Minggu, 31 Mei 2026
light_mode

Pilkada Madina, Narkoba & Desa Sangat Tertinggal

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 4 Des 2020
  • print Cetak

Oleh : Effan Zulfiqar Harahap
Staf pengajar FISIP dan Ketua Pusat Studi Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

 

Dinamika Pilkada Mandailing Natal (Madina) sepertinya akan lebih kompetitif  dibandingkan Pilkada Tapsel. Kenapa Pilkada Madina lebih menarik?  Karena bakal terjadinya pertarungan sengit antara tiga pasangan calon (paslon). Ketiganya punya kekuatan berimbang jika disandingkan head to head. Sangat kontras dengan Pilkada Tapsel, dimana kekuatan antara dua paslon tak seimbang.

Tiga paslon yang berimbang kekuatannya, tentu tingkat rivalitas juga ketat dan menarik. Strategi dan kemampuan mendayagunakan sumber daya, baik popularitas/elektabilitas, dukungan parpol, massa, jaringan dan dukungan dana, sangat penting artinya. Hanya paslon yang punya strategi mumpuni dan efektif mendayagunakan sumber daya berpeluang untuk menang. Yang tidak mampu  akan tersingkir.

Seperti diketahui H.M. Ja’far Suhairi Nasution adalah mantan Wakil Bupati yang maju sebagai calon bupati menggandeng wakilnya, Atika Azmi Utammi Nasution. Paslon yang punya brand SUKA ini bernomor urut 1, diusung tiga parpol, PKB, PKS dan Hanura. Cukup menarik, HM Ja’far Suhairi Nasution mengincar kursi orang nomor satu di Madina meskipun harus berhadapan dengan  H. Dahlan Hasan Nasution sang petahana.

H.M. Ja’far Suhairi Nasution memilih calon wakilnya perempuan milineal lulusan Australia yang lahir di Kotanopan 1993. Atika menyelesaikan studi S1 dan S2 di Universitas Of News Wales, Sydney, Australia.   Pertanyaan apakah Atika bisa menjadi vote getter untuk menarik kaum perempuan yang jumlahnya mayoritas? Bila popularitas Atika mampu menghipnotis kaum perempuan dan kalangan milineal di Madina, tentu peluang SUKA menang makin terbuka lebar.

Paslon nomor urut 2,  Drs. H. Dahlan Hasan Nasution-H. Aswin Parinduri didukung tujuh parpol, Golkar, PPP, PKPI, Nasdem, PDIP, Beringin Karya dan Perindo. H. Dahlan Nasution merupakan bupati petahana yang kali ini mengandeng Ketua DPD Partai Golkar, H. Aswin Parinduri.

Apakah Drs. H. Dahlan Hasan Nasution sebagai petahana dengan wakilnya H. Aswin Parinduri akan muncul sebagai pemenang? Peluang itu tetap besar, tapi bisa berubah dengan cepat. Tergantung pada strategi dan kemampuan mendayagunakan sumber daya selaku petahana, yang sudah punya modal popularitas/elektabilitas. Tapi itu tidak bisa dijadikan sebagai garansi kemenangan.

Adapun paslon nomor urut 3, H.M. Sofwat Nasution-Ir. Zubeir Lubis. Paslon ini diusung  tiga parpol, PAN, Demokrat dan Gerindra. H.M. Sofwat Nasution adalah pensiunan jenderal TNI bintang satu. Wakilnya Zubeir Lubis, kerap dipanggil mamak “Beir”, adalah politisi karatan PKB yang sudah tiga priode menjadi anggota legislatif. Meskipun Zubeir Lubis pemilik Hotel Rindang politisi PKB. Ia tidak mendapatkan dukungan parpol yang dimotori Gus Dur itu. Sebaliknya PKB memberikan dukungan pada paslon nomor urut 1.

Ketiga paslon ini sudah cukup lama bersentuhan dengan birokrasi di Kabupaten Mandina. Mungkin hanya H.M. Sofwat Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution yang tidak pernah bersentuhan dengan birokrasi secara langsung. Artinya ketiga paslon punya massa pendukung di kalangan birokrasi. Ketiga paslon sangat familiar di hampir semua lapisan masyarakat. Artinya ketiga paslon punya dukungan massa yang merata di Madina.

Siapapun yang menang, paslon terpilih sudah harus berhadapan berbagai permasalahan kompleks dan menuntut penanganan fokus, tepat dan cepat.  Masalah yang tak tuntas sampai hari ini diantaranya buruknya infrastruktur (jalan/jembatan), banyaknya desa kategori sangat tertinggal dan tertinggal (terisolasi). Kerusakan lingkungan yang sistematik dan masif akibat perambahan hutan/illegal loging dan tambang-tambang liar.

Yang menyesakkan dada, makin maraknya peredaran narkoba dan penyakit-penyakit sosial, kontras dengan semboyan “Madina yang Madani”. Kini Madina masyhur sebagai daerah “produsen” ganja di Sumut. Berhektar ladang ganja dengan hasil berton sudah dimusnakan, tapi masih tetap muncul landang ganja baru di tempat yang sama di  Tor Sihite. Berita tentang ganja, penangkapan pengedar dan pemakai narkoba di Madina sudah hal lumrah menghiasi berita media massa lokal dan nasional.

Kepala Lapas kelas IIB Panyabungan, Indra Kasuma pernah mengatakan kepada MohgaNews (Selasa, 7 Juli 2020), sebanyak 397 orang penghuninya terlibat kasus narkotika, psikotropika, dan narkoba. Ganja yang paling banyak dikonsumsi. Artinya, ganja yang dikonsumsi, bukan datang dari luar wilayah Madina. Apa yang terjadi di Lapas gambaran nyata maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Fenomena sosial ini juga bukti merajalelanya “mafia”  ganja di Madina.

Soal buruknya infrastruktur sudah menjadi permasalahan klasik dan cerita lama. Meskipun  Indonesia sudah 75 tahun merdeka dan pilkada di Madina sudah 4 putaran. Masalah ini hanya dijadikan sebagai bahan “jualan” kampaye. Dan masyarakat di kawasan Sulang Aling,  Desa Ranto Panjang, Lubuk Kapundung I, Lubuk Kapundung II dan Desa Hutaimbaru, Kecamatan Muara Batanggadis paling menderita. Mereka sudah kerap mendapat janji sorga soal pembangunan infrastruktur dari paslon menjelang pilkada.

Sampai hari ini masyarakat masih harus berjibaku selama lima jam naik robin (perahu bermesin) melawati Sungai Batanggadis dan Parlampungan untuk sampai di Singkuang ibukota kecamatan. Ironisnya, semua desa yang disebutkan tergolang desa sangat tertinggal. Kemiskinan infrastruktur jelas berbading lurus dengan kemiskinan masyarakat. Keterbatasan akses keluar masuk jelas berdampak terhadap pengembangan sosial ekonomi/usaha masyarakat.

Kondisi infrastruktur yang buruk di wilayah Sulang Aling, Kecamatan Muara Batang Gadis dan Desa Silogun di Kecamatan Pakantan sudah menahun. Lima tahun sudah berlalu sejak Pilkada 2015, ternyata yang pernah berjanji lupa merealisasikannya. Pertanyaannya, apakah jualan soal buruknya infrastruktur dalam kampanye di Pilkada 2020 masih muncul? Hendaknya masyarakat makin cerdas, bisa membedakan mana paslon yang hanya berjanji palsu dan mana yang amanah.

Ironisnya, di desa sangat tertinggal dan tertinggal yang miskin infrastruktur masih ada  kaum miskin. Tercatat jumlah kaum miskin Maret 2019 masih ada sebanyak 40.64 ribu orang di Kabupaten Madina. Mayoritas mereka berdiam di desa-desa sangat tertinggal. Tentu jumlanya bertambah dengan terjadinya pandemi Covid 19. Sebagian dari mereka mengalami kemiskina struktural karena minimnya akses infrastruktur dan tidak adanya peluang berusaha karena keterisolasian tempat tinggal mereka.

Dari 27 kelurahan dan 377 desa di 23 kecamatan, ada 97 desa tergolong sangat tertinggal dan sisanya tertinggal. Kecamatan-kecamatan yang ada desa sangat tertinggal, Panyabungan Selatan, Panyabungan Timur, Huta Bargot,  Muara Batang Gadis, Batahan, Sinunukan, Batang Natal, Lingga Bayu, Ranto Baek, Pakantan, dan Kotanopan. Dimana Indeks Desa Membagun (IDM) sangat rendah, diukur dari rendahnya indikator dimensi: kesehatan, pendidikan, permukiman, keragaman produksi, perdagangan, kualitas lingkungan, lembaga ekonomi dan keterbukaan wilayah.

Mayoritas desa sangat tertinggal ada di Pantai Barat Madina. Padahal wilayah ini memiliki sumber daya alam yang kaya. Justru tidak mendapatkan distribusi hasil pembangunan memadai padahal kontribusinya terhadap PAD cukup besar. Meskipun ada ribuan hektar lahan perkebunan sawit tak ada jaminan memberikan mamfaat bagi masyarakat. Bahkan lahan sawit kerap menjadi sumber konflik dan penyebab kerusakan lingkungan. Sepertinya wilayah ini luput dari agenda tiga paslon. Wilayah yang kaya tapi buruk infrastruktur. Dan bukan menjadi skala prioritas dalam visi misi paslon Pantai Barat Madina. Masyarakat seharusnya hanya memilih paslon yang punya komitmen jelas untuk membangun Pantai Barat Madina.

Akhir kata, sejatinya masyarakat Kabupaten Madina bisa menjadi pemilih cerdas dan selektif pada 9 Desember ini. Tidak memilih paslon yang tidak punya visi dan misi mensejahterahkan masyarakat, membangun infrastruktur (terutama di wilayah Pantai Barat), memberantas narkoba, memutus ketertinggalan/keterisolasian desa, menanggulangi kemiskinan dan mencegah kerusakan lingkungan.

Dengan APBD di atas angka 1 triliun rupiah, mestinya berbanding  lurus dengan kualitas infrastruktur. Harus diingat infrastruktur merupakan urat nadi kemajuan perekonomian dan sarana mobilitas sosial. Infrastruktur yang baik menjadi bukti tidak adanya keterisolasian wilayah (desa/kecamatan) dan kemajuan daerah otonom. Sebaliknya, infrastruktur yang buruk menjadi bukti ketertinggalan daerah otonom.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepala BPN Madina Bantah Kong Kalikong Dengan PT.TBS

    Kepala BPN Madina Bantah Kong Kalikong Dengan PT.TBS

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala BPN Madina, Rahim Lubis membantah melakukan “kong kali kong” dengan PT. Tri Bakhtera Srikandi (TBS). Itu dikatakannya melalui kiriman dari Whatsaap menjawab Mandailing Online beberapa hari lalu, terkait munculnya foto dia di facebook, foto saat Rahim Lubis berada di mobil yang berlokasi di base camp PT.TBS di Kecamatan Natal. […]

  • Gandeng Akademisi, Madina Perkuat Petani di Budidaya Pisang

    Gandeng Akademisi, Madina Perkuat Petani di Budidaya Pisang

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      ​MEDAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berupaya memperkuat kalangan petani dalam pengembangan budidaya pisang dari sisi transfer pengetahuan. Bupati Madina, H. Saipullah Nasution, yang di dampingi Wakil Atika azmi Utammi serta Kadis pertanian,Taufik zulhandra melakukan diskusi mendalam bersama jajaran pakar dari Universitas Medan Area (UMA) guna membahas strategi pengembangan budidaya pisang […]

  • Nama-nama Anggota DPRD Madina Soal Dana Perjalanan Fiktif

    Nama-nama Anggota DPRD Madina Soal Dana Perjalanan Fiktif

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 6Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para anggota DPRD Mandailing Natal (Madina) yang sudah mengembalikan dana perjalanan dinas fiktif sejauh ini sekitar 5 orang. Berdasar data di sekretariat DPRD Madina, Kamis (29/8/2013), kelima anggota dewan itu masing-masing Rahmad Riski (Fraksi Demokrat), Siti Aminah (Fraksi Bersatu), H.Binsar Nasution (Fraksi Perjuangan Reformasi), Ir.Zubeir Lubis (Fraksi PKB ) dan H.Jafar […]

  • Dua Korban Hanyut di Sulangaling Ditemukan

    Dua Korban Hanyut di Sulangaling Ditemukan

    • calendar_month Kamis, 23 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    Sulangaling (Mandailing Online) – Dua korban hanyut di wilayah Sulangaling, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG), Mandailing Natal (Madina) pada Senin (20/12) kemarin kembali ditemukan tim gabungan Polda Sumatra Utara (Poldasu), Polres Madina, dan Basarnas Sumut. Adapun korban yang ditemukan pada hari ini, Kamis (23/12) berjenis kelamin perempuan. Sebelumnya pada Rabu (22/12) kemarin telah ditemukan satu […]

  • Warga Sihepeng Blokade Jalinsum Protes Tangkap Lepas Narkoba. Polisi Temukam Belasan Bungkus Narkoba Jenis Sabu

    Warga Sihepeng Blokade Jalinsum Protes Tangkap Lepas Narkoba. Polisi Temukam Belasan Bungkus Narkoba Jenis Sabu

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Ratusan masyarakat sehepeng di Kecamatan Siabu Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) menggelar aksi blokade jalan lintas sumatera. Aksi ini dilakukan warga sebagai bentuk protes terhadap dugaan tangkap lepas pelaku pengguna narkoba. Senin 10/2/2024 Aksi yang digelar warga sihepeng raya itu sempat menimbulkan kemacetan jalur lintas sumatera. aksi warga ini […]

  • KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN

    KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Pambudi Mahasiswa STAIM   Kata pemimpin selalu jadi bahan diskursus yang sering mengandung polemik berkepanjangan menjelang perhelatan demokrasi terutama suksesi kepemimpinan didaerah. Tentu saja ini sangat beralasan mengingat ekspektasi yang teramat tinggi dari masyarakat terhadap pemimpin masa depan. Pemimpin yang diharapkan kelak mampu membawa perubahan signifikan dalam seluruh lini kehidupan. Jauh sebelum […]

expand_less