Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Harga Komoditas Naik, Rakyat Makin Tercekik

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 10 Jan 2022
  • print Cetak

Oleh: Ummu Taqiyya
Aktivis Dakwah, Mompreneur

 

Kenaikan harga bahan pokok seakan sudah menjadi hal biasa, apalagi saat menjelang hari-hari besar ummat beragama. Harga komoditas pangan akan terus merangkak naik hingga Januari 2022.

Dwi Andreas menyatakan bahwa kenaikan harga komoditas seperti cabai, minyak goreng dan telur mengalami kenaikan dan telah melewati batas psikologis, tapi ini tidak perlu dikhawatirkan. (liputan6.com, 26/12/21)

Ketua Komisi 2 DRPD Tana Tidung, Jamhor juga menyoroti kenaikan bahan  pokok ini dan meminta Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Tana Tidung untuk memantau harga di pasar sehingga bisa dapat diantisipasi.

Beliau juga mengatakan bahwa ada saja pengepul-pengepul yang nakal menjual sembako dengan harga tinggi. (kaltim.tribunnew.com, 10/12/21).

Kenaikan harga ini seakan menjadikan komoditas pokok sebagai barang mahal, sehingga rakyat beropini dengan mengganggap bahan pokok tersebut ibarat perhiasan yang tak mudah untuk didapatkan. Opini tersebut dimuat dalam suatu gambar karikaturis yang menggambarkan seorang ibu yang memakai perhiasan dari cabai, telor, dan minyak goreng, kemudian ibu yang lain melihat dan mengatakan perhiasan yang dipakai ibu tadi barang mahal semua, sehingga dia sajapun tidak memilikinya.

Mengapa harga komoditas bisa naik?

Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi harga kebutuhan pokok itu, yakni (1) tingkat permintaan, (2) ketersediaan stok domestik maupun impor, (3) kelancaran distribusi hingga ke retail.

Apa yang menyebabkan faktor tersebut tidak bisa diantisipasi?

Faktor ini tidak lepas dari konsep perekonomian yang diterapkan saat ini yaitu kapitalisme liberal yang menjadikan peran negara tunduk di bawah kuasa korporasi. Kepemilikan lahan, penguasaan rantai produksi, distribusi barang hingga kendali harga pangan semua dikuasai korporasi sehingga sulit bagi pemerintah menstabilkan harga sebab tak dapat menguasai 100% produksi pangan.

Rakyat tercekik jika komoditas naik di saat perekonomian juga masih sulit, sehingga kemiskinanpun kian meningkat. Padahal jika saja negara mau serius memberikan pelayanan kepada rakyat, tentu hal-hal seperti ini bisa diantisipasi dan tidak akan terulang lagi.

Berbeda halnya saat negara menerapkan sistem islam dalam Daulah Khilafah yang menjadikan Khalifah (pemimpin) sebagai pengurus rakyat dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Kebijakan yang akan diambil negara untuk menjaga stabilitas harga sebagai berikut:

(1) Menjaga ketersediaan stok pangan supaya permintaan dan penawaran menjadi stabil. Kebijakan ini diwujudkan dengan menjamin produksi dalam negeri berjalan maksimal, mengimplementasikan hasil riset dan inovasi intelektual untuk mengejar produktivitas pertanian.

Jika cuaca yang kurang bersahabat, maka diantisipasi lebih awal dengan menerapkan teknologi terkait prediksi cuaca maupun iklim.

Negara sepenuhnya menguasai stok pangan dalam negeri sehingga dengan mudah mendistribusikan pangan dari daerah yang surplus ke daerah yang mengalami kelangkaan.

Jika ketersediaan stok pangan dalam negeri tidak memadai, maka negara mengambil kebijakan impor sementara waktu, tidak berkepanjangan untuk menstabilkan harga sehingga tidak menjadi ketergantungan.

(2) Menjaga rantai tata niaga dengan mencegah dan menghilangkan distorsi pasar seperti melarang praktik tengkulak, kartel, penimbunan, dan aktivitas riba.

Dalam Khilafah, terdapat qadhi hisbah yang akan melakukan pengawasan tataniaga di pasar, menjaga agar bahan makan yang beredar halal dan thayyib sekaligus menghukum siapapun yang melanggar ketetapan syariah dalam muamalah tanpa padang bulu.

Jika khilafah perlu melakukan operasi pasar, kebijakan ini sepenuhnya dilakukan untuk pelayanan bukan untuk dibisniskan. Sasaran operasi pasar adalah para pedagang dengan menyediakan stok pangan yang cukup sehingga mereka bisa membeli dengan harga yang murah dan bisa dijual kembali dengan harga yang bisa dijangkau oleh konsumen.

Meskipun demikian, Khilafah tidak akan mengambil kebijakan penetapan harga ataupun intervensi terhadap harga-harga kaum muslimin karena hal ini dilarang dalam islam.

Maka dari itu sudah seharusnya kita kembali ke tatanan negara yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam sistem perekenomian, sehingga rakyat tidak lagi tercekik karena harga komoditas naik.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harimau Sumatera Ditangkap di Palas

    Harimau Sumatera Ditangkap di Palas

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SOSOPAN (Mandailing Online) – Setelah lama meresahkan warga, akhirnya seekor harimau sumatera tertangkap di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Sumatera Utara. Pihak Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama prajurit TNI dari Koramil 07/Sosopan Kodim 0212/TS dibantu warga berhasil menangkap harimau itu hiduphidup, Selasa (16/7/2019). Harimau jantan itu tertangkap dengan perangkap yang dipasang di […]

  • Polisi Masih Selidiki Kepemilikan 11 Escapator Tambang Emas Ilegal di Madina

    Polisi Masih Selidiki Kepemilikan 11 Escapator Tambang Emas Ilegal di Madina

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online) : sampai hari ini, Tim penyidik Polres Mandailing Natal ( Madina), masih terus melakukan penelusuran terhadap kepemilikan 11 alat berat escapator yang di amankan polisi saat razia tambang emas ilegal di Kecamatan Kota Nopan. Dari 12 alat berat yang disita polisi, baru satu alat berat yang sudah di ketahui kepemilikannya dan […]

  • SISTEM HUKUM MANDAILING (1)

    SISTEM HUKUM MANDAILING (1)

    • calendar_month Selasa, 29 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Entitas dan Kontekstualitas Sejarah Oleh : Askolani Nasution Budayawan/Sutradara Pada awalnya semua suku bangsa memiliki sistem aturan tersendiri yang mengatur pola tingkah laku antar-individu masyarakatnya. Mandailing, sebagai satu suku bangsa, bukan sebatas etnik dalam pengertian sempit, juga memiliki sistem aturan tersebut. Saya tentu tak berkompetensi untuk menjelaskan berbagai pengertian hukum, baik dari segi hukum adat, […]

  • Issu Beredar, Sejumlah SKPD dan Pejabat Pemkab Madina Nyetor Kepada Calon Bupati

    Issu Beredar, Sejumlah SKPD dan Pejabat Pemkab Madina Nyetor Kepada Calon Bupati

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam sepekan ini, satu issu beredar di Panyabungan soal dugaan adanya sejumlah pejabat dan pimpinan SKPD di Pemkab Mandailing Natal (Madina) menyetor uang kepada salah satu pasangan calon bupati/wakil bupati. Rumor itu menyebutkan, penyetoran uang tersebut terjadi beberapa hari menjelang pendaftaran bakal calon bupati ke KPU Madina, akhir Juli lalu. Tak […]

  • Kepala BNP2TKI nilai Polisi Malaysia biadab

    Kepala BNP2TKI nilai Polisi Malaysia biadab

    • calendar_month Senin, 12 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta, (MO) – Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat mengutuk dan menyatakan tiga polisi Malaysia yang memperkosa seorang TKI asal Batang, Jawa Tengah, di kepolisian Bukit Mertajam, Pulau Penang, Malaysia pada Jumat (9/11) pagi. Jumhur di Jakarta, Senin, menegaskan pemerintah Malaysia perlu mendidik ulang aparat kepolisiaannya karena semakin […]

  • Pemkab Madina Tak Mampu Jawab Soal Dana Covid

    Pemkab Madina Tak Mampu Jawab Soal Dana Covid

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab tak mampu menjawab kesiapan dana penanggulangan Covid-19 di Mandailing Natal (Madina). Bahkan untuk biaya puding dan honor para petugas posko pemeriksaan di perbatasan Madina saja hingga kini tak jelas nasibnya. Nasib anggaran dana ini terungkap di Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi 4 DPRD Madina dengan tim Gugus Tugas […]

expand_less