Minggu, 18 Okt 2026
light_mode

Dua Pendeta Jadi Korban

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 15 Des 2010
  • print Cetak


* Termakan Isu Penculikan, Warga Pancurbatu Mengamuk
* Poldasu Lacak Penebar Isu, 15 Tahun Penjara untuk Penganiaya

MEDAN-Aksi main hakim sendiri terkait isu penculikan anak kembali terjadi. Kali ini di Kecamatan Pancurbatu, Selasa (14/12) sekitar pukul 11.00 WIB. Keluarga pendeta dari Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) nyaris meninggal sia-sia dibakar warga yang tak percaya mereka pelayan di gereja.

Saat kejadian, keluarga Pdt L Karo Sekali (65) bersama istrinya dan Pdt Petrus, ketiganya Warga Jalan Selamat, Medan, pulang merayakan natal dari Seberayadi Tanah Karo. Mereka menumpang mobil Daihatsu Taff Ranger BK 1921 ED yang dikemudikan Bapa Raja.

Di tengah jalan, di Desa Lama, Kecamatan Pancurbatu, mobil berhenti. Supir yang ingin membuang air kecil masuk ke areal Jambur Gotong Royong di desa itu. Sedangkan Pdt L Karo Sekali tertidur dan tidak menyadari, penumpang yang baru sebulan bekerja padanya itu menghentikan mobil.

Tingkah Bapa Raja mencari kamar kecil membuat warga di sekitar curiga. Tepancing dengan isu penculikan yang menyebar lewat SMS berantai, spontan sejumlah warga mendatangi mobil tersebut.

Pdt Petrus dan Pdt L Karo Sekali beserta istri terbangun dan terkejut. Mereka ketakutan saat warga menyerbu dan sempat memukuli mobil tersebut dengan ancaman akan dibakar. Karena takut, Bapa Raja lari menyelamatkan diri, sementara para istri pendeta berteriak minta tolong.

Aksi warga dilerai personel Polsek Pancur Batu yang kemudian menyelamatkan mereka ke Mapolsek. “Aku terkejut dan ketakutan melihat warga yang emosi. Aku dengar mereka hendak membakar kami. Saya hanya minta tolong dan mengatakan kami pendeta,” ujar istri Pdt Karo Sekali yang menagis saat di Polsek Pancur Batu.

Pdt Petrus mengaku hampir dibacok warga. “Saya dikira sopirnya Mas, saya juga sempat dengar akan dibacok. Tapi warga itu tak ada yang membawa senjata tajam,” ungkap Petrus saat memberi penjelasan pada Polisi di SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) Polsek Pancur Batu.

Warga yang sudah dibakar emosi curiga karena supirnya lari meninggalkan lokasi saat warga mendatangi mobil yang di parkir. “Supir lari menyelamatkan diri karena takut diamuk warga,” ucap Pdt Karo Sekali yang pernah melayani di Bukit Doa, Tuntungan.

Meski sudah ditangani polisi, puluhan warga yang terdiri dari para ibu mendatangi Mapolsek untuk mencari kebenaran atas isu penculikan tersebut. Mereka juga meminta dipertemukan dengan para pendeta tersebut.
Polsek Pancurbatu yang memberi penjelasan sempat bersitegang dengan warga. “Itu kan kata bapak, bagaimana kalau isu itu benar-benar terjadi kepada keluarga atau anak-anak kami,” cetus sejumlah warga.

Kanit Reskrim Polsek Pancurbatu, AKP Paidir Chaniago lantas memberikan penyuluhan dan pengertian kepada warga. “Kita sudah mengambil keterangan, mereka pendeta yang sedang berhenti untuk membuang air kecil. Warga jangan ketakutan akibat isu penculikan, bila ada yang menjadi korban segera laporkan akan segera kita tangani,” bebernya. Setelah merasa tenang, puluhan warga dengan tertib meninggalkan Mapolsek.

Sementaar di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), polisi telah mengamankan empat orang yang menganiaya pria yang dicurigai penculik anak tetapi tidak terbukti, kemarin (14/12). Keempatnya diamankan oleh petugas dari Polsek Kotarih, dan dari Polsek Firdaus.

Peristiwa itu terjadi di Desa Nagur, Kecamatan Tanjung Beringin, Sergai. Seorang pria dimassa warga karena gerak geriknya yang mencurigakan dan tidak memiliki identitas. Karena tidak memberikan jawaban yang jelas, warga mengamuk dan menganiaya hingga babak belur. Selanjutnya Polsek Tanjung Beringin mengamankannya dan membawanya ke RSU Melati Kampung Pon.

Ternyata setelah diselidiki, diduga pria itu kurang waras. “Ketika ditanya tidak memberikan jawaban yang jelas,” kata anggota polisi yang ikut membawanya ke RSU Melati untuk mendapatkan perawtan medis akbita luka lukanya. “Isu penculikan adalah isu yang tidak benar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, sampai saat ini jajaran Polres Sergai belum menerima laporan ataupun pengaduan masyarakat yang kehilangan anak,” terang Kapolres Sergai AKBP Drs Eri Safari.

Selanjutnya Polsek Tanjung Beringin mengamankannya dan membawanya ke RSU Melati Kampung Pon. Ternyata setelah diselidiki, diduga pria itu kurang waras. “Ketika ditanya tidak memberikan jawaban yang jelas,” kata anggota polisi yang ikut membawanya ke RSU Melati untuk mendapatkan perawtan medis akbita luka lukanya.

Poldasu Lacak Penebar Isu

Kepolisian Daerah Sumatera Utara (PoldaSumut) menurunkan personelnya untuk melacak siapa penbar isu terkait maraknya isu penculikan anak yang akan dijual organ tubuhnya di Sumut. Namun, sampai saat ini, seluruh jajaran Poldasu belum ada menerima laporan adanya penculikan.

“Kita sudah menurunkan personel untuk melacak penebar isu. Sementara kita lidik dahulu sumber informasinya, “ ujar Kassubid Dok Liput Humas Poldasu, AKBP MP Nainggolan saat dikonfirmasi melalui telepon, Selasa (14/12).
Meski mengaku serius melacak, jajaran Polda belum berkoordinasi dengan pihak operator seluler. Alasannya, Poldasu masih melakukan lidik terhadap sumber informasi. “Teknisnya memang ke operator. Tapi kita lidik dahulu sumber informasi. Karena isu tersebut datangnya dari mulut ke mulut,” ucap Nainggolan.

Sementara itu, terhadap warga yang melakukan aksi main hakim sendiri, Polda Sumut dan seluruh jajaran memastikan akan memproses siapa pun yang terlibat. “Palaku penganiayaan kita proses berdasarkan pengaduan. Bila tertangkap tangan, tersangka akan kita jerat lebih dari satu pasal, yaitu pasal 351 junto 170 KUHPidana karena melakukan penganiaayaan secara bersama-sama,” bebernya.

Pasal 170 ayat 2 (3) KUHP berbunyi, “Yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika kekerasan mengakibatkan maut.”

Sementara itu, upaya pencegahan yang dilakukan Poldasu dengan melaksanakan patroli rutin dan memberdayakan peran Polisi Desa (Police in Village). Satuan ini akan berupaya mencegah dan menghindari aksi main hakim sendiri oleh warga.

“Pak Kapolda telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran untuk melakukan deteksi dini terhadap isu penculikan ini. Sebab, isu penculikan ini sudah sangat meresahkan dan menimbulkan korban jiwa,” ujar AKBP MP Nainggolan.
Bila ternyata isu itu benar, polisi berjanji akan menangkap pelaku. “Petugas Reskrim melakukan lidik dan manakala ada pelaku yang tertangkap agar hindarkan perilaku yang arogansi dan kekerasan terhadap pelaku,” bebernya. (mag-1/mag-15/ndi/dan/btr)
Sumber : Sumut pos

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kompak & Kopi Pahit Demo Kejatisu

    Kompak & Kopi Pahit Demo Kejatisu

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Usut Dugaan Mark Up di Sekretariat DPRD Psp MEDAN; Puluhan massa yang tergabung dalam Yayasan Kompak dan Komunitas Pinggiran Payung Hitam (Kopi Pahit) berunjuk rasa di depan gedung Kejaksaan Tinggi Sumut, Kamis (10/2). Mereka meminta Kajatisu Sution Usman Adji SH segera mengusut dugaan korupsi di Sekreteriat DPRD Kota Padangsidimpuan tahun anggaran 2010. “Tindakan korupsi tersebut […]

  • Pengacara : Bupati Madina Yang Paling Bertanggungjawab

    Pengacara : Bupati Madina Yang Paling Bertanggungjawab

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Baginda Umar Lubis, pengacara terdakwa Kadis Perkim Rahmadsyah, menyebutkan bahwa kliennya mengerjakan proyek yang merugikan keuangan negara hingga Rp 1,63 miliar ini berdasarkan perintah Bupati Madina Dahlan. Itu ditegaskan pengacara Baginda Umar Lubis dalam nota eksepsi persidangan kasus pembangunan Taman Raja Batu (TRB) dan Tapian Siri-siri Syariah (TSS) di Mandailing […]

  • Pimpinan Daerah se-Tabagsel Bahas Potensi Penerbangan Dua Bandara

    Pimpinan Daerah se-Tabagsel Bahas Potensi Penerbangan Dua Bandara

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PADANGDISIMPUAN (Mandailing Online) – Kepala daerah se-Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) bertemu di Kota Padangsidimpuan, Jumat (22/5/ 2026) membahas pengembangan konektivitas dan peningkatan layanan transportasi udara di kawasan itu. Diskusi yang juga melibatkan para ketua DPRD itu merupakan inisiasi Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution. Tempat pertemuan ditetapkan di Padangsidimpuan yang dipandang sebagai titik […]

  • Mantan Kepala Kemenag Madina Ditahan Kejatisu

    Mantan Kepala Kemenag Madina Ditahan Kejatisu

    • calendar_month Rabu, 24 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara menahan mantan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumut, Iwan Zulhami (IZ) dan Zainal Arifin (ZA), mantan Plt Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Mandailing Natal. Penahanan keduanya dilakukan Selasa (23/2/2021) petang, dalam kasus dugaan suap jabatan di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sumatera Utara (Sumut). Kasi Penkum Kejati Sumut, Sumanggar […]

  • Rumah Kajati Sumut dibobol maling

    Rumah Kajati Sumut dibobol maling

    • calendar_month Selasa, 23 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Rumah Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kajati SUmut), AK Basuni dibobol maling. Kejadian yang terjadi pada Minggu (21/8) pagi tersebut mengakibatkan hilangnya jam tanngan dan sejumlah uang tunai yang jumlahnya belum diketahui. Informasi yang beredar menyebutkan, kejadian itu pertama kali diketahui staf Kejati Sumut yang berjaga di kediaman Basuni. Ketika itu, ia baru […]

  • Tunjangan Guru Diduga Dikorup

    Tunjangan Guru Diduga Dikorup

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tapsel, Walau akhir Tahun Anggaran 2010 hanya tinggal beberapa hari lagi, namun tunjangan profesi dan tambahan penghasilan guru PNSD di Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2010 belum direalisasikan pencairannya kepada yang berhak oleh pemerintah daerah setempat. Akibatnya tidak sedikit kalangan guru merasa resah dan diperkirakan telah mencapai titik puncak kesabaran karena dana yang bersumber dari pemerintah […]

expand_less