Senin, 21 Sep 2026
light_mode

Swasembada Kedelai : Bentuk Egoisme Pemerintah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Jul 2018
  • print Cetak

 

Oleh : Josua Desmonda Simanjuntak
Present Master Program in Faculty of Economics and Management,
Department of Agribusiness Bogor Agricultural University, Bogor (Indonesia)

Kementerian Pertanian melalui Menteri Pertanian, Amran Sulaiman megklaim bahwa Indonesia telah kembali berhasil melakukan swasembada beras pada tahun 2017, dimana hal ini terjadi terakhir kali pada tahun 1984. Selain beras, beliau juga mengklaim bahwa komoditas bawang, cabai, dan jagung juga berhasil swasembada. Menariknya lagi, Kementerian Pertanian juga menargetkan swasembada untuk komoditas kedelai, gula, dan bawang putih. Pertanyaan kemudian muncul, apakah swasembada menjadi satu-satunya indikator yang menunjukkan bahwa pertanian suatu negara dikatakan sukses?

Seringnya kata “swasembada” muncul dalam rencana-rencana strategis pemerintah belakangan  ini membawa kita dalam suatu stereotype, -pertanian kita berhasil ketika kita mampu memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri tanpa tergantung dengan pihak asing-. Padahal, apabila ditinjau dari perspektif ekonomi global saat ini, kata swasembada sudah menjadi hal yang kuno. Mengapa?

Indonesia saat ini terikat dengan berbagai kerjasama perdagangan bebas internasional yang menyebabkan perekonomian kita sangat tergantung dengan negara-negara lain. Akan terdapat kondisi dimana kita harus mengimpor suatu komoditas dari negara lain agar komoditas unggulan kita bisa diekspor ke negara tersebut. Artinya, dalam penentuan komoditas swasembada, perlu memperhatikan keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas kita dibanding negara-negara lain. Hal ini yang kurang diperhatikan pemerintah sehingga keliru memilih kedelai sebagai komoditas swasembada.

Program Swasembada Kedelai adalah Keliru

Faktanya, sejak dicanangkannya program swasembada kedelai pada tahun 2015, produksi kedelai Indonesia menurun hingga tahun 2017 (data BPS). Pata tahun 2015, produksi kedelai mencapai 963.000 ton dengan luas panen 614.000 Ha. Sementara tahun 2017, produksi kedelai kita hanya mencapai 539.000 ton dengan luas panen hanya 356.000 Ha. Dengan proyeksi kebutuhan konsumsi nasional kedelai kita mencapai 2,9 juta ton (pusdatin), maka target swasembada kedelai akan sulit terealisasi.

Data yang tersedia saat ini cukup menggambarkan bahwa upaya khusus yang dilakukan pemerintah untuk memaksakan swasembada kedelai adalah kekeliruan besar. Pemerintah melakukan pengorbanan yang cukup besar hanya untuk mencapai swasembada kedelai.

Pertama, melalui upaya khusus (UPSUS), pemerintah berusaha membuka lahan baru untuk menanam kedelai. Artinya, mengingat lahan pertanian kita yang terbatas, maka penambahan luas lahan kedelai akan mengorbankan lahan-lahan produktif komoditas lain yang produktivitas dan nilai komersialnya lebih tinggi.

Kedua, mengingat Kedelai adalah tanaman yang tumbuh di daerah sub-tropis, maka dibutuhkan biaya dan tenaga yang cukup besar agar komoditas ini memiliki produktivitas yang tinggi di daerah tropis, baik untuk penelitian varietas unggul maupun untuk perawatan hingga panen.

Dengan demikian, menanam kedelai bagi petani memiliki opportunity cost yang besar . Artinya, petani akan cenderung memilih komoditas yang lebih mudah diusahakan dengan dengan tingkat resiko yang lebih kecil dan profit yang lebih tinggi. Pada kondisi ini, pemerintah tidak memiliki kekuatan untuk memaksa petani menanam kedelai, kecuali dengan menaikkan harga kedelai dan memberikan subsidi benih dan pupuk. Akibatnya, anggaran yang dibutuhkan pemerintah hanya untuk komoditas kedelai akan semakin membengkak.

Akan tetapi, kekeliruan pemerintah tidak hanya sampai disitu. “Menaikkan harga kedelai melalui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan memberikan subsidi belum tentu mampu menaikkan produksi kedelai”. Asumsi pemerintah adalah ketika harga dinaikkan melalui HPP serta memberikan subsidi, maka petani akan mau mengusahakan kedelai serta menambah luas area tanam kedelainya sehingga produksi kedelai petani meningkat berakibat pada produksi agregat nasional meningkat. Akan tetapi, asumsi pemerintah tidak mempertimbangkan bahwa perilaku petani kecil di Indonesia kerap kali tidak sesuai dengan asumsi-asumsi fungsi produksi konvensional.

Menaikkan harga melalui HPP dan memberikan subsidi input akan tepat sasaran apabila petani di Indonesia diasumsikan sebagai petani yang selalu berusaha memaksimalkan keuntungan tanpa adanya budget constraint (batasan biaya).

Sementara pada kenyataannya, petani di Indonesia didominasi oleh petani kecil yang akses permodalannya terbatas dan orientasi usahataninya bukan memaksimumkan keuntungan. Tipe petani kita adalah petani risk averse yang semi-subsisten, tipe petani yang cenderung menghindari risiko bisnis dan melakukan usahataninya hanya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pada kondisi tersebut, kenaikan harga kedelai dan adanya subsidi input tidak akan selalu direspon oleh petani.

Ditinjau dari  teori ekonomi, ketika target produksi kedelai melebihi ambang batas produksi optimum, maka biaya yang akan dikeluarkan oleh petani untuk komoditas tersebut tidak akan bisa memaksimumkan keuntungan yang didapat oleh petani. Akibatnya petani enggan untuk memproduksi kedelai yang dalam jumlah yang besar.

Oleh karena itu, pemerintah perlu mengkaji ulang kebijakan swasembada pada kedelai. Pemerintah boleh saja menargetkan peningkatan produksi pada komoditas kedelai, akan tetapi pemerintah tidak boleh memunculkan egoismenya dengan memaksakan target swasembada yang justru bisa merugikan petani dan pertanian kita.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Koperasi Mitra Manindo Kian Energik, Buka Kantor di Kotanopan dan Siabu

    Koperasi Mitra Manindo Kian Energik, Buka Kantor di Kotanopan dan Siabu

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Setelah enam tahun menapak dan menggeliat berjuang melawan bank rentenir yang mencekik pelaku usaha, Koperasi Mitra Manindo yang berbasis syariah makin energik dengan mengelola dana senilai Rp 5 milyar. Selain sudah membuka dua kantor kas di Panyabungan, jasa keuangan syariah ini juga sudah membuka kantor di Siabu dan Kotanopan. Dalam […]

  • Harun – Ichwan Resmi Diusung Partai Gerindra Pada Pemilukada Madina 2024

    Harun – Ichwan Resmi Diusung Partai Gerindra Pada Pemilukada Madina 2024

    • calendar_month Senin, 26 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Medan- Mandailing Online : Partai Gerindra resmi mengusung H. Harun Mustafa Nasution dan H. Muhammad Ichwan Husein sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mandailing Natal ( Madina), Sumut. Keputusan itu ditandai dengan diterimanya dokumen ( B. 1- KWK) yang diserahkan oleh Wakil Ketua Gerindra Sumut Ade Jona Prasetyo didampingi Sekretaris H. Sugiat Santoso kepada […]

  • Gempa 5,5 SR Guncang Sidimpuan Sekitarnya

    Gempa 5,5 SR Guncang Sidimpuan Sekitarnya

    • calendar_month Jumat, 14 Jul 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN (Mandailing Online) – Gempa mengguncang wilayah Kota Sidimpuan, juga dirasakan di Tapanuli Selatan dan Padang Lawas Utara, Jum’at (14/7/2017). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  dalam laporan di situs www.bmkg.go.id, gempa sempat mengguncang sebanyak 3 kali dalam kekuatan dan waktu yang berbeda. Gempa pertama terjadi sekira pukul 08:25:16 WIB berkekuatan 5.5 Scala Rihcer (SR) […]

  • Pertumbuhan Ekonomi di Visi Misi Dahlan-Sukhairi

    Pertumbuhan Ekonomi di Visi Misi Dahlan-Sukhairi

    • calendar_month Minggu, 6 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mempercepat pembangunan infrastruktur untuk pertumbuhan ekonomi di Madina dan pemerataan pembangunan merupakan salah satu poin di dalam visi misi calon bupati/wakil bupati Dahlan-Sukhairi. Selain di bidang infrastruktur, meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan nilai tambah sektor pertanian juga pin lain di visi misi itu. Pasangan ini juga memberikan perhatian pada sector […]

  • Saipullah Periksa Persiapan Pengamanan Lebaran

    Saipullah Periksa Persiapan Pengamanan Lebaran

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal, Sumut Saipullah Nasution memantau kesiapan Satpol PP dan pemadam kebakaran, Rabu (26/3/2025) sebagai pengaman idul fitri. Saipullah menyatakan kenyamanan diperlukan masyarakat, karena selama perayaan Idulfitri akan saling mengunjungi dan bersilaturahmi. “Ini satu pengorbanan bagi Satpol PP maupun Pemadam Kebakaran dengan mengutamakan kepentingan orang banyak, saya menyadari bahwa saudara […]

  • Ramadan dan Covid-19: Meneguhkan Iman dan Imun

    Ramadan dan Covid-19: Meneguhkan Iman dan Imun

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag   “Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.”(QS. Az-Zumar 39: Ayat 67). Ayat di atas menjadikan titik pangkal iman dan sikap […]

expand_less