Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Kisah Merapi, Mbah Maridjan, Tutur & Wawan Letusan Merapi bukan sekedar meluluhlantakkan sejumlah kampung di lereng gunung.

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 28 Okt 2010
  • print Cetak

Kinahrejo terlihat lunglai. Desa yang biasanya begitu hijau kini telah layu. Rumah-rumah porak poranda, pohon-tanaman bertumbangan, hewan ternak teronggok tak bernyawa. Sejauh mata memandang, seluruh desa itu bersepuh debu vulkanik.

Bangunan masjid terlihat masih berdiri. Di dekatnya, bangunan rumah telah hancur. Di antara puing-puing kayu bangunan itu, sesosok tubuh berhasil ditemukan rombongan tim SAR. Tubuh yang tengah bersujud itu adalah jasad Mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi, yang meletus lagi pada Selasa sore 26 Oktober 2010.

Tokoh yang disegani masyarakat sekitar Merapi itu telah mangkat, ‘dijemput’ awan panas Wedhus Gembel yang menyapu seluruh dusun beserta isinya. Lebih dari 20 korban jiwa ditemukan di desa itu, termasuk editor senior VIVAnews Yuniawan Wahyu Nugroho dan relawan PMI Tutur Prijono yang ditemukan di depan rumah Mbah Maridjan.

***

Desa Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, letaknya memang hanya 4 km dari kawah Merapi. Pada Selasa lalu, erupsi pertama gunung Merapi terjadi sejak pukul 17.02 WIB, diikuti awan panas selama 9 menit.

Kemudian berturut-turut diikuti letusan berikutnya yang terjadi pukul 17.18 disertai awan panas selama 4 menit, pukul 17.23 dengan awan panas selama 5 menit, pukul 17.30 dengan awan panas selama 2 menit, pukul 17:37 dengan awan panas selama 2 menit, letusan Pukul 17.42 dengan awan panas selama 33 menit, pukul 18.16, dengan awan panas selama 5 menit, dan pukul 18.21 beserta awan panas selama 33 menit.

Kinahrejo termasuk dalam wilayah yang dilalui oleh awan panas ‘wedhus gembel’, yang menerjang ke sektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara Merapi.

Wedhus gembel adalah awan panas berisi material-material vulkanik yang menyatu dengan gas bersuhu tinggi. Dinamai Wedhus gembel karena bila dilihat dari jauh, saat awan panas ini menuruni lereng, abu putihnya yang bergulung-gulung, terlihat seperti bulu domba.

Suhu awan piroklastik seperti Wedhus Gembel di kawasan kawah bisa mencapai 1.000 derajat Celcius. Biasanya, ia bergerak turun ke lereng dengan kecepatan 700 km/ jam, suhunya akan berkurang menjadi 500-600 derajat celcius.

Merapi sendiri memang dikenal sebagai gunung berapi teraktif di Indonesia. Oleh International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI) Gunung setinggi 2.968 itu dimasukkan ke dalam kategori ‘decade volcano’, salah satu dari 16 gunung berapi dunia yang memiliki letusan paling destruktif dan dekat dengan populasi banyak penduduk.

Dari catatan sejarah, Merapi meletus sebanyak 68 kali sejak tahun 1548. Dengan letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan besar gunung ini terjadi antara lain pada tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Bahkan, letusan tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Sementara tahun 1930, letusan Merapi menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.370 orang.

***

Hingga Selasa petang, desa Kinahrejo masih baik-baik saja. Kendati sejak sehari sebelumnya, pemerintah telah menaikkan status Merapi dari ‘Siaga’ menjadi ‘Awas, namun saat itu beberapa warga tetap bertahan dan masih melakukan shalat Maghrib berjamaah di masjid.

Kerabat dekat Mbah Maridjan Agus Wiyarto, Yuniawan, dan Tutur, baru saja tiba di kediaman Mbah Maridjan. Wawan – panggilan Yuniawan, memang telah membuat janji dengan Agus untuk mewawancarai pria yang menjadi juru kunci Merapi sejak 1982 itu untuk tugas peliputan Sorot VIVAnews.

Di rumah itu, keduanya sempat ditemui Mbah Maridjan. Menurut penuturan Agus, mereka belum sempat berbicara banyak. Namun, sesuatu hal yang tak biasa, Mbah Maridjan bersedia duduk dengan santai di satu kursi dengan Wawan.

Biasanya, Mbah Maridjan tak mau duduk samping-menyamping di kursi panjang, dengan tamunya. Dia selalu berhadapan dengan tamu, agar seolah-olah tidak dianggap mengenyampingkan tamunya.

Mengetahui telah terjadi erupsi di bagian barat Merapi hingga sejauh 7 kilometer Agus kemudian mengajak Mbah Maridjan untuk turun ke pengungsian.”Orang-orang mau saya bawa si Mbah. Turun nggak?” Agus membujuk. Tapi Mbah Maridjan diam.

Tak lama kemudian sirene tanda bahaya berbunyi. Orang-orang segera diungsikan. Agus, Wawan, Tutur, keluarga Mbah Maridjan, dan warga sekitar, mengungsi menumpang dua mobil. Wawan berkali-kali mengulang keluhannya kepada Agus. “Harusnya saya bersama si Mbah.”

Mbah Maridjan memang menolak dievakuasi. Pada waktu Gunung Merapi meletus pada 2006, Mbah Maridjan juga tetap memilih bertahan, walau dibujuk langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sesampainya di tempat pengungsian, tiba-tiba muncul inisiatif untuk menjemput kembali Mbah Maridjan. “Pak saya mau jemput si Mbah,” kata Tutur Prijono kepada Agus. Agus sempat melarang, “kamu jangan sembrono, jangan gegabah.” Namun keinginan menjemput Mbah Maridjan begitu kuat. Agus tak bisa menahan Tutur dan Wawan kembali ke atas menumpang mobil Suzuki APV.

Di sela-sela upayanya menjemput Mbah Maridjan, Wawan sempat berkomunikasi dengan sahabatnya, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama Rinny Soegiyoharto. “Saya lagi di rumah Mbah Maridjan. Saya menunggu, dia lagi shalat,” kata Wawan kepada Rinny lewat ponselnya, pada pukul 18.29 WIB.

Kepada Rinny, Wawan sempat menceritakan harapannya agar Mbah Maridjan mau ikut mengungsi seusainya ibadah shalat. Rinny pun mengingatkan agar Wawan berhati-hati. Sebab, di ujung telepon ia mendengar bunyi sirene meraung-raung.

Sesaat kemudian, dari telepon Rinny mendengar suara “Aduh, aduh, ada api, ada api.” Kemudian telepon terputus. Rupanya itu adalah suara terakhir Wawan yang terdengar. Berulang kali ia dihubungi, tak pernah tersambung.

***

Sehari sebelum Merapi meletus, Mbah Maridjan sempat berkata bahwa ia masih kerasan dan betah tinggal di kampungnya. “Kalau ditinggal nanti siapa yang mengurus tempat ini?”

Pada suatu kesempatan di tahun 2006, Mbah Maridjan juga mengatakan bahwa setiap orang punya tugas sendiri-sendiri. “Wartawan, tentara, polisi punya tugas. Saya juga punya tugas untuk tetap di sini,” kata dia.

Yang Mbah Maridjan tahu, ia musti menunaikan janjinya kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang mengangkatnya sebagai juru kunci, untuk merawat Merapi.

Totalitas yang sama, kurang lebih juga diperlihatkan Wawan dalam menunaikan tugasnya sebagai seorang jurnalis sekaligus memenuhi naluri kemanusiaannya. (hs)
Laporan: KDW dan Fajar Sodiq | Yogyakarta
Sumber : Viva News

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Survei: Orangtua Tak Mau Anaknya Jadi Anggota DPR

    Survei: Orangtua Tak Mau Anaknya Jadi Anggota DPR

    • calendar_month Senin, 19 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO)- Dahulu, kebanyakan orangtua menginginkan anaknya menjadi pejabat, salah satunya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Namun, sekarang, keadaannya berbalik. Mayoritas orangtua tak ingin anaknya menjadi anggota Dewan. Hal itu terungkap dalam survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipaparkan oleh peneliti LSI Rully Akbar, di Kantor LSI di Jakarta, Minggu (18/11/2012). Survei ini dilakukan 12-15 […]

  • Pemkab Sergai Terima 350 CPNS

    Pemkab Sergai Terima 350 CPNS

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai menerima 350 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang terdiri dari 130 tenaga guru, 95 tenaga kesehatan dan 125 tenaga teknis. Demikian Kepala BKD Pemkab Sergai Drs H Ahmad Zaki MAP melalui Plt.Kabag Humasy Sergai Drs Rachmad Karo-Karo kepada wartawan, Senin (15/11) di ruang kerjanya. Jumlah tenaga guru yang diterima meliputi guru […]

  • Korban Hanyut Belum Ditemukan, Banjir Bandang Terjadi di 3 Ruas Sungai

    Korban Hanyut Belum Ditemukan, Banjir Bandang Terjadi di 3 Ruas Sungai

    • calendar_month Rabu, 26 Apr 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Informasi yang diperoleh dari kepala Desa Huta Dangka, setidaknya 4 rumah rusak berat dan belasan lainnya dipadati lumpur akibat banjir bandang yang terjadi Rabu sore. Banjir bandang terjadi pada 3 ruas  sungai di Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal, Rabu (16/4/2017) sekira pukul 15.15 WIB. Ketiga ruas sungai itu adalah Sungai Aek Sampuran, […]

  • Penyerangan Harian Orbit

    Penyerangan Harian Orbit

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PENYERANGAN HARIAN ORBIT – Sejumlah karyawan Harian Orbit berada di kantor mereka pasca penyerangan yang dilakukan orang tidak dikenal terhadap kantor surat kabar tersebut, Medan, Sumut, Rabu (4/5). Kantor Harian itu diserang belasan orang diduga terkait pemberitaan yang diterbitkan dan mengakibatkan sejumlah peralatan rusak. sumber: Eksposnews

  • Pembangunan Bandara Madina Tahun 2014

    Pembangunan Bandara Madina Tahun 2014

    • calendar_month Senin, 24 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pembangunan fisik bandar udara Madina di Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) diproyeksikan dibangun tahun 2014. Pemkab Madina saat ini tengah melobi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk menyerahkan lahan yang dibutuhkan bagi landasan pacu bandar udara di Kecamatan Bukit Malintang. Lahan yang diproyeksi untuk landasan pacu itu merupakan inventaris Dinas […]

  • Kemuliaan Bulan Rajab

    Kemuliaan Bulan Rajab

    • calendar_month Jumat, 11 Feb 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Allah SWT telah menetapkan empat bulan utama sebagai bulan haram (bulan yang dimuliakan). Di dalam bulan-bulan tersebut Allah SWT menetapkan kemuliaan dan kehormatan yang wajib dijaga. Allah SWT berfirman: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ […]

expand_less