“AYAH” DAN “IBU” DALAM BAHASA ARAB: ADA MAKNA DI BALIK KATA
- account_circle Nur Ainun Ritonga
- calendar_month 2 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Nur’ainun Ritonga
Dosen Bahasa dan Sastra Arab STAIN Mandailing Natal
Bahasa Arab bukan sekedar bahasa yang kaya akan kosa kata (Mufrodat). Di balik sebuah kata sering kali terdapat makna yang menarik untuk dikaji. Salah satunya dapat kita temukan dalam kata yang berkaitan dengan “anak”, “ayah” dan “ibu”.
Dalam bahasa Arab terdapat kata ولد (Waladun) yang berarti “Anak atau keturunan”, ada pula kata والد (Walidun) dan والدة (Walidatun) artinya “Ayah” dan “Ibu”. Ketiganya memiliki keterkaitan dengan akar kata و-ل-د, dalam hal ini bahasa Arab mengajak kita untuk melihat lingkar kehidupan, ada yang melahirkan, ada yang dilahirkan dan ada kasih sayang yang tumbuh di antaranya. Sebagaimana tiga kata di atas yang mempunyai keterkaitan melalui satu akar kata, demikian pula hubungan antara orang tua dan anak memiliki ikatan yang kuat melalui kelahiran, kasih sayang dan tanggung jawab.
Selain itu, dalam bahasa Arab juga mengenal kata أب (Ab) dan أم (Umm). Sapaan tersebut dipakai seorang anak untuk memanggil Ayahnya dengan kata أب (Ab) “Ayah” atau أبي (Aby) “Ayahku”, dan أم (Umm) “Ibu” atau أمي (Ummy) “Ibuku”. Namun, dari sisi kebahasaan, Walid dan Walidah lebih menonjolkan aspek kelahiran, sedangkan kata Ab dan Umm merupakan istilah umum yang penggunaannya dapat meluas sesuai konteks, misal dalam ungkapan أم القرى (Ummu Al Qura) secara harfiah bermakna “Induk/Ibu”. Makna kata Umm di sini adalah bahwa kota Makkah sebagai rujukan, pusat atau induk dari berbagai desa, kota atau negeri.
Dengan demikian perbedaan kata antara Walid dan Walidah dengan Ab dan Umm, bukan dipahami secara mutlak sebagai perbedaan antara orangtua kandung dan tidak kandung. Perbedaannya terletak pada nuansa makna dan konteks penggunaan. Walid dan Walidah lebih menonjolkan aspek kelahiran sedangkan Ab dan Umm memiliki cakupan penggunaan yang lebih luas.
Ayah, paman, kakek, guru, pengasuh, atau siapapun yang hadir untuk melindungi, membimbing, mendidik dan menguatkan seorang anak dapat menghadirkan nilai-nilai keayahan mereka dapat disebut Ab. Demikian pula seorang yang merawat, menjaga mendidik dan mencurahkan kasih sayang dapat menghadirkan nilai-nilai keibuan, mereka disebut Umm. Demikian juga dengan seorang pendidik, tidak memiliki pertalian keturunan dengan anak didiknya, namun ia dapat menanamkan ilmu, membimbing ketika salah, menguatkan ketika lemah, dan membuka jalan ketika anak belum tahu kemana harus melangkah, di situlah kita memahami bahwa menjadi orangtua bukan tidak berhenti pada status. Ada peran, tanggung jawab, keteladan dan kasih sayang yang menyertai.
Bagi para orangtua yang hari ini menjalani peran Walid dan Walidah, semoga putra-putrinya menjadi sumber kebahagiaan, penyejuk hati, shaleh/ah dan senantiasa mendoakan kedua orangtuanya. Namun ketika belum menjalani peran sebagai Walid dan Walidah, kesempatan menghadirkan nilai nilai keayahan dan keibuan masih terbuka, ada peran Ab dan Umm yang bisa dilakonkan. Menjadi orantua adalah sebuah status yang tidak semua orang bisa memilikinya. Namun, menghadirkan nilai-nilai pengasuhan, pendidikan, kepedulian dan keteladanan adalah kebaikan yang bisa dilakukan oleh siapa saja.
Sebagaimana hadits Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam:
“Apabila meninggal anak Adam terputus darinya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak shaleh yang mendo’akannya. (HR.Muslim)
Hadits tersebut mengingatkan bahwa kebermanfaatan seseorang dapat terus hidup melalui apa yang ia tinggalkan: harta yang disedekahkan, ilmu yang diajarkan dan generasi yang tumbuh dalam kebaikan.
Di situlah salah satu keindahan bahasa Arab, dari sebuah kata, kita tidak hanya belajar tentang bahasa, tetapi juga mengajak untuk memahami kehidupan, bahwa mengahadirkan sosok “Ayah” dan “Ibu” tidak selalu berhenti pada hubungan kelahiran namun juga dapat hadir melalui pendidikan, perhatian, perlindungan, ketulusan dan kasih sayang. ***
- Penulis: Nur Ainun Ritonga
- Editor: Dahlan Batubara




