Sabtu, 28 Feb 2026
light_mode

Ketika Candi Simangambat Ditelantarkan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 7 Jan 2019
  • print Cetak

Dr (Phil) Ichwan Azhari mengamati kepingan-kepingan candi Simangambat

 

Pengantar redaksi :

Pada 14 Desember 2018 yang lalu, Dr. Phil. Ichwan Azhari seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi Indonesia mengunjungi candi Siwa di Simangambat, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal. Dia ditemani budayawan Mandailing, Askolani Nasution.

Dr. Phil. Ichwan Azhari menyaksikan puing-puing candi yang berserakan, lokasi candi yang terlantar bahkan ditelantarkan.

Mungkin beliau terkejut bahkan satir melihat puing-puing terlantar itu. Bagaimana tidak, candi yang memiliki nilai tinggi sebagai bukti dan fakta-fakta ril peradaban masa lalu Mandailing justru ditelantarkan.

Berikut ungkapan hati Dr. Phil. Ichwan Azhari yang dicopy Mandailing Online dari akun facebook-nya.  

 

Sering saya baca orang orang Mandailing bangga dengan ketuaan sejarah mereka karena naskah kuno Jawa tahun 1364 (Negarakertagama) menyebut keberadaan Mandahiling yang ingin “disapa” Gajah Mada. Kebanggaan orang Mandailing dan juga etnik lain di kawasan Tapanuli bagian Selatan didukung ditemukannya puluhan candi di kawasan itu. Lalu memori ketuaan itu kadang dikontraskan dengan etnik lain yang tidak memiliki peninggalan setua ini.

Tapi apakah mereka, termasuk pemerintah daerahnya, mau merawat peninggalan berbasis keberagaman kuno itu? Jawabnya sama saja, tak dan tak peduli, biarkan hancur, dihancurkan berkeping keping. Saat saya melangkah di reruntuhan candi Hindu Jawa abad 9 di Simangambat pada 14 Desember 2018 yang lalu, sesak dada dan semakin tak suka mendengar jargon pidato para pejabat pusat dan daerah : “bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga warisan sejarahnya”. Lagi-lagi di sini saya harus mafhum negeri ini bukan (belum?) Bangsa yang besar.

Budayawan Mandailing, Askolani Nasution saat mendampingi Dr (Phil) Ichwan Azhari mengunjungi situs candi Simangambat.

Memasuki kompleks candi ini saya disambut kambing kambing yang berlarian karena terganggu oleh kedatangan saya. Patahan patahan candi yang mirip dengan candi Sewu di Jawa berceceran di atas tanah becek. Saya berada disebuah rumah ibadah yang diserang beberapa abad yang lalu oleh sebab yang tidak jelas, dan di tempat yang sama kini saya merasa diserang oleh ketidak pedulian bangsa yang tidak besar ini. Siapa yang peduli mempertahankan benteng peradaban masa lalu yang penting ini? Tak juga orang orang Mandailing yang bangga disebut sebut dalam Negarakrtagama itu?

Dari puing puing candi itu saya mengirim WA ke sahabat saya arkeolog Ery Sudewo yang pada 2009 pernah melakukan eskavasi di sini. Dialah yang mengungkapkan dengan sangat baik kaitan candi Simangambat ini sebagai jejak peradaban Jawa kuno abad 9 di Mandailing, jadi jauh sebelum Negarakertagama mencatatnya. Saya minta kirim foto pahatan yang mirip dengan pigura candi di Jawa. Mas Ery mengirim beberapa foto dan saya cari-cari diantara reruntuhan itu, tapi tak ada. Satu potongan relif candi berukir yang ditemukan Mas Eri ada saya temukan, tapi hidungnya kini sudah dihancurkan. Usai eskavasi 2009 team Balai Arkeologi Medan memunguti dan menyelamatkan berbagai potongan batu itu untuk dititip di kantor camat setempat supaya aman. Tapi malah tidak aman, pecahan itu dihancurkan pakai mesin, berspekulasi ada butiran emas di dalamnya.

Situs candi Simangambat saat dieskavasi Balai Arkeologi Medan 2009

Sekelilingnya sudah dibuat pagar oleh BPCB, tapi lahan itu belum dibebaskan pemerintah pusat dan daerah. Saya tanya kira kira berapa harga area seluas ini. Dijawab pemandu saya pak Aslokani, sekitar 60 juta rupiah. Kecillah uang segitu bagi bupati Madina, untuk menyelamatkan satu warisan sejarah penting hubungan Jawa – Mandailing kuno. Atau biarkan dia hancur sebelum sempat diteliti dan dipelajari sebagai sumber inspirasi ? Padahal yang menghebohkan kawasan Mandailing saat ini : emas , emas , dan emas, sudah berlangsung 1200 tahun yang lalu, yang mendorong orang dari berbagai bangsa datang dan menyisakan monumen peradaban di situ. Sampai Gajah Mada pun bersumpah akan mengambil Mandailing.

Apa yang diimpikan Bosch dan Schinitger yang tahun 1920 pertama kali terkejut menemukan jejak peradaban monumental ini? Apa yang dipikirkan Mckinnon, Uli Kozok dan terakhir Daniel Perred saat juga pernah ke sini? Adakah para peneliti luar ini mengharap bakal munculnya satu bangsa (bernama Indonesia) menyelamatkan kompleks situs situs berkelas dunia ini?

Relief candi yang mirip candi di Jawa

Saya hentikan khayal agar tak berkembang. Saat melangkah pulang : saya lihat kambing kambing di balik pagar melirik saya yang telah mengganggu mereka bermain diruntuhan candi itu. “Hai kambing, masuklah lagi, bermain sepuasnya diruntuhan peradaban kuno ini.”

Di halaman dan bawah tangga rumah warga, saya lihat pecahan batu candi berceceran. Tak saya foto batu batu candi yang merupakan teks teks jejak peradaban kuno itu, agar tak makin sesak dada ini. (Ichwan Azhari)

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rahmad Penderita Usus Bocor  Butuh Bantuan Dermawan

    Rahmad Penderita Usus Bocor  Butuh Bantuan Dermawan

    • calendar_month Senin, 28 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Rahmad (49) penderita usus buntu dan usus bocor butuh bantuan dermawan agar bisa operasi di rumah sakit. Warga Desa Simangambat Tb, Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal itu saat ini tidak bisa bekerja menyadap getah selaku tulang punggung keluarga. Menjawab wartawan, Minggu 27/6/2021 di rumahnya, Rahmad yang memiliki 3 anak ini menceritakan […]

  • Ingin Tahu Beras Plastik atau Bukan? Begini Caranya

    Ingin Tahu Beras Plastik atau Bukan? Begini Caranya

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA- Masyarakat Indonesia kini harus lebih berhati-hati saat membeli beras. Pasalnya, kini ada beras plastik yang beredar di pasar. Namun, ada cara mudah untuk mendeteki keaslian beras. "Cara mengujinya sederhana. Bakar sampel beras tersebut, lihat hasilnya apakah meleleh atau tidak. Jika meleleh itu berarti beras palsu," kata Menteri Perdagangan, Rahmat Gobel di Jakarta, Rabu (20/5). […]

  • 10 Relawan Madina Berangkat Ke Sinabung

    10 Relawan Madina Berangkat Ke Sinabung

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 10 relawan kemanusiaan dari Mandailing Natal (Madina) berangkat ke Kabupaten Karo membantu pengungsi Sinabung, Tim kemanusian dibawah bendera Karang Taruna Madina, Korp Suka Rela Palang Merah Indonesia STAIM ini berangkat dari Panyabungan, Rabu (19/2/2014) membawa bantuan kemanusiaan sebanyak satu unit truk. ”Tim relawan akan berada di lokasi bencana Sinabung selama […]

  • Forwakot Gelar Diskusi Dampak Pergaulan Bebas

    Forwakot Gelar Diskusi Dampak Pergaulan Bebas

    • calendar_month Selasa, 11 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Forum Wartawan Kota (Forwakot) Panyabungan menggelar serial diskusi bertema Dampak Pergaulan Bebas dan Pencegahannya di Taman Kota Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal, Selasa (11/7) siang. Hadir sebagai narasumber Efrida Nasution ,SP Kabid Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak Dinas Sosial Pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal dan Ust Raja Ritonga, Lc., MA Pemerhati Sosial […]

  • Isu Penculikan Merebak di Sibolga

    Isu Penculikan Merebak di Sibolga

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPTENG-Masyarakat Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah Tapteng), khususnya orangtua, resah akibat merebaknya isu melalui SMS tentang aksi penculikan terhadap anak-anak, orang dewasa, bahkan orangtua. Sesuai sms itu, orang yang diculik akan dibunuh untuk diambil organ tubuhnya seperti hati, jantung dan ginjal. “Polsek/Polres Madina memohon maaf untuk semua. Diumumkan kepada Anda bahwa ada penculikan anak, dewasa, […]

  • Dituding Copot Sekdes dan Kasipem Tidak Sesuai Prosedur, Ini Bantahan Pj. Kades Tabuyung

    Dituding Copot Sekdes dan Kasipem Tidak Sesuai Prosedur, Ini Bantahan Pj. Kades Tabuyung

    • calendar_month Senin, 29 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) –  Penjabat Kepala Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal, Sumut, Iskandar Muda angkat bicara terkait tudingan terhadapnya. Dia dituding memberhentikan Sekretaris Desa dan Kasi Pemerintahan tidak sesuai prosedur. Dalam siaran pers yang diterima Mandailing Online, Senin (29/7/2024) Iskandar Muda menegaskan bahwa pencopotan perangkat desa itu sudah sesuai prosedur […]

expand_less