Pemkab Paluta Beres-beres Dapur, Kunjungan Kemenkes Sepi Publikasi
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak
Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Ada suasana yang berbeda di Pemkab Paluta belakangan ini.
Geraknya ada.
Agendanya padat.
Pejabat datang dan pergi.
Birokrasi dirapikan.
Tetapi semuanya berjalan dengan nada rendah — tidak terlalu gaduh di ruang publik.
Termasuk saat tamu dari Kementerian Kesehatan RI datang ke Paluta.
Aneh memang.
Untuk ukuran daerah, kunjungan kementerian biasanya menjadi momentum besar. Spanduk dipasang. Media lokal bergerak. Dokumentasi dibanjirkan ke media sosial. Narasi kedekatan dengan pusat dibangun sedemikian rupa.
Tetapi kali ini berbeda.
Kunjungannya ada, seremoni berlangsung, pejabat lokal menyambut. Namun publikasinya terasa tipis. Informasi beredar setengah-setengah. Tidak banyak media yang mengangkat. Bahkan di ruang digital lokal, gaungnya nyaris tenggelam.
Sayup-sayup.
Dan justru karena terlalu pelan, publik mulai bertanya:
apa sebenarnya yang sedang dibereskan di Paluta?
Mengapa Sayup-sayup?
Sebab jika diperhatikan, beberapa bulan terakhir Pemkab Paluta memang tampak sedang melakukan konsolidasi cukup serius.
Ada mutasi dan penataan pejabat.
Ada penguatan aparatur PPPK.
Ada konsolidasi program sosial dan administrasi.
Ada pula upaya menjaga hubungan vertikal dengan pemerintah pusat.
Bahasa sederhananya:
pemerintahan sedang merapikan dapur.
Karena itu, kunjungan unsur Kemenkes tentu bukan sekadar agenda minum kopi dan foto bersama.
Biasanya, kehadiran kementerian berkaitan dengan:
- evaluasi layanan,
- pembahasan anggaran,
- dukungan program,
- pembangunan fasilitas,
- atau penyesuaian kebijakan kesehatan daerah.
Tetapi justru di situlah kejanggalannya:
mengapa publik seperti hanya diberi kulit informasinya saja?
Padahal isu kesehatan menyangkut kebutuhan paling dasar rakyat.
Masyarakat Paluta tentu lebih ingin tahu:
- apakah ada peningkatan layanan rumah sakit,
- apakah ada tambahan fasilitas kesehatan,
- apakah tenaga medis akan diperkuat,
- atau apakah ada program baru dari pusat.
Bukan sekadar foto penyambutan formal.
Publik Menerka
Dalam politik daerah, ada satu pola lama yang sering berulang:
ketika birokrasi sedang membereskan sesuatu yang sensitif, komunikasi publik biasanya menjadi lebih hati-hati.
Kadang karena programnya belum matang.
Kadang karena masih tahap lobi.
Kadang pula karena hasil pembicaraan belum tentu sesuai harapan.
Maka yang muncul ke publik hanyalah serpihan-serpihan acara:
cukup untuk menunjukkan kegiatan berjalan,
tetapi belum cukup terang untuk dibaca arahnya.
Dan di titik itu, publik akhirnya hanya bisa menerka.
Apakah kunjungan Kemenkes itu pertanda baik bagi sektor kesehatan Paluta?
Atau justru bagian dari proses evaluasi diam-diam terhadap sesuatu yang belum beres?
Yang jelas, semakin sunyi sebuah agenda pemerintah, biasanya semakin besar rasa ingin tahu publik di belakangnya. ***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)


