Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

NONA SI PENGEMIS CINTA TUAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 6 Sep 2023
  • print Cetak

Karya: Rina Youlida Nurdina

Mentari bersinar menukik ceria, tapi angin masih segar meraba

Berhembus menyapu kulit serasa berirama, menyapa dengan lembut penuh aroma

Sungguh pagi yang amat indahnya, di depan pintu gerbang saat tiba

Berdiri Tuan yang rupawan menggoda, penuh pesona dengan senyum menawannya

Menjulurkan tangan ramah hendak menyapa, apalah daya Nona yang terpesona

Pada Tuan yang sejak lama didamba, dalam rahasia yang tak sia-sia

//

Tuan menyapa dengan irama, berdendang hati Nona dibuatnya

Ternyata sama damba yang dirasa, Tuan juga simpan rasa

Kisah cinta waktunya dimula, jadi saksi angin dan mentari pun bersedia

Tuan dan Nona kini diantaranya, Mulai saling memberi tanda

Saling pandang Tuan dan nona   Merjut tali saling mencari cara

Agar nanti Tuan dan Nona, dapat menjalin kasih dalam rahasia

//

Rabu adalah hari yang sempurna, 31  tepat tanggalnya

Bulan Oktober di akhir waktunya, musim hujan memang masanya

Mengundang dingin merasuk amat dalamnya, memasuki jam waktu malam tiba

Nona menyapa dinginnya udara, Menatap nanar dari balik  celah daun jendela

Sungguh tiada siapa dapat menyangka, Nona sedang merasakan bahagia yang amat nyata

Karena kini bayang tuan bermain dalam jiwa, seolah mimpi lama yang kini jadi nyata

//

Tuan datang secara tiba-tiba, terlihat ceria dari atas kereta kuda

Nona tersipu malu dari balik jendela, cubit pipi merah yakinkan itu nyata

Dan sungguh amat sakit itu terasa, yakinlah nona itu nyata adanya

Nona berlari dengan ceria, melalui pintu berdaun dua, menghampiri Tuan yang tersenyum menggoda

Dingin menjalar menggerayangi raga, Nona memandang tuan di atas kereta kuda

Tiada satupun keluar kata, dari bibir masing-masing si pemilik jiwa

Namun dapat terbaca dari pancaran mata, bahwa tuan dan Nona saling mendamba

//

Tanpa berucap sepatah kata dari atas kereta kuda, Tuan menarik tangan dingin Nona

Kini jarak tiada batasnya, nafas hangat Tuan terasa membelai pipi Nona

Membakar gairah insan yang dilanda asmara, dua telapak tangan Tuan menyentuh pipi Nona

Membuat jantung Nona berdegup dengan kencangnya, kala bibir Tuan menyapa lembut kening Nona

Tuan yang tetap berada di atas kereta kuda, berpijak pada sebongkah batu berdiri si Nona

Panorama yang jadi tontonan alam semesta, dua insan yang dilanda cinta

//

Rembulan malam menarik waktu, suara cicak dan jam dinding saling beradu

Tuan datang dengan alat musik tanpa ditandu, seperti cenderawasih jantan datang hendak menggoda syahdu

Si Nona yang sudah jatuh dalam peluk dan rayu

Ku menanti seorang kekasih judul lagu, didendangkan Tuan untuk Nona yang tersipu malu

Hingga makin dalam gejolak Tuan dan Nona untuk bertemu, membalas jarak yang dulu dipisahkan waktu

Mengapa baru sekarang Tuan datang padaku, kata nona dalam dekapan rindu

Apakah Tuan tiada pernah tahu, Nona ini tiada pernah menepis indahmu

//

Walau tuan jauh selalu, tapi Nona sabar selalu menunggu

Menanti dan selalu berharap Tuan akan dibawa oleh waktu

Seharusnya Nona jangan menaruh rasa pada tuanku

Namun kini sudah sungguh terlambat Tuanku, mendarah daging kini rasa cinta itu

Tuan menjadi pusat alam semesta si Nona yang lugu

Namun Nona pasrah meski pilu, menanggung sakit luka yang akan datang dibawa oleh waktu.

//

Tahukah kau Tuanku, Nona selalu merindukanmu

Walau Nona selalu berusaha melawan rindu, tapi di mimpipun tuan tetap mengganggu

Nona merindu tanpa bisa menyatakan perasaan wahai tuanku

Hanya bisa memandang dari kejauhan saat tuan berlalu

Cinta nona yang kuat tapi tak mampu milikimu, hingga rindu menjadi derita Nona yang menyiksa kalbu

Logika nona ingin pergi melawan waktu, tapi hati memaksa setia dengan rindu

//

Sungguh tak adil rasanya Tuanku, semakin bertambah berat rasanya rindu

Relakah tuan jika kutulis I miss you di atas batu, lalu Nona lemparkan pada Tuanku

Agar tuan tahu sakit sekali menahan rindu

Mengapa kejam dikau Tuanku, selalu suguhkan cinta dengan madu

Yang membuat Nona tak bisa mengusir bayang indah Tuanku

//

Lima tahun Nona bertahan dengan rasa itu, hingga mendambamu menjadi jemu

Kebodohan yang Nona lakukan secara berulang adalah mencintamu wahai tuanku

Tuan penguasa hati Nona yang lugu, meski tau Tuan tak akan pernah jadi milik si nona lugu

Mungkin bagi Tuan si nona hanyalah debu, yang hinggap menempel di kusen jendelamu

Sedang nona tau jika Tuan hanya cinta pada bunga yang lebih indah di berandaku

Berlahan Nona tenggelam dalam air mata pilu, beginilah ternyata jika jatuh cinta seorang diri wahai tuanku

//

Derai hujan segar sungguh tiada mampu, menyapu rindu yang selalu menggebu

Nona juga ingin bertanya pada tuanku, apakah tuan memiliki sedikit saja rasa rindu itu

Namun seketika sadar jika Nona hanyalah pelabuhan sementara cintanya tuanku

Yang sesuka hati Tuan tinggalkan Nona jika perlu dan kembali ke peraduan Tuan yang lebih syahdu

Sugguh tidak menyenangkan merindu tanpa bertemu, itulah derita yang nona pangku

Seperti pelacur yang tak pernah diberi uang saku, Nona rela korbankan jiwa raga untuk tuanku

//

Memandang mata dengan berkaca, luas lepas ke angkasa raya

Hati pilu tiada duanya, ingin Nona mencari jawabannya di sana

Kiranya ada obat untuk luka, kala Tuan ucap cukup sudah semua

Agar Tuan dan Nona kembali ke peraduan semula, lupakan kisah asmara antara Tuan dan Nona

Sungguh berat rasanya hati Nona mencoba, menepis rasa yang amat dalam rasanya

Ingin cuek tapi tetap rindu jua, ingin tidak perduli tapi di hati tuan tetap bermain gembira

Kuat rasa Tuan ingin dilupakan oleh Nona, tapi akal dan hati Nona tidak bisa bekerjasama

//

Selalu terkenang ucapan Tuan kepada Nona, waktu siang cerah tepat pukul dua

Saatnya untuk tenang tanpa harus mengenang itu ucapnya, kepada Nona yang berat dimabuk asmara

Kini Nona hanya bisa memendam luka, Tuan ingin kau dan aku bukan lagi kita

Menangis Nona yang terpenjara dalam rasa, melepas Tuan yang melangkah menuju istana

Untuk kembali ke dunia Tuan di sana, dengan cinta sejati  harta Tuan yang nyata

Apalah daya Nona yang merasa hina, yang dipermainkan angkuhnya cinta

//

Tapi tenanglah wahai Tuanku tercinta, Nona tidak akan umbar pada dunia

Karena Nona hanyalah tempat untuk singgah sementara, saat tuan lelah di perjalanan mencari bahagia

Nona mencintai dengan rasa yang paling sempurna, menyayangi dan mengagumi dengan cara yang paling rahasia

Hingga saatnya Nona harus ikhlas dan rela, melepas ikatan rasa Tuan dan Nona

Manisnya memori cinta singkat Tuan dan Nona, tak akan merusak tulus hatimu padanya

Nona akan tulus menanggung luka, tanpa mengganggu debaran jantungmu padanya

//

Kini Tuan kembali ke istana dengan kereta kuda, berjalan berlahan berlalu meninggalkan Nona

Tanpa menoleh ke belakang melihat Nona tuk terakhir kalinya

Tapi Nona tahu wahai Tuan yang kucinta, ada luka tak berdarah di Tuan punya dada

Dan Tuan berusaha menyembunyikannya, agar Nona rasa bahwa Tuan tiada pernah punya rasa

Hingga lebih mudah bagi Nona untuk melupa, semua keindaha cinta yang Tuan dan Nona pernah bina

//

Pamitlah dengan baik jika ingin meninggalkan Nona

Buatlah seperti pertama kali Tuan mengenal Nona penuh dengan keindahan cinta

Tapi….tenang Tuanku, tenang saja
Nona akan simpan rahasia ini di bagian hati terdalam dan tergelap selamanya

Hingga semut pun tak akan mampu mencari cinta Nona disimpan di lubang yang mana

Walau Nona tahu ini salah adanya,  Tuan adalah kesalahan terindah yang pernah ada

Selamat berpisah Tuanku yang kucinta, Semoga bahagia selalu Tuanku di sana.

Rina Youlida Nurdina adalah guru di SMP Negeri 6 Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut.
Anggota Forum Komunikasi Pendidikan (FKP) Madina.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Calo Sidang Tilang Menghadang

    Calo Sidang Tilang Menghadang

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Praktik jasa tak resmi atau percaloan hampir terjadi dalam segala bidang, termasuk di bidang pengadilan. Akibatnya, wibawa pengadilan makin terpuruk, seiring terus terjadinya percaloan sidang. Pihak pengadilan tak mampu berbuat banyak karena belum menerima keluhan dari pihak berperkara. Suasana lalu-lintas ibukota Jakarta yang sangat sibuk menuntut perilaku tertib dan santun saat berkendaraan. Jika tidak, para […]

  • Ini Dia Jadwal Tahapan Pilkades di Madina

    Ini Dia Jadwal Tahapan Pilkades di Madina

    • calendar_month Rabu, 19 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tanggal 19 Oktober hingga 03 November 2016 : Pendataan Daftar Pemilih dan Penetapan Daftar Pemilih. Tanggal 31 Oktober hingga 08 November 2016 : Pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa Tanggal 09 hingga 11 November 2016 :  Pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa ke II Tanggal 12 hingga 13 November 2016 :  Pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa ke […]

  • Pemerintah Terbitkan Hak Paten Kopi Mandailing

    Pemerintah Terbitkan Hak Paten Kopi Mandailing

    • calendar_month Kamis, 3 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Pemerintah Indonesia telah menerbitkan hak paten bagi kopi Mandailing, yakni Hak Paten Indikasi Geografis Kopi Arabika Sumatera Mandailing. Sertifikat hak paten itu diserahkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasona Laoly  kepada Bupati Madina di gedung Graha Pengayom Kemenkum HAM RI, Jakarta, Kamis (3/11). Demikian diungkap Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Georafis […]

  • Hikma Sumut Gelar Konferda VI

    Hikma Sumut Gelar Konferda VI

    • calendar_month Senin, 23 Apr 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Konfrensi Daerah (Konferda) VI Himpunan Keluarga Besar Mandailing (Hikma) Sumut berlangsung 23-25 April 2018 di Asrama Haji Medan. Sekitar 21 Pengurus Pimpinan Daerah Hikma se-Sumatera Utara dengan jumlah peserta sekitar 400 orang hadir mensukseskan Konferda. Sebelumnya, pada Minggu kemarin, Ketua Umum PD Hikma sumut H Aswin Parinduri SH berharap Hikma mampu […]

  • Demo, Mahasiswa UGN Pertanyakan Status Lahan

    Demo, Mahasiswa UGN Pertanyakan Status Lahan

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN – Rupanya, selain menuntut kejelasan tentang status kampus UGN yang belum kunjung menjadi PTN, puluhan mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di kampus I Jalan Sutomo juga mempertanyakan persoalan lahan milik kampus mereka yang berada di daerah Simarsayang. Hendra Ibrahim Siregar, selaku kordinator aksi, saat diterima pihak Yayasan bersama dengan puluhan mahasiswa lainnya, di […]

  • Pembakar Barak PT Sorikmas Mining Diimbau Menyerah

    Pembakar Barak PT Sorikmas Mining Diimbau Menyerah

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Aksi demo penolakan tambang oleh ratusan warga Desa Hutagodang Muda, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Ahad (29/05/2011) berujung bentrok. Salah seorang warga, Solatia (19), tertembak. Sejumlah fasilitas perusahaan tambang emas PT Sorikmas Mining dibakar warga. Pasca peristiwa tersebut, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro langsung turun ke Madina, Senin (30/05/2011). Kunjungan […]

expand_less