Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Reformasi Birokrasi Rasa Rupiah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 3 Des 2010
  • print Cetak

Liputan versi Pembaca November 2010


Memang benar dan saya akui itu. Karena itu setiap tahunnya selalu kita evaluasi dan perbaiki celahnya. Namun pusat tak bisa bergerak lebih karena adanya otonomi daerah. Meski kita menerapkan sistem komputerisasi tapi permainan di bawah juga makin canggih. Anehnya, ketika masalah muncul justru pusat yang disalahkan.

NADA prihatin itu disampaikan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi EE Mangindaan kepada wartawan, belum lama ini. Mangindaan mengaku tak habis pikir kenapa pemerintah masih terus ‘’kecolongan’’ dengan sistem penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang dilangsungkan di daerah. Mantan Gubernur Sulawesi Utara ini sebetulnya mahfum dengan sifat kewenangan antara pusat dan daerah yang tak bisa terus lagi seperti ‘’bapak mengawasi anak’’.

Otonomi daerah menjadi tembok penghalang kenapa posisi pusat sepertinya lemah di mata daerah. Kekuasaan menerbitkan surat keputusan (SK) PNS memang ada di tangan pusat, namun kekuasaaan untuk melaksanakan seleksi sepenuhnya di tangan daerah. ‘’Sulit sekali, kecuali masyarakat sendiri yang ikut mengontrol,’’ katanya.
Sebagai contoh, dia mengilustrasikan, kasus di Kotobagu (Sulawesi utara). ‘’Permainan di bawahnya sangat tinggi, karena itu saya bilang ke walikotanya, kalau mau diterbitkan NIP oleh BKN harus kembali ke lembar jawaban murni. Kalau tidak, sampai kapanpun BKN tidak akan mengeluarkan NIP kecuali untuk CPNS yang lulus murni,’’ dia menegaskan.

Kebijakan ini sengaja diambil agar pemerintah daerah tahu bahwa reformasi birokrasi tak cuma di pusat saja. ‘’Mereka bisa saja bermain, tapi pusat juga akan bertindak tegas apalagi kalau ada laporan. Karena itu, saya selalu mengimbau agar masyarakat ikut mengontrol setiap seleksi, kalau ada indikasi kecurangan laporkan ke pusat tentunya disertai bukti-bukti,’’ katanya.

Indikasi kecurangan penerimaan CPNS memang tak disangkal bejibun banyaknya. Modusnya juga beragam. Dari mulai calo yang ‘’berkeliaran’’ mencari mangsa dengan iming-iming harga satu kursinya Rp100 juta hingga Rp125 juta, hingga banyaknya jalur masuk via titipan kepala dinas dan kepala daerah. Malah tim independen dari perguruan tinggi yang diberikan kepercayaan melaksanakan seleksi justru ikut-ikutan sulit dipercaya. Pasalnya tidak satu-dua informasi yang menyebutkan tim seleksi model ini juga tidak steril dari kepentingan daerah yang menunjuk.

Tim yang berasal dari kalangan akademisi itu kabarnya tak punya keberanian menolak ‘’titipan’’ pejabat penting lantaran penunjukan mereka sebagai tim seleksi menyangkut kelangsungan proyek serupa di masa depan. ‘’Saya berpikir ya, mungkin ada sisi kompromisnya saja. Kalau terlalu kaku bisa saja kita tak ditunjuk lagi tahun depan,’’ ujar seorang staf pengajar di Universitas Sumatera Utara (USU) kepada Sumut Pos. Dia sendiri tidak mengiyakan atau menolak soal adanya indikasi ‘’permainan’’ di tingkat tim seleksi. Ibarat bau busuk sulit menangkapnya namun menyengat aromanya.

Sebuah pengalaman unik yang didapatkan Sumut Pos dari sumber lain cukup menggambarkan betapa proses seleksi CPNS ini begitu ‘’ribet’’ dan melibatkan tangan-tangan tak terlihat (invisible hand) yang kuat. Seorang kakak kandung dari pelamar CPNS Pemko Medan pada tahun lalu merasa begitu dirugikan karena nomor tes milik adiknya sama dengan orang lain.

“Nomor tes adik saya dari awal memang segitu. Ketika saya tanyakan ke BKD mereka jawab terjadi duplikasi yang sama. Mereka bilang orang lain yang mempunyai nomor tes yang sama dengan adik saya juga memiliki nomor itu dari awal,” ujarnya. Ia juga mengaku heran terjadi saling tuduh antara BKD dengan panitia seleksi terkait kesalahan tersebut. “Sebetulnya kan tidak boleh ada duplikasi penomoran. Tapi karena saya orang tidak punya, maka kami menerima saja,” tuturnya. Namun, dia berharap tetap ada titik terang dalam kasus CPNS yang menimpa adiknya tersebut.

Sementara itu, sorotan akan transparansi proses penerimaan CPNS juga mulai merambat ke gedung DPRD Sumut. Tingginya minat lulusan sekolah terhadap CPNS dituding para legislator di sana menjadi ajang kepala daerah mencari dana segar. Dalam rapat dengar pendapat dengan Kepala BKD se provinsi, anggota DPRD Sumut mensinyalir sekitar 80 persen CPNS yang lulus menggunakan uang.

Kecurigaan itu disampaikan anggota DPRD Sumut Irwansyah Damanik dalam hearing dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten/Kota, Senin (1/11). Anggota Dewan curiga berat penerimaan CPNS tahun anggaran 2010 hanya menjadi proyek kepala daerah dan kepala dinas provinsi dan kabupaten/kota.
“Permainan dalam sistem penerimaan CPNS ini sudah sangat luar biasa dan bukan lagi isapan jempol. Lebih 80 persen kelulusan dari kuota penerimaan bukan lagi rahasia, semua menggunakan uang,” ujar Irwansyah.
Dia mengungkapkan penambahan kuota CPNS juga diindikasikan hasil deal-deal dengan tim seleksi independen yang sengaja dipilih oleh pemerintah daerah setempat.

Indikasi penetapan tarif hingga ratusan juta rupiah juga disampaikan bila ada calon yang ingin lolos. Politisi PDIP Syamsul Hilal menilai persoalan penerimaan CPNS dan tenaga honorer bukan lagi persoalan baru di Sumut. Padahal, menurut Syamsul, kesemrawutan sistem penerimaan CPNS tersebut pernah mengalami perbaikan saat BKD Sumut dikendalikan Mangasing Mungkur, pejabat sebelumnya. (*)

—

Regulasi yang Bikin Jengkel

CELAH kecurangan dalam seleksi CPNS ternyata juga diperkuat oleh regulasi (peraturan) terakhir yang diterbitkan pemerintah. Cukup banyak pihak yang jengkel dengan munculnya Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 30 Tahun 2007 yang memberikan keleluasaan bagi panitia di daerah untuk bekerjasama dengan perguruan tinggi negeri (PTN) manapun .

Kerjasama ini meliputi pembuatan soal ujian ataupun pemeriksaan lembar jawaban.

Dalam konteks ini pula, Pemkab/Pemko di Sumut bebas memilih apakah kerjasama dengan PTN di Sumut seperti USU atau Unimed atau PTN dari provinsi lain. Seperti tahun lalu, beberapa kepala daerah menjalin kerja sama dengan PTN di Pulau Jawa. Kendati tak dirinci seperti apa kendalanya, namun pihak BKD Sumut mengaku kesulitan mengawasi tim seleksi PTN dari luar Sumut.

“Peraturan itu memungkinkan adanya permainan. Itu terlihat sangat rentan,” ujar Kepala Bidang Pengadaan dan Pembinaan BKD Pemprovsu, Pandapotan Siregar. Dia mencontohkan, Pemkab Deli Serdang yang dibebaskan menjalin kerja sama dengan PTN manapun di Indonesia. Misalnya, dengan Universitas Indonesia (UI) atau UGM.

‘’Saya pernah diundang rapat dengan BKN Pusat. Dalam rapat itu saya mempertanyakan peraturan itu. Jawabnya ada kabupaten/kota yang sanggup mendanai. Keluhan saya tidak direspon,” tukasnya. Bila peraturan tidak dipertegas, menurut Pandapotan, permainan dengan cara-cara ‘uang pelicin’- khususnya di daerah- amat rentan terjadi terus. BKD Sumut tak mampu mengintervensi karena tersandung istilah otonomi daerah.

Konspirasi busuk dalam seleksi CPNS sebetulnya sudah cerita zaman baheula. Aksi unjuk rasa juga sudah ratusan kali dilakukan. Toh, belakangan, masyarakat mulai lelah membongkar sindikasi yang merugikan keadilan ini. Ketimbang susah-susah mengontrol, sebaliknya budaya main ‘’uang pelicin’’ justru ditumbuh-suburkan bersama. ‘’Ya sudahlah. Kayaknya harus pakai cara-cara begitu. Buktinya tak pernah terungkap, cuma calo-calo kecilnya saja yang tertangkap. Sistem permainan di lingkungan pemerintahan itu sangat rapi,’’ ujar seorang aktivis dengan nada pasrah.
Seleksi penerimaaan CPNS akan dilaksanakan kembali pada akhir November ini. Sebagian formasi sudah dipublikasikan. Begitupun masih banyak pendapat yang optimistis. Situasi serba-buruk ini harus diubah bersama. Masyarakat tak boleh menyerah. Reformasi birokrasi kita tidak boleh ditukar dengan rupiah! (Valdesz/Litbang Sumut Pos)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Strategi Organisasi Menggunakan Analisis Step, SWOT dan TOWS Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Layanan

    Strategi Organisasi Menggunakan Analisis Step, SWOT dan TOWS Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Layanan

    • calendar_month Kamis, 8 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ashari Kasubag Umum KPPN Padang Sidempuan Pendahuluan Instansi pemerintah dituntut untuk selalu menerapkan good coorporate governance dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tuntutan masyarakat yang semakin tinggi dalam hal kualitas layanan mengharuskan organisasi harus mampu menata ulang proses bisnis, selalu melakukan inovasi, merubah paradigma dalam melayani customer, serta meningkatkan daya saing dalam berbagai bidang maupun […]

  • Satu Anak Wafat Ditabrak Truk

    Satu Anak Wafat Ditabrak Truk

    • calendar_month Senin, 16 Jan 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MALINTANG (Mandailing Online) – Seorang anak yang masih kelas V SD meninggal dunia digilas truk di Jalan Lintas Sumatera titik Desa Malintang Jae, Kecamatan Bukit Malintang, Mandailing Natal, Senin (16/1/2016). Informasi yang dihimpun, peristiwa yang terjadi sekira pukul 12.00 Wib itu bermula ketika mobil truk cold diesel datang dari arah Padang Sidimpuan menuju Panyabungan menabrak […]

  • Warga Mompang Julu Blokir Jalinsum

    Warga Mompang Julu Blokir Jalinsum

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sejumlah ban terbakar membara di atas aspal jalur Lintas Sumatera (Jalinsum), Senin (29/6/2020). Ratusan warga Desa Mompang Julu, Panyabungan Utara, Mandailing Natal, Sumut memblokir jalan negara itu sebagai protes kebijakan kepala desa dalam pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Dana Desa. Jalinsum pun lumpuh akibat aksi warga itu. Warga meneriakkan desakan agar bupati memberhentikan kepala […]

  • Mahasiswa Tak Digubris Kadisdik, Ketua Komisi I: Aspirasi Masyarakat Saja Tak Ditanggapi

    Mahasiswa Tak Digubris Kadisdik, Ketua Komisi I: Aspirasi Masyarakat Saja Tak Ditanggapi

    • calendar_month Rabu, 22 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aksi unjuk rasa organisasi mahasiswa PC PMII Mandailing Natal (Madina) yang tidak digubris Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Lis Mulyadi Nasution mendapat tanggapan dari Ketua Komisi I DPRD Zubaidah Nasution. “Aspirasi masyarakat saja yang kita sampaikan melalui lembaga yang sah dan sebagai mitra pemerintah yang diamanahkan undang-undang tidak digubris,” kata Zubaidah ketika […]

  • Bus Pariwisata Jatuh di Jurang Jalinsum Titik Tambangan

    Bus Pariwisata Jatuh di Jurang Jalinsum Titik Tambangan

    • calendar_month Senin, 8 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Satu bus pariwisata mengalami kecelakaan di jalur Lintas Tengah Sumatera titik jembatan kecil simpang Angin Barat Lamo, Senin (8/2/2021) sekira pukul 12.15 WIB. Belum diketahui jumlah korban. Juga belum terpastikan penyebab kecelakaan. Lokasi kecelakaan itu berada di perbatasan Desa Muara Mais Jambur dengan Desa Lumban Pasir, Kecamatan Tambangan, Mandaililing Natal, Sumut. […]

  • Jembatan Gantung Bernilai 4,6 M di Kampung Baru Selesai, Ini Harapan Bupati ke Warga

    Jembatan Gantung Bernilai 4,6 M di Kampung Baru Selesai, Ini Harapan Bupati ke Warga

    • calendar_month Senin, 20 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Jembatan gantung aek batang gadis di Desa Kampung Baru, Kecamatan Panyabungan Utara ,Mandailing Natal ( Madina ) bernilai Rp.4,6 miliar kelar dikerjakan, Bupati Madina H.M.Jakfar Sukhairi Nasution berharap masyarakar bisa merawat nya. ” dengan selesainya pekerjaan jembatan gantung yang diharapkan masyarakat ini, saya berharap masyarakat bisa merawat nya, karena jembatan […]

expand_less