Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

Kisah Merapi, Mbah Maridjan, Tutur & Wawan Letusan Merapi bukan sekedar meluluhlantakkan sejumlah kampung di lereng gunung.

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 28 Okt 2010
  • print Cetak

Kinahrejo terlihat lunglai. Desa yang biasanya begitu hijau kini telah layu. Rumah-rumah porak poranda, pohon-tanaman bertumbangan, hewan ternak teronggok tak bernyawa. Sejauh mata memandang, seluruh desa itu bersepuh debu vulkanik.

Bangunan masjid terlihat masih berdiri. Di dekatnya, bangunan rumah telah hancur. Di antara puing-puing kayu bangunan itu, sesosok tubuh berhasil ditemukan rombongan tim SAR. Tubuh yang tengah bersujud itu adalah jasad Mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi, yang meletus lagi pada Selasa sore 26 Oktober 2010.

Tokoh yang disegani masyarakat sekitar Merapi itu telah mangkat, ‘dijemput’ awan panas Wedhus Gembel yang menyapu seluruh dusun beserta isinya. Lebih dari 20 korban jiwa ditemukan di desa itu, termasuk editor senior VIVAnews Yuniawan Wahyu Nugroho dan relawan PMI Tutur Prijono yang ditemukan di depan rumah Mbah Maridjan.

***

Desa Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, letaknya memang hanya 4 km dari kawah Merapi. Pada Selasa lalu, erupsi pertama gunung Merapi terjadi sejak pukul 17.02 WIB, diikuti awan panas selama 9 menit.

Kemudian berturut-turut diikuti letusan berikutnya yang terjadi pukul 17.18 disertai awan panas selama 4 menit, pukul 17.23 dengan awan panas selama 5 menit, pukul 17.30 dengan awan panas selama 2 menit, pukul 17:37 dengan awan panas selama 2 menit, letusan Pukul 17.42 dengan awan panas selama 33 menit, pukul 18.16, dengan awan panas selama 5 menit, dan pukul 18.21 beserta awan panas selama 33 menit.

Kinahrejo termasuk dalam wilayah yang dilalui oleh awan panas ‘wedhus gembel’, yang menerjang ke sektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara Merapi.

Wedhus gembel adalah awan panas berisi material-material vulkanik yang menyatu dengan gas bersuhu tinggi. Dinamai Wedhus gembel karena bila dilihat dari jauh, saat awan panas ini menuruni lereng, abu putihnya yang bergulung-gulung, terlihat seperti bulu domba.

Suhu awan piroklastik seperti Wedhus Gembel di kawasan kawah bisa mencapai 1.000 derajat Celcius. Biasanya, ia bergerak turun ke lereng dengan kecepatan 700 km/ jam, suhunya akan berkurang menjadi 500-600 derajat celcius.

Merapi sendiri memang dikenal sebagai gunung berapi teraktif di Indonesia. Oleh International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI) Gunung setinggi 2.968 itu dimasukkan ke dalam kategori ‘decade volcano’, salah satu dari 16 gunung berapi dunia yang memiliki letusan paling destruktif dan dekat dengan populasi banyak penduduk.

Dari catatan sejarah, Merapi meletus sebanyak 68 kali sejak tahun 1548. Dengan letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan besar gunung ini terjadi antara lain pada tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Bahkan, letusan tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Sementara tahun 1930, letusan Merapi menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.370 orang.

***

Hingga Selasa petang, desa Kinahrejo masih baik-baik saja. Kendati sejak sehari sebelumnya, pemerintah telah menaikkan status Merapi dari ‘Siaga’ menjadi ‘Awas, namun saat itu beberapa warga tetap bertahan dan masih melakukan shalat Maghrib berjamaah di masjid.

Kerabat dekat Mbah Maridjan Agus Wiyarto, Yuniawan, dan Tutur, baru saja tiba di kediaman Mbah Maridjan. Wawan – panggilan Yuniawan, memang telah membuat janji dengan Agus untuk mewawancarai pria yang menjadi juru kunci Merapi sejak 1982 itu untuk tugas peliputan Sorot VIVAnews.

Di rumah itu, keduanya sempat ditemui Mbah Maridjan. Menurut penuturan Agus, mereka belum sempat berbicara banyak. Namun, sesuatu hal yang tak biasa, Mbah Maridjan bersedia duduk dengan santai di satu kursi dengan Wawan.

Biasanya, Mbah Maridjan tak mau duduk samping-menyamping di kursi panjang, dengan tamunya. Dia selalu berhadapan dengan tamu, agar seolah-olah tidak dianggap mengenyampingkan tamunya.

Mengetahui telah terjadi erupsi di bagian barat Merapi hingga sejauh 7 kilometer Agus kemudian mengajak Mbah Maridjan untuk turun ke pengungsian.”Orang-orang mau saya bawa si Mbah. Turun nggak?” Agus membujuk. Tapi Mbah Maridjan diam.

Tak lama kemudian sirene tanda bahaya berbunyi. Orang-orang segera diungsikan. Agus, Wawan, Tutur, keluarga Mbah Maridjan, dan warga sekitar, mengungsi menumpang dua mobil. Wawan berkali-kali mengulang keluhannya kepada Agus. “Harusnya saya bersama si Mbah.”

Mbah Maridjan memang menolak dievakuasi. Pada waktu Gunung Merapi meletus pada 2006, Mbah Maridjan juga tetap memilih bertahan, walau dibujuk langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sesampainya di tempat pengungsian, tiba-tiba muncul inisiatif untuk menjemput kembali Mbah Maridjan. “Pak saya mau jemput si Mbah,” kata Tutur Prijono kepada Agus. Agus sempat melarang, “kamu jangan sembrono, jangan gegabah.” Namun keinginan menjemput Mbah Maridjan begitu kuat. Agus tak bisa menahan Tutur dan Wawan kembali ke atas menumpang mobil Suzuki APV.

Di sela-sela upayanya menjemput Mbah Maridjan, Wawan sempat berkomunikasi dengan sahabatnya, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Rinny Soegiyoharto. “Saya lagi di rumah Mbah Maridjan. Saya menunggu, dia lagi shalat,” kata Wawan kepada Rinny lewat ponselnya, pada pukul 18.29 WIB.

Kepada Rinny, Wawan sempat menceritakan harapannya agar Mbah Maridjan mau ikut mengungsi seusainya ibadah shalat. Rinny pun mengingatkan agar Wawan berhati-hati. Sebab, di ujung telepon ia mendengar bunyi sirene meraung-raung.

Sesaat kemudian, dari telepon Rinny mendengar suara “Aduh, aduh, ada api, ada api.” Kemudian telepon terputus. Rupanya itu adalah suara terakhir Wawan yang terdengar. Berulang kali ia dihubungi, tak pernah tersambung.

***

Sehari sebelum Merapi meletus, Mbah Maridjan sempat berkata bahwa ia masih kerasan dan betah tinggal di kampungnya. “Kalau ditinggal nanti siapa yang mengurus tempat ini?”

Pada suatu kesempatan di tahun 2006, Mbah Maridjan juga mengatakan bahwa setiap orang punya tugas sendiri-sendiri. “Wartawan, tentara, polisi punya tugas. Saya juga punya tugas untuk tetap di sini,” kata dia.

Yang Mbah Maridjan tahu, ia musti menunaikan janjinya kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang mengangkatnya sebagai juru kunci, untuk merawat Merapi.

Totalitas yang sama, kurang lebih juga diperlihatkan Wawan dalam menunaikan tugasnya sebagai seorang jurnalis sekaligus memenuhi naluri kemanusiaannya. (hs)
Laporan: KDW dan Fajar Sodiq | Yogyakarta
Sumber : Viva News

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolam BBI di Tapsel “Ditelantarkan”

    Kolam BBI di Tapsel “Ditelantarkan”

    • calendar_month Senin, 28 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tapsel (Mandailing Online) – Proyek pembangunan kolam Balai Benih Ikan (BBI) di Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) milik Dinas Perikanan Dan Kelautan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan terkesan ditelantarkan dan pembangunannya diduga asal jadi. Dugaan tersebut diungkapkan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat Sentral Informasi Gerakan Masyarakat (LSM-SIGMA) Tabagsel, Bambang (29),saat diwawancarai MedanBisnis, Rabu […]

  • Pembunuh Guru SD Ditangkap

    Pembunuh Guru SD Ditangkap

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Tersangka pembunuh Eliza (45), Guru SD di Desa Bandar Panjang, Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), akhirnya ditangkap polisi. Pelaku ternyata mantan murid korban berinisial HA (21) yang juga warga Bandar Panjang. Kapolres Madina AKBP Hirbak Wahyu Setiawan yang dikonfirmasi wartawan di kantornya di Panyabungan, Kamis (16/12/2010), mengatakan awalnya polisi sangat kesulitan mengungkap […]

  • Petugas Kebersihan Itu Status Gaji Harian

    • calendar_month Kamis, 6 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Bidang Kebersihan Pertamanan Badan LHKP Mandailing Natal, Firman Lubis, ST mengaku bahwa sekitar 20 petugas kebersihan kota Panyabungan yang dipecatna berstatus pekerja harian dan bergaji harian Meski begitu, pemecatan ini berujung munculnya surat Inspektirat Sumut yang memerintahkan bupati Mandailing Natal melakukan penyelidikan untuk dilakukan langkah penanganan. Sementara itu, Kepala Badan […]

  • Honorer yang Dirumahkan Dipanggil Kembali

    Honorer yang Dirumahkan Dipanggil Kembali

    • calendar_month Selasa, 10 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Setelah mendapat kecaman dan kritikan dari berbagai elemen masyarakat, akhirnya Pemkab Mandailing Natal (Madina) memanggil kembali seluruh tenaga honorer yang dirumahkan. Kabag Humas dan Protokol Pemkab Madina, HM Haposan Nasution kepada MedanBisnis, di ruang kerjanya, Senin (9/1), di Panyabungan, menjelaskan, pemanggilan kembali para tenaga honorer itu merupakan hasil rapat seluruh pimpinan SKPD yang dipimpin […]

  • Wabup Madina Tidak Berniat Hadiri Sidang Hidayat Batubara

    Wabup Madina Tidak Berniat Hadiri Sidang Hidayat Batubara

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    MEDAN, – Wakil Bupati Madina Dahlan Nasution memberi jawaban diplomatis ketika ditanyakan kesiapannya menjadi Plt Bupati Madina jika Hidayat Batubara dinonkatifkan sebagai orang nomor satu di Madina. “Ini bukan masalah siap atau tidak siap. Ini kan sudah dikatakan diatur undang-undang,” katanya via sambungan telepon. Alih-alih menyatakan kesiapannya, Dahlan malah menyebut pengalamannya sebagai Penjabat Bupati Madina […]

  • Syariat Islam Dituding Menormalisasi KDRT?

    Syariat Islam Dituding Menormalisasi KDRT?

    • calendar_month Jumat, 11 Feb 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ummu Taqiyya Akhir-akhir ini viral potongan ceramah seorang ustadzah fenomenal yang dianggap membolehkan kekerasan dalam rumah tangga, sehingga masyarakat awam menganggap tindakan tersebut dibolehkan dalam islam. Padahal perlu dipahami sebelumnya bahwa konteks yang dibahas dalam ceramah tersebut adalah kisah tentang istri yang menutupi aib suaminya yang bertindak kasar terhadap istrinya, bukan berarti ustadzah tersebut […]

expand_less