Minggu, 19 Apr 2026
light_mode

KERAJAAN PANAI

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Mar 2019
  • print Cetak

Askolani dan Prasasti Tanjore

 

Catatan : Askolani Nasution

 

Memang, sampai saat ini amat sedikit referensi tentang Kerajaan Panai yang diyakini berpusat di Padang Lawas ini.

Salah satu referensi tentang Panai adalah Kitab Negarakertagama di masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit. Kitab yang bertajuk tahun 1365 M itu menyebutkan penaklukan Majapahit atas beberapa kerajaan di Sumatera, termasuk Kerajaan Mandailing dan Panai.

Sumber paling penting adalah Prasasti Tanjore yang berangka tahun 1030. Disebutkan bahwa Raja Cola, Rajendracoladewa, tahun 1025, setelah menaklukkan Sriwijaya, juga menaklukkan Kerajaan Panai. Selain Panai, juga penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan kecil di Sumatera yang diyakini berada dalam pengaruh raja Sailendra dari Sriwijaya.

Panai dalam prasasti itu dimaknai sebagai “pannai” dalam bahasa Tamil, artinya “tanah pertanian”. Makna itu disebutkan oleh Wheatly pada tahun 1961. Atau dengan istilah lainnya adalah “well-watered (of) Sriwijaya”. Tapi sebagian lain menerjemahkannya dengan “watered by rivers”. Kedua istilah itu tentu juga tak bisa dipisahkan dengan Sungai Batang Panai, karena kerajaan itu berada di sekitar DAS Batang Panai yang dikenal hingga hari ini.

Banyak juga perbedaan pendapat tentang lokasi kerajaan Panai. Codes misalnya, meyakini kerajaan ini ada di Pesisir Timur Sumatera. Menurutnya ada di sekitar muara sungai Desa Labuhan Bilik. Sumber lainnya menyebut justru di bagian pantai Barat Sumatera, yang disebut dekat dengan Sibolga atau Barus. Itu karena sebuah pulau kecil di dekat Barus yang sampai sekarang disebut Panai.

Tapi asumsi Codes lebih berterima. Karena memang Sungai Batang Pane yang bertemu dengan Sungai Barumun, muaranya ke kawasan Labuhan Bilik.

Dalam sebuah catatan Cina, disebutkan bahwa Kerajaan Panai telah ada sejak tahun 1000 AD. Hsu Yun-ts’iao memperkirakan bahwa kerajaan ini pada abad ke-6 ada di kompleks percandian Padang Lawas dan berlatar belakang agama Budha.

Kerajaan Panai diyakini menjadi kerajaan penting di Sumatera, selain Sriwijaya. Alasan itu yang membuat Chola menyerang kerajaan ini. Tetapi meskipun diserang, kerajaan ini tidak serta merta tunduk. Sebab, pada abad 11, atau kurang lebih seratus tahun setelah serangan itu, Kerajaan Panai telah membangun kompleks percandian yang monumental di Padang Lawas sekarang.

Dan sekalipun tidak banyak prasasti yang mengungkap kerajaan ini, Panai diyakini menganut sekte Tantrik. Mantra-mantra yang ditulis dalam lempeng emas, juga dianut oleh raja Kertanegara dari Singosari, Adityawarman dari Sumatera Barat, dan Kubilai Khan dari Mongol.

Biara bersekte Budha Tantrik ini menurut Schnitger, arkeolog Belanda, dapat ditemukan pada Biara Sisangkilon, Sijoreng Belangah, dan Biara Sipamutung yang berada di Padang Lawas. Pada Biara Sipamutung ditemukan arca atau hiasan bangunan berupa arca buaya yang menunjukkan aliran Tantris dimaksud.

Dalam prasasti Tanjore yang sekarang disimpan di Kuil Kailasanatar-uttara merur menyebutkan bahwa serangan kepada Kerajaan Panai untuk “membuka gerbang kota pedalaman yang luas, yang dilengkapi peralatan perang, berhiaskan permata dengan kemuliaan yang besar, gerbang kemakmuran Sriwijaya, dan Pannai dengan kolam air.”

Dari tulisan itu ada beberapa asumsi yang timbul:

  • Panai merupakan pintu gerbang bagi kerajaan-kerajaan besar dan maju di pedalaman Sumatera. Kerajaan-kerajaan dimaksud adalah apa yang disebut dalam naskah Negarakertagama.
  • Kerajaan-kerajaan pedalaman itu telah memilik pasukan yang kuat dan bermartabat.
  • Berhiaskan permata dengan kemuliaan merujuk kepada kawasan hulu Sungai Barumun yang pada masa itu telah menjadi pusat penambangan emas terpenting di Sumatera.
  • Kerajaan-kerajaan itu menjadi sumber ekonomi bagi kerajaan Sriwijaya
  • Kerajaan Panai memiliki kolam yang indah. Kolam air dimaksud diyakini sebagai bendungan yang ditemukan di desa Aloban Kecamatan Portibi, Padang Lawas. Kerajaan Panai, selain memiliki emas, juga menjadi kerajaan yang makmur karena daerah pertanian maju yang dimilikinya. Daerah pertanian yang subur itu sumber irigasinya dari Bendungan Aloban. Bendungan ini yang dibobol Rajendracholadewa. Selain itu, koordinat candi Sipamutung pada 990 45’ BT dan 010 25’ LU memang menjadi daerah pertanian yang subur hingga saat ini. Kawasan ini dialiri berkelok-kelok oleh Sungai Barumun dan Sungai Batang Pane. Ini menandakan bahwa kawasan ini menjadi daerah pertanian yang subur sejak masa dulu.

 

Bendungan yang ditemukan di desa Aloban Kecamatan Portibi

Monumen percandian Portibi, Bahal, dan lain-lain menandakan bahwa Kerajaan Panai telah mengalami perkembangan kebudayaan yang maju. Beberapa prasasti lain yang ditemukan di kawasan ini seperti Prasasti Tandihat (berangka tahun 1179 M), Sitopayan (1235 M), Porlak Dolok (1245 M) menunjukkan bahwa kawasan percandian tersebut berdiri pada abad 11-14 masehi.

Candi Bahal di Portibi

Itu ditandai dengan arca yang di temukan di Biara Sipamutung dan Biara Bara yang digambarkan mengenakan kain bermotif  jlamprang dan kawung. Motif itu identik dengan motif yang biasa ditemukan pada arca-arca masa Singosari. Selain itu, motif percandian itu juga ditemukan pada situs Padang Roco (abad ke 13-15) di Sumatera Barat.

Karena itu diyakini, bahwa Panai sudah memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Adityawarman pada abad ke-14. (Askolani Nasution adalah budayawan/sutradara film)

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Irwan Daulay (kanan) dan Bode Tanjung (kiri)

    DPRD Baru, Harapan Baru, Menuju Madina Baru

    • calendar_month Senin, 2 Sep 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengambilan sumpah jabatan 40 anggota DPRD Madina yang baru sudah dilangsungkan Senin (2/9/2019) di Gedung Serbaguna, Panyabuan. Seiring dengan itu, harapan dari berbaga kalangan pun mengemuka agar para anggota dewan yang baru ini mampu bersinergi, bekerja keras dan memiliki kemauan politik yang kuat terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi Madina terkini. […]

  • Askolani: Makna Sosial Bersawah, dari “Manyaraya” hingga “Marsali”

    Askolani: Makna Sosial Bersawah, dari “Manyaraya” hingga “Marsali”

    • calendar_month Sabtu, 28 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Budayawan Mandailing, Askolani Nasution mengungkap banyak makna sosial dari bertani di Mandailing. Sejumlah makna yang diungkap Askolani itu membuka mata kita bahwa bertani sawah tidak bisa dipandang dari sisi mencari nafkah saja. Lebih luas dari itu bertani sawah memiliki hubungan dengan falsafah sosial kemasyarakatan di Mandailing. “Jangan mengira kalau sawah hanya soal lahan mencari nafkah. […]

  • Pasca Serangan Beruang, Warga Desa Roburan Dolok Takut Kekebun

    Pasca Serangan Beruang, Warga Desa Roburan Dolok Takut Kekebun

    • calendar_month Sabtu, 15 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )-  pasca adanya warga Roburan Dolok, Kecamatan Panyabungan Selatan, Mandailing Natal ( Madina ) yang di terkam Binatang Buasa Jenis Beruang pada Jum’at Sore kemaren, warga dibuatnya cemas, mereka seolah selalui dihantui binatang buas. Akibatnya mereka enggan ke kebun karena takut kembali jadi sasaran Binatang buas itu. Warga desa pun terlihat hanya […]

  • LIRA Sumut Terima Pengaduan Ketimpangan Penanganan Dugaan Korupsi Dana PS Sidempuan

    LIRA Sumut Terima Pengaduan Ketimpangan Penanganan Dugaan Korupsi Dana PS Sidempuan

    • calendar_month Sabtu, 9 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Sumut menerima pengaduan telah terjadi ketimpangan dalam penanganan kasus dugaan korupsi dana pengelolaan Persatuan Sepakbola (PS) Sidempuan sebesar Rp3,2 milyar. Pengaduan tersebut disampaikan istri tersangka berinisial HAN, Hj Henny Herlina SE belum lama ini dalam kunjungan silaturahmi ke Graha LIRA Sumut Jalan Bukit Barisan II Medan. […]

  • Gempa Kembali Guncang Mandailing Natal

    Gempa Kembali Guncang Mandailing Natal

    • calendar_month Sabtu, 6 Mei 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Gempa bumi kembali terjadi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumut, Sabtu (6/5/2017). Berdasar laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia, gempa tersebut berkekuatan 4,6 scala richter. Titik gempa berada sekitar 21 Km Tenggara Mandailing Natal. Gempa yang terjadi pukul  17.21 WIB itu berada di titik kedalaman 10 kilo meter. BMKG  dalam […]

  • Provinsi sutra & tanggungjawab bupati

    Provinsi sutra & tanggungjawab bupati

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ratusan tokoh dan elemen masyarakat asal Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) berkumpul dan melakukan diskusi soal upaya percepatan pembangunan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), Jumat malam hingga Sabtu malam (20-21 Januari) di Hotel JW Marriot, Medan. Dari pusat ada Adnan Buyung Nasution, Todung Mulia Lubis, Bomer Pasaribu, dan Chairuman Harahap. Dari Medan ada Rahudman Harahap, Chaidir Ritonga, […]

expand_less