Selasa, 16 Jun 2026
light_mode

Dalihan Na Tolu dalam Perspektif Moderasi Beragama

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
  • print Cetak

Oleh: M.Daud Batubara

 

Kota Medan di Sumatera Utara merupakan Tanah Leluhur Puak Melayu Deli, meskipun secara umum dalam benak orang luar bahwa wilayat ini adalah milik suku Batak. Entah dominasi apa yang membuat persepsi yang salah tersebut masih terus menjalar, dan saudara-saudara dari etnis Melayu tetap saja adem dan tidak mempermasalahkan persepsi yang kurang elok  tersebut.

Kesalahan persepsi tentang kepemilikan wilayat ini, mungkin akibat dominasi perantau etnis Tapanuli yang lebih mendominasi di kancah-kancah besar di Kota Medan, sehingga dalam keseharian lebih banyak muncul ditatanan kehidupan masyarakat Kota Medan seakan etnis Tapanulilah pemilik Kota Medan, padahal jelas dilihat dari keulayatan merupakan milik puak Melayu Deli.

Demikian pula para perantau Sumatera Utara yang dari etnis manapun lebih sering menyebut asal darahnya dengan sebutan ‘Asal Kota Medan’, meskipun sesungguhnya asal daerah dari berbagai kota kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.

Namun, dari narasi di atas, yang perlu dicermati dengan baik adalah, sejauh ini persepsi yang kurang tepat tersebut, merupakan gambaran bahwa Kota Medan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumaera Utara benar sebagai wilayah yang nyaman dari sisi moderasi.

Demikian pula kota kabupaten lain di Sumut hampir boleh disebut jarang muncul kondisi tidak terkendali dari sisi moderasi beragama. Bahkan sering terlihat dalam kehidupan hariannya layak dicap sebagai miniatur moderasi beragama yang baik bagi bangsa Ini.

Dicermati dari keragaman budaya dan agama penduduknya, sedemikian plural. Bahkan selain agama Kristen, Hindu, Budha dan Islam, pada etnik Batak masih mengenal agama leluhur yang sampai saat ini tumbuh dan terpelihara dengan baik yang disebut agama (ugamo) Malim atau Parmalim. Demikian pula suku-suku yang mendiaminya hampir mewakili etnis nusantara. Namun, sampai saat ini, boleh disebut keharmonisan dalam kemajemukan tersebut masih dapat terhandalkan.

Wilayah Toba, Samosir, Dairi dan Karo dominan penganut agama Kristiani dan agama lainnya sangat sedikit, dan sebaliknya di Wilayah Tapanuli Bagian Selatan agama Islam mendominasi dari agama lainnya. Tapi rasanya boleh disebut bahwa di wilayah ini penganut agama yang dominan tidak pernah melakukan hal yang tidak terpuji pada penganut agama yang jumlahnya minoritas.

Sebagai provinsi yang dominanasi penduduk dan pengaruh “Ketapanulian” cukup tinggi, diyakini berkontribusi mendorong kondusifitas moderasi beragama dengan baik. Wilayah Tapanuli yang cukup luas dengan penyebaran orangnya yang ke seluruh pelosok Sumut membawa dampak baik bagi moderasi beragama.

Kondisi senyatanya telah tercipta Moderasi sebagai Sebuah Keniscayaan yakni harapan terhadap sikap beragama yang tidak ekstrem, tidak berlebihan, dan tidak eksklusif, bukan bermaksud untuk menyamakan keyakinan, tetapi untuk menciptakan ruang bersama yang aman dan damai di tengah perbedaan. Jadi, moderasi beragama harus mampu memperkuat persatuan dan mencegah konflik sosial berbasis agama, yang mencakup empat pilar utama, yakni Komitmen Kebangsaan, Toleransi, Anti Kekerasan yang diikat dengan baik dalam Tradisi Lokal yang diterima bahkan terasimilasi dengan baik pada etnik lain.

Dengan keniscayaan tersebut ternyata, Falsafah Dasar kearifan hidup Tradisi Lokal “Ketapanulian” yang dikenal dengan “Holong Dohot Domu” (Kasih Sayang dan Kebersamaan) yang operasional kehidupannya dibagi tiga kelompok utama yang direkat dalam satu bingkai yang disebut dengan “Dalihan Na Tolu”, mampu menjadi nilai kuat bagi masyarakat dalam mendorong toleransi, keadilan dan hidup damai.

Kearifan falsafah hidup ini, dijunjung tinggi hingga sekarang oleh masyarakat Tapanuli, yang secara harfiah “Dalihan Na Tolu” berarti “Tungku Yang Tiga”. Tungku berkaki tiga ini melambangkan struktur hubungan sosial dalam masyarakat Tapanuli dengan tiga komponen yang saling mendukung antara Mora, Anak Boru, dan Kahanggi dengan prinsif operasional berikut:

Somba Marhula-hula (menghormati pihak keluarga mertua); yang dalam konsep moderasi beragama mengajarkan tentang pentingnya menghormati pihak yang lebih tua, bijaksana dan berperan sebagai pemberi. Ini sejalan dengan sikap hormat pada tokoh, cendikia dan perbedaan keyakinan, sesuai ajaran moderasi bahwa setiap agama memiliki cara dan otoritasnya masing-masing, dan perlu dihargai dan bukan untuk dipertentangkan.

Elek Marboru (menyayangi pihak keluarga menantu); Menumbuhkan rasa kasih sayang dan empati, menekankan pentingnya menyayangi dan melindungi kelompok boru, dijewantahkan dalam memperkuat semangat empati, kasih sayang, dan keadilan sosial, terutama terhadap kelompok agama minoritas atau yang berbeda pandangan. Kita diajak untuk tidak hanya toleran, tapi juga hadir secara aktif dalam membangun solidaritas antar umat.

Manat Mardongan Tubu (saling menjaga antar saudara seketurunan dan keluarga semarga); telah mengingatkan agar kita berhati-hati dan bijak dalam berinteraksi dengan sesama yang setingkat dan sekelompok, yakni kerukunan internal umat beragama, meretas konflik di dalam satu kelompok agama. Kearifan ini membiasakan untuk mendorong dialog, keterbukaan, dan penyelesaian masalah secara damai.

Ketiga tumpuan tungku ini membentuk sistem sosial yang masing-masing memiliki kewajiban sebagai anggota dalam masyarakat adat untuk saling dukung dan melengkapi. Nilai-nilai hidup bermasyarakat inilah yang terus mengkristal sebagai kearifan dalam adat yang secara terus menerus dipelihara dan dirawat, karena dirasakan bermakna baik bagi masyarakat. Keterawatan kearifan tersebut tetap relevan dan mampu menopang konteks kehidupan beragama di wilayah Sumut, terutama dalam memperkuat sikap moderasi beragama.

Falsafah adat Ketapanulian yang kemudian banyak terasimilasi dalam tata kehidupan mayarakat Sumatera Utara menjadikan kearifan Dalihan Na Tolu sebagai ikon hidup. Meskipun dengan tidak menggunakan sebutan nama kearifan tersebut, namun sering praktiknya ditiru oleh etnik lain. Proses asimilasi ini terjadi sebagai dampak dari proses kearifan tersebut dalam tata laku hidup Etnik Tapanuli yang dinilai mampu menjadi teladan yang sangat bermanfaat untuk saling merajut kasih sayang dan kebersamaan dalam keluarga maupun dalam tataran kehidupan bermasyarakat.

Kearifan Dalihan Na Tolu dalam mencegah ekstremisme; yang menjadi bagian tantangan terbesar dalam kehidupan beragama di Era Millenial ini dengan munculnya paham-paham ekstrem dengan target memecah belah, sering kali menolak keberagaman dan memaksakan kebenaran tunggal. Maka Dalihan Na Tolu, dengan prinsip keseimbangannya, mampu menjadi alat penangkal ekstremisme melalui ajaran-ajaran yang menekankan hubungan yang adil dan saling menghormati.

Etnik Tapanuli yang pada hakikatnya sedemikian religius di agama masing-masing, bahkan sering dikategorikan sebagai masyarakat yang fanatis terhadap agama. Dan wilayah etnik Tapanuli hampir mencapai setengah dari wilayah Sumatera Utara.

Dengan Dalihan Na Tolu, di kenyataanya mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama dan adat secara harmonis. Konsep ini terlihat dalam falsafah ‘Ombar do Adat Dohot Ibadat” (Berdampingannya Adat dan Ibadah). Maknanya tentu pada praktik sehari-hari, mereka mampu menjaga keyakinan tanpa mengabaikan nilai budaya yang menjunjung tinggi martabat dan keharmonisan. Hal ini menjadi bukti konkret bagaimana kearifan tersebut mampu mendukung moderasi beragama.

Implementasi dalam Kehidupan Sehari-Hari; bukan hanya wujud kehidupan yang harmonis, bahkan mampu untuk menyelesaikan konflik secara kekeluargaan, dengan prinsip musyawarah dalam forum adat.

Bila sering terdengar di era modern ini, pengabaian terhadap kearifan lokal, maka penting bagi masyarakat untuk tidak meninggalkan kearifan lokalnya (seperti Dalihan Na Tolu). Justru, nilai-nilai tersebut mampu menjadi dasar yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk dalam membina kehidupan beragama yang damai dan inklusif. Dalam konteks kekinian, nilai-nilai tersebut masih relevan dengan prinsip moderasi beragama yang mengedepankan toleransi, keadilan, dan kedamaian pada kehidupan masyarakat yang plural, penguatan nilai-nilai lokal seperti Dalihan Na Tolu harus mampu kita jadikan sebagai strategi penting untuk membangun bangsa yang rukun dan beradab dalam kerangka menguatkan keberlanjutan Indonesia.

(M.Daud Batubara, Peserta PKDP UINSU 2025)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akibat Banjir, Pelajar di Hutabargot Terlambat Masuk Sekolah 

    Akibat Banjir, Pelajar di Hutabargot Terlambat Masuk Sekolah 

    • calendar_month Jumat, 14 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    HUTABARGOT (Mandailing Online)- Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan meluapnya Sungai Aek Mata mengakibatkan ruas jalan penghubung antara Kecamatan Hutabagot dengan Kecamatan Panyabungan tergenang air. Jumat (14/7/2023). Diketahui, ruas jalan Manyabar Gunung Manaon ini merupakan akses utama bagi warga Kecamatan Hutabargot menuju Kota Panyabungan, banjir ini juga mengakibatkan sejumlah pelajar yang hendak […]

  • BAHASA MANDAILING (2-selesai)

    BAHASA MANDAILING (2-selesai)

    • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Z Pengaduan Lubis (almarhum) Bahasa Daun-daunan Di samping kelima macam ragam bahasa yang telah dikemukakan di atas, pada masa lalu masyarakat Mandailing juga memiliki satu ragam bahasa yang lain yang dinamakan hata bulung-bullung (ertinya daun-daunan). Ch. A. van Ophuysen menamakannya bladerentaal. Berbeda dari bahasa yang biasa, yang digunakan sebagai kata-kata dalam hata bulung-bulung […]

  • Polisi Payah, Kasus Gayus Sebaiknya Ditangani KPK

    Polisi Payah, Kasus Gayus Sebaiknya Ditangani KPK

    • calendar_month Jumat, 3 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pengakuan Mabes Polri atas kelalaian memberikan keistimewaan buat terdakwa kasus pengemplangan pajak, Gayus Tambunan, tidak cukup hanya direspons dengan mengganti Kepala dan petugas Rutan. Gayus adalah aktor kunci yang mampu membuka jejaring mafia pajak, karena itu dugaan banyak pihak yang mengaitkan kepergian Gayus dalam rangka melakukan negosiasi dengan pihak tertentu harus diinvestigasi. “Meskipun kredibilitas pimpinan […]

  • Penanganan Sektor Pariwisata Madina Dipertanyakan

    Penanganan Sektor Pariwisata Madina Dipertanyakan

    • calendar_month Kamis, 12 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penanganan sektor pariwisata di Mandailing Natal (Madina) dinilai masih rendah sehingga masih stagnan. Demikian  diungkap Pengamat Pembangunan Madina, Ali Musa Manto Lubis kepada Mandailing Online di Panyabungan, Kamis (12/7/2018). Banyak titik wisata yang sangat potensial di Madina yang memiliki nilai jual tinggi untuk wisatawan lokal maupun turis luar negeri, namun penggarapan […]

  • Banjir Madina, 620 Ha Sawah Gagal Panen, 4500 Hewan Ternak Mati

    Banjir Madina, 620 Ha Sawah Gagal Panen, 4500 Hewan Ternak Mati

    • calendar_month Selasa, 21 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 620 hektare persawahan mengalami gagal panen akibat diterjang banjir sejak Jum’at 17 Desember 2021. Perkiraan kerugian yang diderita petani sekira Rp 9.920.000.000. Demikian data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mandailing Natal (Madina). Dalam keterangan pers, Kepala BPBD Madina, Subuki Nasution di Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten di Panyabungan, Selasa (21/12/2021). […]

  • Perbaikan Drainase Pasar Lama Panyabungan Oleh PT Jakon Makan Korban

    Perbaikan Drainase Pasar Lama Panyabungan Oleh PT Jakon Makan Korban

    • calendar_month Selasa, 26 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- Jatuh ke saluran drainase jalan lintas sumatera di pasar lama Panyabungan yang sedang diperbaiki PT Jaya Kontruksi ( Jakon ) seorang gadis ABG dilarikan ke Rumah Sakit Umum Panyabungan Selasa malam 26/9/2023. Aini Safitri ( 12th ) diketahui terjatuh ke lobang drainase saat melintasi trotoar, ia tidak sadar bahwa ada lobang […]

expand_less