Kamis, 13 Agu 2026
light_mode

MENUJU TAPSEL YANG LEBIH TANGGUH (Bagian 2 dari 3 Tulisan)

  • account_circle Ludfan Nasution
  • calendar_month 14 menit yang lalu
  • print Cetak

Meloncat dengan Carbon Credit

Membaca Gagasan Gus Irawan tentang Ekonomi Hijau Batangtoru

 

Oleh: Ludfan Nasution
Koordinator Mandailing Epicentrum

Ada satu bagian dari pernyataan Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, yang layak diberi perhatian lebih jauh.

Gus Irawan tidak ingin konservasi Batang Toru berhenti pada urusan menjaga ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Ia menyebut sejumlah kemungkinan ekonomi berkelanjutan: hasil hutan bukan kayu, pertanian ramah lingkungan, ekowisata, jasa lingkungan, carbon credit, dan berbagai potensi ekonomi hijau lainnya.

Ini menarik.

Karena dengan pernyataan tersebut, Batang Toru mulai dibaca bukan hanya sebagai warisan ekologis, tetapi juga sebagai modal ekonomi masa depan.

Dan dari sinilah pertanyaan besar muncul:

Bisakah Tapanuli Selatan meloncat dengan carbon credit?

Hutan Bukan Lagi Sekadar Kawasan yang Harus Dijaga

Selama ini konservasi sering dipahami melalui bahasa larangan.

Jangan menebang.

Jangan membuka kawasan.

Jangan merusak.

Jangan mengganggu habitat.

Semua larangan tersebut penting.

Tetapi masyarakat juga hidup dari ekonomi.

Mereka membutuhkan pendapatan.

Mereka membutuhkan pekerjaan.

Mereka membutuhkan kepastian masa depan.

Karena itu, tantangan terbesar konservasi bukan sekadar membuat aturan agar hutan tidak rusak.

Tantangannya adalah membuat masyarakat memperoleh alasan ekonomi untuk mempertahankan kelestarian hutan.

Di sinilah gagasan ekonomi hijau yang disampaikan Gus Irawan menjadi relevan.

Kalau hutan menghasilkan jasa lingkungan, mengapa jasa tersebut tidak diberi nilai?

Kalau hutan menyimpan karbon, mengapa karbon tidak menjadi salah satu sumber nilai ekonomi?

Kalau ekosistem Batang Toru menjadi daya tarik wisata, mengapa masyarakat sekitar tidak menjadi bagian dari rantai ekonominya?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada paradigma baru.

 

Carbon Credit: Peluang Besar, Pekerjaan Rumah Besar

Tetapi di sini pula kritik tipis perlu diletakkan.

Carbon credit tidak otomatis menjadi kesejahteraan.

Ia membutuhkan sistem.

Harus ada pengukuran.

Harus ada metodologi.

Harus ada verifikasi.

Harus ada kelembagaan.

Harus ada kepastian hukum.

Harus ada pasar.

Dan yang paling penting:

harus ada mekanisme pembagian manfaat yang adil.

Sebab ketika karbon menjadi komoditas, pertanyaan tentang siapa yang menerima manfaat tidak boleh datang belakangan.

Ia harus dirancang sejak awal.

Hutan dijaga oleh siapa?

Karbon dihitung oleh siapa?

Kredit diterbitkan melalui mekanisme apa?

Siapa yang membeli?

Siapa yang menerima pembayaran?

Berapa bagian masyarakat?

Berapa bagian pengelola?

Bagaimana transparansinya?

Dan bagaimana memastikan bahwa manfaat ekonomi tersebut benar-benar memperkuat konservasi?

 

Masyarakat Jangan Hanya Mendapat Tugas Menjaga

Inilah titik paling sensitif.

Jangan sampai masyarakat sekitar Batang Toru mendapatkan tugas konservasi, tetapi tidak mendapatkan manfaat ekonomi konservasi.

Masyarakat diminta menjaga hutan.

Masyarakat diminta tidak membuka kawasan.

Masyarakat diminta menyesuaikan aktivitas ekonominya.

Tetapi ketika hutan menghasilkan nilai karbon, masyarakat justru berada di luar meja pembagian manfaat.

Itu tentu bukan model ekonomi hijau yang ideal.

Karena itu, jika gagasan Gus Irawan tentang carbon credit hendak dikembangkan, salah satu agenda pentingnya adalah membangun model benefit sharing yang jelas.

Masyarakat harus menjadi bagian dari rantai nilai.

Bukan sekadar objek konservasi.

 

Tapsel Memiliki Peluang yang Tidak Kecil

Di sinilah visi Gus Irawan layak didorong lebih jauh.

Tapsel memiliki bentang alam yang bernilai.

Memiliki kawasan hutan.

Memiliki biodiversitas.

Memiliki masyarakat yang memiliki pengetahuan lokal.

Memiliki potensi pertanian.

Memiliki peluang ekowisata.

Dan memiliki kemungkinan mengembangkan berbagai jasa lingkungan.

Jika semua itu dirajut dalam satu ekosistem ekonomi, maka konservasi dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan.

Bukan hambatan pembangunan.

Justru menjadi modal pembangunan.

Tapsel bisa bergerak dari paradigma:

“hutan harus dijaga agar tidak rusak”

menuju:

“hutan dijaga karena kelestariannya menghasilkan nilai ekologis dan ekonomi yang dinikmati bersama.”

Itulah lompatan paradigmatik yang sesungguhnya.

 

Gus Irawan Sedang Membuka Pintu

Karena itu, penyebutan carbon credit oleh Gus Irawan jangan dibaca sebagai sekadar istilah dalam sebuah pidato.

Ia bisa menjadi pintu masuk menuju agenda yang lebih besar:

ekonomi Tapsel berbasis aset ekologis.

Tetapi pintu itu hanya akan menjadi jalan menuju masa depan kalau segera diikuti kerja teknis dan kelembagaan.

Di sinilah akademisi, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dunia usaha, lembaga keuangan, NGO dan masyarakat harus duduk bersama.

Bukan untuk sekadar membicarakan carbon credit.

Tetapi untuk merancang:

siapa melakukan apa, siapa mendapat apa, dan bagaimana hutan tetap lestari.

Kalau itu berhasil, maka Batang Toru tidak hanya dijaga untuk generasi mendatang.

Ia juga dapat membantu generasi sekarang membangun kesejahteraan.

Tapsel tidak perlu memilih antara hijau dan maju.

Tapsel bisa maju karena hijau.

Dan jika dikelola dengan benar, carbon credit bukan sekadar instrumen pasar.

Ia bisa menjadi salah satu tangga untuk meloncat.

Meloncat menuju ekonomi Tapsel yang lebih modern, lebih berkelanjutan, dan lebih berkeadilan. (bersambung)

 

 

  • Penulis: Ludfan Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yayasan Mataniari Genjot Program Investasi Kehutanan Berbasis Masyarakat

    Yayasan Mataniari Genjot Program Investasi Kehutanan Berbasis Masyarakat

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Yayasan Mataniari Sian Madina yang berbasis di Mandailing Natal (Madina) terus bergerak mengkampanyekan sekaligus menggenjot Program Investasi Kehutanan Berbasis Masyarakat. Program ini merupakan upaya Yayasan Mataniari melestarikan hutan dalam sumbangsihnya bagi mitigasi emisi karbon global yang juga sekaligus memperkuat posisi kesejahteraan masyarakat yang bermukim di zona penyagga hutan. Sebab, hutan adalah asset sumber daya […]

  • Perkara korupsi, Kejati Sumut dikritik

    Perkara korupsi, Kejati Sumut dikritik

    • calendar_month Kamis, 7 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kinerja Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) khususnya dalam penangangan perkara korupsi di Sumatera Utara kembali dikritik. Kejati Sumut dinilai tidak memiliki atensi dalam pemberantasan kasus-kasus korupsi, termasuk penyidikan kasus-kasus korupsi. Bahkan, lembaga Adhiyaksa di Sumut ini terkesan tidak punya nyali dalam mengusut tuntas kasus-kasus korupsi yang melibatkan para pejabat dan mantan pejabat […]

  • Koridor Timur Terus Digenjot

    Koridor Timur Terus Digenjot

    • calendar_month Kamis, 8 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) – Jalur Panyabungan-Pagur menjadi salah satu prioritas karena akan menjadi koridor timur bagi Mandailing Natal menuju kawasan Padang Lawas. Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bertetangga dengan Kabupaten Padang Lawas (Palas), dua kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Koridor timur ini diproyeksi menjadi jalur ekonomi bagi dua kawasan itu. Oleh karenanya, peningkatan ruas […]

  • Lagi Emak Emak Pengajian Panyabungan III Nyatakan Dukungan ke Harun- Ichwan

    Lagi Emak Emak Pengajian Panyabungan III Nyatakan Dukungan ke Harun- Ichwan

    • calendar_month Sabtu, 19 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan (Mandailing Online) – Lagi Lagi dukungan dan doa dari kalangan masyarakat terus mengalir ke Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 1 Harun Mustafa Nasution dan Ichwan Husein Nasution. Kali ini, dukungan penuh di deklarasikan kaum ibu ibu pengajian Haddad Kelurahan Panyabungan III ke pasangan berjargon “Onma” tersebut. Demi […]

  • Rekomendasi Irwan ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Pemerintah dan DPR-RI

    Rekomendasi Irwan ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Pemerintah dan DPR-RI

    • calendar_month Selasa, 8 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    MEDAN, – Analisis yuridis terhadap putusan MK no.41/phpu.d-viii/2010 tanggal 6 juli 2010 tentang Pilkada Madina dan putusan no. 45/phpu/d.viii/2010 tanggal 7 juli 2010 tentang pilkada Kota Waringin barat. Diungkapkan Irwan H Daulay,Mantan Calon Bupati Madina 2010, melalui e-mail pribadinya, Senin (7/10). Dia menambahkan, surat di serahkan ke kantor Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta dan […]

  • Kerugian Akibat Bencana Alam Madina 212 Miliar Rupiah

    Kerugian Akibat Bencana Alam Madina 212 Miliar Rupiah

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bencana alam yang melanda Kabupaten Mandailing Natal sejauh ini menimbulkan kerugian sekitar Rp 212 miliar. Jumlah ini dimasukkan dalam empat sektor, yakni infrastruktur Rp 90,5 miliar, ekonomi Rp 102,1 miliar, sosial Rp 16,2 miliar, dan perumahan Rp 3,2 miliar serta kerusakan lain-lain senilai Rp 500 juta. Hal itu disampaikan Bupati Madina […]

expand_less