Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Tagihan Listrik Nyentrik? Kebijakan Kapitaliatik Yang Mencekik!

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Jun 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan lonjakan tagihan listrik. Meskipun PLN mengklaim bahwa kenaikan tarif listrik karena peningkatan pemakaian, banyak warga tak terima.Warga Depok pun sempat mendatangi kantor PLN yang memprotes besarnya tagihan yang naik hingga berkali-kali lipat. Kenaikan yang dirasakan warga pun bermacam-macam. Sehingga PLN pun membuka skema pembayaran dengan cara dicicil.

Eks Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu menilai bahwa alasan PLN tidak lagi rasional terkait lonjakan tagihan tersebut. Diberitakan sebelumnya, Manajer PLN UP 3 Depok, Eka Prastawa, memberi penjelasan terkait aksi protes sejumlah warga atas lonjakan jumlah tagihan biaya listrik mereka. Saat ini, PLN Depok masih yakin lonjakan tagihan murni akibat tingginya pemakaian pelanggan dan bukan karena ada kenaikan tarif.

Dia menegaskan bahwa pihaknya tidak menaikkan tarif listrik. PLN juga tidak ada subsidi silang yang berkaitan dengan bantuan pemerintah daya 450 va atau pun 900 va yang sudah diumumkan oleh pemerintah mendapatkan gratis atau diskon 50 persen. Kemudian, pada periode Maret dan April, ujar Eka, petugas catat meter tidak melakukan pemeriksaan secara langsung ke rumah pelanggan. Ini karena semata-mata mengikuti anjuran pemerintah untuk pencegah penyebaran wabah Covid-19. (idtoday.co.10/06/2020)

Masalah demi masalah terus datang bertubi-tubi menimpa negeri ini. Satu masalah belum selesai, muncul masalah lain. Solusi satu masalah diberikan, malah muncul masalah baru yang ditimbulkan. Begitulah hakikatnya jika menangani urusan rakyat dengan cara tambal sulam bukan keseriusan atau kesungguh-sungguhan.

Maret lalu saat pandemi diumumkan, Pemerintah banyak mengeluarkan janji-janji politik ibarat kampanye ulang. Dan persoalan listrik juga masuk kategori yang dijanjikan akan diberikan kompensasi dan keringanan selama pandemi. Hasilnya? Jangan tanya lagi.

Pemerintah mengatakan telah bekerjasama dengan PLN untuk meringankan beban tarif listrik rakyat selama pandemi. Khususnya bagi yang mendapat BLT covid-19. Ternyata PLN mengklarifikasi hal tersebut belum dibincangkan dengan pemerintah. Antara PLN dan pemerintah saling buang badan dan tidak memberikan kejelasan.

Beberapa waktu kemudian, tagihan listrik mendapatkan keluhan dari banyak masyarakat. Ternyata, listrik bukan gratis, namun seperti disubsidi silang. Yang mampu bayar mahal, akan menutupi alias membayarkan tagihan warga yang kurang mampu. Wow! Lalu, dimana peran pemerintah sebagai pengurus rakyatnya? Jika rakyat mampu saling mengurus satu sama lain, apa guna negara?

Minggu ini kasus tagihan listrik semakin semarak. Masyarakat tidak sabar dengan tarif tagihan listrik yang diluar akal sehat mereka. Tadinya hanya 700 ribu, sekarang menjadi 1,5 juta. Bahkan seperti diberitakan tukang las yang mempunyai tagihan listrik mencapai 20 juta rupiah. Eror! Bahkan para artis yang memiliki duit banyak pun mengeluhkan tarif listrik mereka. Bahkan ada yang mencari 27 juta rupiah hanya untuk listrik saja. Bagaimana dengan kebutuhan lainnya? Orang-orang berduit saja kesulitan dengan tarif listrik yang nyentrik gila-gilaan seperti itu, apalagi rakyat biasa yang penghasilannya pas-pasan?

PLN beralasan karena sejak Maret petugas PLN tidak melakukan pemeriksaan rutin karena covid dan akibat pemakaian listrik yang melonjak selama pandemi. Ok, anggap saja pemakaian listrik memang membengkak selama pandemi karena aktifitas stay at home mengharuskan listrik 24 jam menyala. Dan jika dihitung dari bulan Maret – Juni baru sekitar 3 bulan. Apakah PLN ingin mengatakan bahwa tarif listrik perbulan selama pandemi di atas 500 ribu/bulan? Atau para artis tersebut mencapai 7-8 juta/bulan? Sangat jauh dari akal sehat.

Jika untuk kebutuhan RT seperti masyarakat Indonesia yang mayoritas penghasilan menengah ke bawah, paling banyak tagihannya 500/bulan itupun biasanya bagi yang memiliki usaha di rumah seperti jualan atau usaha konveksi misalnya. Jika jutaan, itu masuk akal jika yang ditagih adalah pabrik atau kilang. Bagaimana PLN bisa seceroboh itu menghitung tarif listrik? Anehnya, PLN memberi solusi dengan mencicil. Sama saja rakyat akan terbebani utang bukan?

Tagihan listrik yang nyentrik pasti menyesakkan dada. Bagaimana tidak? Kebutuhan hidup masih banyak, harga- hargaa juga melambung tinggi, harus menghabiskan uang jutaan hanya untuk listrik? Ironis!

Pemandangan ini sebenarnya tidak mengejutkan dalam domain kapitalis. Sebab, negara yang mengadopsi ideologi kapitalis selalu mengambil kebijakan yang mencekik. Listrik sebagai salah satu kebutuhan yang sudah dianggap pokok malah dijadikan lahan basah untuk dikomersilkan.

Komersialisasi listrik sebenarnya bukan hanya hari ini saja. Dengan pemberlakuan token listrik sudah membuktikan bahwa PLN bukan lagi murni milik pemerintah, melainkan telah ada campur tangan swasta/kapitalis. Pemakaian listrik seperti pemakaian pulsa tentu sangat mahal. Tadinya, tagihan listrik subsisdi bukan token masih bisa dijangkau oleh masyarakat dan merasa terbantu karena murah.

Kapitalisme punya pemahaman bahwa subsidi bukanlah kebijakan yang tepat dilakukan oleh negara. Karena hal tersebut akan membuat masyarakat manja dan malas. Maka subsidi harus dicabut dan bila perlu, lakukan komersialisasi atau swastanisasi BUMN seperti PLN. Kapitalisme tidak senang melihat rakyat bahagia. Kapitalisme senang jika melihat rakyat tertindas dan tercekik! Begitulah sesungguhnya wajah kebijakan yang kapitalistik.

Andai negeri ini mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, tentu masalah listrik bukanlah masalah besar. Sebab listrik adalah harta milik rakyat yang hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat 100%. Artinya, dalam Islam urusan kelistrikan haram diberikan kepada swasta dan diperjualbelikan. Listrik harus diberikan gratis kelada masyarakat. Sebagaimana Hadis Rasulullah SAW bersabda : “Kaum muslimin bersekutu dalam tiga hal : air, api dan padang rumput”.

Api dalam hadis tersebut dimaknai termasuk listrik. Sehingga tidak ada istilah tarif dalam listrik jika yang diberlakukan adalah syariah Islam. Betapa mudahnya urusan kebutuhan manusia jika diserahkan kepada Sang Pencipta, yaitu syariah Islam. Sebagai agama yang holistik, Islam bukan hanya mengatur urusan ibadah vertikal. Tetapi juga urusan manusia sesama manusia. Termasuk kelistrikan.

Tanpa adanya penerapan Islam secara kaffah, maka urusan rakyat akan terus bermasalah. Bukan hanya listrik yang nyentrik, tapi keseluruhan akan terasa mencekik. Namun dengan penerapan Islam, masyarakat di Indonesia akan merasakan kesejahteraan, hasil kekayaan alam yang melimpah, listrik yang gratis, dan jaminan hidup yang berkah. Wallahu a’lam bisaawab.

Penulis tinggal di Kalimantan Utara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Calon Anggota DPRD Madina Bawa Perempuan Dinikahkan Paksa

    Calon Anggota DPRD Madina Bawa Perempuan Dinikahkan Paksa

    • calendar_month Kamis, 24 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Sahbana salah seorang Anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal terpilih periode 2014-2019 dari PAN bersama seorang kawannya bernama Sangkot terpaksa dinikahkan secara paksa dengan dua perempuan kencan mereka karena dicurigai berbuat tak senonoh di Desa Hutagodang Muda, Senin (21/7/2014). Kedua perempuan tersebut berinisial LM berstatus gadis dan DL status janda. Keduanya warga […]

  • Polling Mandailing Online, Yusuf-Imron Masih Teratas

    Polling Mandailing Online, Yusuf-Imron Masih Teratas

    • calendar_month Senin, 16 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Hingga posisi Senin (16/11), polling Pilkada Madina yang diselenggarakan kantor berita Mandailing Online menunjukkan posisi pasangan Yusuf Nasution-Imron Lubis terus mengungguli dua pasangan kandidat lainnya. Pantauan di Mandailing Online, Senin (16/11) pukul 19:51, suara yang diperoleh pasangan Yusuf Nasution-Imron Lubis sebanyak 62 persen atau 285 Vote (suara). Posisi pasangan Dahlan Hasan […]

  • Jelang Idulfitri, Bupati dan Wakil Bupati Silaturahmi dengan Insan Pers

    Jelang Idulfitri, Bupati dan Wakil Bupati Silaturahmi dengan Insan Pers

    • calendar_month Kamis, 28 Apr 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menjelang Idulfitri 1443 H Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution dan Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution bersilaturahmi dengan insan pers di aula kantor Bupati, Desa Parbangunan, Kamis (28/4). Bupati Sukhairi di hadapan jurnalis yang bertugas di wilayah Madina menyampaikan pers merupakan elemen penting bagi Pemkab Madina dalam […]

  • Dinas Pendidikan Diduga Arahkan KUPT Berpolitik Prkatis

    Dinas Pendidikan Diduga Arahkan KUPT Berpolitik Prkatis

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kadis Bantah Adanya Pengerahan Politik Praktis PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pejabat di Dinas Pendidikan diduga mengarahkan para kepala UPT Dinas Pendidikan kecamatan terlibat politik praktis di Pilkada Madina 2015. Dugaan pengarahan itu dilakukan di rumah dinas, Sabtu (3/10). Salah seorang yang ikut di pertemuan itu menyebutkan tidak lazim dilaksanakan pada hari libur bila memang dalam […]

  • Kontraktor Diminta Timbun Bekas Galian Jalan Tanotiris

    Kontraktor Diminta Timbun Bekas Galian Jalan Tanotiris

    • calendar_month Senin, 26 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Bekas galian jalan di jalur Sinonoan-Muara Batang Angkola Kecammatan Siabu, Mandailing Natal dikeluhkan warga. Sebab, bekas galian itu berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Pihak kontraktor yang mengerjakan peningkatan badan belum menimbun bekas galian. Untuk itu warga meminta kepada kontraktor dari CV Putra Setia untuk menimbun bekas galian di pinggir jalan itu. […]

  • Lanjutan Jalan Madina-Sumbar, Pemkab Madina Diminta Lobi Sumbar

    Lanjutan Jalan Madina-Sumbar, Pemkab Madina Diminta Lobi Sumbar

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      ULU PUNGKUT (Mandailing Onine) – Masyarakat Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mendesak Pemkab Madina melakukan lobi kepada pemerintah Provinsi Sumatera Barat agar jalan tembus Madina-Sumbar dari titik Desa Simpang Banyak, Ulu Pungkut ke daerah Pasaman bisa terealisasi. “Untuk wilayah Madina,  pembukaan jalan tembus dari Desa Simpang Banyak ke perbatasan  Sumatera Barat walaupun […]

expand_less