Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Kritik Marx Terhadap Penyelenggaraan Pemilu Raya Mahasiswa UIN Jakarta

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Mar 2019
  • print Cetak

Oleh : AGUSTIAR HARIRI LUBIS
Mantum Himpunan Mahaiswa Mandailing Natal Jakarta Periode 2017-2018

 

Karl Marx, tanpa perlu dipertanyakan lagi pemikiran canggihnya yang masih dipergunakan sampai sekarang, pastinya, Aktivis mahasiswa mengetahui apa dan bagaimana pemikiran Karl Marx yang tertuang dalam DAS KAPITAL sehingga mampu mempengaruhi kehidupan sosial disetiap sudut bumi, termasuk kehidupan sosial di pojok Ciputat.

Pemikiran Marx dirancang khusus untuk menganalisa aktivitas kapitalis sehingga dapat memprediksi kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada kehidupan sosial kaum proletar. Pengetahuan berharga itu akan dibahas dalam tulisan ini melalui langkah rektorat dalam melakukan eksploitasi terbesar terhadap kepentingan mahasiswa UIN Jakarta yaitu, PEMIRA.

Sebelum masuk kedalam konteks eksploitasi yang telah disebutkan, guna menyadarkan kaum proletar pinggiran Ciputat, pembahasan ini akan dimulai dari pernyataan Aristo yang menyebutkan bahwa manusia adalah Zoon Politicon. Mahasiswa UIN Jakarta tidak akan bisa hidup jika dia hanya sendirian, dia tidak akan mampu bertahan, tidak akan bisa berdialektika jika dia tidak bergabung dengan sesamanya. Satu sama lain saling membutuhkan. Kesatuan antar individu tersebut merupakan Politicon yang dapat dimanifestasikan kedalam suatu bentuk yang disebut sebagai Power.

Kemudian disebabkan Power dari Zoon Politicon itu sangatlah istimewa, sehingga jika disalahgunakan dapat menimbulkan konflik dan malapetaka besar-besaran, maka Marx melalui Social Conflict Theory mengkualifikasikan Zoon Politicon kedalam dua kelompok, yaitu kaum atas dan kaum bawah, kaum borjuis dan kaum proletariat, kaum rektorat dan kaum mahasiswa. Dalam sejarah perjuangan kelas, kelompok-kelompok yang menyadari bahwa posisinya berada pada kaum proletar, dengan sadar melakukan berbagai macam aksi terhadap kaum borjuis.

Konflik antarkelas inilah yang kemudian melahirkan perubahan. Sayangnya, mahasiswa UIN Jakarta tidak mengetahui dan tidak sadar akan keberadannya dalam posisi yang sedang tereksploitasi, sehingga bukan pergejolakan konflik yang melahirkan perubahan, bukan juga mahasiswa UIN Jakarta, tetapi kaum rektorat dengan E-votingnya. Maka semboyan yang cocok untuk saat ini adalah Rectors are Agent of Change.

Secara historis, PEMIRA selalu dilaksanakan secara langsung tanpa online dengan prinsip terbuka, berkepastian hukum, jujur, adil, profesional, efektif, dan efisien. Rektorat dalam memenuhi dan memfasilitasi hak-hak mahasiswa UIN Jakarta menyalurkan dana dan menyediakan sarana dalam mensukseskan kegiatan PEMIRA. Kali ini, untuk pertama kalinya babak baru dimulai.

PEMIRA menggunakan mekanisme E-voting, dengan dalih menghindari keributan mahasiswa, memudahkan proses pemilihan, dan alibi-alibi lainnya yang tidak berkualitas. PEMIRA kali ini merupakan sebuah intervensi kaum borjuis terhadap hak kaum proletar. Kaum borjuis terlalu jauh melangkah sehingga terjadi offside karena melewati garis batas “memfasilitasi PEMIRA” yang menyebabkan terjadinya “intervensi PEMIRA”. Sedangkan pihak-pihak kaum proletar yang sudah dipilih dan berada diatas awang-awang serta bertanggungjawab dalam PEMIRA, selalu manut dan patuh terhadap perkataan kaum borjuis, layaknya tuan dan budak. Mungkin karena ketidaktahuannya, atau ketidakmampuannya, atau mungkin karena ketidakmautahuannya.

E-voting untuk pertama kalinya dilaksanakan tanpa regulasi sehingga menjadikan PEMIRA dimata hukum sebagai suatu kegiatan yang ilegal. Konsekuensi logis dari PEMIRA ilegal adalah calon-calon yang terpilih batal demi hukum. E-voting tanpa regulasi, tanpa infrastruktur yang mendukung, dan tanpa mekanisme serta sistem yang bagus tetap bersikeras untuk dilaksanakan, maka akan berdampak pada prinsip-prinsip PEMIRA yang tidak akan terpenuhi.

Jika dikarenakan hal-hal teknis suatu prinsip tidak dipenuhi, maka penyelenggaran kegiatan tersebut cacat moral dan cacat hukum. Kaum borjuis dalam hal ini mengintervensi hak kaum proletar melalui E-voting, mengambil alih kewenangan KPU melalui Pustipanda, kemudian tidak bertanggungjawab terhadap masalah-masalah yang muncul seperti akun seseorang dari kaum proletar dibobol oleh orang lain, dan pembobol tersebut memilih calon yang bukan pilihan dari kaum proletar.

Terlihat jelas melalui kacamata Marx, bahwa kaum borjuis benar-benar tidak ingin melaksanakan kegiatan ini dan tidak ingin menyia-nyiakan kekayaannya terhadap hak-hak kaum proletar dalam hal apapun termasuk PEMIRA. Sehingga anggaran dana PEMIRA yang seharusnya diberikan kepada kaum proletar, dirancang sebaik mungkin oleh kaum borjuis agar anggaran tersebut tidak pernah lagi dikeluarkan, itulah E-voting, itulah eksploitasi yang sedang dilancarkan.

Pertanyaan yang muncul kemudian, kemana perginya anggaran dana yang seharusnya menjadi hak kaum proletar itu dihabiskan? Apakah anggaran dana itu diambil alih oleh kaum borjuis tanpa ada persetujuan dari kaum proletar? Apakah anggaran dana itu telah digunakan oleh kaum borjuis dan dibayarkan kepada oknum terlebih dahulu jauh-jauh hari sebelum PEMIRA dilaksanakan agar posisi kaum borjuis dapat diamankan di Kementerian Agama? Tidak ada lidah kaum borjuis yang dapat dipercaya. Satu-satunya yang bisa meyakinkan kaum proletariat adalah bukti transparansi anggaran dana.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aparat Didesak Analisa Mengapa Vihara jadi Target Bom

    Aparat Didesak Analisa Mengapa Vihara jadi Target Bom

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA, – Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengatakan, pihak Kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus segera menganalisa bom di Vihara Ekayana, Kebon Jeruk. Menurut Hasanuddin, penyelidikan kasus itu harus fokus terhadap dua hal yakni sasaran dan lokasi bom. “Mengapa yang jadi target justru Vihara Ekayana di Kebon Jeruk? Bukankah ada Vihara […]

  • Dugaan Pencatutan Nama Organisasi, PC PMII Madina Angkat Bicara

    Dugaan Pencatutan Nama Organisasi, PC PMII Madina Angkat Bicara

    • calendar_month Rabu, 12 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online)- Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyoal tentang legitimasi kegiatan dan angkat suara terkait kegiatan yang diselenggarakan oleh Cipayung Plus di Aula Ballroom Ladang Sari, Gunung Tua Panggorengan, Senin 10 Juli 2023 lalu. Hal itu disampaikan Ahmad Rizal Nasution selaku Ketua PC PMII Madina kepada awak media […]

  • Bupati Madina Safari Jumat di Masjid Al-Abror Simangambat

    Bupati Madina Safari Jumat di Masjid Al-Abror Simangambat

    • calendar_month Jumat, 5 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

      SIMANGAMBAT (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal H. M. Ja’far Sukhairi Nasution melakukan Safari Jumat kali ini di Masjid Al-Abror Desa Simangambat, Siabu. Seperti biasa, selain melaksanakan salat Jumat, Bupati Sukhairi juga memberikan bantuan untuk kemakmuran masjid.   Peliput: Jakfar Nasution

  • Advokad Senior M.Amin Nasution: Tindakan Kades Jambur Baru Duduki “Moral Hazard”

    Advokad Senior M.Amin Nasution: Tindakan Kades Jambur Baru Duduki “Moral Hazard”

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Jakarta ||Mandailing Online – Advokat Senior ,M. Amin Nasution, SH, MH, menyatakan bahwa tindakan Kepala Desa Jambur Baru, Riswan Haedy, yang diduga merusak jalan atau aset daerah untuk memuluskan Dana Desa APBDes 2024/2025, tergolong ” Moral Hazard” “Tindakan itu sangat merusak tatanan sistem pemerintahan desa, terutama tata kelola pemerintahan desa,” kata Mod. Amin Nasution Jum’at […]

  • REKAM JEJAK (LINTAS SEJARAH) KEDAULATAN KERAJAAN “MARGA NASUTION” DI MANDAILING GODANG

    REKAM JEJAK (LINTAS SEJARAH) KEDAULATAN KERAJAAN “MARGA NASUTION” DI MANDAILING GODANG

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    1. Pada abad ke X Arkeologi memperkirakan bangsa Hindu (Hindia Belakang masuk e wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan (Termasuk Mandailing Natal saat ini) yang berpusat di 3 daerah sebagai bukti sejarah yaitu adanya candi bahal diportibi, biara dipijor koling, serta biara dipidoli dan artepak disimangambat (Mandailing Godang) dari polulasi masyarakat Hindu inilah beranak pinak dan berkembang […]

  • Penduduk Madina Rata-rata Tamatan SMP

    Penduduk Madina Rata-rata Tamatan SMP

    • calendar_month Jumat, 17 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rata-rata tingkat pendidikan penduduk Mandailing Natal (Madina) masih SMP. Sementara dari sisi IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Madina masih rendah, yakni peringkat 28 dari 34 jumlah total kabupaten/kota di Sumatera Utara. Itu diungkap Ketua Dewan Pendidikan Madina (DPM), Muswaruddin Daulay di acara tausiah kepada para kepala sekolah se-Madina di halaman Dinas Pendidikan […]

expand_less