Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 1 Feb 2017
  • print Cetak


Oleh: HARIS SUTAN LUBIS
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Willem Iskander (Sati Nasution)

Abstract
Willem Iskander is known as an educator and man of letters from South Tapanuli. He produced poem and prose in Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk in nineteenth century. His prose is differed from the prose form at that moment. The form of his prose is short story, which in Indonesian literature is known as the modern prose and starts to be blazed by M. Kasim and Suman Hs by the end of 1930. Despitefully, Willem Iskander has also done the modernization at the election of the humanism theme, such as having phobia, surrenderness, responsibility, affection, and crime.
Key words: modernization, short story, form, and theme

1. PENDAHULUAN

Kesusastraan merupakan salah satu hasil kebudayaan manusia yang sangat berharga dan memiliki nilai yang beragam. Pada satu sisi karya sastra dapat pula menampilkan wajah kultur zamannya dan oleh karena itulah sifat-sifat suatu zaman dan persoalan-persoalan yang ada di dalam masyarakat tersebut dapat dibaca melalui karya sastra. Hal ini dapat terjadi karena pengarang sebagai salah seorang anggota masyarakat hidup dan berelasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, kegelisahan masyarakat menjadi kegelisahan para pengarang, harapan-harapan, penderitaan-penderitaan, dan aspirasi suatu masyarakat di mana pengarang berada, menjadi bagian dari pribadi pengarang tersebut. Namun demikian, untuk memberi suatu defenisi yang lengkap tentang sastra merupakan sesuatu yang sangat berat. Karya sastra dalam suatu masyarakat belum tentu diakui sebagai sastra oleh masyarakat lainnya, sebagai contoh serat weda tama bagi masyarakat Jawa pastilah dianggap sebagai sebuah hasil sastra, namun belum tentu bagi masyarakat lainnya. Begitu juga mantra dalam masyarakat tradisional mempunyai fungsi keagamaan yang dominan tetapi bagi masyarakat modern justru menjadi ciri kesasteraannya yang paling mengesankan. Yang jelas dari karya sastra dapat diketahui bermacam-macam persoalan, pesan atau pun gambaran tentang sesuatu dalam suatu zaman, karena sastra memang difungsikan sebagai alat pelaksanaan acara-acara keagamaan. Oleh karena itu, setiap hasil sastra dari suatu zaman dan pengarang merupakan suatu objek kajian yang selalu menarik dan bermanfaat bagi kehidupan suatu masyarakat ataupun bangsa, setidaknya bagi kepentingan pengkajian sejarah kesusasteraan bangsa tersebut.

Di daerah Tapanuli Selatan tepatnya di daerah Mandailing telah lahir seorang sastrawan yang memiliki wawasan serta konsep kehidupan yang luas. Sastrawan tersebut adalah Ali Sati Nasution Gelar Ja Sikondar yang lebih populer di sebut Willem Iskander. Willem Iskander yang hidup pada tahun 1840-1876 mendapat kesempatan mengikuti pendidikan pada sekolah dasar di Panyabungan pada usia 13 tahun. Tiga tahun setelah mengikuti pendidikan tersebut beliau dibawa Asisten Residen Mandailing Angkola untuk mengikuti pendidikan di negeri Belanda. Hal ini terjadi karena kepintaran beliau, di samping sebagai seorang keturunan raja yang berkuasa di masa itu. Tiga tahun setelah mengikuti pendidikan di negeri Belanda, beliau mendapat ijazah guru bantu dan kembali ke Mandailing dan mendirikan sekolah guru (Kweekschool) di Tanobato, serta memimpin sekolah tersebut selama hampir 12 tahun.

Di samping sebagai seorang tokoh pendidikan pada masa itu Willem Iskander sebenarnya dikenal pula sebagai sastrawan daerah Mandailing yang paling terkemuka sampai saat ini. Kesimpulan itu diperoleh setelah menelusuri dan memahami nilai-nilai yang terdapat dalam karyanya Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk yang dikarangnya antara tahun 1860-1870. Berbicara mengenai sastra daerah dalam cakupan se Indonesia sebenarnya harus dilakukan suatu telaah yang sangat luas, disebabkan banyaknya ragam dan corak yang akan ditemui. Hal ini dimungkinkan karena setiap masyarakat bahasa mempunyai sastranya sendiri. Demikian juga kalau membicarakan sastra daerah Tapanuli Selatan sebagai bagian dari sastra daerah se Indonesia, maka kita pun semestinya harus melalui suatu penelaahan yang luas dan mendalam, harus kembali meneliti sastra lisan. Keragaman dan kekayaan Tapanuli Selatan dalam bidang kesusastraan ini karena letak wilayah Tapanuli Selatan yang banyak menerima pengaruh budaya yang datang dari luar daerahnya.

Di dalam kesusastraan klasik Indonesia kita akan menemukan pantun sebagai jenis puisi klasik tertua, maka di daerah Tapanuli Selatan ditemukan jenis tesebut yang dinamakan sebagai ende-ende. Sebagaimana dikatakan Hartoyo Andangjaya (Damono 1981: 25) bahwa jenis pantun itu pulalah yang paling luas tersiar di kalangan masyarakat dan hidup terus selama berabad-abad, yang menjadi alat pengucapan bagi kesedihan, nafsu-nafsu erotik dan juga norma-norma etikanya. Menurut Van Ophuysen (Usman 1963: 145) malah kejadian pantun sama seperti ende-ende di Tapanuli Selatan yang berasal dari bahasa daun-daunan, bahasa kiasan, dan bahasa sindiran.

Sementara untuk jenis prosa sebagaimana juga dikenal di setiap daerah di Indonesia, maka jenis yang lazim dijumpai ialah jenis cerita rakyat seperti dongeng, tentang binatang, makhluk halus, kalangan istana atau juga cerita-cerita humor yang selalu diceritakan dari satu mulut ke mulut yang lain sebagai cara untuk menginformasikannya.

Dengan demikian dari uraian singkat tentang sastra daerah Tapanuli Selatan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk dan jenis kesusastran yang terdapat di Tapanuli Selatan pada kesusastraan Indonesia klasik ialah bentuk prosa dan puisi yang masing-masing bersifat lisan. Isinya ditandai dengan gambaran dinamika kehidupan masyarakat tradisional yang statis dan tradisi itu berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, yakni sejak manusia mengenal bahasa lisan sebagai alat komunikasi dan alat ekspresi sampai dengan permulaan abad ke XX sebagaimana perkiraan awal munculnya sastra modern di Indonesia seperti dikatakan oleh Teeuw 1982:11) bahwa sejak awal abad ke XX ini — atau sedikit sebelumnya — di Indonesia mulai diciptakan sastra yang biasanya disebut modern, yaitu lain dari tradisional.

2. PERMASALAHAN

Willem Iskander lebih dikenal oleh masyarakat Mandailing sebagai seorang tokoh pendidikan dan penyair. Sebagaimana disinggung sebelumnya, sebagai tokoh pendidikan beliau sempat mendirikan sebuah sekolah guru di Tanobato dan memimpinnya selama hampir dua belas tahun.

Lembaga pendidikan ini berhasil melahirkan guru-guru bermutu yang menyebar mengajar ke hampir seluruh wilayah Sumatera. Sementara sebagai seorang penyair beliau dikenal karena kekuatan puisi-puisinya, baik dari segi tema maupun dari sudut kemahiran Willem Iskander dalam mengungkapkan pesan-pesannya, sehingga puisi-puisi tersebut mampu membangkitkan semangat kaum pergerakan di Tapanuli Selatan sekitar tahun tiga puluhan. Sehingga dari kedudukannya sebagai seorang penyair, beliau ditempatkan sebagai seorang penyair modern daerah Mandailing abad kesembilan belas (Lubis 1985).

Sebagai seorang cerpenis, kiranya belum banyak yang mengenal beliau, apalagi mengungkapkan keberadaannya sebagai seorang pengarang prosa dari zaman kesusastraan tradisional, meskipun sebenarnya prosa-prosa yang diciptakannya itu juga dikumpulkannya di dalam Si Bulus-Bulus Si Rambuk-Rambuk.

Prosa-prosa yang diciptakannya pun sebenarnya tidaklah begitu banyak, melainkan hanya sepuluh buah. Oleh karena itulah apabila ditinjau kedudukannya sebagai seorang penulis prosa maka tidaklah dapat dikatakan kalau Willem Iskander merupakan seorang penulis prosa yang berhasil, mengingat jumlahnya yang tergolong sedikit. Namun keberhasilan seorang penulis prosa tidaklah mutlak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya prosa yang dihasilkannya, tetapi dapat pula ditinjau dari kemampuannya berkreativitas dalam memanfaatkan dan mengembangkan bentuk prosa tersebut dari keadaan yang biasanya kepada keadaan di luar tradisi sastra tersebut. Oleh karena itu, bukanlah merupakan suatu kelemahan kalau tinjauan kali ini akan beranjak dari kecermelangan beliau dalam melakukan pembaharuan bentuk prosa di luar jenis prosa yang biasa atau lazim terdapat pada zaman hidupnya. Untuk itu kesepuluh prosa yang ditulisnya disekitar tahun 1860-1870 tersebut merupakan objek penelaahan yang akan berusaha membuktikan pembaharuan yang dilakukannya terhadap bentuk prosa sebagai manifestasi kemajuan wawasan dan pola pikirannya dalam kedudukannya sebagai seorang sastrawan daerah yang hidup di abad kesembilan belas yang lalu. (bersambung)

Sumber awal: LOGAT, JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Volume III No. 1 April Tahun 2007 (Halaman 18 – 25), lihat http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16669/3/log-apr2007-3%20(1).pdf.txt.

Sumber kedua : http://gondang.blogspot.co.id/search/label/puisi%20dan%20prosa%20lama

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KEUTAMAAN BULAN RAMADAN

    KEUTAMAAN BULAN RAMADAN

    • calendar_month Selasa, 14 Mei 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan […]

  • Partai Gerindra Hari ini Buka Penjaringan Cakada Madina. Ivan Iskandar Batubara Pendaftar ke Dua

    Partai Gerindra Hari ini Buka Penjaringan Cakada Madina. Ivan Iskandar Batubara Pendaftar ke Dua

    • calendar_month Jumat, 10 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dengan akan dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) buka pendaftaran dan penjaringan bakal calon kepala daerah (Cakada) dan Wakil Calon Kepala Daerah (Wacakada) Kabupaten Mandailing Natal periode 2024 – 2029. Yusuf Selaku Ketua Tim Penjaringan mengatakan, sejak hari ini Jum’at (10/05) sampai Jum’at depan (17/05) […]

  • Lima Kabupaten/Kota Surati Menteri PU

    Lima Kabupaten/Kota Surati Menteri PU

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Tapsel  – Lima Kepala daerah di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) meliputi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailing Natal (Madina) Padanglawas (Palas), Padanglawas Utara (Paluta) dan Kota Padangsidimpuan, melayangkan surat bersama kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU) atas banyaknya jalinsum yang rusak di Tabagsel. Isi surat tersebut memohon kepada pemerintah pusat melalui kementerian agar serius membangun Jalinsum […]

  • Kualifikasi Pendidikan Untuk CPNS Pemprov Sumut

    Kualifikasi Pendidikan Untuk CPNS Pemprov Sumut

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    Untuk penerimaan CPNS 2013 ini Pemprov Sumut menerima formasi sebanyak 329 orang. Sesuai ketetapan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho Nomor 800/17787/BKD/II/2013 tentang Pengadaan CPNS Pelamar Umum dan Pelatih Olahraga dari Atlit Berprestasi Pemprov Sumut tahun 2013 tertanggal 18 September 2013, dirincikan: Untuk formasi jabatan tenaga Guru sebanyak 16 orang yang terdiri dari: (1) Guru SLB […]

  • Dihadapan Alumni SMA nya, Cabup Madina Harun Mustafa Nasution Angkat Isu Ketahanan Pangan dan Pertanian

    Dihadapan Alumni SMA nya, Cabup Madina Harun Mustafa Nasution Angkat Isu Ketahanan Pangan dan Pertanian

    • calendar_month Sabtu, 19 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online) : Didepan Alumni SMA Willem Iskandar Tano Bato yang deklarasikan diri mendukung Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal ( Madina) nonor urut 1 Harun Mustafa Nasution dan Ichwan Husein Nasution Sabtu 19/10/2024. Calon Bupati Harun Mustafa Nasution mengangkat isu terkait Ketahanan Pangan dan Pertanian. Harun Mustafa Nasution mengatakan dalam […]

  • Tahanan Tewas Mendadak

    Tahanan Tewas Mendadak

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KARO- Bangun Ginting tahanan Polres Karo, tewas Kamis (24/3) sekira pukul 23.00 WIB. Padahal, tahanan kasus pencurian angkutan umum jurusan Sigantang Sira ini, baru saja ditangkap anggota Sat Reskrim Tanah Karo, Kamis (23/3) sekira pukul 12.30. Sebelum ditangani polisi, Bangun Ginting sudah dikeroyok oleh supir angkot yang tidak senang atas perbuatan Bangun Ginting. Penyebab kematian […]

expand_less