Sabtu, 25 Apr 2026
light_mode

Kisah di Balik Tugu Perintis Kotanopan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 17 Agt 2017
  • print Cetak

Tahanan di Tanah Merah, Boven Digul, Papua, 1933. (Foto milik Louis Johan Alexander Schoonheyt / koleksi KITLV)

 

Catatan : Askolani Nasution
Budayawan

 

Suatu hari di tahun 80-an, H. Mahals, nama pertama di prasasti Tugu Perintis Kemerdekaan Kotanopan, datang ke rumah kami yang berdinding “gogat”.

Ia menanyakan arsip-arsip almarhum ayah ketika masih bersama beliau dipenjara Belanda di Sukamiskin dan Digul. Bertemu beberapa catatan. Ia menyebut beberapa tokoh (di prasasti itu) masih hidup, tetapi lebih banyak yang sudah meninggal.

Lalu beliau bercerita, cerita yang juga sudah sering saya dengar penggalan-penggalannya. Intinya, mereka yang 25 orang di daftar itu sudah menjadi sahabat jauh sebelum Indonesia Merdeka, sama-sama ditangkap Belanda pada saat Rapat Akbar di depan Pesanggrahan Kotanopan.

Rapat Akbar terbuka mengagitasi rakyat untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan Belanda, menyusul berbagai pemberontakan yang meluas di Hindia Belanda pasca Pemberontakan Silungkang tahun 1926. Sebelumnya, rapat-rapat persiapan sudah berkali-kali mereka lakukan di Pesantren Subulussalam, Sayur Maincat, yang melibat para guru, siswa, dan pengurus sekolah.

Oleh polisi kolonial yang bermarkas di Tangsi Belanda yang tak jauh dari Pesanggerahan, mereka digelandang, lalu diangkut ke Padang. Dari Padang, diangkut ke Penjara Sukamiskin di Jawa Barat. Tahun 1933, bulan Agustus, Soekarno menyusul, masuk kamar 233. Kamar itu bersebelahan dengan kamar mereka yang dari Kotanopan. Karena itu, Soekarno yang selama ini hanya diceritakan di rapat-rapat perjuangan, bisa dikenali pemikiran politik dan konsep-konsep kenegaraannya.

Segera setelah meletus Pemberontakan Rakyat tahun 1926, tiga ribu orang ditangkap Belanda karena gerakan politiknya dan pemberontakannya. Karena penjara penuh, maka dibangunlan Boven Digul, Irian, tahun 1927 sebagai kamp konsentrasi terbesar dan terkuat di Asia Fasifik. Dibangun di hulu Sungai Digul, di tengah hutan belantara. Dikelilingi sungai Digul yang lebar dan penuh buaya dan di sisi lain hutan belantara yang penuh binatang buas. Karena itu sangat terisolir. Angkutan satu-satunya hanya perahu pengelola kamp.

Rombongan dari Mandailing diangkut dengan rakit menyusuri sungai Digul. Berhari-hari di atas sungai tanpa lampu. Di rombongan lain, ada perempuan yang melahirkan, hanya ditolong oleh para interniran (sebutan untuk para tahanan). Kalau ada yang meninggal, dibuang begitu saja ke Sungai, lalu dimakan buaya.

Sampai di kamp, ternyata Bung Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, Maskun, dan lain-lain ternyata sudah di sana bersama ribuan interniran lain yang datang dari berbagai pulau.

Kamp itu terdiri dari berbagai blok. Tiap tahanan diberi pondok kayu beratap rumbia, lalu jatah beras, ikan asin, dan minyak makan. Beberapa tahanan yang cukup memiliki uang, dapat belanja keperluan di toko Cina satu-satunya yang ada di kamp itu. Yang tidak punya uang cukup, dan itu jauh lebih banyak, mereka harus memancing sendiri di Sungai Digul, berkebun sayuran, dan mengusahakan kebutuhan makanan tambahan lain.

Kamp itu sarang malaria. Karena itu nyaris semua tahanan mengidap penyakit malaria yang akut yang disebut kencing hitam. Banyak yang mati karenanya, atau karena depresi. Banyak yang hilang ingatan karena stres. Beberapa tahanan ada yang mencoba menyeberangi Sungai Digul yang lebar, tapi akhirnya dimakan buaya. Ada yang menyeberangi hutan belantara, lalu dimakan binatang buas. Bahkan dimakan suku-suku primitif. Kisah-kisah pelarian itu menjadi catatan sendiri.

Setiap pagi, para tahanan dikumpul lalu digiring kerja paksa untuk mengubah rawa Digul menjadi perkampungan. Belum lagi siksaan fisik. Stressing itu menimbulkan konflik yang acap kali berakhir dengan bunuh-bunuhan antar tahanan, atau mati bunuh diri. Digul ketika itu menjadi neraka alam yang ganas.

Karena itu, ketika minggu lalu saya berdiri di depan Tugu Perintas Kotanopan, cerita itu mengingatkan saya kembali kepada H. Mahals yang berjuang menyelamatkan hidup para bekas Digulis dari Mandailing, membuatkan mereka tugu, dan mengunjungi keluarga-keluarga yang ada di daftar itu, sahabat-sahabatnya.

Saya tahu betul kesusahan hidup sebagian mereka ketika hidup, karena saya lihat sendiri. Bercerita tentang rumah-rumah gubuk tempat tinggal, susahnya menyekolahkan anak, sama seperti ibu saya yang dulu bekerja sebagai buruh tani. Tapi semua berbesar hati, karena kita telah merdeka!

Jadi, ketika semalam saya mengikuti peletakan batu pertama Tugu Pahlawan Sayur Maincat oleh Bupati Mandailing Natal, saya berpikir, tujuh orang pahlawan yang ada di sana, merekalah yang telah mengubah kita menjadi duduk nyaman di kedai kopi sambil menghisap sebatang dua batang rokok kretek pabrik, sambil bercerita goyangan pinggul artis. Di dinding, di atas televisi ada potret pejuang tua yang terlupakan, tapi di layar televisi tampak orang sedang berjemur di pantai, sambil sesekali muncul iklan pemutih wajah atau kondom ternyaman. Merdeka ternyata bisa juga berakhir naif. Merdeka!

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Oji Ganding Batal Dilantik

    Oji Ganding Batal Dilantik

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – 39 orang dilantik dan diambil sumpahnya menjadi anggota DPRD Mandailing Natal (Madina) priode 2014-2019 hasil Pemilu 2014 pada rapat paripurna istimewa di gedung DPRD Madina, Selasa (2/9/2014). Sejatinya jumlah yang dilantik sebanyak 40 orang, namun Ali Makmur Nasution alias Oji Ganding tidak bisa hadir. Informasi di gedung dewan menyebutkan bahwa Oji […]

  • KPU Madina Buka Pendaftaran Untuk Pemantau Pilkada

    KPU Madina Buka Pendaftaran Untuk Pemantau Pilkada

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online ) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mandailing Natal (Madina)  mengumumkan pembukaan pendaftaran pemantau Pilkada 2015. Pengumuman itu tertuang dalam surat KPU Madina Nomor  130 /KPU-KAB-002.434826/V /2015 tertanggal 24 Mei 2014 Tentang Pendaftaran Pemantau Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal Tahun 2015.            Pendaftaran   Pemantau Pilkada ini mulai dibuka tanggal 24 […]

  • Tiga Kandidat Bupati Madina Yang Muncul

    Tiga Kandidat Bupati Madina Yang Muncul

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Meski tahapan pendaftaran bakal calon bupati Madina ke KPU diperkirakan bulan Juni, namun sejauh ini sudah muncul 3 kandidat yang mendaftar ke partai-partai politik. Ketiga nama itu adalah Saparuddin Haji Lubis, Ivan Iskandar Batubara dan Dahlan Hasan Nasution. Saparuddin Haji Lubis atau akrab dipanggil Akong berasal dari kalangan dunia usaha. […]

  • Dugaan Korupsi Dilimpahkan

    Dugaan Korupsi Dilimpahkan

    • calendar_month Kamis, 2 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Kejaksaan Negeri Panyabungan melimpahkan kasus dugaan korupsi di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dengan tersangka Kepala Satpol PP Ali Atas Nasution serta Bendahara Yusnila Hayati ke Pengadilan Negeri Panyabungan. Hal ini dikatakan Kepala Kejari Panyabungan Danang Porwoko Adji Suseno SH MH kepada wartawan di ruang kerjanya di Panyabungan, […]

  • Unimed telah buka pendaftaran SLMPTN

    Unimed telah buka pendaftaran SLMPTN

    • calendar_month Kamis, 12 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Universitas Medan (Unimed) telah membuka pendafataran melalui jalur Seleksi Lokal Masuk Perguruan Tinggi (SLMPTN) tahun 2012 yang dimulai sejak 9 sampai dengan 20 Juli 2012. “Pendaftaran melalui online dan dapat dilakukan dari manapun melalui website http://www.unimed.ac.id. Pelaksanaan ujian SLMPTN pada tanggal 24-25 Juli 2012, sedangkan pengumuman hasil ujian tanggal 04 Agustus 2012,” kata […]

  • Sibolga diguncang gempa 5,3 skala Richter

    Sibolga diguncang gempa 5,3 skala Richter

    • calendar_month Kamis, 7 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Medan, (MO) – Kota Sibolga dan sebagian daerah di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, diguncang gempa berkekuatan 5,3 skala Richter pada Kamis pukul 07.41 WIB. Kabid Pelayanan Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan Hendra Suwarta di Medan, Kamis, mengatakan gempa itu berpusat di 1,45 derajat Lintang Utara dan […]

expand_less