Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Kisah di Balik Tugu Perintis Kotanopan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 17 Agt 2017
  • print Cetak

Tahanan di Tanah Merah, Boven Digul, Papua, 1933. (Foto milik Louis Johan Alexander Schoonheyt / koleksi KITLV)

 

Catatan : Askolani Nasution
Budayawan

 

Suatu hari di tahun 80-an, H. Mahals, nama pertama di prasasti Tugu Perintis Kemerdekaan Kotanopan, datang ke rumah kami yang berdinding “gogat”.

Ia menanyakan arsip-arsip almarhum ayah ketika masih bersama beliau dipenjara Belanda di Sukamiskin dan Digul. Bertemu beberapa catatan. Ia menyebut beberapa tokoh (di prasasti itu) masih hidup, tetapi lebih banyak yang sudah meninggal.

Lalu beliau bercerita, cerita yang juga sudah sering saya dengar penggalan-penggalannya. Intinya, mereka yang 25 orang di daftar itu sudah menjadi sahabat jauh sebelum Indonesia Merdeka, sama-sama ditangkap Belanda pada saat Rapat Akbar di depan Pesanggrahan Kotanopan.

Rapat Akbar terbuka mengagitasi rakyat untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan Belanda, menyusul berbagai pemberontakan yang meluas di Hindia Belanda pasca Pemberontakan Silungkang tahun 1926. Sebelumnya, rapat-rapat persiapan sudah berkali-kali mereka lakukan di Pesantren Subulussalam, Sayur Maincat, yang melibat para guru, siswa, dan pengurus sekolah.

Oleh polisi kolonial yang bermarkas di Tangsi Belanda yang tak jauh dari Pesanggerahan, mereka digelandang, lalu diangkut ke Padang. Dari Padang, diangkut ke Penjara Sukamiskin di Jawa Barat. Tahun 1933, bulan Agustus, Soekarno menyusul, masuk kamar 233. Kamar itu bersebelahan dengan kamar mereka yang dari Kotanopan. Karena itu, Soekarno yang selama ini hanya diceritakan di rapat-rapat perjuangan, bisa dikenali pemikiran politik dan konsep-konsep kenegaraannya.

Segera setelah meletus Pemberontakan Rakyat tahun 1926, tiga ribu orang ditangkap Belanda karena gerakan politiknya dan pemberontakannya. Karena penjara penuh, maka dibangunlan Boven Digul, Irian, tahun 1927 sebagai kamp konsentrasi terbesar dan terkuat di Asia Fasifik. Dibangun di hulu Sungai Digul, di tengah hutan belantara. Dikelilingi sungai Digul yang lebar dan penuh buaya dan di sisi lain hutan belantara yang penuh binatang buas. Karena itu sangat terisolir. Angkutan satu-satunya hanya perahu pengelola kamp.

Rombongan dari Mandailing diangkut dengan rakit menyusuri sungai Digul. Berhari-hari di atas sungai tanpa lampu. Di rombongan lain, ada perempuan yang melahirkan, hanya ditolong oleh para interniran (sebutan untuk para tahanan). Kalau ada yang meninggal, dibuang begitu saja ke Sungai, lalu dimakan buaya.

Sampai di kamp, ternyata Bung Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, Maskun, dan lain-lain ternyata sudah di sana bersama ribuan interniran lain yang datang dari berbagai pulau.

Kamp itu terdiri dari berbagai blok. Tiap tahanan diberi pondok kayu beratap rumbia, lalu jatah beras, ikan asin, dan minyak makan. Beberapa tahanan yang cukup memiliki uang, dapat belanja keperluan di toko Cina satu-satunya yang ada di kamp itu. Yang tidak punya uang cukup, dan itu jauh lebih banyak, mereka harus memancing sendiri di Sungai Digul, berkebun sayuran, dan mengusahakan kebutuhan makanan tambahan lain.

Kamp itu sarang malaria. Karena itu nyaris semua tahanan mengidap penyakit malaria yang akut yang disebut kencing hitam. Banyak yang mati karenanya, atau karena depresi. Banyak yang hilang ingatan karena stres. Beberapa tahanan ada yang mencoba menyeberangi Sungai Digul yang lebar, tapi akhirnya dimakan buaya. Ada yang menyeberangi hutan belantara, lalu dimakan binatang buas. Bahkan dimakan suku-suku primitif. Kisah-kisah pelarian itu menjadi catatan sendiri.

Setiap pagi, para tahanan dikumpul lalu digiring kerja paksa untuk mengubah rawa Digul menjadi perkampungan. Belum lagi siksaan fisik. Stressing itu menimbulkan konflik yang acap kali berakhir dengan bunuh-bunuhan antar tahanan, atau mati bunuh diri. Digul ketika itu menjadi neraka alam yang ganas.

Karena itu, ketika minggu lalu saya berdiri di depan Tugu Perintas Kotanopan, cerita itu mengingatkan saya kembali kepada H. Mahals yang berjuang menyelamatkan hidup para bekas Digulis dari Mandailing, membuatkan mereka tugu, dan mengunjungi keluarga-keluarga yang ada di daftar itu, sahabat-sahabatnya.

Saya tahu betul kesusahan hidup sebagian mereka ketika hidup, karena saya lihat sendiri. Bercerita tentang rumah-rumah gubuk tempat tinggal, susahnya menyekolahkan anak, sama seperti ibu saya yang dulu bekerja sebagai buruh tani. Tapi semua berbesar hati, karena kita telah merdeka!

Jadi, ketika semalam saya mengikuti peletakan batu pertama Tugu Pahlawan Sayur Maincat oleh Bupati Mandailing Natal, saya berpikir, tujuh orang pahlawan yang ada di sana, merekalah yang telah mengubah kita menjadi duduk nyaman di kedai kopi sambil menghisap sebatang dua batang rokok kretek pabrik, sambil bercerita goyangan pinggul artis. Di dinding, di atas televisi ada potret pejuang tua yang terlupakan, tapi di layar televisi tampak orang sedang berjemur di pantai, sambil sesekali muncul iklan pemutih wajah atau kondom ternyaman. Merdeka ternyata bisa juga berakhir naif. Merdeka!

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Korupsi Indonesia sudah gawat

    Korupsi Indonesia sudah gawat

    • calendar_month Sabtu, 7 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Korupsi harus diakui bukan saja makin masif dan sistemik, tetapi juga makin telanjang dan bahkan sudah merambah urusan agama, sebagaimana kasus korupsi pengadaan Al Quran yang ikut menyeret politisi senayan dari Fraksi Golkar Zulkarnaen Djabar. Karena itu, tidak cukup memerangi korupsi melalui pendekatan politik dan hukum saja tetapi juga melalui sebuah gerakan kultural. […]

  • Longat berduka, Jenazah Safrida Ditemukan Tersangkut di Akar Pohon

    Longat berduka, Jenazah Safrida Ditemukan Tersangkut di Akar Pohon

    • calendar_month Selasa, 6 Des 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – Jenazah Safrida (19) berhasil ditemukan Selasa pagi (6/12) setelah hanyut Senin petang (5/12) di Sungai Aek Sarir, Kelurahan Longat, Kecamatan Panyabungan Barat, Mandailing Natal. Tubuh almarhumah ditemukan tersangkut di akar pohon oleh tim pencari sekira pukul 10.00 WIB. Safrida warga Kelurahan Longat hanyut bersama suaminya Rahmat (22) ketika menyeberangi sungai […]

  • Penimbunan BBM Berulang, Apa Solusinya?

    Penimbunan BBM Berulang, Apa Solusinya?

    • calendar_month Kamis, 3 Feb 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Sri Purwanti   “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, bukan untuk memenuhi keserakahan manusia.” – Mahatma Gandhi. Begitulah orang serakah. Tak akan pernah merasa puas. Selalu ingin mendapat yang lebih lagi. Tak mempedulikan cara yang diambil adalah suatu kesalahan, dan juga suatu kezaliman. Hal tersebut, seperti yang dilakukan oleh seorang pelaku penimbun hingga […]

  • 13 Desa di Panyabungan Timur Akan Gelar Pilkades, 3 Desa Jadi Perhatian Serius

    13 Desa di Panyabungan Timur Akan Gelar Pilkades, 3 Desa Jadi Perhatian Serius

    • calendar_month Sabtu, 19 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )-Demi menciptakan Pilkades damai yang akan digelar serentak 21 Agustus 2023 mendatang, Camat Panyabungan Timur, Mandailing Natal ( Madina ) menggelar rapat pematangan pelaksanaan Pilkades di wilayah nya Sabtu 19/8/2023. Rapat yang dihadiri Pihak Kecamatan, Polisi, unsur kepanitiaan Pilkades, Pj Kades dan BPD itu dipimpin langsung Rahmad Rizky Ramadhan selaku Camat Panyabungan […]

  • Jelang Muscab PP Madina, Peluang Arjun Nasution Cukup Besar

    Jelang Muscab PP Madina, Peluang Arjun Nasution Cukup Besar

    • calendar_month Selasa, 16 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Peluang Arjun Nasution sangat besar untuk memimpin MPC Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Mandailing Natal, Sumut. Organisasi ini akan menggelar Muscab dalam waktu dekat memilih ketua MPC pengganti almarhum Syahriwan Nasution. Gambaran peluang Arjun itu terlihat dari antusias sejumlah kader PP di 12 Kecamatan kepada mantan anggota DPRD Mandailing Natal ini. Kader […]

  • Ketua DPRD Tak Bijaksana Penilaian Elemen Mahasiswa

    Ketua DPRD Tak Bijaksana Penilaian Elemen Mahasiswa

    • calendar_month Rabu, 10 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sejumlah elemen mahasiswa menilai pernyataan Ketua DPRD Palas, HM Ridho Harahap yang mengatakan, tidak ada masalah dengan spanduk ucapan selamat menunaikan ibadah puasa 1432 H yang memakai logo daerah lain tidak bijaksana. “Pantas saja Kabupaten Palas ini tidak ada majunya. Soalnya rasa cinta terhadap daerah sangat minim sekali. Bahkan, banyak orang yang mengaku tokoh, tapi […]

expand_less