Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

HIPMI Madina dan Rendahnya Jumlah Usahawan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 9 Nov 2016
  • print Cetak

Industri roti kacang hijau di Madina

Industri roti kacang hijau di Madina

Oleh : Dahlan Batubara

 

Saya teringat seorang teman etnis Tionghoa di Medan tahun 1993. Dia masih berusia 23 tahun. Bersama pamannya mendirikan pabrik bolu di belakang rumah sang paman, rumah kecil berdinding tepas. Mereka berdua yang mendirikan pabrik itu dan hanya mereka dua saja pekerjanya merangkap pimpinan pabrik. Maklum, pabrik itu masih kecil, hanya mampu menghabiskan satu karung tepung terigu per hari.

Di tahun 1993 itu, usia pabrik itu masih 1,5 tahun, dan pemasarannya masih menumpang kepada tim pemasaran dari satu pabrik bolu yang tak jauh dari rumah si paman.  Mereka terus mengelola usaha itu meski belum begitu menghasilkan. Istri si paman bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah orang kaya, sedangkan teman saya itu masih bergantung hidup pada orangtuanya. Pabrik itu betul-betul belum menghasilkan keuntungan banyak. 

Tetapi, sepuluh tahun kemudian pabrik itu sudah memiliki 5 karyawan dan satu tim pemasaran plus 1 unit truk membawa bolu ke Lubuk Pakam hingga Tebing Tinggi. 

Selama bergaul dengan beberapa keluarga Tionghoa, saya memperoleh pemahaman bahwa orientasi hidup mereka bukan pada “apakah kamu sudah bekerja?” melainkan “apa rencana usaha kamu?”. Orientasi itu jauh beda dengan orientasi mayoritas “orang kita” yang selalu pada “apakah kamu sudah bekerja?”.

Jika ada kaum family yang bertemu, biasanya akan muncul kalimat “apa anakmu sudah kerja?”, “kerja di mana anak kamu?”, “anak saya kerja di kantor Camat”, “anak saya kerja di apotik”, “anak saya kerja di kaltex”,  “kemarin anak saya melamar PNS, gagal,” “anak saya masih nganggur, belum dapat kerja”, “tolonglah cari pekerjaan untuk anak saya”.

Orientasi bekerja ini menjadikan kita hanya fokus mencari pekerjaan, menjadi pekerja upahan, bergantung pada upah. Menjadi kuli, menjadi buruh, menjadi karyawan, menjadi pegawai. Bukan berorientasi mendirikan unit usaha, menjadi pengelola perusahaan, menggaji karyawan, memperoleh kekayaan dari output perusahaan yang didirikannya.

Alhasil, berdasar data HIPMI bulan Mei 2016, jumlah pengusaha atau enterpreneur atau wirausaha di Indonesia hanya 1,8 % dari total jumlah penduduk Indonesia di tahun 2016. Sedangkan di negara Asean seperti Singapura tercatat sebanyak 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen jumlah pengusahanya.

Mental kuli ini masih mendominasi, baik secara individu maupun secara sosial kolektif. Dari generasi ke generasi. Tak berubah hingga kini. Tak terdengar perubahan pradigma dari “mencari kerja” kepada “membuka usaha”.

Bahwa, beternak 5 ekor itik itu nilai prospeknya jauh lebih hebat ketimbang menjadi karyawan bergaji 5 juta rupiah sebulan.

Sebab, karyawan itu memiliki batas buntu, paling tinggi jabatan direktur di satu perusahaan. Tetapi peternak itik memiliki prospek menjadi komisaris di banyak perusahaan yang didirikannya.

Tetapi, peternak itik dari 5 ekor itu kelak akan menembus level-level multi usaha. Diawali dengan peternakan itik petelur, lalu bertambah dengan itik pedaging, lalu akibat kebutuhan pakan si peternak akan mendirikan usaha produksi pakan ternak yang pada gilirannya selain untuk kebutuhan pakan ternaknya juga akan menjual pakan ternak. Dari level itu, merangkak ke level lanjutan yakni mendirikan usaha penetasan itik.

Akibat sudah memiliki cabang usaha yang memproduksi pakan, si peternak kemudian akan mendirikan cabang usaha perikanan, cabang usaha ternak ayam, cabang usaha perdagangan ayam potong di sejumlah pasar.

Level kemudian adalah, si peternak sudah mendirikan rumah makan yang bermenu utama daging itik, lalu menambah cabang usaha restaurant sup itik. Level berikut adalah ekspansi pembukaan rumah-rumah makan dan restaurant bermenu daging itik.

Level itu terus melangkah naik ke level-level berikut. Karena bisnis dan ekspansi bisnis memiliki gerak dinamis. Si peternak telah merambah usaha di peternakan sapi. Bahkan akan merambah bisnis lain karena dia telah memiliki banyak jaringan, relasi.

Dan si direktur tadi masih tetap direktur di satu perusahaan, sedangkan si peternak itik telah menjadi komisaris di banyak perusaan yang didirikannya serta menggaji sejumlah direktur.  

Pengurus Himpunan  Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Mandailing Natal resmi dilantik, Rabu (9/11) di Panyabungan. Akankah pengurus baru ini mampu meningkatkan jumlah pengusaha di daerah ini?

Atau, apakah HIMPI Madina mampu mengkampanyekan agar generasi muda menjahui cita-cita menjadi karyawan, menjadi kuli, menjadi pegawai, mengejar gaji?

 Pertanyaan itu perlu dikedepankan, mengingat jumlah pengusaha, termasuk pengusaha muda masih minim di Mandailing Natal, baik yang bergerak di sektor agribisnis, agroindustri, industri, jasa dan perdagangan.

Memposisikan HIPMI Madina sebagai harapan motor penggerak pertumbuhan jumlah usahawan merupakan posisi wajar, sebab organisasi ini (jika benar) adalah kumpulan pengusaha-pengusaha muda, pengusaha yang tentunya telah mengalami pahit getir mendirikan dan menjalankan bisnis.

Bisnis, esensinya  tak memiliki sekolah resmi, sebab “kurikulum” bisnis itu ada di kesulitan, kendala, kepercayaan, jaringan, relasi, jiwa tarung, daya juang, pantang menyerah, merugi, beruntung, berhutang, dikejar hutang, putus asa, putus harapan, tengkurap, melamah, menguat, sabar, tekun.   

Membangun bisnis tak bisa mengharapkan pemerintah, sebab, pemerintah bukan pelaku usaha melainkan regulator, mendukung dari sisi infrastruktur dan menjamin keamanan berusaha. Tetapi, HIPMI memiliki orang-orang sebagai pelaku usaha, memiliki jaringan pengusaha-pengusaha yang tentunya bisa menelurkan ilmu bisnis kepada pemula, membimbing dan mengarahkan.  

Semoga HIMPI Madina mampu meningkatkan jumlah pengusaha di Madina. Semoga.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Sinunukan II Sepakati Akan Memilih Paslon 1 di Pilkada Madina

    Warga Sinunukan II Sepakati Akan Memilih Paslon 1 di Pilkada Madina

    • calendar_month Sabtu, 9 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Sinunukan ( Mandailing Online ): Berkunjung ke Desa Dinunukan II di Kecamatan Sinunukan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ). Tim pemenangan calon Bupati dan Wakil Bupati nomor urut 1 Harun Mustafa Nasution-Ichwan Husein Nasution disambut hangat masyarakat. Dirumah salah seorang warga, pertemuan yang dipimpin H.Mustafa Bakri Nasution sebagi tim relawan Offroad On Ma itu dihadiri […]

  • Pengamat Hukum : Bawaslu RI Harus Selektif Memilih Anggota Bawaslu Sumut

    Pengamat Hukum : Bawaslu RI Harus Selektif Memilih Anggota Bawaslu Sumut

    • calendar_month Selasa, 27 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) – Pengamat Hukum dari Universitas Medan Area, Nuriyono mengharapkan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia (RI) bisa lebih selektif dan cermat dalam menentukan anggota Bawaslu Sumut tahun 2023-2027. Hal ini berkaitan dengan dengan ada beberapa nama calon anggota Bawaslu yang pernah melakukan pelanggaran. Salah satunya, Joko Arief Budiono yang merupakan komisioner Bawaslu […]

  • PKB-Gerindra Madina Siap Sukseskan Koalisi Prabowo-Muhaimin

    PKB-Gerindra Madina Siap Sukseskan Koalisi Prabowo-Muhaimin

    • calendar_month Sabtu, 13 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dua partai politik di Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara membulatkan komitmen menyukseskan koalisi Prabowo-Muhaimin menyongsong Pilpres 2024. Kedua partai politik itu adalah DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Madina dan DPC Gerindra Madina. Komitmen itu tercuat di acara mengikuti Deklarasi Koalisi PKB-Gerindra dari Sentul International Convention Centre yang tayang daring secara nasional, […]

  • Miniatur Gordang Sambilan

    Miniatur Gordang Sambilan

    • calendar_month Jumat, 14 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    DUA MINIATUR MANDAILING – Dua gadis Mandailing memamerkan dua unit miniatur gordang sambilan yang tersusun di naungan bangunan berupa sopo, di base camp Kampoeng Kaos Madina, Mandailing Natal, Jum’at (14/6/2013). Kampoeng Kaos Madina sejauh ini tak henti mengembangkan industri kreatif berbasis kebudayaan. Selain pengembangan ekonomi kreatif, semangat yang disusung juga upaya mempopulerkan aksesoris-aksesoris kebudayaan Mandailing […]

  • Panen Melimpah, Harga Timun 2.000 Per Kilo

    Panen Melimpah, Harga Timun 2.000 Per Kilo

    • calendar_month Selasa, 10 Jan 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Sejumlah petani timun di Kelurahan Siabu Kecamatan Siabu Mandailing Natal memasuki masa panen. Sementara itu, harga di tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 2.000 per kilo gram. Meski tergolong kurang menggembirakan, besaran Rp 2.000 itu sudah disyukuri petani, karena musim panen sebelumnya harga berada di kisaran Rp 1.500 bahkan pernah jatuh ke […]

  • Madina Kakurangan Penyuluh Pertanian

    Madina Kakurangan Penyuluh Pertanian

    • calendar_month Jumat, 4 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 7Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing Natal (Madina) selaku daerah pertanian masih kekurangan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Humas KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Madina, Dahlan Batubara kepada wartawan, Jum’at (4/10/2013) menyatakan kekurangan tenaga PPL ini berdampak pada rendahnya konsolidasi pertanian, baik pola musim tanam, pengaturan tali air maupun penerapan tekhnologi. Dahlan mengatakan, secara pisikologi […]

expand_less