Minggu, 1 Mar 2026
light_mode

Lynette Wehner: Alquran Seperti Ditulis Untukku

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 26 Nov 2013
  • print Cetak

Kisah Lynette Wehner memeluk Islam bermula ketika ia bekerja di sebuah sekolah Islam. Sikap profesionalnya itu menafikan kekhawatiran keluarganya. “Anda pasti akan menjadi Muslim,” ungkap Wehner, menirukan pandangan mertuanya, seperti dilansir onislam.net, Senin (25/11).

Perkataan mertuannya itu memang membekas dipikirannya. Namun, ia tidak memungkiri memiliki sebuah kelas lebih penting ketimbang harus khawatir soal mertuannya. Sejak lama, Wehner inigin menjadi guru. Ia ingin memiliki kelas, tempat dia mendidik anak-anak.

“Kenakan jilbab dan berpakaian Islami memang hal yang asing. Yang saya pikirkan saat itu adalah, saya orang yang terbuka dengan apapun, dan bertekad ini akan menjadi pengalaman berharga bagi saya,” ucapnya.

Di hari pertama, semua berjalan lancar. Sikap gugup Wahner mencari ketika teman-teman sesama guru menciptakan suasana yang nyaman bagi Wehner. Sikap temannya inilah yang membekas di hati Wehner. “Saya pikir seorang Muslim itu kaku, tegas dan serius. Nyatanya, mereka terlihat santai. Jadi, selama ini stereotip yang berkembang itu tidak benar,” ucapnya.

Tak terasa, sudah setahun Wehner mengabdi. Tidak ada tekanan apalagi intimidasi. Wehner justru semakin menikmati, jauh lebih menikmati ketimbang ia dalam lingkungan gereja. “Yang membuat saya heran itu, mengapa anak didik saya sendiri, yang Muslim, tahu cerita-cerita di Injil. Lalu mereka mulai banyak bertanya soal agamaku,” ucapnya.

Wehner memang besar dalam tradisi Katolik. Namun, ia tidak merasa nyaman dengan itu. Itu sebabnya, banyak hal dilakukannya guna memberikan rasa nyaman ketika berkomunikasi dengan Tuhan. Ia ingin hatinya merasakan kehadiran Tuhan.

Sejak menjadi guru di sekolah Islam itulah, dan mendapatkan banyak pertanyaan tentang ajaran Kristen, mendorong Wehner lebih dalam mempelajari agamanya. Di luar itu, Wehner mulai membaca buku-buku tentang Islam yang ditinggalkan anak didiknya.

Mulailah Wehner bertanya tentang ajaran Islam kepada guru-guru lain. Dialog diantara Wehner dan temannya berlangsung intensif dan mendalam. Wehner begitu bersemangat menemukan banyak hal baru dalam Islam dan Muslim.

“Saya mulai membaca Alquran. Memang ini tidak membuat nyaman keluarga saya,” ucapnya.

Ketika membaca Alquran, Wehner begitu takjub, Bibirnya gemetar, tubuhnya mengigil. “Apa yang dituliskan seperti untuk saya. Saya menangis. Namun, ada yang menghambat saya menerimanya dalam hati,” ucap dia.

Bertahun-tahun membaca dan berdiskusi dengan banyak orang. Pada akhirnya, Wehner tak bisa menahan diri. Ia pergi ke kamar anaknya, lalu ia berdoa kepada Allah. “Untuk kali pertama, saya tidak berdoa kepada Yesus. Ini membuat saya sempat khawatir apakah telah melakukan hal yang benar. Saya takut Yesus marah kepada saya,” ucapnya.

“Saya hanya bisa menangis setelah itu. Saya belum pernah merasa dekat dengan Tuhan. Tapi Alhamdulillah, keputusan saya sudah bulat dan saya menjadi Muslim, Alhamdulillah,” kata dia.(rmol)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pandemi dan Momentum Kebangkitan Herbal Indonesia

    Pandemi dan Momentum Kebangkitan Herbal Indonesia

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Rio Ardi Mahasiswa Magister Kehutanan Universitas Sumatera Utara   Sudah lebih dua bulan sejak pemerintah Indonesia menyatakan Indonesia darurat corona. Dampaknya langsung terasa. Berbagai perlengkapan medis seperti masker kesehatan, hand sanitizer langka di pasaran. Masker Kesehatan, jika ditemukanpun harganya melonjak menjadi tiga kali lipat dibanding harga normal. Hand sanitizer juga demikian mendadak hilang […]

  • Arsidin Batubara: Partisipasi Pelaku UMKM Penting dalam Pembangunan

    Arsidin Batubara: Partisipasi Pelaku UMKM Penting dalam Pembangunan

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggota Komisi III DPRD Mandailing Natal (Madina) Arsidin Batubara menilai partisipasi pelaku UMKM penting dalam menunjang pembangunan daerah. Hal itu disampaikan Arsidin saat menjadi nara sumber pada Sosialisasi Kebijakan Penanaman Modal dan Kemitraan Berusaha yang diselenggarakan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Madina di aula Hotel Rindang, […]

  • Lagi, Mitra Manindo Bedah Rumah Warga

    Lagi, Mitra Manindo Bedah Rumah Warga

    • calendar_month Senin, 24 Okt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Koperasi Mitra Manindo (KMM) kembali melakukan bedah rumah milik warga. Rumah yang dibedah adalah milik Sahronia, warga Lingkungan V, Kelurahan Siabu, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Peletakan batu pertama berlangsung Senin (24/10/2022). Sahronia anggota KMM. Ia menjadi anggota sejak tahun 2014 lalu hingga saat ini. Berdasarkan proses […]

  • Tortor Somba Dipromosikan ke Belanda

    Tortor Somba Dipromosikan ke Belanda

    • calendar_month Kamis, 28 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Tarian Tortor Somba khas Tapsel dipromosikan hingga ke Belanda. Promosi ini dilakukan oleh biro perjalanan yang ada di negara Kincir Angin tersebut bekerja sama dengan Tor Sibohi Nauli Hotel Sipirok. Direktur Tor Sibohi Nauli (TSN) Hotel H Yuriandi Siregar melalui Manajer Hotel Darwis Nasution, kepada METRO, Rabu (27/4) mengatakan, upaya promosi tarian Tortor Somba […]

  • Salman Rais Mundur dari Jabatan Ketua BMI Madina

    Salman Rais Mundur dari Jabatan Ketua BMI Madina

    • calendar_month Jumat, 4 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Muhammad Salman Rais, S.Sos menyatakan mengundurkan diri dari anggota sekaligus ketua DPC Banteng Muda Indonesia (BMI) Kabupaten Mandailing Natal. “Surat tersebut telah saya sampaikan langsung ke sekretariat DPC PDIP Kabupaten Mandailing Natal, Jl. Willeam Iskander, Dalan Lidang, Panyabungan,” katanya, Kamis (4/10/2024) di Panyabungan. “Alasan saya mengundurkan diri adalah saat ini saya […]

  • KEMAUAN MENUNTASKAN POLEMIK

    KEMAUAN MENUNTASKAN POLEMIK

    • calendar_month Minggu, 16 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Di triwulan pertama 2013 dua hal yang yang bisa dicatat di Madina. Pertama penghentian sementara aktivitas PTPN IV. Kedua peristiwa amuk massa di Naga Juang terkait tambang rakyat. Meski tak terkait, benang merahnya ada. Yakni, dilema antara kenyamanan investor dan melindungi rakyat. Pemerintah daerah tentu harus mampu berada di antara kedua kutup ini. PTPN IV […]

expand_less