Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

HIPMI Madina dan Rendahnya Jumlah Usahawan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 9 Nov 2016
  • print Cetak

Industri roti kacang hijau di Madina

Industri roti kacang hijau di Madina

Oleh : Dahlan Batubara

 

Saya teringat seorang teman etnis Tionghoa di Medan tahun 1993. Dia masih berusia 23 tahun. Bersama pamannya mendirikan pabrik bolu di belakang rumah sang paman, rumah kecil berdinding tepas. Mereka berdua yang mendirikan pabrik itu dan hanya mereka dua saja pekerjanya merangkap pimpinan pabrik. Maklum, pabrik itu masih kecil, hanya mampu menghabiskan satu karung tepung terigu per hari.

Di tahun 1993 itu, usia pabrik itu masih 1,5 tahun, dan pemasarannya masih menumpang kepada tim pemasaran dari satu pabrik bolu yang tak jauh dari rumah si paman.  Mereka terus mengelola usaha itu meski belum begitu menghasilkan. Istri si paman bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah orang kaya, sedangkan teman saya itu masih bergantung hidup pada orangtuanya. Pabrik itu betul-betul belum menghasilkan keuntungan banyak. 

Tetapi, sepuluh tahun kemudian pabrik itu sudah memiliki 5 karyawan dan satu tim pemasaran plus 1 unit truk membawa bolu ke Lubuk Pakam hingga Tebing Tinggi. 

Selama bergaul dengan beberapa keluarga Tionghoa, saya memperoleh pemahaman bahwa orientasi hidup mereka bukan pada “apakah kamu sudah bekerja?” melainkan “apa rencana usaha kamu?”. Orientasi itu jauh beda dengan orientasi mayoritas “orang kita” yang selalu pada “apakah kamu sudah bekerja?”.

Jika ada kaum family yang bertemu, biasanya akan muncul kalimat “apa anakmu sudah kerja?”, “kerja di mana anak kamu?”, “anak saya kerja di kantor Camat”, “anak saya kerja di apotik”, “anak saya kerja di kaltex”,  “kemarin anak saya melamar PNS, gagal,” “anak saya masih nganggur, belum dapat kerja”, “tolonglah cari pekerjaan untuk anak saya”.

Orientasi bekerja ini menjadikan kita hanya fokus mencari pekerjaan, menjadi pekerja upahan, bergantung pada upah. Menjadi kuli, menjadi buruh, menjadi karyawan, menjadi pegawai. Bukan berorientasi mendirikan unit usaha, menjadi pengelola perusahaan, menggaji karyawan, memperoleh kekayaan dari output perusahaan yang didirikannya.

Alhasil, berdasar data HIPMI bulan Mei 2016, jumlah pengusaha atau enterpreneur atau wirausaha di Indonesia hanya 1,8 % dari total jumlah penduduk Indonesia di tahun 2016. Sedangkan di negara Asean seperti Singapura tercatat sebanyak 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen jumlah pengusahanya.

Mental kuli ini masih mendominasi, baik secara individu maupun secara sosial kolektif. Dari generasi ke generasi. Tak berubah hingga kini. Tak terdengar perubahan pradigma dari “mencari kerja” kepada “membuka usaha”.

Bahwa, beternak 5 ekor itik itu nilai prospeknya jauh lebih hebat ketimbang menjadi karyawan bergaji 5 juta rupiah sebulan.

Sebab, karyawan itu memiliki batas buntu, paling tinggi jabatan direktur di satu perusahaan. Tetapi peternak itik memiliki prospek menjadi komisaris di banyak perusahaan yang didirikannya.

Tetapi, peternak itik dari 5 ekor itu kelak akan menembus level-level multi usaha. Diawali dengan peternakan itik petelur, lalu bertambah dengan itik pedaging, lalu akibat kebutuhan pakan si peternak akan mendirikan usaha produksi pakan ternak yang pada gilirannya selain untuk kebutuhan pakan ternaknya juga akan menjual pakan ternak. Dari level itu, merangkak ke level lanjutan yakni mendirikan usaha penetasan itik.

Akibat sudah memiliki cabang usaha yang memproduksi pakan, si peternak kemudian akan mendirikan cabang usaha perikanan, cabang usaha ternak ayam, cabang usaha perdagangan ayam potong di sejumlah pasar.

Level kemudian adalah, si peternak sudah mendirikan rumah makan yang bermenu utama daging itik, lalu menambah cabang usaha restaurant sup itik. Level berikut adalah ekspansi pembukaan rumah-rumah makan dan restaurant bermenu daging itik.

Level itu terus melangkah naik ke level-level berikut. Karena bisnis dan ekspansi bisnis memiliki gerak dinamis. Si peternak telah merambah usaha di peternakan sapi. Bahkan akan merambah bisnis lain karena dia telah memiliki banyak jaringan, relasi.

Dan si direktur tadi masih tetap direktur di satu perusahaan, sedangkan si peternak itik telah menjadi komisaris di banyak perusaan yang didirikannya serta menggaji sejumlah direktur.  

Pengurus Himpunan  Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Mandailing Natal resmi dilantik, Rabu (9/11) di Panyabungan. Akankah pengurus baru ini mampu meningkatkan jumlah pengusaha di daerah ini?

Atau, apakah HIMPI Madina mampu mengkampanyekan agar generasi muda menjahui cita-cita menjadi karyawan, menjadi kuli, menjadi pegawai, mengejar gaji?

 Pertanyaan itu perlu dikedepankan, mengingat jumlah pengusaha, termasuk pengusaha muda masih minim di Mandailing Natal, baik yang bergerak di sektor agribisnis, agroindustri, industri, jasa dan perdagangan.

Memposisikan HIPMI Madina sebagai harapan motor penggerak pertumbuhan jumlah usahawan merupakan posisi wajar, sebab organisasi ini (jika benar) adalah kumpulan pengusaha-pengusaha muda, pengusaha yang tentunya telah mengalami pahit getir mendirikan dan menjalankan bisnis.

Bisnis, esensinya  tak memiliki sekolah resmi, sebab “kurikulum” bisnis itu ada di kesulitan, kendala, kepercayaan, jaringan, relasi, jiwa tarung, daya juang, pantang menyerah, merugi, beruntung, berhutang, dikejar hutang, putus asa, putus harapan, tengkurap, melamah, menguat, sabar, tekun.   

Membangun bisnis tak bisa mengharapkan pemerintah, sebab, pemerintah bukan pelaku usaha melainkan regulator, mendukung dari sisi infrastruktur dan menjamin keamanan berusaha. Tetapi, HIPMI memiliki orang-orang sebagai pelaku usaha, memiliki jaringan pengusaha-pengusaha yang tentunya bisa menelurkan ilmu bisnis kepada pemula, membimbing dan mengarahkan.  

Semoga HIMPI Madina mampu meningkatkan jumlah pengusaha di Madina. Semoga.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Gunung Manaon Harap Saparuddin-Miswaruddin Pimpin Madina

    Warga Gunung Manaon Harap Saparuddin-Miswaruddin Pimpin Madina

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga Desa Gunung Manaon Kecamatan Panyabungan berharap Pilkada Madina 2015 menghasilkan pimpinan figure baru dan muda serta memiliki kepedulian serta mengayomi. Hal itu diungkapkan salah seorang tokoh masyarakat Gunung Manaon di acara silaturrahim Calon Wakil Bupati Madina Miswaruddin Daulay, Selasa (20/10) yang dilansir media PBMNews. Pasangan calon Saparuddin Haji Lubis- […]

  • Saragih, Malau dan Margono Dipecat Dari Polisi karena Konsumsi Narkoba

    Saragih, Malau dan Margono Dipecat Dari Polisi karena Konsumsi Narkoba

    • calendar_month Selasa, 1 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA : Briptu Andi Bonardo Saragih, Bripda Sumando Malau dan Ajun Brigadir Nurya Margono dipecat sebagai anggota polisi. Mereka memakai narkoba dan doyan membolos. Briptu Andi Bonardo Saragih dan Bripda Sumando Malau diketahui sempat bertugas di Samapta Polres Jakarta Barat. “Kalau Ajun Brigadir Nurya Margono, saya tidak tahu dia bertugas di mana. Ketiga polisi ini […]

  • Nazaruddin Akhirnya Tiba di Indonesia

    Nazaruddin Akhirnya Tiba di Indonesia

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, Sosok M Nazaruddin tidak henti-hentinya memancing kontroversi setelah namanya terseret dalam kasus dugaan suap untuk proyek pembangunan Wisma Atlet Jakabaring di Palembang, Sumatera Selatan. Tak sampai 24 jam setelah ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nazaruddin berhasil melarikan diri ke Singapura dan sempat bersembunyi untuk beberapa lama di negara tetangga itu dengan dalih […]

  • Wabup Atika Buka Seminar Ilmiah di GSG

    Wabup Atika Buka Seminar Ilmiah di GSG

    • calendar_month Jumat, 12 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution membuka Seminar Ilmiah di Gedung Serbaguna, Desa Parbangunan, Panyabungan, Jumat (12/8/2022). Seminar dengan tema ‘Mahasiswa Penting Mahasiswa Peduli Stunting, Ciptakan Generasi Emas, Cerdas, Kreatif, dan Inovatif’ tersebut menghadirkan pembicara yaitu, Drs Askolani Nasution dan Abdul Latif Lubis. Dalam sambutannya, Atika menyampaikan bangga […]

  • Pelajar Harus Memanjat Abutmen Jembatan Menuju Sekolah

    Pelajar Harus Memanjat Abutmen Jembatan Menuju Sekolah

    • calendar_month Jumat, 18 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Pelajar harus memanjat abutmen jembatan yang belum siap untuk tiba di seberang, menuju sekolah. Itu dialami para pelajar dari Desa Pasar V dan Pasar VI Kecamatan Natal, Kabupaten  Mandailing Natal, Sumut. Mereka harus memanjat abutmen jembatan setinggi sekitar 5 meter itu tiap pergi dan pulang sekolah. Sekolah mereka berlokasi di kota […]

  • PLN Juga Belum Ada di Desa Batahan, Kotanopan

    PLN Juga Belum Ada di Desa Batahan, Kotanopan

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Selain kondisi jalan teramat parah, jaringan PLN juga belum ada di Desa Batahan Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina). Sektor pendidikan dan kesehatan juga sangat memprihatinkan di desa terisolir tersebut. “Sebetulnya keluhan ini sudah sering kita sampaikan baik itu melalui media, melalui DPRD Madina, akan tetapi nampaknya pembangunan belum terlaksana,” kata tokoh […]

expand_less