Minggu, 19 Apr 2026
light_mode

Majalah Charlie Hebdo Kembali Bikin Heboh, Bukti Demokrasi Barat Itu Bobrok!

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Pencetakan ulang kartun Nabi Muhammad oleh majalah Prancis, Charlie Hebdo, menuai kecaman dari puluhan ribu orang di seluruh Pakistan.

Dalam aksi protes, Jumat (4/9/2020), warga Pakistan menyerukan boikot produk dari Prancis. Aksi protes itu digagas oleh partai islam garis keras Pakistan, Tehreek-e-Laibak Pakistan (TLP). Selain di Karachi, kota terbesar di negara itu, aksi serupa juga berlangsung di Rawalpindi, Peshawar, Lahore dan Dera Ismail Khan.

Demo besar itu melumpuhkan lalu lintas kota Karachi, pusat keuangan dan bisnis Pakistan. Demonstran membawa poster yang bertuliskan kecaman terhadap pembuatan ulang kartun Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo serta meneriakkan “Matilah Prancis”. Tak sedikit demonstran yang menyerukan agar pembuat kartun Nabi Muhammad, yang dinilai sebagai bentuk penistaan agama, harus dihukum mati.

Pemerintah Pakistan juga mengutuk pencetakan ulang kartun tersebut. Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mehmood Qureshi mengatakan Pakistan percaya pada kebebasan berekspresi tetapi kebebasan semacam itu tidak berarti izin menyinggung sentimen agama.

Awal pekan ini, Charlie Hebdo–majalah satir mingguan Prancis–mencetak ulang kartun Nabi Muhammad untuk menandai dimulainya persidangan terhadap para tersangka serangan di kantor majalah itu pada Januari 2015. (gelora.co. Jumat 04/09) 2020).

Kafir Barat terus menunjukkan taringnya kepada ummat Islam. Mereka tidak gentar melakukan pelecehan terhadap ajaran Islam.

Hal senada setiap tahunnya punya cerita yang menghebohkan dunia. Di satu sisi, berita ini sangat bergengsi. Di sisi lain menyedihkan ummat dan mengoyak-ngoyak perasaan. Tetapi, kemanakah ummat akan mengadukan semua ini? Adakah yang mampu mendengar jeritan kesedihan ummat saat agamanya diinjak-injak? Jawabannya tidak untuk saat ini. Karena tidak ada satu negeri muslim pun yang berani menyerang negara kafir harb seperti Prancis yang nyata menghina Islam.

Memang benar, tidak semuanya diam dan menahan diri melihat penghinaan tersebut. Seperti yang dicontohkan oleh Pakistan, mendatangi kedubes Prancis dan menuntut agar majalah Charlie Hebdo ditutup dan pelakunya dihukum mati. Andaipun suara mereka diabaikan, tetapi sebagai kaum muslimin yang memiliki su’ur Islam tinggi, warga muslim Pakistan telah menunaikan kewajiban membela agama Allah. Setidaknya, keimanan mereka telah terlihat dalam bentuk pembelaan kepada kemuliaan Nabi Muhammad SAW yang dilecehkan oleh majalah Prancis, Charlie Hebdo.

Majalah Charlie Hebdo bukan pertama kali menghina Nabi SAW. Beberapa tahun silam Charlie Hebdo juga pernah melakukan hal yang sama dan banyak menuai kecaman. Pedihnya, mereka yang membela Nabinya dengan menyerang kantor Charlie Hebdo dilaporkan sebagai aksi terorisme. Dan permainan pun berubah arah. Majalah Charlie Hebdo diposisikan sebagai korban dan orang-orang yang membela Islam jadi tersangka. Banyak dunia memberikan simpatik kepada tragedi majalah Charlie Hebdo. Dan bukan hanya dari pemimpin negara-negara Barat kapitalis, bahkan pemimpin negeri muslim juga turut membela pelecehan tersebut.

Kini, Charlie Hebdo menciptakan kehebohan lagi dengan membuat karikatur penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun berita ini terlihat tidak terlalu muncul di permukaan. Sebab peristiwa yang terjadi di Switzerland dan Norwegia masih menjadi topik hangat. Pelecehan oleh majalah Charlie Hebdo akhirnya tidak mendapatkan porsi perhatian yang sama dengan kasus Norwegia. Padahal, sama-sama menunjukkan aksi kebencian terhadap Islam.

Sebagaimana yang terjadi di Norwegia, kasus pelecehan Nabi Muhammad SAW berbentuk karikatur juga dibela atas nama ” The freedom “. Kebebasan berekspresi yang dijunjung tinggi oleh HAM barat menjadikan penghinaan dan pelecehan merajalela. Atas nama kebebasan dan hak asasi, ekspresi apapun bebas dilakukan dan mendapatkan jaminan oleh negara. Sehingga sangat sulit untuk menuntut keadilan dan hukuman yang membuat jera para pelakunya.

Tidak akan ada hukuman bagi pelaku yang mengatasnamakan haknya dihadapan sistem pemerintahan Demokrasi Barat. Sekelas kekuatan negara saja,misalnya Pakistan dan Indonesia sebagai mayoritas muslim di dunia, paling keras hanya mampu melontarkan” kutukan dan kecaman”. Dan jika sudah mengutuk dan mengecam, apakah mampu menghentikan kebencian kafir Barat terhadap Islam? Tentu tidak. Butuh suatu kekuatan politik yang mampu menghentikan penghinaan dan membuat Barat seperti Prancis tidak bernyali untuk mengulanginya.

Kebencian kaum kafir Barat terhadap Islam dan Kaum muslimin adalah fakta yang tidak terbantahkan. Dan hal tersebut telah dikabarkan oleh Allah SWT dalam Surat Ali Imran Ayat 118: Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118)

Sebenarnya Islam memiliki sanksi (punishment) yang tegas terhadap orang-orang kafir yang nyata memusuhi dan menghina Islam. Seorang Khalifah akan memberikan waktu bagi pelaku terlebih dahulu untuk menyesali perbuatannya dan meminta maaf atau siap diperangi. Karena jika penghinaan itu mewakili ideologi negaranya, maka Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah punya Otoritas untuk memeranginya atas nama Jihad. Jika pelakunya adalah kafir dzimmah yang menjadi warga dalam negara Islam, maka darahnya halal untuk ditumpahkan. Sebab ia dengan nyata dan terbuka mengekspresikan kebenciannya, apalagi sampai mengumpulkan massa. Jika sanksi tegas diberlakukan, tidak akan ada yang berani dengan mudah untuk melecehkan Islam dan kaum muslimin.

Sudah saatnya kaum muslimin sadar sepenuhnya, bahwa kebutuhan akan satu institusi negara yang menerapkan hukum Islam sangatlah mendesak disamping sebagai kewajiban seluruh ummat Islam. Dengan adanya negara sebagai benteng danl perisai, maka pelaku penghinaan akan dihukum berat bahkan bisa saja hukuman mati hukuman mati seperti yang diinginkan Masy Pakistan. Dengan demikian, kemuliaan, ketinggian dan wibawa Islam dan kaum muslimin akan tampak nyata dan dipegang musuh-musuh Allah. InsyaAllah. Wallahu a’lam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tekan Inflasi Gubsu Salurkan Saprodi ke Petani

    Tekan Inflasi Gubsu Salurkan Saprodi ke Petani

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Guna menekan inflasi, 10 kelompok tani yang tersebar di 23 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mendapat perhatian khusus dari Pj. Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Agus Fatoni. Perhatian itu diwujudkan dengan pemberian bantuan bibit bawang merah, pupuk organik, dan pupuk cair. Bantuan tersebut diserahkan secara langsung oleh Adri Nasution dari Dinas […]

  • Dua Mahasiswa dari Mandailing Natal Diwisuda di Yaman

    Dua Mahasiswa dari Mandailing Natal Diwisuda di Yaman

    • calendar_month Jumat, 31 Mei 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TARIM, YAMAN (Mandailing Online) – Dua Mahasiswa dari Mandailing Natal, Sumatera Utara diwisuda di Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman, Kamis (30/05/24). Kedua mahasiswa itu adalah Ahmad Raja Azani Nasution, berasal dari Desa Roburan Lombang, Kecamatan Panyabungan Selatan. Ia juga merupakan Ketua IPSU (Ikatan Pelajara Sumatera Utara) di Yaman pada tahun lalu. Dan merupakan alumnus Pesantren […]

  • Kasus Tapsel, Kejatisu tetap ‘fair’

    Kasus Tapsel, Kejatisu tetap ‘fair’

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    .MEDAN – Surat izin pemeriksaan terhadap Walikota Medan, Rahudman Harahap menuai asumsi negatif terhadap kinerja Kejaksaaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu). Hal ini karena surat yang dilayangkan Kejatisu kepada Kejaksaan Agung (Kejagung) dikembalikan karena belum lengkap. Insiden ini mengindikasikan jika surat yang dikirim oleh Kejatisu terkesan asal jadi, sehingga prosedur dalam surat tersebut tidak terpenuhi. Selain […]

  • Pengelolaan keuangan BLUD disosialisasikan

    Pengelolaan keuangan BLUD disosialisasikan

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Dalam upaya membantu rumah sakit guna meningkatkan pengelolaan keuangannya, terutama dalam percepatan penyusunan laporan keuangan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Sumut, mengggelar sosialisasi sistem informasi (SIA) Badan layanan umum Daerah (BLUD) rumah sakit se -Sumut di Medan, kemarin. Acara yang dibuka Plt Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera […]

  • Naposo Bulung Kota Siantar Tanyakan Rekomendasi PKB

    Naposo Bulung Kota Siantar Tanyakan Rekomendasi PKB

    • calendar_month Rabu, 2 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kalangan Naposo Bulung Kelurahan Kota Siantar Kecamatan Panyabungan mendatangi kantor DPC PKB Mandailing Natal (Madina), Selasa (1/11) mendesak pelantikan anggota DPRD  Madina dari PKB. Sebab, sudah lebih setahun pihak DPC Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Madina enggan merekomendasi persetujuan pengangkatan kadernya mengisi kursi kosong DPRD Madina setelah ditinggalkan Jakfar Sukhairi Nasution. Pengisian […]

  • Cetak Sawah di Huraba Segera Dimulai

    Cetak Sawah di Huraba Segera Dimulai

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Pencetakan sawah di Mandailing Natal kembali dilaksanakan. Tetapi, apakah masih akan berakhir ke ranah penyidik kepolisian karena dugaan penyelewengan dana seperti beberapa tahun lalu? Bisa iya, bisa tidak. Sebab, untuk tahun 2016 ini Dinas Pertanian Mandailing Natal (Madina) tak lagi sendiri, karena yang melaksnakan pencetakan di lapangan adalah pihak TNI bekerjasama […]

expand_less