Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

MBG UNTUK 3B: BUKAN SEKADAR MAKANAN GRATIS, TETAPI INVESTASI MASA DEPAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
  • print Cetak

 

 

Oleh: Wahyuni Sari Zein Lubis, S. Tr. Gz dan Prof. Dr. Helmizar, SKM, M. Biomed
Program Studi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

 

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG tidak boleh dipahami hanya sebagai kegiatan membagikan makanan. Lebih dari itu, MBG adalah upaya besar untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat, terutama bagi kelompok yang paling rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok ini sering disebut sebagai kelompok 3B dan menjadi sasaran penting karena berada pada fase yang sangat menentukan kualitas masa depan anak.

Ibu hamil membutuhkan makanan bergizi agar janin dapat tumbuh sehat. Ibu menyusui membutuhkan asupan yang cukup agar tubuh tetap kuat dan mampu mendukung pemberian ASI. Balita membutuhkan makanan bergizi karena sedang berada pada masa pertumbuhan cepat. Jika kebutuhan gizi pada masa ini tidak terpenuhi, dampaknya dapat berlangsung lama, mulai dari anak mudah sakit, berat badan sulit naik, pertumbuhan terhambat, hingga risiko stunting.

Pelaksanaan MBG di wilayah kerja Puskesmas Pauh menunjukkan bahwa program ini memiliki potensi besar sebagai gerakan perbaikan gizi keluarga. Di SPPG Kapalo Koto Lua, makanan diproduksi dalam jumlah besar setiap hari dan disalurkan kepada ratusan penerima manfaat, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kondisi ini menunjukkan bahwa MBG dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk mendekatkan makanan bergizi kepada kelompok yang paling membutuhkan.

Namun, keberhasilan MBG tidak cukup dinilai dari banyaknya makanan yang berhasil diproduksi dan dibagikan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah makanan sampai tepat waktu? Apakah porsinya sesuai? Apakah makanan aman dikonsumsi? Apakah rasanya diterima? Dan yang paling utama, apakah makanan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh sasaran yang tepat?

Salah satu tantangan yang perlu diperhatikan adalah ketepatan waktu distribusi. Bagi sebagian orang, keterlambatan makanan mungkin dianggap persoalan kecil. Namun, bagi balita, waktu makan sangat menentukan. Jika makanan datang saat anak sudah kenyang, mengantuk, atau melewati jam makan, makanan bergizi itu bisa saja tidak dikonsumsi. Pada ibu hamil dan ibu menyusui, keterlambatan juga dapat mengurangi manfaat makanan tambahan yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi harian.

Tantangan lain adalah kebiasaan membagi makanan kepada anggota keluarga lain. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagi makanan tentu merupakan nilai yang baik. Namun, dalam program gizi, setiap porsi makanan telah ditujukan untuk kelompok tertentu. Porsi balita seharusnya dimakan oleh balita. Porsi ibu hamil seharusnya mendukung kebutuhan ibu dan janin. Porsi ibu menyusui seharusnya membantu menjaga kesehatan ibu selama menyusui. Jika makanan itu dibagi, maka zat gizi yang diterima sasaran utama menjadi berkurang. Akibatnya, tujuan program untuk memperbaiki gizi ibu dan anak dapat tidak tercapai secara optimal.

Di sinilah pentingnya edukasi keluarga. MBG tidak boleh berhenti pada penyediaan makanan. Keluarga perlu memahami bahwa makanan tersebut bukan sekadar bantuan, tetapi bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan anak. Pesan sederhana perlu terus disampaikan: makanan untuk balita sebaiknya tidak dibagi karena balita sedang tumbuh; makanan untuk ibu hamil penting bagi kesehatan ibu dan janin; makanan untuk ibu menyusui penting untuk mendukung kesehatan ibu dan bayi.

Selain edukasi, porsi makanan juga harus dijaga. Dalam produksi makanan berskala besar, tentu tidak mudah menimbang semua porsi satu per satu. Namun, pengecekan porsi secara acak tetap penting. Menu yang terlihat lengkap belum tentu cukup jika porsinya kurang. Sebaliknya, porsi yang terlalu banyak bisa menyebabkan makanan tersisa. Karena itu, evaluasi porsi dan sisa makanan perlu dilakukan secara rutin agar makanan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan dan diterima oleh sasaran.

Keamanan pangan juga tidak boleh dianggap sepele. Makanan MBG dikonsumsi oleh kelompok rentan, sehingga prosesnya harus aman sejak bahan pangan diterima, disimpan, dimasak, dikemas, hingga didistribusikan. Hal sederhana seperti memberi label tanggal pada bahan, memastikan bahan pangan yang datang lebih awal digunakan lebih dulu, memantau suhu makanan, memakai alat pelindung diri, serta menjaga kebersihan dapur adalah bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat.

MBG perlu diarahkan menjadi intervensi gizi terpadu. Makanan memang penting, tetapi makanan saja tidak cukup. Makanan harus disertai edukasi, pemantauan, keamanan pangan, dan perubahan perilaku. Jika keluarga tidak memahami tujuan program, makanan bisa dibagi. Jika distribusi tidak tepat waktu, makanan bisa tidak dimakan. Jika porsi tidak sesuai, kebutuhan gizi tidak terpenuhi. Jika keamanan pangan lemah, makanan justru dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Karena itu, pelaksanaan MBG perlu diperkuat melalui beberapa langkah nyata. Jadwal distribusi harus lebih disiplin. Data penerima manfaat perlu diperbarui secara rutin. Porsi makanan perlu dicek berkala. Menu harus dievaluasi dari sisa makanan dan masukan penerima. Keamanan pangan harus dicatat dan diawasi. Edukasi gizi harus menjadi bagian tetap dari program, bukan hanya kegiatan tambahan.

Pemerintah, puskesmas, SPPG, kader, posyandu, sekolah, dan keluarga harus berjalan bersama. Dapur menyiapkan makanan yang bergizi dan aman. Kader membantu memberikan pemahaman kepada keluarga. Puskesmas memantau status gizi. Keluarga memastikan makanan dikonsumsi oleh sasaran utama. Jika semua pihak mengambil peran, MBG dapat menjadi lebih dari sekadar program makan gratis.

Pada akhirnya, makanan bergizi yang diberikan melalui MBG bukan sekadar berisi nasi, lauk, sayur, dan buah. Di dalamnya ada harapan: ibu yang lebih sehat, bayi yang tumbuh lebih baik, balita yang terhindar dari stunting, dan keluarga yang semakin sadar pentingnya gizi. Karena itu, MBG untuk 3B jangan hanya menjadi program yang mengenyangkan, tetapi harus menjadi jalan untuk membangun generasi yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nama-nama Korban Anatra Vs Sepeda Motor

    Nama-nama Korban Anatra Vs Sepeda Motor

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Berdasar data yang berhasil dihimpun di Pos Lantas Siabu, selain Nurhayati Rambe (56), sekitar 10 penumpang yang umumnya anak sekolah mengalami luka parah dan luka ringan dalam peristiwa tabrakan maut antara angkutan umum Anatra dengan sepeda motor di Jalinsum Mandailing Natal, Senin (20/1/2014). Berdasar informasi yang dikumpul di Mapolres Mandailing Natal, […]

  • Tahun Anggaran 2013, Khusus Pelamar Umum Dibuka Lowongan 60 Ribu CPNS

    Tahun Anggaran 2013, Khusus Pelamar Umum Dibuka Lowongan 60 Ribu CPNS

    • calendar_month Jumat, 19 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, — Seluruh instansi baik pusat maupun daerah diizinkan mulai membuka pendaftaran CPNS 2013. Hal ini untuk memberikan ruang lebih bagi para pelamar dan instansi pun punya kesempatan mendapatkan calon pegawai yang sesuai kebutuhan. “Memang saat ini baru Kementerian Keuangan yang sudah membuka pendaftaran CPNS. Ini sah-sah saja, proses kan boleh saja dimulai,” kata Karo […]

  • MEMAKNAI  IDUL FITRI

    MEMAKNAI IDUL FITRI

    • calendar_month Rabu, 6 Jul 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    (PERSFEKTIF SOSIOLOGIS, ANTROPOLOGIS, DAN TEOLOGIS) Oleh : Moechtar Nasution Kepala Pusat Penelitian STAIM Kajian tentang agama dipastikan akan berkembang sesuai dengan transfromasi zaman karena agama memiliki nilai universal.Kendatipun perubahan sosial kerap merubah orientasi dan makna agama namun eksistensi agama tetap penting dalam kehidupan masyarakat sebab membicarakan masyarakat tanpa melihat agama sebagai salah satu komponen akan […]

  • Jalankan Fungsi Pengawasan, Kejari Madina Pastikan Proyek Dinas PUPR Dilaksanakan

    Jalankan Fungsi Pengawasan, Kejari Madina Pastikan Proyek Dinas PUPR Dilaksanakan

    • calendar_month Selasa, 21 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Jalankan fungsi pengawasan, Kejaksaan Negeri Mandailing Natal ( Madina ) didampingi Kepala Dinas PUPR Elpiyanti Harahap lekukan pengawasan proyek Dinas PUPR tahun 2023 khusus bidang Jalan dan Jembatan. Selasa 21/11/2023. Ada 4 Kecamatan yang dilakukan pengawasan oleh tim Kejaksaan, kesemuaan bidang jalan dan jembatan. Selain melakukan pengukuran terhadap proyek yang […]

  • Kejatisu jangan ‘mainkan’ Rahudman!

    Kejatisu jangan ‘mainkan’ Rahudman!

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) sejak Senin (25/10) lalu menetapkan Walikota Medan, Rahudman Harahap, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintahan Desa (TPAPD) Kabupaten Tapsel TA 2005 Rp1,5 miliar lebih. Namun, hingga kini prosesnya masih terkesan lamban. Pasalnya, sudah 13 hari ditetapkan menjadi tersangka, Kejatisu baru memeriksa 6 orang saksi. […]

  • Ini Data Bantuan Alsintan Dari Provinsi Untuk Petani Madina tahun 2024

    Ini Data Bantuan Alsintan Dari Provinsi Untuk Petani Madina tahun 2024

    • calendar_month Kamis, 13 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – ( Mandailing Online) – Dinas Pertanian Mandailing Natal ( Madina ) kemaren selasa 12/3/2025 menyerahkan alat mesin pertanian ( Alsintan ) dari Kementerian Pertanian kepada sejumlah kelompok tani/ brigade pangan di Madina. Penyerahan sendiri dilakukan secara simbolis di Kecamatan Siabu. Setelah penyerahan Alsintan berlangsung ternyata salah satu brigade pangan penerima bantuan bersuara pada […]

expand_less