Kamis, 5 Mar 2026
light_mode

Intoleransi Politik di Kalangan Anak Muda, Benarkah Ada?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 26 Mar 2021
  • print Cetak

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, masih banyak anak muda yang tidak toleran dalam hal politik, dibandingkan intoleransi pada praktik ritual sosial keagamaan. Hal ini menjadi temuan dalam hasil survei suara anak muda tentang isu-isu sosial politik bangsa pada Maret 2021.

Ia memaparkan, sebanyak 39 persen anak muda menyatakan keberatan jika orang non-Muslim menjadi presiden, sedangkan anak muda yang tidak keberatan 27 persen, dan tergantung 28 persen. Sementara, mayoritas anak muda menyatakan tidak keberatan apabila orang non-Muslim menjadi gubernur (36 persen) maupun bupati/wali kota (35 persen), ada 29 persen yang keberatan, serta 30 persen dan 32 persen tergantung.

Burhanuddin menuturkan, persentase intoleransi atau yang menyatakan keberatan pada anak muda lebih rendah dibandingkan hasil survei kepada populasi umum di tahun-tahun sebelumnya, dalam bidang keagamaan. Meskipun tingkat intoleransi pada anak muda lebih rendah, menurut Burhanuddin, hal ini perlu dibenahi. (republika.co.id. 21/03/2021)

Gaya hidup kalangan anak muda selalu menjadi trend dan tidak habis untuk dibahas. Sebelumnya, kehadiran atau keterlibatan kaula muda dalam kancah politik tidak terlalu dipedulikan bahkan ruangnya juga tidak begitu luas.

Anak muda sepuluh tahun silam, lebih banyak memilih terjun berkecimpung di dunia akademis untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang paling tinggi. Setelah itu, mencari kehidupan masing-masing berdasarkan latar belakang pendidikan atau setidaknya mendapatkan pekerjaan yang layak sebagai pengakuan bagi kerja kerasnya dalam menuntut ilmu.

Namun kini, polarisasi politik berubah. Kehadiran para kaum muda sudah semakin menggeliat. Mulai dari menghidupkan kembali orkam-orkam dan ormas, sampai bertarung di pemilihan umum, baik pilkada maupun pileg. Usia-usia belia yang dulunya masih fokus belajar, kini semakin meminati dunia politik.

Belum lagi, keterlibatan anak muda saat unjuk rasa menolak kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil. Sebut saja aksi penolakan UU omnibus law, juga saat mengawal keputusan KPU dalam pengumuman hasil pilpres. Tidak hanya itu, bahkan mengawal kegiatan keagamaan pun, anak muda usia-usia pelajar kini jadi wajah baru dalam life style pemuda di negeri ini.

Seperti yang disampaikan oleh Burhanuddin, bahwa anak-anak muda ternyata masih banyak yang tidak toleran (intoleran) berpolitik berdasarkan hasil survei yang ia lakukan. Namun, seharusnya Burhanudiin menjelaskan, beberapa indikator yang menjadi ukuran intolerannya anak muda berpolitik, yang menurutnya masih tinggi angkanya.

Sayangnya, indikator yang diharapkan tidak dimunculkan. Dan tentu saja bisa mengundang tanda tanya besar bagi masyarakat, benarkah anak muda sekarang intoleran? Sejauh mana peran anak muda dalam politik hari ini hingga bisa diindikasikan dengan ketidaktoleranan mereka di dunai politik? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tentu dibuthkan analisis. Maka analisis tersebut berangkat dari hasil survei yang sudah dilakukan oleh Burhanuddin tersebut sebagai berikut.

Pertama, penyematan kata intoleran tanpa merumuskan beberapa indikator yang jelas sebenarnya terlalu gegabah. Karena persoalan intoleran membutuhkan data dan fakta yang terjadi di lapangan dan tentu saja perilaku intoleran tersebut harus sudah menjadi habit dikalangan anak muda. Artinya, kejadian itu kontiniu dilakukan bukan sekedar asumsi belaka. Namun, survei itu tidak menyebutkan rentan waktu pemikiran atau perilaku intoleran itu terjadi. Sehingga sulit diterima.

Kedua, dalam survei tersebut, disebutkan bahwa 39% anak muda keberatan jika non muslim jadi presiden. Adakah ini indikator utama survei? Andaipun itu benar ada penolakan, harusnya penyurvei memahami bahwa sebanyak 27% dari jumlah penduduk Indonesia adalah kalangan muda, yang tentunya mayoritas beragama Islam. Jadi, jika mereka menolak sebanyak 39%, harusnya itu bukan intoleran, tetapi sudah diatas toleran. Sebab artinya, 61% persen lagi menerima bukan? Jadi, sangat toleran hingga menabrak ajaran agamanya sendiri.

Ketiga, apakah toleran dalam berpolitik yang dimaksud harus mencapai 100% penerimanaan kalangan muda utuk dipimpin oleh non muslim dari umat Islam? Oke, mungkin mustahil demikian, katakan saja 70-90%. Di atas 50% saja itu sudah mewakili suara mayoritas alias sudah demokratis, bukan? Lalu, kenapa masih disebut intoleran?

Begitulah pemikiran demokrasi-sekuler yang diadopsi oleh politisi dan penguasa di negeri ini. Melihat angka 39% saja menolak pemimpin non muslim sudah dianggap dan dijadikan sebagai indikator intoleransi. Padahal, sah-sah saja jika ada pilihan berbeda di kalangan masyarakat khususnya anak muda dalam memandang dunia politik khususnya kepemimpinan. Secara demokrasi yang didewakan kaum berkiblat Barat, katanya perbedaan adalah hak asasi. Lalu kenapa menuntut harus sama?

Belum lagi angka 39% tersebut adalah anak muda yang beragama Islam. Berlatar belakang dari keluarga muslim dan mendapatkan pendidikan agama yang baik di keluarganya. Atau bisa juga dari kalangan pelajar/mahasiswi sekolah Islam atau organisasi kepemudaan berbasis Islam. Tentu saja, su’ur Islam mereka masih bagus dan menggelora. Dan sesuai ajaran Islam, haram memilih pemimpin non muslim. Itu suatu ajaran agama. Apakah negeri ini berani mengatakan bahwa ajaran agama Islam tidak relevan untuk diyakini lagi? Wallahu a’alam bissawab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • April, Truk Melebihi Tonase Akan Ditindak

    April, Truk Melebihi Tonase Akan Ditindak

    • calendar_month Jumat, 17 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Pada April nanti pihak Perhubungan dan Inpormatika Madina akan menindak keras terhadap truk melebihi tonase yang melintas di jalan provinsi pada wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), terutama jalur Panyabungan-Natal dan kawasan Pantai Barat. Saat ini sosialisasi peraturan tentang pelarangan bagi setiap kenderaan yang melebihi tonase di jalan Propinsi antara Jembatan Merah menuju […]

  • Kolaborasi Polisi dan Pemerintah Desa Menekan Angka Kasus Pencurian

    Kolaborasi Polisi dan Pemerintah Desa Menekan Angka Kasus Pencurian

    • calendar_month Minggu, 18 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Arya Damanik Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Perkembangan kehidupan masyarakat yang begitu cepat sebagai hasil dan proses pelaksanaan pembangunan di segala bidang kehidupan sosial terutama dalam bidang keamanan telah membawa pula dampak negatif berupa peningkatan kualitas dan kuantitas berbagai macam kejahatan yang sangat merugikan dan meresahkan masyarakat, salah satunya adalah tindak pidana pencurian. Pencurian […]

  • Pemerintah Harus Jeli Menempatkan Pejabat

    Pemerintah Harus Jeli Menempatkan Pejabat

    • calendar_month Kamis, 9 Sep 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah harus jeli menempatkan orang dengan kapasitas yang baik pada posisi strategis dalam pemerintahan. Terlebih yang berurusan langsung dengan hajat masyarakat banyak. Hal itu disampaikan Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) Erwin Efendi Lubis usai memimpin rapat Bamusy di ruang paripurna DPRD Madina, Kamis (9/9). Statemen itu untuk menanggapi adanya kesalahan input […]

  • Gerakan Pangan Murah Pemkab Madina, Harga Diklaim Paling Murah

    Gerakan Pangan Murah Pemkab Madina, Harga Diklaim Paling Murah

    • calendar_month Senin, 4 Mar 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal melalui Dinas Ketahanan Pangan gelar pasar murah. Agenda tersebut merupakan atensi pemerintah bagi masyarakat lantaran melonjaknya harga beras Jelang Ramadhan. Pantau Mandailing Online, pasar beras murah yang dilaksanakan di pasar lama panyabungan pagi tadi 4/3/2024 langsung di serbu warga. Antrian mendapatkan beras yang harga perkilonya Rp.10.250 itu […]

  • Bupati: Koperasi ikuti perkembangan zaman

    Bupati: Koperasi ikuti perkembangan zaman

    • calendar_month Jumat, 8 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Meskipun zaman telah berubah dan berbagai kegiatan ekonomi telah muncul ke permukaan, namun koperasi senantiasa masih tetap relevan dengan perkembangan zaman. Koperasi telah mampu memberikan kontribusi pada pembangunan ekonomi daerah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat atau masyarakat. Hal ini, disampaikan Bupati Mandailing Natal, Aspan Sofyan Batubara, malam ini. Dikatakan, Pemerintah menyadari bahwa sektor Koperasi, […]

  • Anggota komisi E DPRD Sumut, Ahmad Hossen Hutagalung Reses ke Madina

    Anggota komisi E DPRD Sumut, Ahmad Hossen Hutagalung Reses ke Madina

    • calendar_month Sabtu, 11 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Anggota komisi E DPRD Sumut, Ahmad Hossen Hutagalung Reses ke Madina (photo ridwan hasan)

expand_less