Kamis, 16 Apr 2026
light_mode

Proyek Sawah Cina Digandeng Negara, Nasib Petani Lokal Bagaimana?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
  • print Cetak

Oleh: Dewi Soviariani
Ibu dan Pemerhati Umat

Berlatarbelakang negara agraris, Indonesia terkenal sebagai negeri yang maju sektor pertaniannya. Sayangnya akibat salah kelola kekayaan alam terkesan dijajah oleh ekonomi neoliberalis kapitalisme kini ketahanan pangan nasional dalam ancaman. Nasib petani lokal kini bisa terancam.

Sungguh ironis bangsa kita terkenal dengan julukan gemah ripah loh jinawi. Namun kini terancam permasalahan kedaulatan pangan. Padahal kekayaan alam melimpah ruah. Tanah, hutan yang luas membentang harusnya dengan kemajuan teknologi bisa membawa nasib bangsa menjadi terdepan dalam masalah ketahanan pangan.

Herannya tersiar berita tentang rencana pemerintah untuk menggandeng negeri tirai bambu Cina dalam rangka mengolah sawah rakyat. Tak tanggung-tanggung dengan menetapkan wilayah Kalimantan Tengah untuk penerapan adaptasi sawah padi dari Cina. Pemerintah akan memakai lahan seluas 1 juta hektare. (Tempo.co 23-04-2024)

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah akan menggandeng China untuk menggarap sawah di Kalimantan Tengah. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam ajang High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) RI–RRC di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (19/4).

Tentunya wacana ini sangat mengusik pikiran masyarakat. Terutama para petani lokal yang akan tereliminasi dari program tersebut. Padahal beberapa pengamat pertanian dalam negeri sangat menyangsikan keberhasilan program tersebut.

Seperti yang dikutip dari pernyataan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengkritik wacana penggunaan lahan sebanyak 1 juta hektare di Kalimantan Tengah untuk penerapan adaptasi sawah padi dari Cina. (Tempo.co 23-04-24).

Beliau mengingatkan dari pengalaman food estate sejak zaman pemerintahan Soeharto pada 25 tahun lalu, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo luas tanah yang dipakai juga berjuta hektare, namun akhirnya gagal. Menurutnya pemerintah harus konsisten dalam melakukan pembenahan.

Selain itu terkait teknologi seperti apa yang akan diterapkan itu juga satu permasalahan lain yang harus dipikirkan. Belum tentu akan sesuai dengan kondisi Indonesia yang berbeda musim dengan Cina. Jangan sampai dana yang digelontorkan untuk program tersebut menjadi sia-sia. Sementara kondisi petani lokal dan sektor pertanian banyak permasalahan yang tidak dituntaskan oleh pemerintah.

Sangat disayangkan, lagi-lagi pemerintah mengambil keputusan menggandeng asing untuk menyelesaikan persoalan. Apalagi sektor pertanian sebagai industri vital bagi masyarakat. Bahkan jika program ini berhasil akan menjadi sebuah pertanyaan tentang siapa yang paling diuntungkan.

Mengapa mitigasi kegagalan membangun lumbung pangan justru tidak dilakukan, dan memberi solusi untuk petani lokal. Seharusnya negara fokus menyiapkan sarana produksi pertanian sehingga petani tinggal menggunakan. Tidak ada niat baik dari pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dengan memberdayakan masyarakatnya sendiri, baik tenaga terampil maupun kampus-kampus.

Padahal SDM kita banyak yang kompeten apalagi dengan latar belakang negara agraris yang menjadikan pertanian sebagai sektor penting negeri ini. Turun temurun petani kita menjadi penopang ketahanan pangan yang cukup ahli. Kesalahan sistemik dalam menyelesaikan persoalan yang menjadi kendala mundurnya sektor pertanian.

Banyak petani yang mengalami kegagalan dan meninggalkan lahan/dijual. Akibatnya petani makin malas bahkan pensiun sebagai petani. Semua ini tak lepas dari sistem ekonomi kapitalisme yang memengaruhi negara. Apalagi dengan menggandeng aseng dalam menangani permasalahan ketahanan pangan, harusnya pemerintah lebih waspada.

Ada motif apa dibalik masuknya Cina dalam sektor pertanian? Seperti halnya pertambangan yang lebih dulu dikuasai Cina telah membuktikan bahwa para aseng tersebut mempunyai misi kapitalis terselubung, yang pada akhirnya masyarakat bernasib buruk, berakhir menjadi buruh kasar bagi proyek mereka. Tentunya hal yang sama mungkin juga akan berlaku terhadap para petani lokal jika program sawah Cina ini benar direalisasikan. Nasib petani bukannya makmur, malah makin tergusur.

Lantas apa solusi terbaik untuk keluar dari ruwetnya permasalahan sektor pertanian dalam cengkeraman kapitalisme global? Pertanian kini digenggam oleh para kapitalis dengan kekuasaan para oligarki dan korporasi. Nasib petani semakin terpuruk jika mengandalkan solusi tambal sulam yang pada faktanya hanya menguntungkan para pemilik modal.

Program lumbung pangan menjadi jalan bagi korporasi mendapatkan akses yang tidak terbatas atas lahan; tenaga kerja murah; pasar bibit, pupuk, dan pestisida; serta infrastruktur yang dibiayai oleh anggaran negara.

Sektor pertanian dalam solusi Islam adalah sebuah pilihan yang layak diambil. Islam kurun waktu 13 abad silam telah membuktikan bagaimana perhatian besarnya terhadap kemajuan sektor pertanian. Negara dalam Islam memosisikan pangan sebagai kebutuhan pokok sehingga wajib memenuhinya. Pemosisian ini menjadikan urusan pangan merupakan prioritas negara.

Islam menyelesaikan persoalan pangan dari akar masalah, dan tidak sekedar mewujudkan ketahanan pangan saja, namun juga kedaulatan pangan. Negara bertanggungjawab penuh membantu petani, apalagi pertanian adalah persoalan strategis.

Negara islam melakukan revolusi di bidang pertanian sehingga hasil panen melimpah kemudian menyimpannya untuk kondisi darurat. Negara juga menerapkan sistem pertanahan yang canggih sehingga semua lahan efektif. Hasilnya adalah produksi pangan yang melimpah.

Negara tidak akan tergantung pada modal swasta atau asing. Dan jika akan menjalin kerjasama dengan asing politik luar negeri islam dijadikan sebagai pedoman. Dalam konteks luar negeri, politik negara atau Daulah Islam dimanifestasikan melalui upaya menjalin hubungan dengan berbagai negara, bangsa, dan umat-umat lain. Hubungan luar negeri ini merupakan wujud pengaturan urusan rakyat secara eksternal.

Politik luar negeri negara islam dibangun di atas sebuah pemikiran yang konstan, tidak berubah, yakni penyebaran Islam kepada seluruh umat dan bangsa di dunia. Inilah asas yang membangun politik luar negeri negara Islam.

Jadi, jaminan Islam ketika berhubungan dengan negara asing mempunyai tujuan yang jelas dan tidak diintervensi. Apalagi sampai berakhir mengorbankan nasib rakyat sebagaimana dalam sistem kapitalisme saat ini.

Kepentingan rakyat menjadi perhatian utama negara sebab penguasa adalah perisai bagi rakyat yang akan melindungi dan memenuhi kebutuhan mereka. Beginilah seharusnya negara berperan dengan mengikuti aturan Allah Taala, sebagaimana juga tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa negara ini bisa merdeka atas berkat Allah Taala.

Permasalahan kedaulatan pangan negeri ini butuh solusi Islam. Agar tata kelola SDA dan SDM negeri ini lepas dari jeratan kapitalisme global. Indonesia sebagai negara agraris akan mampu mewujudkan swasembada pangan jika kembali melanjutkan kehidupan Islam, bukan dengan menggaet asing dan aseng untuk membawa perubahan. Selamatkan pertanian Indonesia dengan menerapkan Islam kaffah. Satu-satunya harapan umat untuk Indonesia lebih sejahtera.

Wallahu A’lam Bishawwab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Jet Tempur Pesanan dari Korsel Tiba di Indonesia

    Dua Jet Tempur Pesanan dari Korsel Tiba di Indonesia

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MAGETAN, — Dua jet latih tempur T-50i Golden Eagle yang dipesan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dari Korean Aerospace Industries (KAI) tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Rabu (11/9/2013). Pesawat yang akan berada di bawah koordinasi TNI Angkatan Udara ini dipesan untuk meningkatkan kekuatan alat utama sistem persenjataan atau […]

  • Menikah Pasti Ada Ujiannya

    Menikah Pasti Ada Ujiannya

    • calendar_month Sabtu, 30 Okt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Khadijah Sihombing, S.Pd Aktivis Dakwah dan Pemerhati Keluarga Muslim Menurut KBBI, nikah adalah perjanjian perkawinan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Secara istilah, pernikahan adalah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. (Tirto.id) Jadi, menikah adalah penyatuan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahrom […]

  • Bupati Madina Ke Depan Jangan Lagi Hobi Menangis

    Bupati Madina Ke Depan Jangan Lagi Hobi Menangis

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Memperjuangkan wilayah Mandailing Natal menjadi sebuah Daerah Otonomi Baru bukanlah semudah membalik telapak tangan, karena itu membicarakan seorang bupati/wakil bupati (pemimpin) untuk wilayah kita sangat tidak elok sekali kalau seorang pemimpin suka menangis dan juga tak tegar. Sebab menjadi pemimpin di Bumi Gordang Sambilan harus tegar dan tidak boleh menangis menghadapi masyarakat. Demikian sekelumit […]

  • Bupati Tekan PT. Rendi, Tokoh Pantai Barat Ucapkan Terimakasih

    Bupati Tekan PT. Rendi, Tokoh Pantai Barat Ucapkan Terimakasih

    • calendar_month Selasa, 19 Okt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Upaya bupati Madina memanggil semua pihak bagi upaya realisasi kebun plasma di Singkuang 1 dinilai sebagai langkah maju. Sebab, sudah 15 tahun warga Desa Singkuang 1, Kecamatan Muara Batang Gadis berjuang memperoleh hak-haknya berupa perkebunan plasma sawit dari PT. Rendi Permata Raya. Perusahaan itu memiliki kewajiban penuh membangun plasma untuk warga […]

  • Nafsu Kapitalisme di Bisnis Administrasi Pemudik Masa Pandemi?

    Nafsu Kapitalisme di Bisnis Administrasi Pemudik Masa Pandemi?

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam            Dosen/Pengamat Politik Para penumpang yang tertahan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, merasa keberatan harus membayar biaya rapid test sebesar Rp300.000 per orang. Rapid test ini adalah salah satu syarat kelengkapan dokumen yang harus dimiliki penumpang untuk bisa menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten. Sekitar 42 penumpang sudah […]

  • Bukit Muhasabah Panyabungan Penyejuk Qolbu

    Bukit Muhasabah Panyabungan Penyejuk Qolbu

    • calendar_month Selasa, 22 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Bukit Muhasabah di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) sungguh menawan. Mengasah jiwa dan penyejuk qolbu, ketenangan, empati dan nilai-nilai estetika. Betapa tidak, di siang hari pengunjung dengan lugas disuguhi panorama hamparan kota Panyabungan yang memajang di arah barat, lalu lamat-lamat terlihat mozaik kawasan Panyabungan Utara hingga Panyabungan Barat dan Nagajuang. Di arah tenggara, Gunung Sorik […]

expand_less