Jumat, 25 Sep 2026
light_mode

Duo Sutan dalam Perjuangan Gerep Institute Naik ke Panggung Pahlawan Nasional

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada yang menarik dari gerakan kebudayaan yang sedang tumbuh di Mandailing Natal. Gerep Institute mengusung dua tokoh tangguh menuju panggung Pahlawan Nasional.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua nama besar kembali diperbincangkan sebagai calon Pahlawan Nasional. Keduanya sama-sama menyandang gelar adat Sutan. Dari diskusi kedai kopi, diskusi grup WA, rapat kerja, rapat kolaborasi dan seminar level kabupaten.

Keduanya lahir dari rahim intelektual Mandailing.

Keduanya memilih pena dan pikiran sebagai alat perjuangan.

Yang pertama adalah Sati Nasution gelar Sutan Iskandar, yang lebih dikenal sebagai Willem Iskander. Yang kedua adalah Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan, filsuf kebudayaan, dan salah satu arsitek bahasa Indonesia modern.
Dua Sutan.
Dua zaman.
Satu benang merah: keyakinan bahwa masa depan bangsa dibangun melalui ilmu pengetahuan.

Willem Iskander hidup pada abad ke-19, ketika kesempatan memperoleh pendidikan bagi bumiputera masih menjadi kemewahan. Ia tidak memilih jalan perlawanan bersenjata. Ia memilih membangun sekolah guru di Tanobato, menulis dalam bahasa Mandailing, dan menanamkan kesadaran bahwa kemajuan hanya mungkin lahir dari pendidikan.

Sekitar setengah abad kemudian, lahirlah Sutan Takdir Alisjahbana.
Jika Willem Iskander membuka pintu pendidikan, maka STA memperluas cakrawala pemikiran bangsa. Ia ikut merumuskan bahasa Indonesia modern, mendirikan lembaga kebudayaan, menulis novel, esai, dan filsafat, serta mengajak bangsa Indonesia berdialog dengan peradaban dunia.
Yang satu membangun fondasi.
Yang satu lagi membangun bangunan.

Ada sesuatu yang jarang disadari publik, termasuk di kampung mereka yang sudah jadi Kabupaten Mandailing Natal.
Mandailing ternyata pernah melahirkan dua “Sutan” yang berada dalam satu mata rantai sejarah Indonesia.

Yang pertama, Sati Nasution gelar Sutan Iskandar.

Yang kedua, Sutan Takdir Alisjahbana.

Yang pertama berdarah Mandailing dan bergemuruh mendirikan sekolah unyuk guru Tanobato di dalaman Sumatera.

Yang kedua berdarah Jawa-Minang, lahir di Natal, pesisir Mandailing. Mengawali debutnya di Pulau Jawa, gaung pemikirannya menggema ke seluruh Indonesia melalui bahasa, sastra, filsafat, dan pendidikan.
Mereka hidup di dua abad yang berbeda.
Namun keduanya sedang mengerjakan pekerjaan historis yang sama. Membangun manusia Indonesia.

Willem Iskander memulainya dari Tanobato.
Pada tahun 1862 ia mendirikan Kweekschool Tanobato, sekolah guru bumiputera yang terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan status sosial. Di sana ia tidak sekadar mengajarkan membaca dan berhitung. Ia sedang mencetak para guru yang kelak menyebarkan cahaya ilmu ke berbagai wilayah Sumatera. Penelitian bahkan mencatat lulusan-lulusan Kweekschool Tanobato kemudian mengajar di berbagai daerah, menjadikan sekolah itu sebagai pusat reproduksi tenaga pendidik bumiputera.

Enam puluh tahun kemudian, estafet itu seperti menemukan babak baru.
Sutan Takdir Alisjahbana bergerak bukan lagi pada tingkat sekolah guru.
Ia ikut membangun Universitas Nasional sebagai ruang lahirnya generasi intelektual Indonesia, sambil merumuskan arah bahasa Indonesia, sastra modern, dan filsafat kebudayaan bangsa.
Jika Willem Iskander membangun fondasi rumah pendidikan Indonesia, maka STA ikut memperluas rumah itu menjadi ruang perjumpaan ilmu pengetahuan bagi sebuah bangsa yang sedang tumbuh.

Yang satu membangun kweekschool.
Yang satu membantu membangun universitas.

Yang satu menanam benih. Yang satu merawat pohonnya.
Yang satu mempersiapkan guru.
Yang satu mempersiapkan pemikir.
Mereka berada pada mata rantai yang sama.
Tetapi bekerja pada mata zaman yang berbeda.
Mungkin di situlah letak keistimewaan “Duo Sutan” ini.
Mereka tidak dikenang karena kebetulan berasal dari tanah yang sama.

Mereka dikenang karena sama-sama percaya bahwa jalan paling panjang menuju kemerdekaan adalah pendidikan, dan jalan paling kokoh menuju peradaban adalah ilmu pengetahuan.

Lebih menarik lagi, keduanya sama-sama sering disalahpahami.
Willem Iskander kerap dinilai hanya sebagai guru sekolah kolonial.

Padahal, jika dibaca secara utuh melalui Si Boeloes-Boeloes, Si Roemboek-Roemboek, tampak jelas bahwa pendidikan baginya adalah jalan membangunkan kesadaran masyarakat, bukan sekadar mengajarkan membaca dan berhitung.
Sementara itu, STA acap kali dipersempit hanya sebagai sastrawan atau tokoh “pro-Barat”.

Padahal, yang ia perjuangkan bukanlah peniruan Barat, melainkan keberanian bangsa Indonesia untuk berpikir modern, kreatif, dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan kemampuan mencipta jati dirinya sendiri.
Keduanya sesungguhnya sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: memerdekakan manusia melalui pikiran.

Ada pula persamaan lain yang jarang dibicarakan.
Keduanya adalah tokoh yang melampaui daerah asalnya.
Willem Iskander memang lahir di Pidoli — Mandailing, tetapi gagasan pendidikannya menjadi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia.
Sutan Takdir Alisjahbana memang berasal dari Natal, Sumatera Utara, tetapi pengaruhnya menjangkau bahasa, sastra, kebudayaan, hingga pemikiran modern Indonesia.
Dengan kata lain, keduanya bukan sekadar kebanggaan Mandailing atau Sumatera Utara.
Mereka telah menjadi bagian dari sejarah intelektual bangsa.

Karena itu, bagi Gerep Institute, perjuangan mengusulkan keduanya sebagai Pahlawan Nasional tidak semestinya dipahami sebagai proyek kedaerahan.
Ini bukan soal menambah daftar tokoh asal Mandailing yang memperoleh gelar. Bukan!
Ini adalah upaya menghadirkan kembali satu mata rantai sejarah Indonesia yang selama ini belum memperoleh perhatian yang memadai.
Bangsa ini telah lama memberi penghormatan kepada para pejuang politik dan militer.
Kini saatnya kita juga memberi panggung yang lebih agung kepada para pejuang pendidikan, bahasa, sastra, dan kebudayaan.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang memenangkan peperangan. Bangsa juga dibangun oleh mereka yang mengubah cara berpikir rakyatnya.

Barangkali inilah makna terdalam dari hadirnya dua nama itu dalam satu tarikan napas sejarah.
Sati Nasution gelar Sutan Iskandar dan Sutan Takdir Alisjahbana dipisahkan oleh hampir satu abad. Namun keduanya dipertemukan oleh cita-cita yang sama: memuliakan manusia melalui ilmu pengetahuan.
Jika perjuangan fisik melahirkan kemerdekaan, maka perjuangan intelektual menjaga agar kemerdekaan itu terus memiliki arah.
Dan mungkin, justru di situlah kita menemukan alasan mengapa “Duo Sutan” layak diperjuangkan bersama menuju Pahlawan Nasional.
Bukan semata karena mereka putra Mandailing. Melainkan karena karya, gagasan, dan pengabdiannya telah melampaui batas-batas daerah, menjelma menjadi bagian dari warisan intelektual Indonesia.

“Jika Willem Iskander meletakkan batu pertama rumah pendidikan bumiputera, maka Sutan Takdir Alisjahbana membantu membangun serambi peradaban Indonesia.” ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasca Terbitnya Hak Paten Kopi Mandailing :  Penguatan Petani dan Negosiasi Mandheling Coffee (Bagian 1)

    Pasca Terbitnya Hak Paten Kopi Mandailing : Penguatan Petani dan Negosiasi Mandheling Coffee (Bagian 1)

    • calendar_month Rabu, 16 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Hak Paten untuk Kopi Mandailing telah diterbitkan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM. Namanya Hak Paten Indikasi Geografis Kopi Arabika Sumatera Mandailing. Itu artinya, eksportir dari Indonesia dan produsen bubuk kopi di seluruh dunia yang memasang Mandheling Coffee sebagai nomenklatur labelnya tak dibolehkan lagi kecuali atas seizin dari Mandailing Natal. Perkembangan itu tentu memiliki […]

  • Pemerintah-Swasta Harus Sejalan

    Pemerintah-Swasta Harus Sejalan

    • calendar_month Senin, 25 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengembangan ekonomi di Kabupaten Mandailing Natal itu titik beratnya berada di sektor agribisnis, karena wilayah ini merupakan daerah agraris. Terutama karet, kopi dan sawit. Perlu lebih dipertegas pola dan desain strategi bagi mendorong pertumbuhan sektor agribisnis tersebut oleh pemerintah daerah dan keterlibatan pihak swasta lokal serta […]

  • Napi Wanita Disetrum Petugas LP

    Napi Wanita Disetrum Petugas LP

    • calendar_month Minggu, 17 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BINJAI- Nora Br Damanik, narapidana (napi) yang tersangkut kasus penipuan yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II A Binjai, Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Binjai Barat, distrum petugas LP, hanya gara-gara dituduh meracuni Sri Wardani, penjaga LP di Blok C. Nora yang ditemui wartawan Sumut Pos, Jumat (15/7) mengaku, petugas LP membabi buta menyetrumnya. “Kejadian […]

  • Plasma PTPN IV Terkendala Status Lahan Tumpang Tiindih

    Plasma PTPN IV Terkendala Status Lahan Tumpang Tiindih

    • calendar_month Kamis, 1 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak PTPN IV mengaku kesulitan mengadakan lahan perkebunan plasma sawit yang akan diperuntukkan bagi warga sekitar. Sebab, banyak lahan yang berstatus tumpang tindih. Hal itu terungkap pada acara dengatr pendapat antara DPRD Kabupaten Mandailing Natal dengan pihak PTPN IV di gedung dewan, Selasa (1/11). DPRD memanggil manajemen PTPN IV terkait mencuatnya […]

  • IPM Rendah, Pertumbuhan Ekonomi Madina Anjlok Sejak 2015

    IPM Rendah, Pertumbuhan Ekonomi Madina Anjlok Sejak 2015

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Madina terus menurun. Dari 6,21 persen (2015) anjlok menjadi 6,09 persen (2017). Lalu, terjun lagi menjadi hanya 5,30 persen (2019). Kondisi inilah yang membuat angka pengangguran di Madina meningkat tajam, dari 4,43 persen (2018) menjadi 6,37 persen (2019). Itu diungkap Prof. Dr. H. Eddy Suratman, SE.,MA.? Dia adalah salah […]

  • Jafar, Siaswa SMK Negeri 2 Panyabungan Juara I LKS Tingkat Sumut

    Jafar, Siaswa SMK Negeri 2 Panyabungan Juara I LKS Tingkat Sumut

    • calendar_month Jumat, 13 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Prestasi gemilang kembali ditorehkan putra Mandailing Natal (Madina). Kali ini, Jakfar kelas XI TKK SMK Negeri 2 Panyabungan meraih juara I Lomba Kompetensi Siwa (LKS) tingkat Provinsi Sumatera Utara. Dalam catatan Kabupaten Mandailing Natal, baru baru kali ini pelajar dari Madina meraih juara I pada ajang tersebut. “Alhamdulilah Ananda Jakfar yang […]

expand_less