Selasa, 11 Agu 2026
light_mode

Duo Sutan dalam Perjuangan Gerep Institute Naik ke Panggung Pahlawan Nasional

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada yang menarik dari gerakan kebudayaan yang sedang tumbuh di Mandailing Natal. Gerep Institute mengusung dua tokoh tangguh menuju panggung Pahlawan Nasional.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua nama besar kembali diperbincangkan sebagai calon Pahlawan Nasional. Keduanya sama-sama menyandang gelar adat Sutan. Dari diskusi kedai kopi, diskusi grup WA, rapat kerja, rapat kolaborasi dan seminar level kabupaten.

Keduanya lahir dari rahim intelektual Mandailing.

Keduanya memilih pena dan pikiran sebagai alat perjuangan.

Yang pertama adalah Sati Nasution gelar Sutan Iskandar, yang lebih dikenal sebagai Willem Iskander. Yang kedua adalah Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan, filsuf kebudayaan, dan salah satu arsitek bahasa Indonesia modern.
Dua Sutan.
Dua zaman.
Satu benang merah: keyakinan bahwa masa depan bangsa dibangun melalui ilmu pengetahuan.

Willem Iskander hidup pada abad ke-19, ketika kesempatan memperoleh pendidikan bagi bumiputera masih menjadi kemewahan. Ia tidak memilih jalan perlawanan bersenjata. Ia memilih membangun sekolah guru di Tanobato, menulis dalam bahasa Mandailing, dan menanamkan kesadaran bahwa kemajuan hanya mungkin lahir dari pendidikan.

Sekitar setengah abad kemudian, lahirlah Sutan Takdir Alisjahbana.
Jika Willem Iskander membuka pintu pendidikan, maka STA memperluas cakrawala pemikiran bangsa. Ia ikut merumuskan bahasa Indonesia modern, mendirikan lembaga kebudayaan, menulis novel, esai, dan filsafat, serta mengajak bangsa Indonesia berdialog dengan peradaban dunia.
Yang satu membangun fondasi.
Yang satu lagi membangun bangunan.

Ada sesuatu yang jarang disadari publik, termasuk di kampung mereka yang sudah jadi Kabupaten Mandailing Natal.
Mandailing ternyata pernah melahirkan dua “Sutan” yang berada dalam satu mata rantai sejarah Indonesia.

Yang pertama, Sati Nasution gelar Sutan Iskandar.

Yang kedua, Sutan Takdir Alisjahbana.

Yang pertama berdarah Mandailing dan bergemuruh mendirikan sekolah unyuk guru Tanobato di dalaman Sumatera.

Yang kedua berdarah Jawa-Minang, lahir di Natal, pesisir Mandailing. Mengawali debutnya di Pulau Jawa, gaung pemikirannya menggema ke seluruh Indonesia melalui bahasa, sastra, filsafat, dan pendidikan.
Mereka hidup di dua abad yang berbeda.
Namun keduanya sedang mengerjakan pekerjaan historis yang sama. Membangun manusia Indonesia.

Willem Iskander memulainya dari Tanobato.
Pada tahun 1862 ia mendirikan Kweekschool Tanobato, sekolah guru bumiputera yang terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan status sosial. Di sana ia tidak sekadar mengajarkan membaca dan berhitung. Ia sedang mencetak para guru yang kelak menyebarkan cahaya ilmu ke berbagai wilayah Sumatera. Penelitian bahkan mencatat lulusan-lulusan Kweekschool Tanobato kemudian mengajar di berbagai daerah, menjadikan sekolah itu sebagai pusat reproduksi tenaga pendidik bumiputera.

Enam puluh tahun kemudian, estafet itu seperti menemukan babak baru.
Sutan Takdir Alisjahbana bergerak bukan lagi pada tingkat sekolah guru.
Ia ikut membangun Universitas Nasional sebagai ruang lahirnya generasi intelektual Indonesia, sambil merumuskan arah bahasa Indonesia, sastra modern, dan filsafat kebudayaan bangsa.
Jika Willem Iskander membangun fondasi rumah pendidikan Indonesia, maka STA ikut memperluas rumah itu menjadi ruang perjumpaan ilmu pengetahuan bagi sebuah bangsa yang sedang tumbuh.

Yang satu membangun kweekschool.
Yang satu membantu membangun universitas.

Yang satu menanam benih. Yang satu merawat pohonnya.
Yang satu mempersiapkan guru.
Yang satu mempersiapkan pemikir.
Mereka berada pada mata rantai yang sama.
Tetapi bekerja pada mata zaman yang berbeda.
Mungkin di situlah letak keistimewaan “Duo Sutan” ini.
Mereka tidak dikenang karena kebetulan berasal dari tanah yang sama.

Mereka dikenang karena sama-sama percaya bahwa jalan paling panjang menuju kemerdekaan adalah pendidikan, dan jalan paling kokoh menuju peradaban adalah ilmu pengetahuan.

Lebih menarik lagi, keduanya sama-sama sering disalahpahami.
Willem Iskander kerap dinilai hanya sebagai guru sekolah kolonial.

Padahal, jika dibaca secara utuh melalui Si Boeloes-Boeloes, Si Roemboek-Roemboek, tampak jelas bahwa pendidikan baginya adalah jalan membangunkan kesadaran masyarakat, bukan sekadar mengajarkan membaca dan berhitung.
Sementara itu, STA acap kali dipersempit hanya sebagai sastrawan atau tokoh “pro-Barat”.

Padahal, yang ia perjuangkan bukanlah peniruan Barat, melainkan keberanian bangsa Indonesia untuk berpikir modern, kreatif, dan terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan kemampuan mencipta jati dirinya sendiri.
Keduanya sesungguhnya sedang mengerjakan pekerjaan yang sama: memerdekakan manusia melalui pikiran.

Ada pula persamaan lain yang jarang dibicarakan.
Keduanya adalah tokoh yang melampaui daerah asalnya.
Willem Iskander memang lahir di Pidoli — Mandailing, tetapi gagasan pendidikannya menjadi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia.
Sutan Takdir Alisjahbana memang berasal dari Natal, Sumatera Utara, tetapi pengaruhnya menjangkau bahasa, sastra, kebudayaan, hingga pemikiran modern Indonesia.
Dengan kata lain, keduanya bukan sekadar kebanggaan Mandailing atau Sumatera Utara.
Mereka telah menjadi bagian dari sejarah intelektual bangsa.

Karena itu, bagi Gerep Institute, perjuangan mengusulkan keduanya sebagai Pahlawan Nasional tidak semestinya dipahami sebagai proyek kedaerahan.
Ini bukan soal menambah daftar tokoh asal Mandailing yang memperoleh gelar. Bukan!
Ini adalah upaya menghadirkan kembali satu mata rantai sejarah Indonesia yang selama ini belum memperoleh perhatian yang memadai.
Bangsa ini telah lama memberi penghormatan kepada para pejuang politik dan militer.
Kini saatnya kita juga memberi panggung yang lebih agung kepada para pejuang pendidikan, bahasa, sastra, dan kebudayaan.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang memenangkan peperangan. Bangsa juga dibangun oleh mereka yang mengubah cara berpikir rakyatnya.

Barangkali inilah makna terdalam dari hadirnya dua nama itu dalam satu tarikan napas sejarah.
Sati Nasution gelar Sutan Iskandar dan Sutan Takdir Alisjahbana dipisahkan oleh hampir satu abad. Namun keduanya dipertemukan oleh cita-cita yang sama: memuliakan manusia melalui ilmu pengetahuan.
Jika perjuangan fisik melahirkan kemerdekaan, maka perjuangan intelektual menjaga agar kemerdekaan itu terus memiliki arah.
Dan mungkin, justru di situlah kita menemukan alasan mengapa “Duo Sutan” layak diperjuangkan bersama menuju Pahlawan Nasional.
Bukan semata karena mereka putra Mandailing. Melainkan karena karya, gagasan, dan pengabdiannya telah melampaui batas-batas daerah, menjelma menjadi bagian dari warisan intelektual Indonesia.

“Jika Willem Iskander meletakkan batu pertama rumah pendidikan bumiputera, maka Sutan Takdir Alisjahbana membantu membangun serambi peradaban Indonesia.” ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anwar Nasution Dukung Upaya Hak Paten Kopi Mandailing

    Anwar Nasution Dukung Upaya Hak Paten Kopi Mandailing

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Prof DR Anwar Nasution menyatakan mendukung penuh terhadap rencana Pemkab Mandailing Natal (Madina) mengajukan hak paten Kopi Mandailing. Itu dicetuskan mantan kepala BPK RI ini dihadapan tim Dewan Riset Daerah Madina yang dipimpin Syahrir Nasution saat melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh Mandailing Natal di Jakarta, beberapa hari lalu. “Kita khusus bertemu […]

  • Bupati Tapsel : Kepala Desa Harus Merangkul Lawan Politik

    Bupati Tapsel : Kepala Desa Harus Merangkul Lawan Politik

    • calendar_month Selasa, 15 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPANULI SELATAN (Mandailing Online) – Bupati Tapanuli Selatan, H. Syahrul M Pasaribu mengharapkan kepada kepala desa untuk merangkul lawan palitik. Itu ditekannya usai melantik 67 kepala desa, Senin (14/5/2018) di Sipirok. Para kepala desa terpilih itu hasil Pemilihan Kepala Desa Serentak pada tanggal 23 April 2018 lalu. Syahrul mengingatkan bahwa proses berpolitik di desa sudah […]

  • KPU Tetapkan Sukhairi-Atika Bupati dan Wakil Bupati Madina Terpilih

    KPU Tetapkan Sukhairi-Atika Bupati dan Wakil Bupati Madina Terpilih

    • calendar_month Senin, 7 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – KPU Madina menetapkan HM Jakfar Sukhairi Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati terpilih Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hasil Pilkada 2020. Penetapan dilakukan pada rapat pleno terbuka di aula KPU Madina, Senin (7/6/2021) dipimpin Ketua KPU Madina, Fadhilah Syarif. Penetapan ini melanjuti putusan Mahkamah Konstitusi […]

  • Kimi Dikabarkan Jadi Rebutan Lotus, Red Bull, dan Ferrari

    Kimi Dikabarkan Jadi Rebutan Lotus, Red Bull, dan Ferrari

    • calendar_month Kamis, 1 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Munich – Saat ini pebalap Lotus Kimi Raikkonen sedang dihubungkan dengan Red Bull. Persaingan mendapatkan tanda tangan Raikkonen untuk musim 2014 tampaknya akan bertambah sengit seiring dengan laporan yang menyebut Ferrari ikut mendekatinya. Kontrak Raikkonen dengan Lotus akan habis di akhir musim 2013 ini. Artinya, musim depan ia bisa saja masih berada di tim itu […]

  • Anas Urbaningrum: Demokrat Sumut Harus Tetap Terbaik

    Anas Urbaningrum: Demokrat Sumut Harus Tetap Terbaik

    • calendar_month Kamis, 4 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Parapat, Partai Demokrat Sumut harus tetap menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Untuk itu seluruh kader agar tetap menjaga komitmen dan kebersamaan untuk membesarkan partai dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Disamping itu kader Partai Demokrat, baik itu provinsi dan kabupaten/kota harus berperan sebagai partai pendukung pemerintah, meskipun kepala daerahnya […]

  • Kabulkan Gugatan FPI, MA Nilai Daerah Paling Kompeten Mengatur Miras

    Kabulkan Gugatan FPI, MA Nilai Daerah Paling Kompeten Mengatur Miras

    • calendar_month Kamis, 11 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Jakarta – Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengeluhkan pembatalan Keppres No 3/1997 tentang Pengendalian Minuman Beralkohol. Menurut Gamawan kini terjadi kekosongan rujukan pengendalian miras. Mahkamah Agung (MA) tidak sependapat karena masih ada peraturan dan perundang-undangan yang mengatur perdagangan termasuk peredaran miras. “Masih ada beberapa UU mengenai perdagangan, yang penting adalah pasca putusan ini adalah kebijakan […]

expand_less