Ogah Larut di Isu “Siti Mawarni”, Bobby Fokus Gas Sumut
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Di akhir pekan ini, publik bolek pilih santai. Ogah bicara soal politik. Tapi, politik hari ini tidak selalu keras, ketus atau sarkas. Kebijakan politis juga punya sisi human interest.
Karena itu, ngobrol soal politik tak harus tegang. Bisa santai. Tergantung sudut pandang.
Seperti juga Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution. Tak mau ujuk-ujuk komentar soal lagu “Siti Mawarni” dan “Halo Pak Gubernur, Dimana Anda?” Ogah nimbrung di vitalitasnya.
Padahal, kalau mau, Gubsu bisa saja mendominasi panggung itu. Tapi, Bobby Nasution malah pilih tetap fokus memacu progres Sumut.
Makanya, ketika memang makin sulit dibedakan ruang politik dari panggung hiburan rakyat. Kadang rapat resmi berjam-jam pun tidak mendapat perhatian.
Tetapi, satu lagu sederhana dari Labuhanbatu bisa berputar dari medsos ke warung kopi dan arisan kaum ibu, lalu masuk ke ruang politik Sumatera Utara.
Belakangan, pusaran itu datang dari lagu viral: “Siti Mawarni Incek Anak Labuhan Batu.”
Lagu karya Amin Wahyudi Harahap itu awalnya ramai karena liriknya yang menyindir maraknya narkoba di Sumut. Nama “Siti Mawarni” sendiri disebut sebagai tokoh fiktif — semacam simbol keresahan sosial yang dibungkus musik Melayu sederhana.
Tetapi seperti biasa di Indonesia, satu viral tidak pernah datang sendirian.
Sesudah “Siti Mawarni” meledak, muncul lagi lagu lain yang lebih menusuk: “Halo Pak Gubernur, Anda Dimana?”
Di sini, yang disentil bukan bandar sabu.
Melainkan jalan rusak di Labuhanbatu.
Dan mendadak, politik Sumut terasa seperti panggung campuran antara satire rakyat, kritik sosial, dan perang persepsi digital. Sunghuh, sangat memikat.
Dari Jalan Berlubang ke Timeline Media Sosial
Lagu itu sederhana. Tidak memakai teori politik. Tidak penuh istilah birokrasi. Tetapi, justru karena kesederhanaannya, kritiknya terasa dekat dengan rakyat.
“Halo Pak Gubernur lihatlah jalan kami…”
Kalimat pendek itu mungkin lebih cepat masuk ke kepala warga dibanding pidato pembangunan sepanjang dua jam.
Karena rakyat punya ukuran yang sangat konkret terhadap kekuasaan. Mereka mungkin lupa angka pertumbuhan ekonomi, tetapi mereka ingat jalan mana yang bikin motor oleng setiap pagi dan berapa jumlah warga yang celaka karenanya.
Dan di era algoritma hari ini, kritik yang dinyanyikan sering lebih kuat daripada kritik yang dibacakan.
Polisi Pilih Main, Bobby Ogah Hanyut
Yang tak kalah menarik, aparat kepolisian justru tidak defensif hadapi lagu viral “Siti Mawarni”.
Polda Sumut membaca lagu itu sebagai bentuk aspirasi sosial tentang narkoba. Kapolda Sumut bahkan menjadikannya semacam momentum moral untuk kampanye pemberantasan narkotika.
Di titik ini, situasinya menjadi unik: lagu rakyat yang awalnya terdengar seperti sindiran, malah diambil aparat sebagai energi sosial.
Artinya, Sumut hari ini sedang hidup di era baru:
musik viral bisa berubah menjadi narasi politik dan kebijakan publik.
Beda dengan itu, Gubsu punya gestur lain. Di tengah riuh “Siti Mawarni” dan lagu jalan berlubang itu, Bobby Nasution tampaknya memilih strategi yang berbeda.
Gubsu tidak terlihat terlalu larut dalam pusaran komentar personal. Tidak juga sibuk membalas seluruh spekulasi media sosial.
Sebaliknya, Bobby terus membawa pesan yang sama:
- percepatan pembangunan,
- pembenahan infrastruktur,
- investasi,
- konektivitas wilayah,
- dan progres Sumut.
Seolah ada satu pesan yang ingin ditegaskan:
media sosial boleh gaduh, pemerintahan tetap harus jalan bergegas.
Dan sejauh ini, narasi “gas percepatan” memang terus dipakai Bobby dalam banyak agenda pemerintahannya.
Melawan Cerita Jalan Rusak dengan Penegasan Anggaran
Masalahnya, rakyat tidak hidup di konferensi pers. Bahkan jauh dari podium eksekutif. Mereka hidup di jalan berlubang. Di truk yang terguncang.
Di motor yang selip saat hujan turun.
Karena itu, lagu dari Labuhanbatu itu sebenarnya bukan sekadar hiburan receh.
Karya kreatif itu adalah alarm sosial.
Dan menariknya, Pemprov Sumut sebenarnya memang sudah mulai menurunkan anggaran besar untuk kawasan Labuhanbatu dan jalur penghubung pantai barat.
Salah satu yang terbesar adalah proyek: Ruas Jalan Aek Nabara – Negeri Lama – Tanjung Sarang Elang yang bakal.menelan anggaran sekitar Rp158 miliar.
Proyek itu disebut masuk tahap tender dan dirancang multiyears untuk penanganan jalan rusak sekitar 26 kilometer.
Selain itu, Pemprov Sumut juga menyiapkan:
- sekitar Rp100 miliar untuk pembangunan jalan,
- dan sekitar Rp20 miliar untuk pembangunan jembatan di kawasan Aek Bilah yang rawan longsor dan banjir.
Bahkan, Bobby Nasution sendiri sempat mengakui bahwa kondisi sejumlah jalur di kawasan itu memang “luar biasa rusak” dan menurut warga sudah puluhan tahun minim penanganan serius.
Artinya, problemnya sekarang bukan lagi sekadar ada atau tidak ada anggaran. Uangnya sudah mulai turun.
Tender mulai berjalan.
Proyek mulai bergerak.
Tetapi di era media sosial, rakyat tidak mengukur pembangunan dari angka APBD. Tapi, dari soal apakah ban motornya masih menghantam lubang yang sama setiap pagi.
Era Lagu Melawan Pidato
Dulu, kritik kepada penguasa datang lewat demonstrasi atau editorial koran.
Sekarang berbeda.
Hari ini, seorang warga cukup membuat lagu sederhana, mengunggahnya ke medsos, lalu seluruh provinsi ikut menyanyikannya.
Kekuasaan tidak lagi punya kemewahan untuk sepenuhnya mengontrol narasi.
Karena algoritma lebih menyukai hal-hal yang:
- emosional,
- sederhana,
- dekat dengan keresahan rakyat,
- dan mudah dijadikan suara latar video pendek.
Dan mungkin itulah sebabnya lagu-lagu seperti itu terasa begitu cepat menyebar dan mendapat respon besar.
Mengapa?
Karena rakyat merasa sedang mendengar suara mereka sendiri.
Pada akhirnya, politik selalu kembali ke hal paling konkret:
jalan.
Bukan trending topic.
Bukan klarifikasi.
Bukan algoritma.
Karena rakyat mungkin bisa terbawa emosi mendengar lagu viral semalam suntuk. Tetapi keesokan paginya mereka tetap harus melewati lubang yang sama.
Dan mungkin di situlah tantangan terbesar Bobby hari ini:
Membuktikan bahwa “gas percepatan” bukan cuma slogan politik,
melainkan benar-benar terasa sampai ke jalan berlubang yang kini sudah berubah menjadi lagu rakyat Labuhanbatu.***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

