Sabtu, 28 Feb 2026
light_mode

H. Ayyub Sulaiman Lubis, Perintis Kemerdekaan Asal Kotanopan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 21 Mei 2018
  • print Cetak

Pesanggrahan Kotanopan tempo doeloe

Catatan : Askolani Nasution

Tahun 1990, saya mewakili orang tua dalam Ramah Tamah dengan para keluarga Perintis Kemerdekaan asal Sumatera Utara di Medan, bertemu dengan H. Ayyub Sulaiman Lubis. Lelaki berperawakan kecil yang menjadi Ketua Persatuan Persatuan Perintis Kemerdekaan Sumatera Utara setelah H. Mahals meninggal. Tak banyak bicara. Bersama saya waktu itu ada Muhammad TWH, penulis dan wartawan harian “Waspada” yang baru saja menulis novel “Api Berkobar di Kampung Mesjid”.

Nama Ayyub Sulaiman memang sering saya dengar kisahnya dari orang tua yang kebetulan teman seperjuangan beliau masa sebelum merdeka di Kotanopan. Jadi ketika hari itu saya bertemu beliau, ingatan saya mengembang ke masa-masa perjuangan mereka yang aktif menggagas kemerdekaan Indonesia.

Seingat saya, hanya dua kali saya bertemu beliau. Berbeda dengan H. Mahals, yang beberapa kali datang ke rumah waktu saya kecil, membongkar isi lemari kami untuk menemukan berkas-berkas perjuangan kemerdekaan.

Kebetulan ada beberapa data perjuangan yang tersimpan di rumah. Lalu dari beberapa catatan lain yang diberikan kepada saya oleh keluarga-keluarga Perintis Kemerdekaan, saya merangkum data perjuangan Ayyub Sulaiman Lubis. Ini ringkasannya untuk menjadi bahan refleksi bagi kita bersama:

Tahun 1931, beliau Ketua Badan Propagandis “Partindo” Cabang Kotanopan, 1933. “Partindo” itu partai yang dibentuk Soekarno masa kolonial dan amat besar pengaruhnya di kawasan Mandailing Julu. Lalu beliau dipenjara di Kotanopan, di belakang Pesanggarahan, karena dituduh mengadakan Rapat Umum “Partindo” tanpa izin yang mengandung penghasutan. Keluar dari penjara terus melanjutkan pekerjaannya sebagai Badan Propogandis “Partindo”.

Tahun 1933 beliau menjadi Ketua Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) Cabang Kotanopan. 1934, seluruh Partai Politik dibubarkan Belanda. Beliau kemudian membangun sekolah dengan nama “Ayyub Sulaiman School Al Madrasatul Islamiah” di Padang Sidempuan.

Tahun 1936, mendapat Plang Pintu (Posebt Ctelsel), yaitu dihukum tidak boleh mengajar, tidak boleh bergaul bersama lebih dari dua orang, dan tidak boleh keluar dari Daerah Tapanuli selama dua tahun. Tahun 1938, aktif kembali di Partai Politik yang baru yaitu Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) Cabang Padang Sidempuan.

1939, bulan September, dipenjarakan kembali di Padang Sidempuan karena kegiatan politik dan menuntut Indonesia berparlemen. Tahun 1940, menjadi Komisaris Gerindo Andalas Tengah berkedudukan di Sibolga, Ibukota Keresidenan Tapanuli Tengah untuk mewakili Pengurus Besar dari Jakarta. Tahun itu juga beliau ditangkap kembali dengan alasan untuk menjaga ketertiban umum. Waktu itu Belanda jatuh ke tangan Jerman di masa awal Perang Dunia II.

Tahun 1942, saat itu seluruh tanah air diduduki oleh Pertakbiran Tentara Daiton (Jepang). Bung Karno yang waktu itu berada di Padang memanggilnya. Dengan Surat Mandat tgl. 24-4-1942 beliau diutus menemui Bung Karno untuk menerima petunjuk dan Garis Perjuangan Nasional. Beliau diterima Bung Karno di rumah Abu Bakar Djoar, rumah No. 14 Kampung Tarandam, Padang.

Tahun 1945, 7 September 1945, menjadi orang pertama memproklamasikan kemerdekaan Indonesia untuk daerah Tapanuli dan membentuk laskar-laskar rakyat. Beliau juga menjadi Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI) di Daerah Tapanuli, membentuk Komite Nasional serta menyumpah pegawai-pegawai untuk menjadi Pegawai Republik Indonesia. Lalu menjadi anggota Komite Nasional Derah Karesidenan Tapanuli di Sibolga.

1949, bergerilya masuk hutan di masa Agresi Militer Belanda II, dan tetap menjadi Ketua Dewan Pertahanan dan Bupati Kepala Daerah Darurat Padang Sidempuan. Tahun 1946, diangkat menjadi Wedana di Kantor Residen Tapanuli di Sibolga. Tahun 1947, dipindahkan ke Padang Sidempuan. Kemduian menjadi Patih Kabupaten Padang Sidempuan.

Desember 1948, oleh karena Agresi ke II, diangkat menjadi Ketua Dewan Pertahanan Daerah Padang Sidempuan. Tahun 1950, sesudah Penyerahan Kedaulatan, didudukkan kembali sebagai Patih. Tahun 1951 hingga 1960, aktif di berbagai jabatan pemerintah di Aceh. Tahun 1961, diangkat menjadi Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah di Sibolga.

Maksud saya, hanya ingin menunjukkan bahwa betapa di kawasan Mandailing Natal ini dulunya banyak tokoh pejuangan kemerdekaan. Nama-nama mereka ada di Tugu Perintis Kemerdekaan di Kotanopan. Dan saya beruntung memiliki catatan perjuangan mereka. Insya allah dalam waktu dekat akan saya susun menjadi buku seri perjuangan.***

Askolani Nasution

Askolani Nasution adalah budayawan Mandailing

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran

    Bupati Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran

    • calendar_month Jumat, 6 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution menyerahkan bantuan secara langsung kepada korban kebakaran di Desa Sirambas, Panyabungan Barat. Dalam kunjungan tersebut Bupati Sukhairi didampingi Kadis Kominfo Sahnan Pasaribu, Camat Panyabungan Barat Raja Hidayat Lubis dan Kepala Desa Abu Hanifah. Bupati Sukhairi memberikan bantuan berupa uang tunai. Sementara bantuan […]

  • Golkar Akan Perjuangankan Anggaran Untuk Desa Rp 1 M

    Golkar Akan Perjuangankan Anggaran Untuk Desa Rp 1 M

    • calendar_month Selasa, 11 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIMALUNGUN : Partai Golkar akan memperjuangkan anggaran untuk setiap desa sebesar Rp 1 miliar per tahunnya, yang diharapkan bertujuan mempercepat pembangunan pedesaan. Ini disampaikan Anggota DPR Ali Wongso Sinaga didampingi Ketua Fraksi Golkar DPRD Simalungun, Timbul Jaya Sibarani, kemarin saat meninjau proyek Program Pembangunan Infrastruktur Pedesaan (P2IP) tahun 2010 di Kabupaten Simalungun. Politisi dari Partai […]

  • Kampung Mandailing di Kedah, Malaysia Dikukuhkan

    Kampung Mandailing di Kedah, Malaysia Dikukuhkan

    • calendar_month Rabu, 19 Jul 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KEDAH, MALAYSIA (Mandailing Online) – Tidak banyak yang mengetahui keberadaan masyarakat suku Man­­dailing di Kampung Je­rung Atas, Sg Petani, Negeri Kedah, Malaysia. Masyarakat Mandailing telah bertempat tinggal di Kedah sejak 1880. Kedah merupakan salah satu negeri di Malaysia yang berdekatan perbatasan dengan Thailand. Untuk memeriahkan kem­bali suasana perkampungan masyarakat Mandailing itu, satu aktivitas menarik […]

  • Ini Nomor Urut Partai Politik Peserta Pemilu 2014

    Ini Nomor Urut Partai Politik Peserta Pemilu 2014

    • calendar_month Senin, 14 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pengundian di KPU ini dihadiri sejumlah petinggi partai-partai politik Jakarta, (MO) – Pengundian nomor urut partai politik peserta Pemilu 2014 telah selesai dilakukan di kantor Komisi Pemilihan Umum, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Senin 14 Januari 2013. Proses pengundian nomor ini dihadiri oleh para ketua umum dan sekretaris jenderal parpol peserta pemilu, Badan Pengawas Pemilu, Dewan […]

  • Bahasa Daerah Perlu Diterapkan di Sekolah

    Bahasa Daerah Perlu Diterapkan di Sekolah

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK-Ketua Umum (Ketum) Ikatan Keluarga Alumni Pelajar Sipirok Sekitarnya (IKAPSI) Sumatera Utara (Sumut), Ir Muhammad Yamin MM, menegaskan, bahasa daerah perlu diterapkan dan masuk kurikulum sekolah. “Mata pelajaran aksara, bahasa, dan adat budaya daerah yang ada di Tapanuli Selatan (Tapsel) perlu dimasukkan dalam kurikulum setiap sekolah. Tujuannya, untuk menjaga kelestarian budaya, memberikan pengetahuan dan pemahaman […]

  • Harga Kantalan Terus Turun

    Harga Kantalan Terus Turun

    • calendar_month Kamis, 18 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga karet (kantalan-bahasan Mandailing) di tingkat petani terus mengalami peturunan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Darwis (43) petani karet di Panyabungan kepada wartawan, Kamis (18/7) mengatakan, penjualan pada Kamis pagi sekitar 7.000 hingga 7.500 rupiah per kilo gram. Pekan sebelumnya masih menembus angka 7.500 hingga 8.000 rupiah per kilo gram. “Kita […]

expand_less