, Ramli Siregar, Senin (24/11) mengatakan dana yang disalurkan untuk tiap kepala keluarga penerima sebesar 400 ribu rupiah untuk dua bulan, yakni Nopember-Desember 2014. “Sehubungan dengan keterbatasan personil […]

  • Yuk, Nikmati Durian Campur Lemang di Warung Mardiana

    Yuk, Nikmati Durian Campur Lemang di Warung Mardiana

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Sejak 2 pekan terakhir, masyarakat Mandailing Natal (Madina) yang mempunyai kebun durian selalu ramai pengunjung. Salah satunya, Mardiana (27) warga Desa Simaninggir Kecamatan Siabu. Selain menjual durian, Mardiana juga menawarkan pulut dan lemang sebagai pelengkap makan durian. “Lemang ini sengaja saya masak setiap hari. Ini berdasarkan permintaan pengunjung yang datang memakan durian,” ujar Mardiana, […]

expand_less