Minggu, 30 Agu 2026
light_mode

Menyoal Pemberian Marga Nasution Untuk Ngabalin

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 1 Sep 2018
  • print Cetak

 

Oleh : Akhiruddin Matondang*

 

MASYARAKAT Mandailing bereaksi keras atas penabalan marga Nasution terhadap Ali Mochtar Ngabalin. Dalam dua hari ini, gelombang protes terhadap kebijakan Bupati Mandailing Natal, Sumatera Utara Dahlan Hasan Nasution terus berembus.

Sang bupati dinilai sedang mengobral marga kepada seseorang yang tidak ada garis pertalian dengan suku Mandailing. Sebagian lagi menuding kepala daerah mempolitisasi marga untuk mencapai tujuan tertentu.

Ngabalin belakangan jadi tokoh yang kerap menjadi perbincangan di medsos. Meme tentang tingkah polahnya marak di dunia maya, sebagai gambaran ketidaksukaan terhadap dia.

Banyak pihak, termasuk saya, tidak suka melihat caranya membela habis-habisan pasangan Joko Widodo-KH. Makruf Amin. Soal dukung- mendukung hak masing-masing, namun mestinya tidak membabi-buta.

Acting yang dipertontonkan Ngabalin jelas masalah karena ia tidak bisa membedakan posisi sebagai staf ahli presiden, atau sebagai tim kampanye Jokowi.

Coba kita perhatikan beberapa potret diri Ngabalin. Pertama, masyarakat tahu Ngabalin staf ahli presiden, digaji pakai uang rakyat, nyatanya seolah dia kerja untuk Jokowi, bukan untuk negara.

Kedua, Ombusman RI sudah mengusulkan agar Ngabalin cuti dari jabatannya karena sebagai staf ahli presiden ia telah melanggar etika dan kepatutan seorang pejabat negara.

Setali tiga uang, tim kampanye Jokowi-Makruf Amin sedang mengkaji nilai positif dan negatif posisi Ngabalin sebagai representasi Jokowi. Apakah dilanjutkan, atau dievaluasi.

Ketiga, Ngabalin sudah mempertontonkan keangkuhannya, sok jago, dan arogansi menjijikkan ketika menantang pengacara Mahendrata berkelahi.

Acara di TVOne itu ditayangkan secara langsung sehingga dipastikan ditonton jutaan rakyat Indonesia. Ia juga sering menunjuk-nunjuk ke arah wajah lawan diskusi. Ini merupakan ciri seseorang yang ingin menang sendiri, “pabeteng-betengkon” kata orang Mandailing.

Keempat, Ngabalin disebut-sebut bakal terseret kasus korupsi yang menjerat Idrus Marhan di KPK. Lantas, seandainya, ternyata Ngabalin ditetapkan tersangka, apa orang Mandailing, khususnya marga Nasution, tidak murka.

Kelima, di dalam jejak digital Ngabilin terungkap ia adalah sosok pembohong yang dapat dikategorikan sebagai kutu loncat. Apapun ia lakukan untuk mencapai tujuan.

Pada pilpres lalu, di stasiun televisi swasta dia menyebut Jokowi tidak pantas jadi presiden, sekarang orang yang sama dianggap seolah “Tuhan”.

Pun ketika minggu lalu di stasiun televisi swasta ia menyebutkan deklarasi Jokowi 2 periode tidak pernah dilakukan di tempat fasilitas umum, juga penuh kebohongan.

Dengan percaya diri Ngabalin menuding kelompok #2019 Ganti Presiden telah menganggu aktivitas masyarakat. Masyarakat mana yang terganggu.

Justru jejak digital merekam kebanyakan kegiatan Jokowi 2 periode digelar di jalan raya. Bahkan beberapa kali di antaranya melibatkan dia sendiri.

Catatan itu saja paling tidak bisa menggambarkan siapa sebenarnya Ngabalin. Apakah sosok baik, yang bisa dijadikan panutan generasi Mandailing, atau malah sebaliknya, menjengkelkan dan “nyebelin”.

Menurut saya, keputusan Dahlan Hasan menabalkan marga Nasution terhadap Ngabalin terlalu gegabah. Tidak memperhatikan aspek kepatutan. Tidak didiskusikan terlebih dulu dengan tokoh-tokoh adat, akademisi, tokoh agama dan lainnya.

Lantas kenapa tokoh adat mau memberi marga Nasution terhadap Ngabalin, saya sendiri tidak bisa jawab. Meskipun hati kecil saya menyatakan sesuatu.

Potret ini makin menguatkan tudingan bupati sedang obral marga dan gelar adat kepada pihak-pihak tertentu yang lebih kental nilai politisnya.

Ketua DPP Ikanas (Ikatan Keluarga Nasution) Rusli Nasution bereaksi atas penabalan marga Nasution yang terkesan murahan. Ia menyampaikan pemberian marga Nasution terhadap siapa pun, baik karena penghargaan atau perkawinan harus persetujuan DPP/ DPD Ikanas, setelah ada rapat adat yang ditunjuk berdasarkan surat keputusan DPD/DPP.

Lalu DPP/ DPD mengeluarkan rekomendasi sesuai hasil rapat tokoh adat. Sertifikat penabalan marga Nasution dikeluarkan satu pintu, yaitu DPP Ikanas.

Hal itu sebagai upaya penertiban pemberian marga terhadap pihak lain agar marwah marga Nasution tetap terjaga.

Saya bermarga Matondang, tapi ibu kandung dan istri saya Nasution, jadi saya ikut merasakan marwah marga ini sedang bapak gadaikan entah untuk kepentingan apa.

Pertanyaan, bagaimana jika ternyata Ngabalin terseret kasus korupsi, bagaimana jika ia tidak lagi staf ahli karena keberadannya bukan menaikkan elektabilitas Jokowi, malah menggerus. Dan, bagaimana jika Prabowo yang menang pada pilpres nanti

Kita masih ingat Gatot Pujo Nugroho, mantan gubernur Sumut, yang diberi marga Lubis tersandung kasus korupsi. Mestinya ini jadi pelajaran buat kita.

Penabalan marga seharusnya penuh pertimbangan, tapi belakangan terkesan sarat kepentingan tertentu. Semakin kuat dugaan, dijadikan alat politisasi.

Ngabalin jadi contoh dapat marga Nasution meskipun sama sekali tidak ada hubungannya dengan suku Mandailing, baik keturunan, pernikahan atau jasanya terhadap daerah maupun suku Mandailing.

Tidak jelas dia datang dari arah mana, jangan-jangan dari sorbannya karena orang Mandailing banyak pakai sorban.

Sangat memalukan jika ternyata tokoh yang diberi marga tak mampu menjaga marwah marga yang mestinya melekat pada namanya.

Misalnya, melakukan korupsi dan perbuatan bertentangan dengan norma agama dan adat Mandailing. Jika ini terjadi, pihak pemkab atau tokoh adat yang memberi marga tak bisa berbuat banyak. Belum pernah terdengar ada sidang adat mencabut kembali marga yang sudah diberikan.

Melihat gelagat yang ada, bukan tidajk mungkin marga Nasution yang ada pada Ngabalin ditarik lagi atas desakan berbagai pihak.

Segala kebijakan mestinya dikaji secara mendalam melibatkan pihak yang berkompeten, tidak diputuskan sendiri.

Semoga orang Mandailing tidak sedang “dikadalin” Pak Ngabalin.***

 

*Akhiruddin Matondang adalah jurnalis, mantan Ketua PWI

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mulak Tu Huta, Ubat Lungun, Palagut Namarserak

    Mulak Tu Huta, Ubat Lungun, Palagut Namarserak

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

          Catatan : Dahlan Batubara   Program “Mulak Tu Huta” sudah berlangsung sejak tahun 2012. Suatu program diperuntukkan bagi etnis Mandailing di Malaysia untuk menginjakkan kaki di tanah leluhur : tanah Mandailing. Etnis Mandailing tersebar di berbagai negara bagian : Perak, Negeri Sembilan, Selangor, Kedah, Kuala Lumpur dan lain-lain. Migrasi orang Mandailing bermula […]

  • Asset Pemerintah Dirusak, Kades Jambur Baru di Madina Terancam Sangsi Pidana

    Asset Pemerintah Dirusak, Kades Jambur Baru di Madina Terancam Sangsi Pidana

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA (Mandailing Online ) – Aset pemerintah daerah di Desa Jambur Baru, Kecamatan Batangnatal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), dirusak oleh Kepala Desa Jambur Baru, Riswan Haedy. Proyek pembangunan jalan lingkungan tahun 2022 senilai Rp.147.674.010 tersebut dirusak tanpa mempertimbangkan konteks dan keadaan yang ada. Menurut sumber yang minta identitasnya dirahasiakan, pengrusakan proyek jalan lingkungan itu diduga […]

  • PT.TBS, Pansus DPRD dan Surat Kepada Bupati Madina

    PT.TBS, Pansus DPRD dan Surat Kepada Bupati Madina

    • calendar_month Senin, 11 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Kasus dugaan pembabatan hutan mangrove di Sikara-kara, Natal, Mandailing Natal (Madina) menjadi top issu dalam sebulan terakhir. Gerakan suara protes dari para tokoh Pantai Barat Madina terus menggelinding meminta pengusutan tuntas terhadap dugaan kejahatan terhadap ekosistem pantai laut. Suara-suara itu mengungkap berbagai dugaan “perselingkuhan” antara penguasa dengan manajemen PT. Tri Bahtera Srikandi (PT.TBS). Para […]

  • Realisasi PBB Tapsel Rp 1,1 Miliar

    Realisasi PBB Tapsel Rp 1,1 Miliar

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Tapsel – Hingga 14 November 2014, capaian Pajak Bumi Bangunan (PBB) Tapanuli Selatan (Tapsel) mencapai Rp 1,12 miliar atau berkisar 75% dari target Rp 1,5 miliar. Capaian tersebut dinilai cukup baik setelah dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapsel. “Capaian ini dinilai cukup baik, pada tahun pertama Pemkab Tapsel langsung sebagai pengelola setelah diserahkan secara defenitif Tahun […]

  • Ilegal, Polisi Harus Tutup Tong Pengolahan Limbah Tambang Emas

    Ilegal, Polisi Harus Tutup Tong Pengolahan Limbah Tambang Emas

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online: Ternyata tak satupun keluar izin operasional tong raksasa pengolah batuan mengandung emas yang beroperasi di daerah Mandailing Natal ( Madina ). Tercatat salah satu tong raksasa yang menggunakan bahan kimia berbahaya itu adalah milik ND yang beralamat di desa panyabungan jae, kecamatan panyabungan. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu ( DPMPSTP […]

  • Qori Cilik Fitri Rahmadhani

    Qori Cilik Fitri Rahmadhani

    • calendar_month Kamis, 12 Jan 2017
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Qori cilik Mandailing Natal pada acara pengukuhan Dewan Pimpinan MUI Mandailing Natal Masa Khidmat 2016-2021

expand_less