Selasa, 22 Sep 2026
light_mode

TRANSFORMASI SOSIAL ADAT DAN BUDAYA MANDAILING (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2015
  • print Cetak

 

Sebuah Perfleksi dan Reorientasi

Oleh: Askolani Nasution*

 

Prolog

Amat sulit untuk mendeskripsikan sejarah atau tipikal adat dan budaya Mandailing. Terutama karena adat dan budaya daerah ini tidak diwariskan melalui literasi. Sekalipun kita sudah mengenal huruf tulak-tulak 1), tetapi aksara tersebut tidak digunakan untuk tradisi literer. Tetapi, hanya ditulis untuk mantera, ramalan, perjanjian antardesa, silsilah, dan andung-andung. Pustaha—buku kuno Mandailing, nyatanya tidak menulis sejarah. Turi, sebagai salah satu tradisi bercerita dalam budaya Mandailing, juga tidak diwariskan secara tertulis, hanya ditularkan dalam bentuk tradisi lisan.

Sekalipun aksara Mandailing sudah lama dikenal, tetapi berbeda dengan etnis lain yang mengembangkan tradisi literasi, aksara Mandailing tidak mengalami perkembangan yang luas. Karena itu, banyak sisi labirint dalam sejarah dan perkembangan adat dan budaya Mandailing yang belum terpublikasikan. Karena itu etnis Mandailing juga tidak mengenal tradisi membaca sebagaimana etnis lain yang mengembangkan tradisi literer.

Kontekstualitas ini sepatutnya menambah pengertian kita bahwa Mandailing yang diyakini pernah memiliki kerajaan besar yang membentang dari Sibuhuan hingga Lubuk Sikaping, pusat eksplorasi emas terpenting di Sumatera pada masa Hindu dan mendorong kerajaan Majapahit untuk melakukan ekspansi 2), tetap menjadi labirint yang belum sepenuhnya termaknai.

Transformasi Sosial

Tidak ada satu kawasan yang hidup dalam kekosongan sosial. Mandailing juga bukan satu suku bangsa yang teralienasi dari pengaruh suku bangsa lain. Singkuang pernah menjadi pelabuhan terbesar dalam perdagangan emas untuk komoditas emas pasar Cina dan India. Masuknya agama Hindu ke Mandailing diyakni bersamaan dengan masuknya pedagang-pedagang emas dari dua bangsa itu.

Beberapa studi menunjukkan bahwa di Hutabargot, jauh sebelum kolonialisme masuk, telah ada asimilasi budaya antara India dengan Mandailing, bahkan perkawinan campuran. Perlu studi yang lebih khusus untuk memetakan sejauh mana asimilasi tersebut mendorong tumbuhnya kerajaan besar pertama di Mandailing, jauh sebelum berdiri kerajaan Pulungan yang pertama.

Mandailing telah mengalami berbagai interaksi sosial dan persentuhan budaya yang amat variatif, baik masa prasejarah, masa eksplorasi emas, masuknya Hindu dan Islam, kolonialisme Portugis dan Belanda, dan tentu juga masa globalisasi saat ini 3). Karena itu, tipikal manusia Mandailing yang terpola saat ini, harus idealnya dijelaskan dalam satu klausal yang panjang, merunut ke migrasi pertama suku bangsa Mandailing dari Asia Tengah.

Pertumbuhan wacana sosio kultural di suatu entitas suku bangsa selalu bersintesa dengan pengalaman-pengalaman daerah itu (Alfazaeni, 2011). Berbagai sintesa dan pengalaman sosial itu tak bisa dilepaskan dari pertumbuhan ideologi dan perubahanperubahan pemahaman makna adat dan budayanya 4).

Perubahan makna itu bukan sepenuhnya dominasi kelas menengah sebagaimana diyakini Gramsci. Tanpa kelas menengah pun, sebuah suku bangsa tak bisa sepenuhnya menghindar dari perubahan-perubahan pemikiran sosial di zamannya. Banyak studi yang membuktikan bahwa masuknya agama ke berbagai kawasan lebih sering dari kelompok akar rumput. Bahkan kelas sosial paling rendah biasanya lebih sering tereduksi rasa sosial zamannya 5). Meskipun begitu, tidak juga bisa diabaikan peran elite sosial dalam menumbuhkan kesadaran homogenitas kelas sosial terbawah.

Peran elite sosial itu sepatutnya dapat terberdayakan untuk menumbuhkan kesadaran sosial masyarakatnya. Berbagai ornamen yang dimiliki elite sosial politik sepatutnya dapat digunakan untuk mentransformasikan adat dan budaya Mandailing untuk perubahan dan pemberdayaan rakyat secara umum. Adat dan budaya Mandailing diyakini merupakan formula yang masih perfeksional untuk suatu pola tatanan kemasyarakat yang mumpuni.

Sebab, dalam formula itu, sejak ratusan tahun yang lalu Mandailing dapat meraih masa kejayaannya. Hal itu ditandai dengan satu kerajaan besar dan bermartabat yang diminati investor Cina dan India dalam perdagangan emas. Berkembangnya budaya dan seni Mandailing pada masa itu menandakan adanya satu pemerintahan yang sudah maju 6). Sebab, seni dan budaya tetap diyakini sebagai penanda masyarakat sosial yang madani, selain adanya kepastian hukum yang berkeadilan dan kesejahteraan ekonomi.

Pengkerdilan Sistemik

Runtuhnya kerajaan Mandailing dan masuknya kolonialisme boleh jadi merupakan satu klausal yang signifikan, meskipun bukan satu-satunya faktor pendukung. Tidak semua pemerintahan dapat perfeksionis untuk menyusun strategi kebijakan yang mampu menumbuhkan pemberdayaan rakyat. Gagalnya raja-raja Mandailing dalam membendung kolonialisme, telah mengubah banyak hal dalam dinamika sosial Mandailing, baik struktur sosial politis, pemerintahan, adat budaya, dan nilai-nilai.

Ketidakpuasan sosial yang timbul karena kolonialisme dan lemahnya pemangku adat, menyebabkan merebaknya kekecewaan komunual. Ada hubungan yang signifikan antara perampasan (deprivasi) harapan-harapan hidup dengan ekspresi ketidakpuasan sosial. Semakin menipis harapan sosial, semakin meningkat kebutuhan akan perubahan sosial.

Pada saat yang sama juga berkembang kelompok terpelajar yang lahir dari ‘dampak baik’ kolonialisme 7). Kemajuan Eropah, ketertindasan rakyat terjajah, dan memudarnya pengaruh kelompok bangsawan, turut mengubah wacana sosial. Selain itu, perubahan pola hidup dari masyarakat agraris ke masyarakat industri setelah masa kemerdekaan, juga punya andil. Pemerintahan pusat dan daerah lebih terobsesi dengan bangsa-bangsa modern Eropah. Idiom-idiom masyarakat urban yang ditonjolkan dan acap kali tanpa dibarengi penyiapan sarana-sarana pemulihan prilaku, telah mendorong memudarnya integritas budaya lokal. Ditambah lagi dengan kurikulum sekolah yang amat sentralistik dan berkiblat ke Barat, makin mendorong keterpencilan budaya.

Ketidakjelasan budaya itu acap kali memicu menumpuknya kekecawaan sosial. Kegamangan sosial itu berakibat pada penanggalan-penanggalan idiom budaya. Modernisai juga turut andil dalam pengucilan karakter-karakter lokal. Dominasi televisi, penumbuhan nilai-nilai baru yang gagal bersinergi dengan adat dan Budaya Mandailing 8), pengaruh golobalisasi dan makin kerdilnya pengaruh kelompok adat, berkembangnya wacana-wacana lintas bangsa, makin memicu pengalienasian nilai-nilai luhur Mandailing.

Hal itu diperburuk lagi dengan tetap lemahnya tradisi literer bahasa Mandailing. Adat dan budaya lalu terpinggirkan sedemikian rupa, hanya masih tampak urgen dalam upacara-upacara perkawinan saja. Dan dalam pemencilan karakteristik Mandailing itu, ternyata amat sedikit yang kehilangan, apalagi adanya usaha-usaha yang signifikan untuk memberdayakannya lagi. Kita kehilangan kesadaran kolektif.

Selain itu, tumbuhnya demokrasi dan pergeseran acuan-acuan poltik juga punya peran dalam pengkerdilan khazanah Mandailing ini. Sentimen-sentimen politik yang dikembangkan partai-partai politik tampak amat Indonesia. Nyaris tidak ada kampanye politik atau program kerja partai yang menyentuh idiom-idiom lokal. Bahkan di tingkat lokal pun, partai politik tidak melihat wacana budaya daerah sebagai idiom-idiom politik.

Kontestasi dan partisipatif sebagai dua hal yang paling urgen dalam partai politik tampak hanya mengandalkan primordialisme saja. Tingginya persaingan politik dan gagalnya merumuskan idiomatik yang berdaya tarik, mendorong para pendulang suara hanya memanfaatkan dukungan primordial saja. Misalnya hubungan kekerabatan, baik karena darah maupun perkawinan. Bukan atas dasar pemulihan khazanah-khazanah lokal yang termarjinalisasi.

Sentimen primordial untuk dukungan politis itu berdampak pada pemilahan masyarakat (Dwipayana, 2011). Feodalisme gaya baru berkembang ke arah yang lebih buruk, karena tanpa dibarengi dengan pemulihan idiom-idiom budaya. Bahkan menyebabkan distorsi sosial, peruntuhan nilai-nilai kemajemukan, atau bahkan bentrok sosial. Padahal, awalnya hanya menghindari politik transaksional. Tragisnya, sedikit yang melihat klausal ini turut mendorong munculnya keputusasaan sosial yang berdampak pada partisipasi politik. Padahal, Makin besar kekecewaan masyarakat, makin rendah partisipasi sosialnya (Heryanto, 2011).

Patron demokrasi seperti itu, acapkali hanya memenangkan pilihan yang paling kurang buruk. Atau to govern is to choose among disadvantages; minus malum. Begitu istilah mantan Presiden Perancis, Charles de Gaulle: “Memilih di antara pilihan-pilihan yang sulit; memilih yang paling kurang buruk”. Karena itu, yang lahir juga bukan pemimpin politik yang menyadari pentingnya pemberdayaan adat dan budaya. Hal itu juga mendorong gagalnya membuat rumusan kebijakan pemerintah yang berkhazanah lokal.

Furifikasi Filsafat

Harus diakui bahwa sebuah adat dan budaya bukan hanya segepok norma dan aturan tingkah laku bagi satu etnik bangsa. Meskipun Mochtar Lubis (1981) mengatakan tidak ada satu suku bangsa yang murni tanpa pengaruh suku bangsa lain, penting disadari bahwa setiap suku bangsa juga merupakan satu entitas sosial. Mandailing dengan keluhuran adat dan budayanya idealnya dapat dipahami sebagai satu entitas filosofi yang amat berkarakter. Kita memiliki rumah yang khas, pola perkampungan yang khas, sistem kekerabatan yang khas, acuan norma dan hukum yang khas, budaya yang khas, dan pola interaksi sosial yang amat berbeda dengan tipikal etnis lain.

Acuan-acuan itu terbukti dapat memposisikan Mandailing sebagai artepak sosial yang bermartabat sejak ratusan tahun yang lalu. Dimensi-dimensi entitas itu idelanya dapat dimaknai sebagai satu ranah filsafat sosial, sebagaimana ranah filsafat yang juga melekat pada kelompok sosial lain. Ranah filsafat itu melekat pada berbagai ornamen adat dan budaya Mandailing, baik rumah tinggal, adat, budaya, dan pola interaksi sosialnya. Beberapa di antaranya adalah:

1. Filsafat Bagas Godang

Bagas Godang merupakan rumah berarsitektur Mandailing dengan konstruksi yang khas. Berbentuk empat persegi panjang yang disangga kayu-kayu besar berjumlah ganjil. Ruang terdiri dari ruang depan, ruang tengah, ruang tidur, dan dapur. Terbuat dari kayu, berkolong dengan tujuh atau sembilan anak tangga, berpintu lebar dan berbunyi keras jika dibuka. Kontruksi atap berbentuk tarup silengkung dolok, seperti atap pedati. Satu komplek dengan Bagas Godang terdapat Sopo Godang, Sopo Gondang, Sopo Jago, dan Sopo Eme. Keseluruhan menghadap ke Alaman Bolak.

Bagas Godang merupakan pusat seluruh pemerintahan dan tempat tinggal raja sebagai orang yang paling dihormati. Ruang tengah digunakan untuk menerima kerabat atau alak na sahudon. Di dalam ruang itu semua orang kedudukannya sama. Bahkan raja ketika masuk di dalamnya diposisikan sebagai anggota keluarga, bukan pemimpin keluarga. Filosofi ini menunjukkan bahwa setiap orang harus dapat berganti peran sosial sesuai dengan kedudukannya dalam relasi Dalihan Na Tolu.

Sembilan anak tangga, berpintu lebar dan berbunyi keras ketika dibuka merupakan penanda hamoraon, kebesaran dan keagungan. Semua kerabat sahudon memang ditanamkan tujuan untuk selalu menjaga kehormatan keluarga, menghindari aib dan segala sesuatu yang dapat mengerdilkan status sosial bersama. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tympanum Multimedia Rilis Aplikasi Ujian Nasional Berbasis CBT

    Tympanum Multimedia Rilis Aplikasi Ujian Nasional Berbasis CBT

    • calendar_month Selasa, 24 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ujian Nasional 2016 tidak lagi menggunakan kertas manual, tetapi menggunakan CBT (Computer Based Training). Dengan sistem ini, perolehan nilai peserta ujian segera dapat diperoleh begitu selesai menjawab soal. Model ujian nasional ini memang efektif dan efisien untuk mengukur ketercapaian pembelajaran.Masalahnya, untuk daerah-daerah terbelakang seperti Kabupaten Mandailing Natal, hal ini akan membawa […]

  • Bahasa Mandailing, Sastra Klasik Hingga Masa Kolonial (bagian 3)

    Bahasa Mandailing, Sastra Klasik Hingga Masa Kolonial (bagian 3)

    • calendar_month Senin, 17 Jan 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masa Kolonial Beberapa tonggak sastra yang berkembang pada masa kolonial antara lain: Willem Iskander (1840-1876) Pria kelahiran Pidoli bernama asli Sati Nasution ini menulis beberapa buku, antara lain: 1) “Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865). 2) “Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871) […]

  • Ketua DPD Hanura Sumut Tersandung Kasus Asusila

    Ketua DPD Hanura Sumut Tersandung Kasus Asusila

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIANTAR- Ketua DPD Partai Hanura Sumatera Utara H Zulkifli Siregar (ZS) tersandung kasus asusila. Pria 56 tahun itu diadukan ke Mapolresta Siantar Sabtu (5/3) malam dengan sangkaan melakukan pelecehan seksual kepada Ade Trianingsih (19) di Hall Laponta Siantar Hotel, Sabtu (26/2) sekira pukul 02.00WIB. Informasi yang berhasil di peroleh dari berbagai sumber menyebutkan, Zulkifli berada […]

  • Investor Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

    Investor Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

    • calendar_month Kamis, 5 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Rendahnya tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Madina masih terlihat jelas. Untuk itu masyarakat meminta kepada Pemkab Madina untuk memberikan perubahan dengan mendatangkan investor. Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Keluarga Besar Mahasiswa Mandailing Natal (Gambema Madina) Agussalam Nasution didampingi Sekretaris Musliadi Nasution kepada METRO di Panyabungan, Rabu (4/1). Keduanya menyebutkan, sesungguhnya masyarakat […]

  • Alokasi Biaya Gaji Pegawai Tembus Rp 547,1 Triliun
    Tak Berkategori

    Alokasi Biaya Gaji Pegawai Tembus Rp 547,1 Triliun

    • calendar_month Kamis, 2 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Gaji PNS Disarankan Tidak Naik Tiap Tahun Anggaram Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2013 tidak pro poor. Terbukti, pemerintah lebih senang menutupi jebolnya APBN dengan cara mengurangi subsidi BBM ketimbang melakukan efisiensi dan mengurangi ongkos yang sangat layak untuk dipotong. “Anggaran yang paling layak untuk dipotong adalah gaji pegawai negeri sipil (PNS),” kata Koordinator […]

  • Karang Taruna Madina Antar Bantuan Untuk Rohingya Di Langsa

    Karang Taruna Madina Antar Bantuan Untuk Rohingya Di Langsa

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Karang Taruna Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Rabu (10/6) berangkat ke Langsa, Provinsi Nangroe Aceh Darusalam  mengantarkan bantuan masyarakat Madina bagi pengungsi muslim Rohingya. Bantuan yang diantarkan berupa uang tunai sebesar 17.231.000 rupiah, beras 26 sak, air mineral 104 sak, ikan kaleng 12 dus, mie instan 74 dus, pakaian bekas 21 […]

expand_less