Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

SBY salah membuat kebijakan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 19 Jul 2012
  • print Cetak

sby

JAKARTA – Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengevaluasi periode kedua kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

JK menilai, Presiden SBY telah membuat kebijakan yang tidak tepat membentuk sekretariat gabungan (setgab) parpol koalisi. “Sekarang ini pemerintah dengan sadar membuat oposisi, dengan sadar, karena membikin Setgab. Setgab itu ya partai pemerintah, di luar Setgab ialah oposisi,” kata JK.

JK menilai Setgab hanya sebagai alat yang semakin mempersulit pemerintah menetapkan kebijakan publik. Salah satunya kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pemerintah gagal menaikkan harga BBM bersubsidi tahun ini, sementara dalam pemerintahan periode lalu, pemerintah mampu menaikkan harga BBM subsidi 125 persen tanpa menimbulkan protes keras.

JK menuturkan bagaimana dia mampu melobi dan meyakinkan DPR agar mau menyetujui penaikan harga BBM tanpa haru membentuk setgab. “Yang pertama saya telepon adalah PDIP, boleh dicek pada saat pemerintah ingin menaikkan harga BBM 125 persen, tertinggi di dunia dan tertinggi di Indonesia, kenapa aman? Saya telepon Emir Moeis, saya loud speaker dalam rapat kabinet.”

“Kita mau naikkin BBM nih, tapi agak tinggi, tapi kalau tidak malah bahaya nantinya, ah naikkan aja bos katanya gitu, tinggi-tinggi juga tidak apa-apa. Bener nih? Jadi PDIP tidak marah yah? Ah tidak, tenang saja Bos. Beres kan? Beres,” kata JK menceritakan.

Lebih jauh JK menilai, pemerintah tidak perlu membawa persoalan kenaikan harga BBM subsidi ke parlemen. Menurut Jk, kenaikan harga tidak harus didebatkan di DPR. “Ini kan harga, DPR kan tidak bicara harga, tapi bicara anggaran, tentukan konsumsinya sekian, katakanlah Rp100 triliun, kan musti taat, terkecuali kalau anda katakan subsidi dinaikkan, kalo tidak semuanya naik, kalau gitu kan harus kita naikkan, lalu anda pun tidak boleh marah, karena ini tidak perlu persetujuan DPR,” kata JK.

Hal senada juga dilontarkan Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Bachtiar Effendi.

Dikatakan, pengorganisasian partai-partai yang berkoalisi ke dalam sekretariat gabungan dimaksudkan agar kekuatan politik yang dominan mudah diorganisasi. Namun upaya ini gagal untuk mewujudkan kekuatan politik dominan yang bisa memerintah secara efektif.

“Alih-alih dimaksudkan untuk membangun agenda pemerintahan bersama, koalisi justru hanya ingin digunakan untuk mencari dukungan mayoritas di parlemen. Karena bertumpu pada sistem presidensial, tetap saja yang menjadi penentu kebijakan adalah presiden,” katanya.

Dalam sistem ini, kebijakan atau agenda pemerintahan tidak pernah menjadi sesuatu yang digagas, dirumuskan, dan dilaksanakan bersama oleh koalisi. Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) misalnya, tetap saja hal itu merupakan inisiatif presiden yang belum tentu disetujui atau didukung oleh partai-partai yang tergabung dalam koalisi.

Menurut Bachtiar, kesalahan paling elementer dari penggagas koalisi ini adalah bahwa sistem presidensial tidak mengenal koalisi. Pemerintahan presidensial hanya akan berjalan efektif jika jumlah partai terbatas—misal dua partai seperti di Amerika Serikat. Dengan jumlah partai yang sedikit itu, kemungkinan menghadirkan kekuatan politik yang dominan lebih besar.

Sebenarnya ide untuk membangun koalisi sebagaimana disinggung di atas bukanlah sesuatu yang serta merta jelek. Akan tetapi, koalisi mengesankan sesuatu yang dipaksakan secara maksimal sehingga menjadi sulit dikelola.

“Jika saja pemerintahan puas dengan koalisi mayoritas sederhana (50 persen plus), tidak bakal banyak partai yang bakal diajak bergabung. Dapat dipastikan, pilihan ini akan lebih mudah untuk dikekola,” kata Bachtiar.

Langkah seperti ini, membangun koalisi mayoritas sederhana di dalam sistem presidensial dengan banyak partai, mungkin saja bisa mengatasi diskordansi yang terjadi. Akan tetapi, hal itu harus dianggap sebagai jalan keluar yang bersifat sementara.

“Pembangunan politik hendaknya tetap diarahkan pada pengurangan jumlah partai, kecuali kita bersedia beralih pada sistem pemerintahan parlementer,” tuturnya.(kompas)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berkas tersangka pembakar lahan dinyatakan lengkap

    Berkas tersangka pembakar lahan dinyatakan lengkap

    • calendar_month Kamis, 20 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kepolisian Daerah Riau telah menetapkan 66 tersangka kasus pembakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau. Dari 66 tersangka, 2 berkas telah dinyatakan lengkap atau P21. “Yang selesai masih tahap 1 ke kejaksaan untuk P21 ada 21 orang. Dan yang sudah P21 ada 2 berkas itu kasus di Rokan Hilir,” kata Kabag Penum Polri […]

  • Aliansi Enam Lembaga Lakukan Gerakan Koin Cinta Untuk Rizky Wasiah

    Aliansi Enam Lembaga Lakukan Gerakan Koin Cinta Untuk Rizky Wasiah

    • calendar_month Jumat, 22 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Usai solat Jum’at (22/`1) aliansi enam lembaga melakukan Gerakan Koin Cinta Untuk Rizky Wasiah, bayi 10 bulan yang mengalami usus keluar sejak lahir. Keenam lembaga itu meliputi Karang Taruna Madina, media Mandailing Online, surat kabar Malintang Pos, surat kabar Portibi DNP, surat kabar Metro Tabagsel dan DPC PDI Perjuangan Madina. Gerakan […]

  • Harga Kedondong Naik Akibat Daerah Lain Belum Panen

    Harga Kedondong Naik Akibat Daerah Lain Belum Panen

    • calendar_month Senin, 17 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Melonjaknya harga buah kedondong di tingkat petani dalam dua pekan terakhir di Mandailing Natal (Madina) akibat meningkatnya permintaan pasar lalu mempengaruhi harga. “Naiknya harga dimungkinkan akibat daerah luar Madina sedang tidak musim penen, makanya harganya naik,” ungkap pedagang pengumpul, Kali Junjung di Kecamatan Panyabungan Utara, Minggu (16/6/2013). Dikatakannya, dalam satu hari […]

  • Tema Infrastruktur Jalan, SAHATA Pilih Optimalisasi APBD dengan Skala Prioritas

    Tema Infrastruktur Jalan, SAHATA Pilih Optimalisasi APBD dengan Skala Prioritas

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PADANG LAWAS UTARA (Mandailing Online) – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor 2 Saipullah Nasution-Atika Azmi Utammi (Paslon SAHATA) memilih optimalisasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dengan skala prioritas untuk meningkatkan ruas jalan daerah. Hal itu, kata Saipullah, karena kondisi APBD Madina saat ini hanya memungkinkan membangun 10 kilometer jalan per […]

  • Angkut 3 Ton Kayu Hutan Lindung

    Angkut 3 Ton Kayu Hutan Lindung

    • calendar_month Selasa, 8 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Warga Amankan Truk Rekanan PT HPP RANTAU, – Puluhan masyarakat Panai Tengah Kabupaten Labuhanbatu mengamankan satu unit truk roda enam yang mengangkut sekitar 3 ton kayu ilegal olahan, Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB, di sekitar lokasi jembatan Sei Rakyat. Pengamanan truk tersebut karena masyarakat mendapat informasi kayu yang diangkut truk tersebut merupakan kayu yang […]

  • Pemkab Harus Jago Lobi Dana Pusat

    Pemkab Harus Jago Lobi Dana Pusat

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bangun Jalan dan Bandara MADINA; Anggota DPRD Mandailing Natal dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hj Riadoh Rangkuti menilai, banyak pembangunan di kabupaten tersebut terkendala oleh ketiadaan anggaran. Oleh sebab itu Pemkab Madina diimbau untuk terus melobi dana ke pemerintah pusat. ”Kalau dilihat kondisi Jalinsum terutama di Bukit Malintang, itu sangat memprihatinkan. Lihat saja, jalan […]

expand_less