Selasa, 11 Agu 2026
light_mode

Angka Bunuh Diri Generasi Tinggi, Apa Solusinya?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 29 Okt 2023
  • print Cetak

Oleh: Radayu Irawan, S.Pt

Mahasiswa merupakan sosok intelektual dambaan umat. Tak sedikit masyarakat menumpukan harapannya di pundak mahasiswa. Mahasiswa seharusnya menjadi sosok yang segaris dengan harapan bangsa. Yakni menjadi insan cerdas nan mumpuni memberi solusi bagi umat.

Namun, ditengah gempuran sekuler (pemisahan agama dengan kehidupan) terbentuklah pemuda yang lemah iman, mudah menyerah, putus asa, optimis, serta pragmatis.

Hal tersebut menyebabkan maraknya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Dalam 2 hari, 2 kasus bunuh diri terjadi. Dilansir dari Republika (13/10/23) dua kasus dugaan bunuh diri terjadi di Semarang, pertama dilakukan NJW (20) warga Ngaliyan, Semarang, mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri yang ditemukan tewas di Mal Paragon Semarang, Selasa (10/10/2023). Kasus kedua, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Semarang berinisial EN (24) warga Kapuas, Kalimantan Tengah, yang ditemukan meninggal dunia di dalam kamar indekosnya, Rabu (11/10/2023).

Kedua kasus tersebut hanya sebagian kecil dari sekian banyak kasus yang terjadi. Pasti ada kasus bunuh diri yang tidak masuk dalam berita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 mencatat bahwa Indonesia memiliki rasio bunuh diri sebesar 2,4 per 100 ribu penduduk. (Tempo, 14/10/23)

Apa penyebabnya?

Selama masih hidup di dunia, manusia akan senantiasa mengalami masalah. Tidak ada satupun insan di muka bumi yang bebas dari masalah. Maka, sebagai insan yang beragama harusnya setiap apapun masalahnya dikembalikan kepada solusi Islam, bukan menjadikan bunuh diri sebagai solusi. Jika ditelusuri penyebab bunuh diri dijadikan solusi bisa beragam. Misalnya persoalan akademik, asmara, keluarga ataupun perundungan.

Secara umum disadari atau tidak, kondisi psikis seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar yang buruk dan individu yang tidak memahami hak sesama seringkali menyebabkan gangguan mental. Misalnya, circle pertemanan yang jauh dari agama akan menyebabkan toxic circle. Perkataan yang keluar dari lisan yang jauh dari agama akan menyakiti perasaan dan gangguan mental.

Tekanan psikis bisa juga terjadi karena kondisi keluarga yang tak harmonis. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat penuh kasih sayang namun sayangnya menjadi tempat yang penuh masalah. Maka, saat anak memiliki permasalahan, keluarga tidak dapat memberikan solusi. Walhasil pelariannya di luar rumah. Kondisi lingkungan sekitar pun toxic. Akhirnya setelah merasa tak menemukan solusi, bunuh diri pun menjadi pilihan. Seolah-olah semua masalah selesai dengan bunuh diri. Padahal, itu hanya akan membuat sengsara di akhirat. Nauzubillah.

Tentu, kejadian seperti ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Mesti ada upaya memahami akar permasalahannya dan mencari solusi dari masalah tekanan mental agar tidak terus-terusan memakan korban.

Akar Persoalan

Saat ini, negara kita dipengaruhi sekuler yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Sehingga pemahaman ini menuntun manusia untuk berbuat sekehendaknya tanpa mempertimbangkan terpuji atau tercela dengan kacamata agama. Oleh karena itu wajar jika pemahaman ini membentuk arah pandang manusia hari ini.

Pada interaksi sosial, baik di keluarga, masyarakat umum ataupun komunitas-komunitas, banyak yang tak menggunakan Islam dalam pengaturannya. Padahal, aturan Islam pasti akan menenangkan manusia dan memberikan solusi terbaik bagi seluruh permasalahan yang terjadi.

Jadi tak heran, sangat mudah didapatkan komentar atau tatapan negatif yang tertuju pada individu yang kondisinya jauh dari standar duniawi. Tanpa disadari, berbagai toksik di kehidupan sosial berpengaruh pada kondisi psikis seseorang.

Realitas ini sesungguhnya lahir dari sistem hidup yang bukan dari pencipta manusia, melainkan berasal dari buatan manusia. Rapuhnya kesehatan mental ini tak terlepas dari kondisi internal dan sistem sosial yang diterapkan saat ini. Sebagai seorang muslim kita sangat perlu untuk menata agar kondisi internal dan sistem sosial berjalan sesuai syariat. Pada kondisi internal terkait bagaimana seseorang mampu menata perasaan dan pikiran dalam menyikapi masalah. Sedangkan sistem sosial terkait dengan lingkungan antar sesama manusia yang terjalin. Bagaimana caranya?

Menata Pikiran dan Perasaan

Ketika seseorang meyakini bahwa tujuan hidupnya adalah untuk ibadah dan meraih keridaan Allah, maka ia akan senantiasa yakin bahwa setiap masalah dan ujian akan meningkatkan derajatnya. Kesadaran dan keyakinan seperti ini tentu hanya akan lahir dari keimanan yang kokoh. Maka, dengan ini perasaan-perasaan kecewa, sedih, kesal yang merupakan perasaan manusiawi akan dapat dikelola dengan baik sesuai dengan syariat.

Sejatinya, seorang mukmin tidak layak untuk melakukan tindakan bunuh diri bahkan hanya sekedar berniat pun tak layak. Karena seyogianya kehidupan seorang mukmin sangat menakjubkan. Hal ini senanda dengan hadis dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Tentu pemahaman ilmu agama menjadi kunci agar tercipta keimanan yang kokoh. Sehingga, perkataan Allah dan Rasulullah senantiasa menjadi panutan dalam kehidupan. Maka, semua ini hanya akan didapatkan jika setiap orang sadar akan pentingnya mengikuti kajian Islam kaffah. Dengan mengikuti kajian intensif maka, hati dan pikiran akan senantiasa dapat dikelola agar sesuai dengan syariat bukan syahwat belaka.

Sistem Sosial Islami

Jika perasaan dan pikiran telah dikelola dengan baik, insyaallah benteng awal pertahanan anti bunuh diri telah diraih. Namun hal ini saja tidak cukup. Sangat dibutuhkan sistem sosial Islami. Karena terkadang perasaan dan pikiran terpengaruh dari interaksi sosial di masyarakat.

Negara dalam hal ini penguasa, sangat berpengaruh dalam menciptakan sistem sosial yang sehat di tengah-tengah masyarakat. Islam, mampu menyelesaikan segala problem kehidupan. Baik dalam penataan hati dan pikiran ataupun pengaturan interaksi antar sesama manusia. Bahkan Islam mengatur hubungan bernegara.

Negara, dalam hal ini penguasa, wajib memberikan edukasi kepada masyarakat dan memastikan sistem sosial berlangsung dengan baik. Negara akan memastikan kebutuhan masyarakat (sandang, pangan, papan) tercukupi agar enggak ada masyarakat yang mengalami tekanan hidup yang terlalu berat. Karena keluarbiasaannya sistem Islam, negara mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi setiap individu rakyat.

Negara juga berperan membuat kondisi sosial yang sehat dan jauh dari lingkungan toksik. Misalnya dengan cara memperhatikan aspek interaksi sosial secara mendetail. Dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (Sahih Bukhari).

Pada hadis tersebut jelas bahwa seorang muslim harus senantiasa menjaga lisannya agar tidak mengatakan perkataan yang sia sia seperti membully, mengolok-olok, berbohong, menyakiti erasaan saudaranya, dan sejenisnya. Di sisi lain, ia harus menjaga hak saudaranya dengan tidak mengambil milik orang lain tanpa izin.

Sistem informasi Islam juga senantiasa dikontrol oleh penguasa agar tidak ada sekelompok orang atau individu yang menyebar aib ataupun membuat suasana menjadi toksik bagi lainnya. Negara berupaya membuat sirkulasi informasi yang sehat, sehingga informasi-informasi negatif yang dapat menstimulus kejahatan atau penyelesaian masalah-masalah dengan bunuh diri tidak akan ditemukan.

Dalam ranah keluarga, agar terwujudnya saling kasih mengasihi serta keharmonisan maka negara membekali setiap individu ilmu yang mumpuni melalui sistem pendidikan Islam. Dengan ilmu syar’i maka anak ataupun orangtua akan memahami hak dan kewajibannya masing-masing. Sehingga lingkungan sehat dalam ranah keluarga akan diraih.

Jelas sekali, bahwa sistem sosial Islami hanya akan tegak dalam naungan sistem Islam bukan dalam naungan sistem sekuler. Antara sistem sosial, pendidikan, ekonomi juga saling berkaitan. Maka sebagai seorang muslim kita berkewajiban untuk sama-sama menegakkan sistem Islam dalam naungan negara Islam. Allahu a’lam bishowab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • IMA Tabagsel Demo Lagi, Minta Poldasu Usut Tambang di Linggabayu

    IMA Tabagsel Demo Lagi, Minta Poldasu Usut Tambang di Linggabayu

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        MEDAN (Mandailing Online) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam IMA-Tabagsel, Rabu (13/11/2019) mendesak Poldasu menertibkan aktivitas tambang di Linggabayu, Madina. Desakan itu disampaikan dalam aksi unjukrasa di depan Poldasu. Desakan kepada Poldasu itu terkait dugaan PT. Capital Mining Hutana (CMH) belum mengantongi izin pertambangan emas di Linggabayu. Penambangan itu juga ditengarai berakibat pada […]

  • Harga Naik di Panyabungan

    Harga Naik di Panyabungan

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam dua hari terakhir harga kebutuhan merangkak naik di pasar Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Pantaun wartawan di pasar lama Panyabungan, Rabu (19/6/2013) harga beras yang seharga 240.000 per sak menjadi 250.000 rupiah. Minyak goreng curah dari 10.000 menjadi 11.000 rupiah per kilo gram. Telur ayam ras dari 28.000 rupiah menjadi […]

  • Perjalanan Ikan Jurung Keramat, Danau Siais Dan Aek Batangtoru

    Perjalanan Ikan Jurung Keramat, Danau Siais Dan Aek Batangtoru

    • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Menyusuri Pedalaman Tapsel Ikan Jurung Keramat, Danau Siais, dan Aek Batang Toru Sebuah keajaiban bertahan selama hampir satu abad di desa Rianiate, Kecamatan Padangsidimpuan Barat, Tapanuli Selatan. Ribuan ikan jurung berukuran sampai 50 cm dengan berat mencapai 2 kg lebih, hidup liar dalam sebuah sungai kecil dan dangkal yang mengalir di belakang rumah penduduk. Bila […]

  • Gordang Sambilan Akan Bertabuh di Kalimantan Timur

    Gordang Sambilan Akan Bertabuh di Kalimantan Timur

    • calendar_month Rabu, 10 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tak lama lagi tabuhan gordang sambilan akan mengumandang di kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Perkembangan ini terkait sudah selesainya pihak IMAM menyediakan alat-alat gordang sambilan, berupa perkusi, suling, talempong, tali sasayat, gong dan saleot. IMAM (Ikatan Masyarakat Asal Mandailing) merupakan organisasi perkumpulan yang didirikan etnis Mandailing yang bermukim di Balikpapan, Kalimantan Timur […]

  • Nurin Futsal bangkitkan sepak bola di Madina

    Nurin Futsal bangkitkan sepak bola di Madina

    • calendar_month Kamis, 7 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Dengan diresmikannya Nurin Futsal di Kelurahan Pidoli Lombang Komplek STAIM Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bisa dijadikan stard bagi dunia sepakbola di daerah itu. “Kahadiran lapangan futsal untuk pertama kali di daerah kita bisa dijadikan suatu start bagi bangkitnya dunia olah raga bidang sepakbola. karena saya melihat banyak terdapat bakat-bakat terpendam di […]

  • Bupati Madina Lepas Kontingen Porsadin

    Bupati Madina Lepas Kontingen Porsadin

    • calendar_month Jumat, 14 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jafar Sukhairi Nasution melepas 29 peserta asal Madina mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) Sumatera Utara (Sumut) di Masjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Jumat (14/10/2022). Porsadin kali ini, Kabupaten Madina mengikuti 12 cabang yaitu, cabang puisi islam, cabang […]

expand_less