Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Masa Muda Rasululloh dan Tetes Keringat Buruh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2020
  • print Cetak

 

Oleh : Ivan Aulia Hasan

Hampir tidak ada riwayat dari sumber-sumber tradisional yang secara lengkap menggambarkan masa muda Nabi Muhammad. Kita memang mengetahui masa kecilnya sejak lahir hingga berusia kira-kira 8 tahun ketika ia mulai diasuh pamannya, Abu Talib bin Abdul Mutalib. Tapi periode setelah itu, di umur sekitar 12-20 tahun, gambaran yang kita dapatkan hanya sepotong-sepotong.

Pada periode tersebut ia dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Abu Talib. Sang paman menyayangi keponakannya yang yatim piatu itu seperti anak kandung sendiri.

Muhammad kecil pernah diajak pamannya berniaga hingga Syam (Siria). Kisah-kisah Nabi Muhammad hasil kompilasi sejarawan Persia Abu Ja’far al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk yang disusun pada abad ke-10 mengisahkan bahwa dalam suatu pemberhentian di Busra, seorang pendeta Kristen Nestorian bernama Bukhaira melihat tanda-tanda khusus pada diri Muhammad. Bukhaira meramalkan Muhammad kelak akan menjadi nabi dan meminta Abu Talib untuk melindungi keponakannya.

Riwayat-riwayat menyebutkan pula bahwa Nabi Muhammad tumbuh sebagai remaja tampan yang rendah hati. Tapi bukan keistimewaannya. Ia dikenal seantero Makkah sebagai pemuda jujur yang bisa dipercaya siapapun. Dari kualitas pribadi macam itulah kemudian muncul panggilan “al-amin” untuknya. Julukan tersebut bermakna “ia yang bisa dipercaya”.

Abu Talib memiliki delapan anak kandung. Ditambah satu keponakannya, berarti ia harus bertanggung jawab untuk memberi nafkah sembilan anak. Ini barangkali agak berat baginya sebab ia bukan orang yang kaya raya.

Karena itu, ketika Muhammad sudah cukup umur untuk bekerja, ia merasa harus membantu meringankan beban pamannya. Di masa itu salah satu harta paling berharga dari klan-klan di Makkah adalah kepemilikan kambing. Para pemilik kambing butuh penggembala agar hewan ternak mereka bisa memperoleh rumput dengan teratur. Anggota-anggota klan lazimnya mempekerjakan anak muda untuk menggembalakan kambing-kambing itu.

Muhammad kemudian menjadi seorang penggembala yang merawat kambing-kambing baik milik keluarganya maupun milik keluarga lain. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan upah sekadarnya. Upah yang ia peroleh kemudian diserahkan kepada pamannya. Abu Talib sangat bersyukur mempunyai keponakan yang baik hati.

Salah satu biografer Nabi Muhammad dari zaman modern yang secara agak dramatis menceritakan periode penggembalaan ini adalah Muhammad Husain Haekal. Dalam Sejarah Hidup Muhammad (pertama kali diterbitkan di Mesir pada 1935), Haekal mengisahkan babak kehidupan tersebut dengan penuh romantisme.

“Pada siang hari, di tengah udara dan suasana yang agak bebas, serta di bawah paparan sinar matahari, dan di malam hari ditemani kemilau bintang-bintang, penggembala kambing berhati suci itu menemukan tempat yang tepat untuk berpikir dan merenung. Muhammad menerawang jauh di tengah suasana alam seperti itu dan berharap dapat melihat sesuatu di balik semua itu,” urai Haekal (hlm. 140).

Interpretasi Haekal mengarah kepada gagasan bahwa Nabi Muhammad mulai merenungi secara mendalam hal-hal ketuhanan, tanda-tanda alam, dan spiritualitas ketika ia menggembalakan kambing. Haekal juga mencatat Nabi Muhammad selalu berbangga dengan pekerjaannya sebagai penggembala.

“Musa diutus, dan dia adalah penggembala kambing. Daud diutus, dan ia adalah penggembala kambing. Aku diutus, dan aku juga seorang penggembala kambing,” ujar sang Nabi dalam sebuah hadis.

Bekerja Untuk Khadizah

Ketika usia Muhammad semakin dewasa, ia tampaknya harus mencari pekerjaan lain yang bisa mendatangkan upah lebih besar. Bagaimanapun, kebutuhan keluarga Abu Talib semakin bertambah.

Secara kebetulan, ketika Muhammad sedang mencari profesi baru, seorang saudagar kaya Makkah tengah membutuhkan pekerja. Khadijah, saudagar itu, adalah pemilik usaha perdagangan kain yang menjual barang-barangnya hingga ke kota-kota yang jauh. Ia sendiri tidak turun langsung sebagai kafilah. Khadijah mempekerjakan orang untuk berniaga.

Abu Talib mengenal saudagar itu dengan sangat baik sejak dahulu sebelum suami Khadijah meninggal. Abu Talib lalu mendatangi rumah Khadijah dan menawarkan kepadanya apakah ia bersedia menerima Muhammad bekerja.

Khadijah juga mengenal Muhammad. Perempuan itu tahu reputasi Muhammad sebagai al-amin dan menaruh respek kepadanya. Karena itu, ketika Abu Talib meminta upah dua kali lipat lebih tinggi untuk Muhammad, Khadijah tak menolaknya. Maka demikianlah, mulai saat itu Muhammad bekerja kepada Khadijah dan memperdagangkan kain-kainnya ke luar kota.

Tugas pertama Muhammad adalah berniaga ke Syam. Ia ditemani seorang budak perempuan bernama Maisaroh untuk membantunya selama perjalanan. Pekerjaan ini sukses besar. Dagangan milik Khadijah laku keras.

“Dengan kejujuran dan kecakapannya, Muhammad mampu menjalankan amanat Khadijah. Bahkan, beliau mampu mendapat keuntungan yang jauh lebih banyak daripada yang dilakukan orang lain yang pernah bekerja untuk Khadijah,” catat Haekal (hlm. 145).

Atas informasi dari Maisaroh, Khadijah mendengar betapa jujur Muhammad dalam berniaga. Orang-orang yang membeli dagangannya juga terkesan dengan kerendahan hati lelaki muda dari Makkah itu. Khadijah rupanya jatuh cinta kepada Muhammad, begitu pula sebaliknya. Mereka berdua kemudian menikah dan sisanya adalah sejarah.

Jika ditafsirkan dengan perspektif modern, hubungan kerja antara Khadijah dan Muhammad adalah relasi pemilik modal dengan buruh. Dalam sumber-sumber tradisional Islam memang tidak diceritakan apakah sistem kerja tersebut berupa pengupahan atau bagi hasil. Tapi yang jelas, Muhammad mendapatkan timbal balik atas pekerjaannya (dalam sebuah riwayat disebut berupa empat ekor unta).

Dalam konteks hubungan kerja itu, Muhammad hanya memiliki tenaga dan tidak menguasai alat-alat produksi; sementara Khadijah mempunyai kapital. Sehingga bisa dikatakan, saat itu Muhammad-si-pemilik-tenaga bekerja untuk Khadijah-si-pemilik-modal.

Dari seseorang yang pernah berpeluh sebagai buruh itulah kemudian muncul kalimat menggetarkan: “Bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering.”***

Dicopy dari Torto.id

Mandailing Online telah merubah judul asli tulisan di Tirto.id : “Nabi Muhammad Merasakan Tetes Keringat sebagai Buruh & Penggembala”

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 2.719 polisi jaga Lebaran 2011 di Sumut

    2.719 polisi jaga Lebaran 2011 di Sumut

    • calendar_month Selasa, 23 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kepolisian Daerah Sumatera Utara mengerahkan 2.719 personel dan menyiapkan 106 pos pengamanan dalam Operasi Ketupat Toba 2011 untuk mengamankan perayaan Lebaran 1432 Hijriyah. Kasubbid Pengelola Informasi dan Data Polda Sumut AKBP MP Nainggolan di Medan, Senin, mengatakan, jumlah personel itu terdiri 299 personel Polda Sumut dan 2.420 personel dari berbagai satuan wilayah. Adapun […]

  • RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian dua)

    RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian dua)

    • calendar_month Minggu, 10 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)   Bagi kami waktu masih kanak kanak, bulan Ramadhan ini adalah bulan dimana setan dan jin diikat. Entah ngikatnya dimana wallohualam. Ada pula yang bilang, di batang pisang di belakang rumah ompung Jamangkilang. Sok tau. Begitulah orang orang tua […]

  • Polisi Jadi Jurtul Togel

    Polisi Jadi Jurtul Togel

    • calendar_month Jumat, 7 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Ketua DPRD Sumatera Utara Saleh Bangun, menegaskan rencana atau usulan Kapoldasu Irjen Pol Orgroseno memerintahkan personilnya untuk menyamar sebagai juru tulis (Jurtul) togel tidak perlu dipermasalahkan secara berlebihan. “Itu kan bagian dari strategi pihak penyidik untuk mengungkap siapa bandar judinya. Ya, apapun yang dilakukan oleh kepolisian itu sah-sah saja asalkan ada buktinya atau target […]

  • Bawaslu Madina Sebut Tak Bisa Ungkap Nama Cakada yang Dipanggil

    Bawaslu Madina Sebut Tak Bisa Ungkap Nama Cakada yang Dipanggil

    • calendar_month Rabu, 13 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Mandailing Natal (Bawaslu Madina) melalui Koordinator Penanganan Muhammad Amin menyebut pemanggilan calon kepala daerah (Cakada) tidak bisa diliput media karena merupakan bagian dari informasi yang dikecualikan. Hal itu dia sampaikan ketika dikonfirmasi mengenai ada-tidaknya Cakada yang dipanggil untuk klarifikasi. “Itu, kan, secara tidak langsung menjawab dari saksi, […]

  • Tiga Penambang Tewas, Diduga Menghirup Gas Beracun

    Tiga Penambang Tewas, Diduga Menghirup Gas Beracun

    • calendar_month Selasa, 25 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Diduga akibat menghirup gas beracun dari lobang tambang emas, tiga orang penambang meninggal dunia di Hutan Garunggung, Desa Koto Boru, Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Senin (24/9). Ketiganya bernama Armen penduduk Desa Koto Baringin; Ilham warga Desa Tanjung Medan dan Gadang yang juga warga Desa Tanjung Medan Kecamatan […]

  • Fahrizal: Bupati Berwenang Cabut Izin Perusahaan Yang Mengancam Nyawa Warga

    Fahrizal: Bupati Berwenang Cabut Izin Perusahaan Yang Mengancam Nyawa Warga

    • calendar_month Senin, 3 Okt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) — Anggota DPRD Sumatera Utara H. Fahrizal Efendi Nasution, SH berpendapat bupati berwenang mencabut izin operasioal satu perusahaan berdasar ketentuan tertentu. Ketentuan itu, apabila suatu perusahaan gagal menjaga lingkungan hidup, mengancam kesehatan warga, serta keselamatan jiwa masyarakat sekitar. Itu diungkap Fahrizal, Minggu petang (2/10/2022) mengamati PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) […]

expand_less