Minggu, 19 Jul 2026
light_mode

Refleksi Radikal di 1/3 Abad IKANAS: Sekadar Pewaris Nasution atau Penjaga Amanah Peradaban?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • print Cetak
Kebangkitan Peradaban Nasution Menuju “Abad Baru Anak ni Raja” di Zaman Republik

Penulis: Ludfan Nasution*

 

 

Ada sebuah ungkapan yang begitu melekat dalam kesadaran kolektif orang-orang bermarga Nasution:

“Nasution adalah anak ni raja, anak ni namora.

Ungkapan ini sering disampaikan dengan kebanggaan. Ia menjadi simbol identitas, kehormatan, dan kebesaran sejarah. Bahkan, ada masanya menjadi menjadi sejenis celaan atau ungkapan bernada cemooh.

Karena itu, di usia ke-33 tahun ini, sudah saatnya Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS), mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam dan menghujam:

Apa sesungguhnya makna menjadi anak ni raja dan anak ni namora di zaman Republik sekarang ini?

Apakah cukup dengan membawa nama Nasution di belakang nama dan hanya dengan modal itu jadi anggota?

Apakah cukup dengan mengetahui bahwa Nasution memiliki leluhur besar?

Bukankah ada amanah sejarah yang harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab sosial, budaya dan kemanusiaan?

Sebab, seorang anak ni raja anak ni namora tidak hanya mewarisi kehormatan. Ada juga tanggung jawab yang melekat bersama jejak sejarah, fakta terkini dan arah masa depan generasi penerus.

 

Bangga Identitas, Sadar Peradaban

Tiga puluh tiga tahun, sepertiga abad. Sepanjang itulah perjalanan IKANAS menggapai capaiancapaian penting. Dari sebuah gagasan persaudaraan keluarga besar Nasution di tanah rantau Jakarta, organisasi ini telah menjadi ruang-ruang pertemuan bagi warga Nasution di berbagai daerah Indonesia, bahkan hingga negeri-negeri lain seperti Malaysia.

Fakta berbicara. Persebaran itu menunjukkan satu hal:

Nasution bukan lagi hanya sebuah komunitas yang hidup di bona bulu Mandailing. Marga besar ini telah menjadi sebuah diaspora besar.

Namun, semakin luas persebarannya, semakin besar pula pertanyaan yang harus dijawab.

Apakah besarnya jumlah – diperkirakan sudah mencapai lebih dari10 juta jiwa itu telah berubah menjadi manfaat bagi diri dan lingkungan sosialnya?

Apakah luasnya jaringan telah menjadi kekuatan peradaban?

Ataukah kita masih diam di atas kebanggaan identitas?

Sebab, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang memiliki nama besar. Bahkan, mencatat siapa yang mampu memberi makna terhadap nama besar itu.

 

Memahami Kompleksitas Sejarah

Salah satu tantangan terbesar dalam membangun masa depan Nasution di tahun ke-5, 10, 25, 50 atau 100 yang akan datang adalah keberanian untuk memahami sejarahnya sendiri secara dewasa.

Nasution hari ini merupakan keluarga besar dengan jumlah yang sudah lebih dari 10 juta jiwa di Indonesia dan ratusan atau ribuan di luar negeri itu. Tetapi, di dalam kebesaran itu terdapat perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks.

Dalam pemahaman genealogis masyarakat Mandailing, akar utama marga Nasution tidak dapat dilepaskan dari garis keturunan Sutan Diaru Sibaroar Nasakti Nasution.

Namun perjalanan sejarah masyarakat tidak pernah berhenti pada satu titik.

Dinamika adat dan sosial Mandailing, terdapat pula proses penerimaan, hubungan kekerabatan, dan mekanisme adat yang memungkinkan seseorang atau kelompok keluarga menggunakan marga Nasution melalui proses manopot kahanggi atau tata cara adat lain pada masa itu.

Belum lagi kalau kita cermati lebih dalam fakta generasi mudanya. Yang mesti terdata tentu bukan cuma generasi yang  merantau langsunh dari Bona Bulu. Cukup banyak juga pemuda Nasution yang lahir dan besar di tano pandaraman. Bahkan, tak sedikit yang sungguh-sungguh anak-cucu Nasution tapi, jangankan berbahasa Mandailing, mereka pun tak bisa lagi menjabarkan silsilah keluarganya.

Itu juga menjadibancaman krisis Identitas Kolektif.  Maka, pertanyaan paling gentingnya adalah:

Apakah marga Nasution hari ini masih merupakan sebuah ikatan peradaban, atau hanya tinggal identitas administratif di belakang nama?

Walau terasa sederhana, pertanyaan itu sesungguhnya sangat dalam.

Dulu, marga bukan sekadar nama keluarga. Selain menjadi 1) sistem pendidikan karakter, 2) jaringan perlindungan sosial, 3) mekanisme penyelesaian konflik, 4) penghubung ekonomi, juga sekaligus 5) penjaga martabat keluarga.

Nah, bagaimana fakta hari ini?

Selain banyak juga warga Nasution yang bahkan tidak saling mengenal, sekalipun mereka ada dalam satu kota. Satu kecamatan. Kadang satu desa.

IKANAS hadir justru ketika fungsi-fungsi tradisional itu mulai melemah.

Karena itu, ulang tahun ke-33 semestinya bukan hanya merayakan umur organisasi, tetapi mengevaluasi: apakah IKANAS berhasil menggantikan atau merevitalisasi fungsi-fungsi sosial yang mulai hilang itu?

 

Bukan Organisasi Seremonial

Banyak organisasi marga mengalami gejala yang sama. Ramai, semarak dan heboh ketika halal bihalal, pelantikan, pesta ada dan musyawarah. Tetapi, sepi dan diam ketika ada anggota yang kehilangan pekerjaan, kesulitan pendidikan, sakit, terlilit utang, menjadi korban narkoba, anak-anaknya putus sekolah.

Bukankah itu semua menjadi arena uji makna persaudaraan sesama Anak ni Raja – Anak ni Namora?

 

Tantangan Besar Generasi Muda

Ada ancaman lain yang lebih sunyi.

Generasi muda mulai mengenal Instagram lebih baik daripada silsilahnya.

Lebih hafal influencer daripada leluhurnya sendiri.

Lebih akrab dengan budaya global daripada falsafah Mandailing.

Ini bukan salah generasi muda.

Tetapi, lebih sebagai kegagalan generasi tua dalam mentransmisikan nilai.

Kalau IKANAS, siapa lagi yang akan mengambil peran itu?

Fenomena ini adalah bagian dari dinamika kebudayaan.

Karena itu, masa depan Nasution membutuhkan dua sikap sekaligus:

  1. Menghormati akar sejarah, tetapi juga memahami kebijaksanaan sosial.

Sebab marga besar tidak diukur hanya dari kemampuan menjaga garis keturunan.

  1. Marga besar juga diukur dari kemampuan mengelola kebersamaan.

Ketika darah menjadi akar sejarah, penerimaan sosial memebentuk perjalanan kebudayaan.

Keduanya perlu ditempatkan secara arif dan bijaksana.

 

Tanggung Jawab di Tengah Mandailing

Secara sosial, Nasution juga tidak hidup dalam ruang kosong.

Sebagai sebuah peradaban yang dibangun oleh berbagai marga, hubungan Dalihan Na Tolu, Mandailing juga menjadi jaringan sosial yang saling mengikat.

Di ruang sosial Mandailing itu, Nasution punya posisi historisnya dan memiliki kedudukan penting dalam struktur sosial yang ada.

Hanya saja, posisi penting itu tidak boleh dimaknai sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Filosofi Dalian Natolu, kehormatan selalu berjalan bersama tanggung jawab. Ada konfensi yang menggariskan agar di posisi Mora, Nasution mesti bisa bersikap elegan (elek) kepada Anakboru.

Ketika berada pada posisi Mora, Nasution bukan hanya menerima penghormatan. Mesti memikul kewajiban untuk menjaga keseimbangan, memberikan arah dan menjadi pengayom.

Maka semakin besar sebuah marga, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Kebesaran Nasution tidak boleh hanya diukur dari 10 juta jiwa itu. Juga harus diukur dari kontribusinya bagi rumah besar Mandailing.

Sebab, pertanyaannya: Apa arti sebuah marga besar jika lingkungan sosial yang menjadi tempatnya tumbuh justru melemah.

Tiga Pilar Masa Depan Nasution

Menurut saya, masa depan Nasution harus dibangun melalui penyatuan tiga kekuatan besar.

Pertama: Harajaon sebagai Penjaga Akar

Harajaon bukan sekadar simbol masa lalu.

Harajaon adalah penjaga memori, nilai, dan kesinambungan budaya.

Namun tantangan zaman menuntut agar harajaon tidak hanya hadir dalam seremoni adat.

Harajaon perlu diperkuat sebagai pusat:

  • pelestarian sejarah,
  • pendidikan adat,
  • penelitian budaya,
  • penjagaan nilai Dalihan Na Tolu.

Harajaon adalah akar yang memberi arah.

Kedua: IKANAS sebagai Penggerak Modern

IKANAS memiliki peran yang berbeda.

IKANAS adalah organisasi modern yang memiliki kemampuan membangun jaringan lintas wilayah dan lintas profesi.

Masa depan IKANAS tidak cukup hanya menjadi organisasi silaturahmi.

IKANAS perlu bergerak menjadi institusi pemberdayaan.

Sebuah wadah yang mampu membangun:

  • jaringan pendidikan,
  • kepemimpinan generasi muda,
  • solidaritas sosial,
  • jejaring ekonomi,
  • pusat kajian sejarah dan budaya.

IKANAS adalah batang yang menghubungkan akar dengan cabang.

Ketiga: Diaspora sebagai Energi Masa Depan

Warga Nasution yang tersebar di berbagai kota Indonesia dan berbagai negara bukan sekadar perantau.

Mereka adalah energi besar.

Di dalam diaspora terdapat:

  • ilmu pengetahuan,
  • pengalaman profesional,
  • kekuatan ekonomi,
  • jaringan internasional.

Tantangannya adalah bagaimana mengubah diaspora dari sekadar persebaran manusia menjadi jaringan kekuatan bersama.

 

Organisasi Marga sebagai Ekosistem Peradaban

Mungkin inilah pertanyaan terbesar bagi IKANAS memasuki usia 2/3 abad berikutnya:

Apakah kita ingin tetap menjadi organisasi marga?

Atau, berani menjadi bagian dari pembangunan peradaban?

Yang jelas, peradaban tidak dibangun hanya dengan pertemuan, tapi juga dengan institusi.

Karena itu, dalam jangka 10 hingga 100 tahun ke depan, keluarga besar Nasution perlu mulai memikirkan agenda besar:

1. Pusat Dokumentasi dan Ensiklopedia Nasution

Membangun arsip sejarah, silsilah, tokoh, wilayah, dan kontribusi warga Nasution.

2. Institut Peradaban Nasution

Membangun kelembagaan bagi sebuah pusat kajian yang menghubungkan secara integral wujud sejarah, budaya, kepemimpinan, pendidikan, dan masa depan.

3. Nasution Leadership Academy

Mendirikan satu sib-sistem yang bertujuan untuk mencetak generasi muda yang memiliki kemampuan mumpuni untuk bergerak elegan di alam modern tetapi tetap berakar pada nilai budaya.

4. Dana Abadi Nasution

Membangun sebuah pranata berubah “opuk” (baitulmal) sebagai satu wujud solidaritas berkelanjutan untuk menopang prosesi pendidikan, kemanusiaan, dan pengembangan masyarakat.

5. Forum Harajaon–IKANAS–Diaspora

Membangun ruang bersama antara akar budaya, organisasi modern, dan jaringan global.

 

Pencanangan “Nasution Civilization Project”

Semua gagasan tersebut pada akhirnya membutuhkan sebuah visi besar. Yaitu, pencanangan sebuah proyek peradaban.

Program yang bisa disebut “Nasution Civilization Project” (NCP) bukan dalam arti membangun eksklusivitas. Bukan! Tetapi, untuk merajut sinergi sebagai sebuah kontribusi.

NCP itu sejatinya dapat menjadi gagasan untuk secara terencana, nyata dan terukur untuk menyatukan:

  • akar harajaon,
  • kekuatan IKANAS,
  • energi diaspora, dan
  • tanggung jawab terhadap Mandailing.

Tujuannya, jelas. Bukan untuk menjadikan Nasution tampak lebih lebih tinggi dari yang lain. Tetapi, menjadikan kebesaran Nasution memiliki manfaat yang lebih luas.

Karena kebesaran sejati bukan ketika orang lain tunduk kepada kita. Agar keberadaan kita membuat orang lain merasa terlindungi dan mendapatkan manfaat.

 

Penutup: Anak ni Raja di Abad Baru

Pada akhirnya, HUT ke-33 IKANAS bukan hanya tentang mengenang perjalanan organisasi selama sepertiga abad lampau. Angka itu adalah momentum untuk bertanya:

Apakah kita hanya mewarisi Nasution sebagai “anak ni raja – anak ni namora”, atau juga mewarisi amanah untuk merawat martabat dan terus membangun peradaban?

Sejarah sudah membuktika. Nama besar tidak akan bertahan hanya karena disebut berulang-ulang. Performanya akan bertahan jika nilai yang terkandung di dalamnya terus dihidupkan, menyala.

Menjadi Nasution bukan hanya bercerita tentang darah dan silsilah. Bukan hanya tentang kebanggaan.

Menjadi Nasution dan berperan strategis dalam NCP adalah panggilan untuk menjaga martabat, memperkuat persaudaraan, menghormati sejarah, dan memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Karena anak ni raja – anak ni namora yang sejati bukanlah mereka yang hanya menuntut penghormatan. Sejatinya, mereka mesti mampu memikul tanggung jawab atas segala tantangan pada zamannya.

Seratus tahun dari hari ini, mungkin tidak ada lagi yang mengenal nama penulis tulisan ini.

Mungkin pula tidak ada lagi yang mengingat siapa pengurus IKANAS periode sekarang.

Tetapi semoga, pada saat itu, masih ada anak-anak Nasution yang berdiri dengan penuh keyakinan dan berkata:

“Kami bukan hanya mewarisi nama. Kami mewarisi amanah.”

Jika kalimat itu masih hidup pada abad berikutnya, maka HUT ke-33 IKANAS tidak hanya akan dikenang sebagai sebuah perayaan.

Ia akan dikenang sebagai hari ketika keluarga besar Nasution mulai memutuskan untuk membangun kembali peradabannya.

Horas…

Marsialapari Pajongjong Kahanggi dohot Anakboru.

Membangun Nasution untuk Memperkuat Mandailing.

Membangun Mandailing untuk Mengokohkan Indonesia. ***

Selamat HUT ke-33 IKANAS. Semoga menjadi awal kebangkitan peradaban Nasution Abad Baru.

*Muhammad Ludfan Nasution — Wakil Ketua DPC Khusus Ikanas Mandailing Natal, Pegiat Gerep Institute, Wakil Sekretaris Forum Pelestarian dan Pengembangan Adat Budaya Mandailing Natal, Koordinator Mandailing Epicentrum dan Anggota DPRD Madina 2014-2019

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus Bhatoegana pelajaran bagi Demokrat

    Kasus Bhatoegana pelajaran bagi Demokrat

    • calendar_month Minggu, 2 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    DEPOK, (MO) – Peneliti Kajian Budaya dan Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menilai kasus Sutan Bhatoegana merupakan pembelajaran politik Partai Demokrat. “Partai Demokrat partai baru, ini pembelajaran, bukan partai kalau tanpa pendukung, harus mampu merebut kasih dari publik. Ini malah jadi bumerang,” tegasnya kepada wartawan, hari ini. Kedepannya lanjut Devie, partai harus buat […]

  • Rapat Dengar Pendapat DPRD Palas ‘Memanas’

    Rapat Dengar Pendapat DPRD Palas ‘Memanas’

    • calendar_month Selasa, 7 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Padang Lawas, Rapat dengar pendapat (RDP) antara Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Palas, Senin (5/10 ) di ruang Rapat Paripurna DPRD Palas di Padang Luar Sibuhuan, berlangsung ‘memanas’ bahkan menciptakan perseteruan antara eksekutip-legislatif. Pemicunya berawal dari ungkapan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Pertambangan dan Energi, Kabupaten Padang Lawas (Palas) Ir.Khoirul […]

  • Kisah Bocah Amerika Masuk Islam

    Kisah Bocah Amerika Masuk Islam

    • calendar_month Kamis, 16 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari) Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas. Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan […]

  • Panyabungan Timur Juara Umum MTQ Madina

    Panyabungan Timur Juara Umum MTQ Madina

    • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATAHAN (Mandailing Online) – Kontingen Kecamatan Panyabungan Timur meraih Juara Umum MTQ ke 20 Tingkat Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tahun 2021. MTQ diikuti kafilah dari 23 kecamatan itu berlangsung di Batahan, Kecamatan Batahan itu berakhir hari Minggu (21/3/2021). Penutupan MTQ dilakukan Sekretaris Daerah, Ghozali Pulungan. Kepala Kementrian Agama Kabupaten Mandailing Natal, H Ahmad Qosbi membacakan […]

  • Badan Korban Tewas di Runding Ditemukan Bekas Bacokan dan Benda Tumpul .Keluarga Kecam Tindakan Main Hakim Sendiri

    Badan Korban Tewas di Runding Ditemukan Bekas Bacokan dan Benda Tumpul .Keluarga Kecam Tindakan Main Hakim Sendiri

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online– Kondisi Ferdiansyah warga Desa Panyabungan Tonga, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) korban tewas di lokasi pengolahan tambang emas ilegal di Desa Runding, Kecamatan Panyabungan Barat, mengenaskan. Sejumlah bekas bacokan benda tajam ditubuh ditemukan, kondisi badan lebam diduga bekas hantaman benda tumpul. Keluarga yang melihat kondisi saudaranya di IGD RSU Panyabungan […]

  • Notulen Serasehan Kebudayaan Mandailing Menuju Kongres Kebudayaan Mandailing (2)

    Notulen Serasehan Kebudayaan Mandailing Menuju Kongres Kebudayaan Mandailing (2)

    • calendar_month Sabtu, 17 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    REVITALISASI KEBUDAYAAN MANDAILING Bila kita cermati eksistensi kelompok etnik Mandailing sebagai bagian yang integral dan tidak terpisahkan dari Bangsa Indonesia, semenjak proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga pada masa sekarang ini boleh dikatakan sangat sedikit sekali national event yang dilaksanakan untuk membicarakan dan sekaligus mengangkat eksistensi kebudayaan Mandailing. Upaya yang demikian itu dipandang […]

expand_less