Rabu, 9 Sep 2026
light_mode

ARONDUK – Kearifan Lokal Dengan Banyak Nilai

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 22 Sep 2022
  • print Cetak

Oleh: Safar Harian Soleh
Anggota Forum Komunikasi Pendidik Mandailing Natal

Mandailing kekinian, dikenal sebagai wilayah yang menyebar hampir di sepanjang Sungai (Batang) Gadis, sebagai bagian dari wilayah Tapanuli Bagian Selatan Provinsi Sumatera Utara. Orang yang mendiami daerah ini dikenal dengan sebutan bangsa Mandailing, yang sangat kental dengan keislamannya. Suku ini memiliki ikatan darah, nasab, bahasa, aksara, sistem sosial, kesenian, adat dan kebiasaan khas tersendiri dari suku di sekitarnya.

Peradabannya yang cukup baik, memberi keberanian bangsa ini sejak dulu berkompetensi di jagad raya, terlihat dari persebarannya sampai ke Malasyia. Dengan tetap menjaga kekhasan kemandailingnnya, bangsa ini banyak dijumpai di Selangor, Perak dan Negeri Sembilan.

Secara antropologi, Mandailing memiliki kelengkapan untuk dapat disebut sebagai sebuah bangsa, karena memiliki bahasa, aksara, wilayah, pemerintahan dan masyarakat. Peradabannya di masa lalu secara simbolis terlihat pada Bindu Bagas Godang. Bindu adalah bagian penutup dari kedua sisi ujung atap (sering juga disebut Tutup Ari) dari Bagas Godang yang biasanya menunjukkan keberadaan peradaban yang sudah dimilikinya.

Sebagai bangsa dengan berbagai peradaban yang baik secara fisik maupun nonfisik, kearifannnya digunakan sebagai laku hidup, terutama perhatiannya terhadap lingkungan sebagai sumber kehidupan utama bagi bangsa ini. Kecintaan pada lingkungan ini karena kesadarannya atas kebutuhan hidup dan masa depan sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya, maka terlihat di masa lalu sangat kuat komitmennya terhadap ligkungan sebagai sumber hidup masa depan.

Namun sadar atau tidak, sekian banyak pula yang sudah terabaikan dan sebagian sudah hampir terabaikan. Yang sudah terabaikan ini tentu perlu kembali diidentifikasi untuk difungsikan dengan lebih kreatif dan inovatif karena diyakini akan baik manfaatnya dalam tata laku hidup.
Karya-karya nenek moyang yang secara fisik maupun non-fisik sudah diciptakan dan dimanfaatkan dalam tatalaku hidup sejak dahulu. Hasil karya mereka ini sudah dapat digolongkan sangat baik dan juga terukur.

Jelas, bahwa kebudayaan ini telah dapat dihandalkan sejak dulu.
Sebut saja aronduk yang akan menjadi bahasan dalam tulisan ini. Aronduk merupakan alat tradisional bangsa Mandailing. Kegunaan aronduk ini seperti tas pada saat sekarang. Akan tampak disandang ibu-ibu yang pergi, yang selalu membawanya sebagai tempat barang-barangnya. Bentuknya seperti tas yang dijinjing. Terbuat dari daun pandan yang dianyam.
Ukurannya sebesar kantongan plastik yang sekarang digunakan ibu-ibu untuk belanja di pasar. Dan dibuat pakai pengikat sebagai sandangannya ke bahu.

Sandangannya juga terbuat dari daun pandan yang dibelah kecil-kecil yang kemudian dianyam. Saat ini aronduk yang terbuat dari daun pandan sudah jarang terlihat, karena digantikan dengan jenis kain yang dijahit. Walaupun berbeda bahan, namun bentuk dan manfaatnya masih sesuai eksistensi dari fungsi aronduk tersebut.

Perkembangan aronduk sebagai tempat bawaan, awalnya adalah dari andilo, dengan fungsi dan ukuran yang hampir sama, terbuat dari kulit kayu. Kemudian berubah menjadi adangan (kadangan). Adangan ini fungsi dan ukuran sama dengan andilo, hanya terbuat dari anyaman rotan sehingga elasitasnya berbeda dengan andilo dan adangan yang bahan bakunya lebih lembut. Ada juga jangkat berupa keranjang rotan dengan ukuran sepanjang bahu manusia, yang penggunaanya seperti tas rangsel yang kegunaannya untuk beban berat.
Kemudian muncul aronduk, dengan fungsi yang sama, hanya saja lebih banyak digunakan oleh kaum wanita. Bakhan, aronduk banyak pula digunakan hanya untuk keperluan ke ladang dan sawah, tapi lebih dari itu. aronduk banyak terlihat digunakan untuk ke pasar, ke pesta atau tempat lain di luar penggunaan usaha pada masa lalu.

Cara membuat aronduk adalah dengan mengambil daun pandan yang sudah menghijau gelap sebagai pertanda sudah cukup baik untuk digunakan. Dipotong dari pangkal daunnya sesuai kebutuhan agar diperoleh helai daun yang cukup panjang. Berikutnya dijemur selama dua tiga hari. Lalu dibelah-belah dengan ukuran yang sama sesuai ukuran kebutuhan lebar.
Biasanya ukurannya sekitar 0,5 sampai 0,75 cm. Kemudian dedaunan tersebut dihaluskan dengan menggunakan bambu bersembilu, dengan menggosoknya sampai permukaannya menjadi rata dan halus. Bahan baku siap pakai inilah kemudian yang dianyam membentuk tas yang ada sandangannya.

Secara fungsional aronduk memiliki nilai-nilai yang menarik dan bermanfaat di masa kini seperti:
ramah lingkungan, sehingga merupakan bagian yang dapat mengurangi kebiasaan masyarakat dari penggunaan plastik sebagai tas seharai-hari (tas kresek, tas assoy, tas plastik) yang saat ini telah menjadi trend buruk lingkungan yang kurang disadari masyarakat. Hal ini terutama di negara-negara berkembang seperti nusantara ini. Hampir seluruh kehidupan kita cenderung menggunakan tas plastik untuk keperluan harian terutama saat belanja. Sedang di negara maju sudah membatasi segala sesuatu yang berbau plastik dengan standar ecolabling.

Tidak heran di lingkungan kita kontribusi plastik terhadap pencemaran lingkungan sangat akut dan berdampak sangat lama. Di sinilah penggunaan aronduk bagi orang Mandailing yang layak disebut sebagai bangsa, karena peradabannya, harus menjadi trend lingkungan hidup kembali. Ibu-ibu yang pergi belanja ke pasar tidak lagi pulang membawa sampah plastik setiap hari. Jika dihitung selama sebulan saja sudah berapa banyak plastik di rumah masing-masing. Tentu ini menjadi masalah yang akan terus menggunung dan tidak ada penyelesaian.

Aronduk merupakan satu alternatif yang menarik dan unik. Implementasinya dimulai dari pembatasan penggunaan plastik pada saat berbelanja. Sebagai gantinya setiap orang yang hendak berbelanja menggunaka aronduk masing masing.

Nilai ekonomi: Aronduk merupakan produk bangsa Mandailing yang keterampilan tersebut masih dimiliki oleh masyarakat di pedesaan. Artinya tidak membutuhkan pelatihan, aronduk  bisa diproduksi dengan baik. Pihak pemerintah tinggal meluncurkan kebijakan agar setiap orang, baik sebagai pembeli maupun penjual harus mentaati maksimalisasi penggunaan aronduk sebagau the good trend di Mandailing Natal.

Untuk menguatkan kebijakan tersebut maka pemerintah dapat menerbitkan peraturan yang disepakati dan disosialisasikan kepada masyarakat.

Selain sebagai upaya untuk mengurangi sampah plastik, aronduk ini juga akan menjadi peluang bisnis di bidang pertanian untuk budidaya daun pandan yang tumbuh subur dengan mudah di Mandailing. Demikian pula UMKM. Tentu ini akan menjadi solusi untuk mengurangi angka pengangguran. Juga akan melahirkan banyak kegiatan usaha mikro, kecil, menengah yang membantu menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Produk seni budaya;  produk aronduk selain mengangkat peluang ekonomi masyarakat, secara tidak langsung telah melestarikan produk budaya yang bila dikemas dengan baik produknya akan menjadai karya seni pula, dalam berbagai jenis dan ukuran serta berbagai keperluan dan manfaat. Tentu ini akan menjadi nilai yang berbeda dan akan menjadi sebuah souvenir yang layak dijual dengan nilai yang tinggi. Selanjutnya penting mengemasnya menjadi produk yang bernilai tinggi.

Perlu pula komitmen daerah untuk mengunggulkannya. Untuk memasarkan suatu produk saat ini sangat mudah dan murah karena sudah didukung dengan teknologi komunikasi dan publikasi elektonik, dengan membuat sendiri atau dengan menggunakan beberapa marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada dan beberapa marketplace lainnya.

Nama baik daerah; dengan komitmen dan inovasi yang tinggi dari pemerintah untuk menajemen dan pengembangan aronduk tentu akan  menonjolkan Mandailing sebagai daerah yang inovatif dengan menggunakan produk dan kearifan lokalnya yang kembali ke alam dalam tata laku hidup yang baik bagi daerah ini di masa modern ini.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wakil Bupati Batubara Gongmatua Siregar Diberhentikan DPRD

    Wakil Bupati Batubara Gongmatua Siregar Diberhentikan DPRD

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATUBARA : Perseteruan DPRD dengan Wakil Bupati Batubara Gongmatua Siregar berujung dengan terbitnya rekomendasi pemberhentian Gongmatua dari jabatannya. Keputusan ini merupakan hasil rapat paripurna anggota Dewan setempat yang digelar, Jumat 11 Februari 2011. Anggota DPRD Batubara yang berjumlah 35 anggota secara bulat menyetujui terbitnya rekomendasi pemberhentian wakil bupati tersebut. “Rekomendasi itu akan segera kami sampaikan […]

  • Kebakaran di Padang, 18 Bangunan Hangus

    Kebakaran di Padang, 18 Bangunan Hangus

    • calendar_month Minggu, 17 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Padang. Kebakaran hebat melanda kebakaran_di_padang_18_bangunan_hangus Sumatera Barat, Sabtu (16/7) malam. Sedikitnya 18 bangunan hangus dilalap api. Jilatan api juga mengakibatkan seorang warga menderita luka bakar. Berdasarkan keterangan saksi mata, Rudi (40), kobaran api berasal dari toko foto copy. Api dengan cepat menjalar ke bangunan lain karena pada saat yang sama angin bertiup cukup kencang. Kasi […]

  • Sobir Lubis Terpilih Menjadi Ketua Kadin Madina

    Sobir Lubis Terpilih Menjadi Ketua Kadin Madina

    • calendar_month Senin, 16 Okt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sobir Lubis terpilih secara aklamasi menjadi ketua Kadin Mandailing Natal. Pemilihan itu dilakukan dalam Musyawarah Kabupaten Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Mandailing Natal, Senin (16/10) di aula Hotel Rindang Panyabungan. Muskab itu berjalan dengan suskes. Pembukaan Muskab Kadin Madina itu dihadiri Direktur Eksekutif Kadin Sumut, Hendra Utomo dan Wakil Ketua […]

  • Aksara Mandailing Butuh Pelestarian

    Aksara Mandailing Butuh Pelestarian

    • calendar_month Selasa, 25 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Aksara tulak-tulak sebagai jati diri orang Mandailing harus dilestarikan semua pihak. Sebab aksara tulak-tulak merupakan produk kebudayaan etnis Mandailing. “Dari 7 jenis aksara yang ada di Indonesia, salah satunya adalah aksara Mandailing yakni aksara tiulak-tulak. Sementara bahasa Mandailing merupakan salah satu bahasa dari 746 bahasa di Indonesia,” ujar budayawan Mandailing, Muhammad […]

  • Generasi Bangsa Aset Yang tiada terharga Nilainya

    Generasi Bangsa Aset Yang tiada terharga Nilainya

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Siswa Sekolah Dasar SD Negeri No.126 Gunung Baringin Antusias mengerjakan tugas yang diberikan guru. Mereka yakin bahwa hari esok pasti gemilnag. (MOL)

  • Tiada Ayah Ibu, 11 Bocah Terancam Kelaparan

    Tiada Ayah Ibu, 11 Bocah Terancam Kelaparan

    • calendar_month Kamis, 13 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) – Satu keluarga di Desa Hutaimbaru, Panyabungan Timur, Mandailing Natal terancam kelaparan jika tak dibantu segera. Mereka adalah 11 bocah yang masih kecil-kecil ditinggal ibu yang wafat dua bulan lalu, sedangkan ayah mereka sudah 4 bulan di dalam penjara. Otomatis, 11 bocah itu saat ini hanya diasuh oleh Ummi Roiyah (18) […]

expand_less