Rabu, 7 Okt 2026
light_mode

Mengapa Petani Indonesia Miskin, Padahal Selalu Bekerja Keras?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh : Irwan Daulay

 

Ekspor impor apa pun itu bukan suatu masalah. Tidak penting harus swasembada, surplus atau defisit. Ada saatnya swasembada, lalu surplus dan selanjutnya diekspor. Ada kalanya produksi menurun, stok berkurang lalu impor. Inilah dinamisnya persoalan produksi dan bukan suatu masalah. Yang penting ada strategi mitigasi yang berkelanjutan dan hal ini bisa diselesaikan akal manusia, karena dia ilmu pengetahuan, sainstek, dan berkaitan dengan tata kelola (manajemen), tentu dapat dipecahkan akal manusia.

Menjadi masalah jika persoalan distribusi kekayaan tidak diatur dengan benar. Soal ini akal manusia tidak sanggup memecahkannya dan sama sekali tidak sanggup. Hal inilah yang selalu menjadi persoalan utama dalam perekonomian bukan persoalan produksi, persoalan utama ekonomi soal distribusi kekayaan, dari persoalan ini manusia mencoba mengurainya sehingga bermunculan mazhab ekonomi. Sudah pasti tidak akan terpecahkan jika menggunakan akal manusia. Lihat apa yang terjadi, kesenjangan parah terjadi di mana-mana. Bahkan data membuktikan, kekayaan nasional atau global hanya dimiliki segelintir orang, sebagian yang lain dilanda kemiskinan ekstrem dan kelaparan.

Begitu juga dengan petani kita. Mereka berjuang luar biasa mencapai target produksi dan swasembada pangan. Kadang tercapai, kadang juga tidak, karena ini tabiat produksi. Ada masa melimpah, masa yang lain pas-pasan, dan kadang satu masa paceklik. Namun, nasib petaninya tetap miskin, papa, dan menderita sepanjang hayat. Mengapa?

Ada persoalan distribusi yang tidak dapat dipecahkan akal manusia, distribusi kekayaan, distribusi tanah, distribusi kekayaan SDA yang seperti apa yang boleh dan tidak boleh dimiliki privat, kekayaan seperti apa pula yang wajib dimiliki bersama (publik) dan terlarang dimiliki sektor privat, dan yang mana kekayaan yang harus dimiliki negara.

Soal distribusi ini tidak dapat dipecahkan akal manusia, sehingga muncul masalah, masalah yang tidak pernah tuntas sampai hari ini dan bahkan ke depan, karena akal manusia yang terbatas, juga dorongan hawa nafsu yang tidak terhindarkan manusia. Ini sangat naluriah dan alamiah, namun ini suatu masalah, masalah sebenarnya dalam perekonomian, masalah yang tidak dapat dipecahkan mazhab ekonomi mana pun.

Pencipta adalah pihak yang paling paham tabiat ciptaan-Nya. Pencipta Maha Tahu apa saja kelemahan manusia sehingga memberikan panduan soal ini. Demikian juga karena manusia memiliki misi dalam kehidupan, misi yang ditetapkan Sang Pencipta, maka manusia diberi akal agar memahami segala sesuatunya sehingga manusia dapat menjalani misi kehidupan yang benar, model kehidupan yang diserukan Pencipta untuk dijalankan. Karena atas kehendak Pencipta ada jalan lain, jalan buruk, jalan orang-orang durhaka, jalan orang-orang sesat, dan jalan yang harus dihindari.

Pencipta melalui akal, perasaan, dan naluri manusia memberi dua pilihan, antara memilih jalan lurus atau jalan sesat, dalam menjalani misi kehidupan. Benar-benar diberi pilihan karena kasih sayang-Nya dan sebagai bentuk ujian, ujian yang membedakan siapa yang taat dan siapa yang ingkar. Masing-masing pilihan jalan diberi informasi, petunjuk, atau bimbingan, yang mana jalur yang benar dan yang mana pula jalur yang buruk. Pencipta menyediakan informasinya secara rinci, tidak ada yang terlewat, sehingga manusia dapat membedakan yang mana yang benar dan yang mana pula yang buruk.

Termasuk soal kepemilikan. Pencipta tidak mengatur soal produksi karena hal itu dapat dipecahkan akal, nafsu, dan naluri manusia. Namun yang menjadi persoalan ialah urusan distribusi, urusan yang nampak sederhana namun sebenarnya sangat prinsipil, karena soal inilah yang membedakan lahirnya pemikiran ekonomi, mazhab ekonomi, sistem ekonomi, bahkan ideologi dalam soal ekonomi.

Sama sekali pemahaman tentang distribusi kekayaan, kapitalisme berbeda pemikirannya tentang distribusi kekayaan, demikian juga sosialisme, apalagi Islam.

Oleh karena itu, mengapa petani kita miskin sementara mereka terus berproduksi? Sementara di lain pihak ada yang hanya ongkang-ongkang kaki hidupnya berkelimpahan dari hasil pertanian, sama sekali karena persoalan distribusi, spesifik distribusi tanah pertanian. Dari persoalan distribusi inilah masalah pertanian muncul, muncul feodalisme dalam pertanahan, kapitalisme, dan sosialisme yang sangat tidak adil, sehingga selalu saja petani pihak yang dirugikan karena selalu berada di pihak yang dilemahkan.

Islam hadir memecahkan persoalan feodalisme, kapitalisme, dan sosialisme/komunisme dalam pertanian, yaitu keadilan distribusi tanah pertanian. Dalam Islam asas tanah pertanian adalah produksi. Jika Anda tidak mampu mengolah tanah pertanian milik Anda untuk berproduksi atau menelantarkan tanah tersebut selama tiga tahun berturut-turut, tidak ada hak kepemilikan bagi Anda. Anda tidak boleh menyewakannya karena asasnya produksi, menyewakan dan bekerja sama dalam permodalan pun terlarang.

Jika Anda tidak mampu mengelolanya sendiri, Anda hanya dapat menggaji orang mengerjakannya, dengan gaji yang sesuai dengan beban kerja dan kesepakatan. Jika juga tidak mampu dan Anda tetap berkeinginan memiliki tanahnya, serahkan pengelolaannya kepada saudara Anda dengan syarat tidak disewakan (gratis). Jika tidak sanggup juga dan terlantar selama tiga tahun maka negara berhak membatalkan kepemilikan Anda dan menyerahkannya kepada yang dapat mengelolanya.

Oleh pemikiran ini maka setiap petani pasti memiliki lahan pertanian atau memiliki gaji yang tinggi jika dia dipekerjakan. Inilah solusi Islam tehadap petani dan tanah pertanian, solusi yang adil dan berperikemanusiaan.

Referensi:

1. Nidzamul Iqtishadi oleh An-Nabhani
2. Iqtishaduna oleh Baqir As-Sadr.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PB IMSU Gelar Seminar Budaya Ulos dan AI

    PB IMSU Gelar Seminar Budaya Ulos dan AI

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Merajut Warisan, Menenun Peradaban di Era Kecerdasan Buatan   MEDAN (Mandailing Online) – Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Sumatera Utara (PB IMSU) menggelar Seminar Budaya Ulos & Artificial Intelligence (AI). Seminar itu bertema “Merajut Warisan, Menenun Peradaban di Era Kecerdasan Buatan.” Kegiatan ini dilaksanakan di Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Medan, Sabtu (7/3/2026). Dihadiri mahasiswa […]

  • Kasus Tanah Kuburan Perantau Asal Madina Dukung Pemeriksaan Sekda

    Kasus Tanah Kuburan Perantau Asal Madina Dukung Pemeriksaan Sekda

    • calendar_month Jumat, 20 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Putra Mandailing Natal (Madina) yang berada di perantauan, Syahrir Nasution, mendukung langkah Kejatisu dalam menuntaskan dugaan korupsi pengadaan lahan kuburan yang melibatkan Sekdakab Madina M Daud Batubara. Kasus ini terjadi saat Daud menjabat Kabag Tapem Pemko Padangsidimpuan. Dukungan antara lain disampaikan Syahrir Nasution, putra Batang Natal kepada MedanBisnis melalui telepon seluler, Kamis (19/1). Ia […]

  • Kades Jambur Baru Berupaya Perbaiki Kesalahan. Warganya Diwajibkan Sumbang Batu Untuk Perbaiki Jalan yang Dirusaknya

    Kades Jambur Baru Berupaya Perbaiki Kesalahan. Warganya Diwajibkan Sumbang Batu Untuk Perbaiki Jalan yang Dirusaknya

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Batangnatal ||Mandailing Online- Kepala Desa Jambur Baru di Kecamatan Batangnatal, Kabupaten Mandailing Natal Riswan Haedy, berusaha memperbaiki kesalahan dengan membangun kembali jalan lingkungan yang dirusak. Musyawarah desa dilakukan untuk mencari solusi, namun hasilnya menuai kritik dari warga. Warga desa mengungkapkan bahwa setiap kepala keluarga dipaksa menyetor 2 buah batu untuk material perbaikan jalan lingkungan yang […]

  • APBD Madina 2023 Disetujui 1,6 Triliun

    APBD Madina 2023 Disetujui 1,6 Triliun

    • calendar_month Selasa, 29 Nov 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) TA 2023 Mandailing Natal (Madina), Sumut, disetujui sebesar Rp 1.635.517.021.632. Pengesahan persetujuan bersama antara DPRD Madina dengan Pemkab Madina berlangsung pada rapat paripurna DPRD Madina, Selasa (29/11/2022). Badan Anggaran DPRD Madina dalam dokumen laporan pembahasan Badan Anggaran yang dibacakan di rapat paripurna tidak merinci sumber-sumber […]

  • Diduga Korupsi 13 M di Dinas Pendidikan, Massa LMHA-RI Unjukrasa

    Diduga Korupsi 13 M di Dinas Pendidikan, Massa LMHA-RI Unjukrasa

    • calendar_month Kamis, 5 Okt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Massa dari LMHA-RI mlakukan unjukrasa ke kantor Bupati Mandailing Natal, Kamis (5/10/2017) meminta bupati mengusut dugaan korupsi di Dinas Pendidikan. Massa yang berjumlah hampir 100 orang itu mencuatkan adanya uigaan korupsi sekitar 13 milyar rupiah dana APBD Mandailing Natal pada tahun anggaran 2016. Dugaan korupsi itu berdasar hasil investigasi Dewan […]

  • Kades Saleh Baru Bantah Lakukan Pengancaman Pada LSM, Muda Hasibuan Tolak Berdamai

    Kades Saleh Baru Bantah Lakukan Pengancaman Pada LSM, Muda Hasibuan Tolak Berdamai

    • calendar_month Selasa, 6 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) -Kepala Desa Sale Baru Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bantah dugaan pengancaman yang ia lakukan kepada beberapa anggota Lembaga Pemantau Aset dan Keuangan Negara Republik Indonesia Profesional Jaringan Mitra Negara (LPAKNRI Projamin) Bantahan tersebut dikatakan langsung Kades Desa Sale Baru Cahyono Surya Bin Mustamar di Rumah Makan Dapur […]

expand_less