Kamis, 5 Mar 2026
light_mode

DOKUMEN KOPASSUS Wikileaks dari Papua

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
  • print Cetak

DUA pekan lalu, dua dokumen itu diunggah ke dunia maya. Yang pertama 25 halaman, dengan tulisan “Laporan Triwulan I Pos Kotaraja” dicetak tebal dengan huruf kapital di halaman satu. Yang kedua lebih sedikit, hanya 8 halaman. Dari judulnya, “Laporan Harian, Nomor: R/02/Laphar/IX/2007”, tampaknya ini adalah lampiran dokumen pertama.

Inilah versi Indonesia dari heboh Wikileaks, situs Internet yang dibuat jurnalis Australia, Julian Assange. Oktober lalu, Wikileaks membocorkan ribuan halaman dokumen militer Amerika di Afganistan. Di Indonesia, adalah jurnalis lepas Allan Nairn yang jadi sumber informasi. Pria Amerika yang bermukim di Indonesia ini memang sudah kenyang makan asam-garam liputan tentang militer Indonesia. Dia, misalnya, meliput langsung aksi brutal TNI saat menangani demonstrasi massa di Santa Cruz, Dili, Timor Timur, pada 1991.

Di blognya-www.allannairn.com, tempat kedua dokumen ini dirilis pertama kali-Nairn tidak menjelaskan bagaimana dia bisa memperoleh laporan panas ini. Namun sumber Tempo memastikan bahwa dokumen penting ini sengaja dibocorkan persis pada hari kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Jakarta, awal November lalu.

Isinya cukup terperinci. Dalam dokumen pertama, ada penjelasan bahwa laporan ini berasal dari sebuah satuan tugas bantuan intelijen yang beroperasi di wilayah Kotaraja, Papua. Kotaraja adalah satu wilayah di Distrik Abepura, Jayapura, yang sering digunakan sebagai lokasi unjuk rasa. Di sini ada kantor Majelis Rakyat Papua, Dewan Adat Papua, dan sekretariat sejumlah lembaga swadaya masyarakat.

Satuan ini-selalu disebut dengan kode “Satgas Ban-5 Kopassus, Pos I Kotaraja”-terdiri atas lima tentara berpangkat sersan dan dipimpin perwira berpangkat letnan: Lettu Inf. Nur Wahyudi. Dalam menjalankan tugasnya sehari-hari mereka dilengkapi sebuah kamera video dan kamera digital. Untuk transportasi, tim ini punya satu sepeda motor Honda GL-Pro dengan pelat nomor DS-4011-AJ. Sedangkan untuk makan, biaya komunikasi, dan operasional, sang ketua tim mendapat anggaran Rp 7,5 juta per bulan.

Di bagian akhir laporan, tim ini mengeluh kekurangan dana operasional. “Untuk menutupi kekurangan, kami meminta kiriman dari keluarga di Jakarta untuk mengisi pulsa telepon. Kadang kami juga meminjam pada teman.” Tak hanya itu. Mereka juga mengandalkan “pinjaman dari simpatisan”. Tak jelas berapa dana yang mereka pinjam dan dari mana sumbernya.

Meski disebut-sebut beranggaran cekak, tim intelijen ini aktif bergerak. Dalam periode laporan ini, September-Oktober 2007-tiga bulan pertama masa tugas tim ini di sana-Satgas 5 rajin menguntit aktivis demokrasi dan hak asasi manusia di Jayapura. Setiap hari mereka berkunjung ke kantor lurah dan kepala distrik untuk memastikan afiliasi politik aparat pemerintah itu. Keenam tentara ini juga gencar merekrut agen, informan, dan membuat kontak baru. Meski diakui “penyelidikan kadang sulit dilakukan, karena anatomi (warna kulit dan jenis rambut) kami berbeda.”

Isi dokumen yang paling penting adalah daftar tokoh yang dianggap mendukung ide Papua Merdeka. Ada 15 nama yang disebut sebagai “GSP/P di sana”. GSP/P singkatan Gerakan Separatis Politik. Dokumen hanya menyebut Mathias Wenda sebagai bagian dari GSP/B alias gerakan separatis bersenjata di Kotaraja. Tim Satgas menilai manuver politik para aktivis Papua jauh lebih “berbahaya” ketimbang aksi bersenjata.

Yang mengejutkan, hampir semua nama dalam daftar itu adalah tokoh terpandang di Jayapura. Ada Pendeta Socrates Sofyan Yoman (Ketua Gereja Baptis Papua), Pendeta Benny Giay (Ketua Gereja Kemah Injil Papua), Agustinus Alue Alua (Ketua Majelis Rakyat Papua, lembaga resmi bentukan pemerintah), dan Aloysius Renwarin (Direktur Elsham Papua).

Juga ada nama sejumlah pengurus Dewan Adat Papua seperti Thaha al-Hamid, Leonard Imbiri, dan Markus Haluk. Nama aktivis mahasiswa yang kritis dan vokal seperti Buchtar Tabuni dan Selfius Bobby juga masuk daftar hitam. Bahkan nama politikus Fraksi Golkar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua, Yance Kayame, juga terselip di sana.

Bocornya daftar nama ini membuat banyak aktivis di Papua geram. “Ini upaya pembungkaman atas orang Papua yang lantang memprotes ketidakadilan,” kata Markus Haluk, pekan lalu. “Daftar ini dibocorkan untuk menjustifikasi penangkapan atau penculikan atas nama-nama di daftar itu,” katanya lagi.

Markus mengingatkan peristiwa pembunuhan atas aktivis Papua, seperti Arnold Ap (1984), Thomas Wanggai (1996), dan Theys Hiyo Eluay (2001), selalu didahului teror semacam ini. Theys, Ketua Presidium Dewan Papua, misalnya, dibunuh oleh sekelompok tentara Kopassus, sembilan tahun silam.

Socrates Sofyan sepakat. “Saya bukan tokoh Papua Merdeka, saya bukan siapa-siapa,” katanya ketika ditemui di kantornya, pekan lalu. “Saya hanya menentang sesuatu yang salah,” kata Socrates.

Sebagian besar nama dalam daftar itu mengaku mendapat teror, ancaman, dan merasa diintai ke mana pun pergi. Tak hanya itu, pekerjaan mereka pun kerap dirundung masalah. Gereja Baptis pimpinan Socrates, misalnya, kini pecah. Seorang pendeta lain, Perinus Kogoya, mengklaim kepemimpinan di gereja tersebut. Perselisihan itu sampai berujung pada bentrok massa, Maret lalu. “Ada pihak ketiga yang bermain,” kata Socrates.

Legitimasi Dewan Adat Papua sebagai perwakilan masyarakat adat di Papua juga dirongrong. Markus Haluk menuding pendirian Lembaga Musyawarah Adat sering kali punya motif politik: menggerus kepercayaan publik pada kelompoknya. “Kami sering dikontraskan dengan mereka,” katanya. Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yaboisembut, membenarkan. “Kami dipecah-belah menjadi dua kubu,” katanya.

Dalam dokumen Kopassus, memang ada tahapan operasi yang disebut “fase pelemahan pengaruh dominan”. Dalam operasi itu, agen Kopassus akan mendekati tokoh masyarakat agar tidak lagi percaya pada sejumlah lembaga yang dicurigai punya motif separatisme.

Target operasi tim Satgas yang lain, Buchtar Tabuni, kini mendekam di LP Abepura. Dia ditangkap pada Desember 2008 dengan tuduhan makar. Ditemui di penjara pekan lalu, Buchtar mengaku tidak heran namanya masuk daftar Kopassus. Dia tak membantah disebut memperjuangkan kemerdekaan Papua. “Ini memang perbedaan ideologis,” katanya. Buchtar divonis tiga tahun penjara karena menuntut referendum.

Bagian lain dari dokumen Satgas Intel Kopassus membeberkan sejumlah data tentang keterkaitan target operasi mereka dengan perjuangan kemerdekaan Papua. Socrates Sofyan, misalnya, disebut-sebut pernah menemui Panglima Komando Pasukan Amerika di Pasifik, Laksamana Dennis C. Blair. Kedekatannya dengan Pendeta John Barr dari Solidaritas Gereja Asia di Australia juga dicurigai. “Saya tidak kenal Dennis Blair,” kata Socrates heran. “Kalau John memang sama-sama pendeta,” katanya. Dia membantah hubungan itu terkait dengan aktivitas politik.

Adapun Markus Haluk ditulis sering berkomunikasi dengan dua pendeta Amerika yang tinggal di Pos Tujuh, Sentani: Jimmy Yost dan Noam Killer. Ditemui pekan lalu, Jimmy kaget ketika tahu dia dan keluarganya diintai tentara.

Markus mengaku tak pernah berhubungan dengan dua orang Amerika itu. Dia menduga keterangan itu dimasukkan hanya untuk membenarkan kebijakan pemerintah menutup Papua dari orang asing.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono enggan berkomentar banyak tentang isi dokumen Kopassus yang bocor ini. Dicegat dua pekan lalu di Markas Besar TNI Cilangkap, Agus menegaskan keberadaan Kopassus di Papua legal dalam konteks menjaga daerah perbatasan. Soal dari mana dokumen itu bisa jatuh ke tangan wartawan, Agus mengangkat bahu, “Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, kebocoran dokumen bisa terjadi di mana saja.”
Sumber : Majallah tempo

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penggunaan Dana Kelurahan Longat Tahun 2021 Mengangkangi Permendagri dan UU KIP

    Penggunaan Dana Kelurahan Longat Tahun 2021 Mengangkangi Permendagri dan UU KIP

    • calendar_month Rabu, 17 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    LONGAT (Mandailing Online) – Pengerjaan bangunan fisik yang dibiayai oleh Negara wajib memasang papan nama proyek, jenis dan lokasi kegiatan, nomor kontrak, dan jangka waktu atau lama pengerjaan. Hal itu tertuang pada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik Nomor 14 tahun 2008. Transparansi penggunaan uang negara juga diatur dalam Perpres Nomor 54 tahun 2010 dan Nomor 70 […]

  • Gerak Cepat AMPG Madina Bantu Warga Terdampak Banjir

    Gerak Cepat AMPG Madina Bantu Warga Terdampak Banjir

    • calendar_month Sabtu, 18 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bergerak cepat dengan turun ke lokasi banjir di wilayah Panyabungan, Sabtu (18/12). Adapun lokasi yang menjadi sasaran adalah Desa Adian Jior, Gunung Manaon, dan Manyabar. Ketua AMPG Madina Sobir Lubis mengaku terpanggil melihat keadaan masyarakat terdampak banjir di Madina. “Kita tahu banyak […]

  • PPP Rekomendasikan Dahlan-Aswin

    PPP Rekomendasikan Dahlan-Aswin

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menerbitkan rekomendasi dukungan kepada pasangan Dahlan-Aswin. Dokumen rekomendasi dari DPP PPP itu disampaikan Ketua DPC PPP Madina, H. Dahler Nasution kepada H. Aswin Parinduri di acara buka puasa bersama di Pondok Pudun, Kotanopan, Madina, Rabu malam (20/5/2020). Rekomendasi Nomor 2252/REK/DPP/V/2020 prihal Rekomendasi ditujukan kepada DPW PPP Sumatera […]

  • Ketika Desa Hutapuli Menerbitkan Peraturan Desa (bagian 1)

    Ketika Desa Hutapuli Menerbitkan Peraturan Desa (bagian 1)

    • calendar_month Rabu, 10 Mei 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Catatan : Dahlan Batubara Persolan yang dihadapi desa masa sekarang sangat berragam, mulai dari persoalan narkoba di kalangan generasi muda, kian punahnya ikan air tawar di sungai-sungai akibat merajalelanya sentrum ikan, pengangguran di usia angkatan kerja hingga masalah pecurian ternak dan kebun. Semua itu merupakan gambaran umum mayoritas desa di Mandailing Natal. Yang paling […]

  • Pertanian Tersisihkan di Perkotaan: Antara Makan Atau Tempat Tinggal?

    Pertanian Tersisihkan di Perkotaan: Antara Makan Atau Tempat Tinggal?

    • calendar_month Senin, 2 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Syaiful Bahri Mahasiswa Pascasarjana IPB Program Studi Agribisnis Sensus penduduk Indonesia pada tahun 2010 menunjukkan angka 237.641.326 jiwa dan di tahun 2018 diproyeksikan jumlah penduduk mencapai 265.015.300 jiwa (www.bps.go.id). Pertumbuhan penduduk Indonesia cenderung meningkat tiap tahunnya, terlihat dari data sensus penduduk tahun 1971 sampai 2010 dan data proyeksi jumlah penduduk Indonesia berdasarkan BPS […]

  • Madina Bakal Peroleh 2000 Unit Listrik Tenaga Surya

    Madina Bakal Peroleh 2000 Unit Listrik Tenaga Surya

    • calendar_month Rabu, 27 Okt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Kabupaten Madina bakal memperoleh listrik tenaga surya sebanyak 2000 unit. Rencananya akan dipasang sebagai penerangan jalan di 23 kecamatan. Terutama jalan-jalan yang belum dimasuki jaringan kabel PLN. Ini merupakan bantuan jenis hibah dari Lembaga Pengelolaan Proyek Badan Kongres Internasional Forum Budaya dan Warisan Dunia (LPP-BIFBWD) untuk Madina (Mandailing Natal). Kepastian hibah […]

expand_less