Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode

KETIKA KISAH CINTA BERTUTUR DI LEMBAR DEDAUNAN MANDAILING

  • account_circle Moechtar Nasution
  • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution

 

…

Ketika mendengar nama Mandailing, benak kita kerap kali langsung menangkap gemuruh yang megah. Kita membayangkan deretan sembilan gendang ukuran raksasa Gordang Sambilan yang bertalu-talu membelah langit, atau keteguhan struktur Dalihan Na Tolu yang kokoh menjaga tatanan sosial atau tiang-tiang kokoh Bagas Godang. Narasi besar ini selalu menampilkan Mandailing sebagai manusia yang gagah, tegak dan terstruktur. Namun cobalah selami kedalam kehidupan sehari-hari yang paling intim dan bersahaja puluhan tahun atau ratusan tahun dimasa lampau, dan melangkahlah sedikit lebih pelan, menepi dari riuh upacara adat, melihat ke pekarangan rumah atau rumah berdindingkan “gogat” yang sunyi niscaya kita akan menemukan sebuah sudut tersembunyi yang hampir tidak pernah dibicarakan orang yakni sebuah ruang komunal yang penuh melankolis, kelembutan jiwa, dan keromantisan yang sunyi melalui bahasa daun.

Leluhur Mandailing adalah para filsuf kehidupan yang paham betul bahwa perasaan manusia—terutama cinta yang membuncah—terlalu suci dan terlalu dalam untuk sekadar diobral dengan kata-kata lisan yang bising. Di masa lalu ketika aturan adat dan norma kesantunan begitu ketat membatasi interaksi langsung antara pemuda (naposo bulung) dan gadis (nauli bulung) tidak lantas membuat cinta mereka langsung mati terpakar.

Cinta itu bagi orang Mandailing justru memilih jalan yang sangat puitis. Cinta itu bertransformasi menjadi Hata Bulung-bulung atau yang dalam catatan kolonial disebut Bladerentaal (Bahasa Daun-daunan). Ini adalah surat cinta paling rahasia di dunia, sebuah sandi asmara visual yang tidak menggunakan goresan tinta, melainkan alfabet yang dipetik langsung dari rahim alam.

Keunikan tradisi ini bahkan mencuri perhatian seorang ahli bahasa asal Belanda, Prof. Ch.A. van Ophuijsen. Saat ia menjabat sebagai pimpinan Kweekschool (sekolah guru) di Padangsidimpuan, pandangan akademisnya terpikat oleh ketajaman rasa masyarakat Mandailing. Ia mencatat sebuah kesimpulan yang menakjubkan bahwa orang Mandailing adalah satu-satunya suku bangsa yang memiliki bahasa daun. Catatan sejarah itu seolah mengamini sebuah kebenaran universal bahwa di balik pembawaan masyarakatnya yang tampak tegas, tersimpan sebuah kecerdasan emosional yang teramat peka dan tidak ditemukan di belahan bumi mana pun.

Rahasia terbesar dari kecerdasan ini terletak pada bagaimana alfabet hijau tersebut dipilih. Pilihan daun sebagai kosakata Bladerentaal terutama didasarkan pada persamaan atau kemiripan lafal (rima) antara nama daun tersebut dengan kata-kata dalam bahasa Mandailing sehari-hari. Namun, yang membuat tradisi ini terasa teramat intim dan magis adalah kenyataan bahwa sebagian besar dari dedaunan ini bukanlah tumbuhan liar.

Mereka adalah tanaman obat tradisional yang biasa diramu sebagai pulungan ni ubat (ramuan obat-obatan kampung). Ada lapisan filosofi yang sangat menyentuh di sini bahwa leluhur Mandailing secara sadar memilih tanaman penyembuh luka fisik untuk menyampaikan getaran hati. Seolah-olah sejak awal mereka sudah tahu bahwa cinta dan kerinduan adalah sejenis rasa sakit yang membutuhkan obatnya sendiri, dan alam telah menyediakan penawarnya pada helai-helai daun yang ada disekitar.

Membaca kiriman daun ini adalah seni meraba rasa dengan kedalaman jiwa. Ketika seorang pemuda merindukan kekasihnya namun terhalang oleh dinding adat, ia akan menyelinap ke jalan setapak untuk menyelipkan seikat pulungan rahasia. Jika ia mengirimkan bulung sitarak, dedaunan itu akan berbisik lirih tentang kata marsarak (berpisah atau berjauhan). Dan jika rindu itu mulai menyiksa batinnya hingga tak tertahankan, ia akan menyandingkannya dengan bulung sitanggis—sebuah lambang puitis dari kata tangis (menangis karena rindu).

Namun bagian paling indah dan intim dari komunikasi sunyi ini terjadi ketika sang gadis memutuskan untuk memberikan jawaban. Bayangkan sebuah percakapan rahasia yang bergetar tanpa satu pun suara di antara bilah pagar. Ketika sang gadis ingin membisikkan isi hatinya untuk menyatakan kesediaan, kemauan, atau menerima seluruh ketulusan cinta itu—ia tidak akan mengucapkannya lewat bibir yang gemetar. Ia cukup mengirimkan balasan berupa ikatan dua jenis daun pakis. Ia memetik bulung ni pau (daun pakis hijau) yang secara rima bunyi bermakna au (aku atau pada saya). Di sampingnya, ia menyelipkan selembar pau rara (pakis merah) yang bermakna ra (mau atau bersedia). Ketika kedua daun pakis itu bersentuhan dalam satu ikatan yang erat, mereka menjelma menjadi kalimat paling jujur sekaligus berani di tanah Mandailing yakni ra au yang berarti “saya mau”.

Meskipun terkesan bebas dalam keliaran imajinasi asmara, Hata Bulung-bulung sejatinya berpijak pada fondasi moralitas yang sangat tinggi. Di sinilah letak kedalaman filosofinya bahwa bahasa daun bukan sekadar permainan cinta belaka anak muda melainkan sebuah instrumen estetika yang tunduk pada nilai luhur dan kesantunan sosial.

Sebab cinta bagaimanapun tidak selamanya berakhir pada pelukan hangat pertemuan. Ada kalanya ia harus merawat kepedihan perpisahan yang teramat sunyi, di mana etika adat memaksa rasa harus mengalah pada kepatuhan. Di sinilah Hata Bulung-bulung menjelma menjadi ratapan batin yang paling melankolis. Bayangkan seseorang yang terpaksa menjauh dari belahan jiwanya, lalu mengirimkan seuntai ikatan dedaunan yang disusun lambat-lambat dengan air mata: bulung sitarak, bulung niadungdung, bulung ni sitata, bulung sitanggis, bulung ni podom-podom, jala bulung ni pau.

Saat jemari menerima anyaman itu, tak perlu ada jeritan duka. Rima urutan dedaunan itu mengalirkan pesan yang teramat perih ke lubuk hati: “Dung do hita marsarak, laing najolo tangis do au anso modom.” Sejak kita berpisah, aku selalu menangis baru bisa memejamkan mata dan tertidur.

Dedaunan itu bukan lagi sekadar bagian dari pulungan ni ubat untuk menyembuhkan raga, melainkan saksi atas hidup yang dingin, malam-malam yang panjang, dan bantal yang basah oleh air mata kerinduan. Filosofi ekologis Mandailing meyakini bahwa rasa sakit tidak boleh membebani dada sendirian. Ia harus dititipkan pada urat-urat daun podom-podom (daun putri malu) agar alam ikut memeluk dan menidurkan jiwa yang sedang patah.

Di zaman sekarang, ketika jarak ditiadakan oleh ketukan jempol di atas layar kaca ponsel, anak muda menyatakan cinta dengan begitu instan namun kerap kali kehilangan maknanya yang sakral. Bladerentaal zaman dahulu menghentak kesadaran modern kita tentang esensi sebuah penantian dan ketulusan. Aturan adat masa lalu tidak membuat pemuda-pemudi Mandailing frustrasi atau bertindak kasar namun ruang gerak yang terbatas justru melahirkan sebuah literasi ekologis yang teramat romantis.

Mereka merayu tanpa menyentuh, menyampaikan hasrat tanpa melanggar kehormatan diri, dan menjadikan isi hutan serta pekarangan rumah sebagai saksi bisu yang santun. Daun pakis dan pakis merah bukan lagi sekadar tumbuhan liar, melainkan perpanjangan jemari dan denyut nadi yang menyampaikan getaran hati ke seberang dinding rumah.

Menjelajahi Mandailing lewat seikat daun rindu adalah sebuah perjalanan mengetuk pintu hati yang paling personal. Pengakuan dari Van Ophuijsen dimasa lalu menyuguhkan kenyataan yang membalikkan semua stereotipe luar bahwa di balik ketegasan adat dan kegagahan fisiknya, manusia Mandailing adalah manusia yang merawat kelembutan batinnya dengan cara yang paling terhormat. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa cinta, sedalam dan sesunyi apa pun ia disembunyikan, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang dengan anggun—cukup lewat selembar daun pakis yang hijau dan sehelai pakis merah yang pasrah atau dengan daun yang lainnya.

Wallahu Aqlam Bisshawab…

 

  • Penulis: Moechtar Nasution
  • Editor: Moechtar Nasution

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maret Berdarah di Sumatera Timur

    Maret Berdarah di Sumatera Timur

    • calendar_month Kamis, 24 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tanah itu tak luas. Ukurannya hanya sekitar 2 x 3 meter. Kondisinya tampak tak terurus. Rumput tumbuh sembarang. Lokasinya berada di halaman depan Masjid Raya Tuan Ahmadsyah, Tanjung Balai, sekitar empat meter dari bangunan masjid. Tak banyak orang yang tahu bahwa tanah tersebut adalah sebuah kuburan massal. Sebanyak 73 nama terpahat di nisan tersebut. Mereka […]

  • Taruhan Draf

    Taruhan Draf

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

          INI hari ketiga setelah Presiden Jokowi mengumumkan larangan total ekspor minyak sawit.  Harga minyak goreng di pasar masih bervariasi. Ada yang turun sedikit. Ada yang naik sedikit –seperti dikutip CNN Indonesia dari pasar di Bekasi kemarin. Sambutan umum sangat menggembirakan. “Ini baru presiden,” tulis salah satu komentar di Disway memuji ketegasan larangan ekspor itu. […]

  • Jalan Putus Diterjang Sungai

    Jalan Putus Diterjang Sungai

    • calendar_month Rabu, 7 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Penduduk memantau jalan yang putus di jalur Sinonoan-Tanggabosi Kecamatan Siabu, Mandailing Natal. Jalan ini putus setelah diterjang keganasan arus Sungai Batang yang meluap pada Sabtu (3/11) lalu. Akibat putusnya jalan tersebut, hubungan ke sejumlah desa di kawasan Tanggabosi terputus total. Hingga kini pemerintah daerah masih bahu membahu dengan warga membangun jembatan sementara dari batang pohon […]

  • Pelaku Tambang Emas Ilegal Mulai Garap Kawasan Perkebunan PT PSU di Natal

    Pelaku Tambang Emas Ilegal Mulai Garap Kawasan Perkebunan PT PSU di Natal

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online- Aktifitas tambang emas ilegal di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) mulai merambah ke kawasan aset pemerintah. PT.Perkebunan Sumatera Utara ( PT.PSU ) kebun patiluban di Kecamatan Natal menjadi lahan subur bagi pelaku tambang Belasan alat berat jenis excavator milik penambang dilaporkan telah merubah perkebunan tersebut menjadi areal tambang emas ilegal. Meski Polisi […]

  • Indonesia dikepung ancaman longsor

    Indonesia dikepung ancaman longsor

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Sebanyak 274 kabupaten/kota di Indonesia berada di wilayah rawan bencana longsor tersebar dari Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua . Selain berdampak bagi keselamatan penduduk juga manjadi ancaman bagi 40,9 juta jiwa  penduduk yang bermukim di kawasan rawan tersebut dari total penduduk Indonesia yang tersebar di wilayah […]

  • Ini Dia Kasus Terminal Panyabungan Yang Menyeret Kadis Perhubungan Sebagai Tersangka Korupsi 1,7 Milyar

    Ini Dia Kasus Terminal Panyabungan Yang Menyeret Kadis Perhubungan Sebagai Tersangka Korupsi 1,7 Milyar

    • calendar_month Rabu, 3 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Polres Madina menetapkan Kepala Dinas Perhubungan Madina sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan terminal Panyabungan. Dan sejatinya Harlan ditahan pada Serlasa Malam, tetapi karena adanya surat permohonan penangguhan penahanan dari bupati Madina dan dan Plt sekda Madina dan jaminan dari istri tersangka mengakibatkan polisi tak jadi menahan Harlan. Lalu bagaiamana […]

expand_less