Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode

KESUSASTRAAN MANDAILING (2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
  • print Cetak

Oleh: Askolani Nasution
(Bahan pada Sarasehan Kebudayaan Mandailing, Jakarta, 1 Juni 2013)

Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut:

1.Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain:

•“Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865)

•“Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871)
•“Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk.” (1872)

•“Taringot di Ragam-ragam ni Parbinotoan dohot Sinaloan ni Alak Eropa.” Naskah ini diadaptasi dari buku “Ceritera Ilmu Kepandaian Orang Putih” yang ditulis oleh Abdullah Munsyi, seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Melayu. (1873)

2.Soetan Martua Raja (Siregar). Ia lahir dari keluarga aristokrat di Bagas Lombang Sipirok, berpendidikan HIS, sekolah elite di Pematang Siantar. Karyanya adalah:
•“Hamajuon” (Bahan Bacaan Sekolah Dasar)

•“Doea Sadjoli: Boekoe Siseon ni Dakdanak di Sikola.”
(1917). Buku ini menimbulkan daya kritik terhadap pemikiran anak-anak. Ditulis dengan aksara Latin (Soerat Oelando) yang relatif mengembangkan pedagogik sekuler. Buku ini mengadopsi poda, semacam storyteller yang berisi petuah, ajaran moral dalam konteks tingkat berpikir anak-anak.
•“Ranto Omas” (Golden Chain), 1918.

3.Soetan Hasoendoetan (Sipahutar), penulis novel dan jurnalis. Karya-karyanya:

•Turi-Turian (cerita bertutur, mengisahkan hubungan interaksi antara manusia dengan penguasa langit)

•“Sitti Djaoerah: Padan Djandji na Togoe.” (1927-1929), sebuah serial berbahasa Angkola Mandailing yang dimuat secara berantai dalam 457 halaman. Serial ini dimuat di mingguan “Pustaha” yang terbit di Sibolga. Kisah ini diyakini menjadi alasan pembaca membeli surat kabar tersebut.

Serial ini mengadopsi cerita-cerita epik, turi-turian, dan berbagai terminologi sosial masyarakat Angkola-Mandailing dan ditulis dengan gaya bertutur novel. Ini selaras dengan berkembangnya berbagai novel berbahasa Melayu yang dipublikasikan pemerintah kolonial.

Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, masa ini dikenal dengan masa Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an. Soetan Hasundutan mengatakan bahwa ia menulis novel roman ini karena terinspirasi dengan novel “Siti Nurbaja” (Marah Rusli, 1922) yang sangat populer ketika itu.

•“Datoek Toengkoe Adji Malim Leman.” (1941), terbitan Sjarief, Pematang Siantar.

4.Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, menulis buku “Turian-turian ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi.” Buku ini diterbitkan Pustaka Murni Pematang Siantar bertajuk tahun 1914.

5.Sutan Pangurabaan. Karyanya, “Ampang Limo Bapole.” (1930), “Parkalaan Tondoeng” (1937), “Parpadanan” (1930), dan sebuah buku berbahasa Melayu “Mentjapai Doenia Baroe” (1934). Di samping buku-buku yang ditulis Willem Iskander, buku-bukunya juga menjadi buku bacaan untuk sekolah-sekolah masa kolonial.

6.Soetan Habiaran Siregar menggali bahasa, tari-tarian, dan lagu yang berasal dari Angkola-Mandailing. Ia menulis beberapa turi-turian, antara lain: “Turi-turian ni Tunggal Panaluan”, “Panangkok Saring-Saring tu Tambak na Timbo” (1983), dan lain-lain. Selain itu, ia juga membuat komposisi lagu yang dibuat menggunakan komposisi beat berirama cha-cha.

Selain sastra berbahasa Mandailing Angkola tersebut, penting dicatat tumbuhnya sastra Indonesia yang berbahasa Melayu tetapi dengan mengadopsi warna lokal. Misalnya novel “Azab dan Sengsara” (1921) yang ditulis Merari Siregar. Novel ini mengangkat kontekstual adat dan budaya semacam kawin paksa, warta warisan, hubungan kekerabatan, dan tradisi lokal Mandailing-Angkola.

KESUSASTRAAN MANDAILING KONTEMPORER
Berubahnya kurikulum pendidikan setelah masa kemerdekaan turut menyebabkan memudarnya penggunaan bahasa Mandailing. Selain itu, euforia bangsa yang baru saja merdeka dan menguatnya instrumen-instrumen berkarakter nasional yang tercermin dalam bahasa dan budaya baru bernama “Indonesia” dan teraktualisasi secara masif dalam sistem pendidikan nasional, menjadi kausalitas yang patut ditandai.

Hal ini diperburuk lagi dengan menguatnya “Java Oriented” dalam era Pemerintahan 1965 – 1998. Bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan merebaknya bahan bacaan berkultur nasional, semua itu berperan dalam melemahkan “saro ita”. Kurikulum Tahun 2006 yang membuka ruang ‘muatan lokal” ternyata juga gagal ditindaklanjuti daerah dengan penguatan bahasa dan karakteristik daerah.

Sastra literer nyaris mati. Hanya beberapa cerita sporadis yang muncul dalam media massa daerah. Itu juga dengan daya tarik yang diyakini rendah, karena pembaca merasa ‘asing’ dengan bahasa yang digunakan.

Tentu karena ada rentang yang ‘tak termaknai’ antara bahasa sastra Mandailing prakontemporer dengan bahasa Mandailing sebagai lingua-franca dalam konteks modern. Ada gap penguasaan makna bahasa antara penulis dengan penikmat sastra. Itu yang mendorong pemencilan sastra Mandailing.

Tahun 2009, saya menulis cerpen “Parkancitan”. Ketika cerpen itu saya kupas di sekolah, anak-anak menerimanya dengan aneh.

“I kan tu alak na maradong dei. Ho, aha nanga nadongmu? Sugi-sugi pe nga tartabusi ho,” ning ia sungkar. Sip polngit doma au.

Sangajo tie. Na larat mantong iba da. Dung do boto marbagas, lima ma daganak bo, na so unjung dope margonti santut niba. Hum baju ni daganak payah. Pala uida boto baju ni ayah si Butet, ekle baya. Dua pulu taon mantong naso igosok i baju nia. Gosokan takar dope na jolo. Isibakkon soni bulung ni pisangi laos manggosok. Ulang ma milas tu ninna. Na goso ma.(bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penjualan Lebai Dan Buku Islami Meningkat

    Penjualan Lebai Dan Buku Islami Meningkat

    • calendar_month Senin, 15 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Beberapa hari memasuki Ramadhan, pedagang keliling lebai dan buku-buku Islam diserbu konsumen di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Rahmat Rahim dan Arif, keduanya pedagang keliling ketika berjualan di mesjid agung Nur Ala Nur, kemarin mengatakan usahanya selalu meningkat di bulan Ramadhan. “Jika di bulan puasa seperti sekarang ini, pada umumnya omset penjualan […]

  • Panen Raya Padi di Madina, Penyedia Jasa Mesin Rontok Padi Banjir Orderan

    Panen Raya Padi di Madina, Penyedia Jasa Mesin Rontok Padi Banjir Orderan

    • calendar_month Kamis, 5 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- Panen raya padi di wilayah Kabupaten Mandailing Natal membuat penyedia jasa mesin perontok padi kebanjiran orderan. Mursal salah satunya, selama sepekan terakhir, mesin perontok padi miliknya selalu dapat orderan. “Jasa yang harus dibayar petani dihitung per kaleng hasil panen padi yakni 4000 rupiah. Dalam satu hari bisa empat areal sawah yang […]

  • Alih Status Pegawai KPK Menjadi ASN : Apakah KPK Masih Independen?

    Alih Status Pegawai KPK Menjadi ASN : Apakah KPK Masih Independen?

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Rahma Hayati, M.Pd   Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2020 Tentang Pengalihan Pegawai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Menjadi Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) resmi diterbitkan. Perturan tersebut ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Juli 2020 dan diundangkan pada 27 Juli 2020. Dengan terbitnya aturan ini, maka pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi […]

  • Uang Hilang Dari Rekening

    Uang Hilang Dari Rekening

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Kesal uangnya hilang, nasabah Bank Syariah Mandiri Cabang Panyabungan, Mandailing Natal, melapor ke wartawan. Kekesalan ini berawal dari janji-janji pihak bank yang akan segera menyelesaikan persoalan uang yang hilang dari rekening nasabah. Arfan Abdullah Lubis, penduduk Kelurahan Sipolu-polu, Panyabungan, kepada wartawan, Selasa (23/11/2010) mengatakan, pada 8 September lalu, ia mentransfer uang melalui ATM Bank […]

  • 700 Relawan H. Aswin Ikuti Pembekalan

    700 Relawan H. Aswin Ikuti Pembekalan

    • calendar_month Sabtu, 23 Feb 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 700 tim Relawan Kordinator TPS dan Kecamatan untuk calon anggota DPR-RI H.Aswin mengikuti kegiatan pembekalan di Payabungan, Sabtu (23/2/2019). Pembekalan untuk relawan dari 8 kecamatan ini berlangsung di gedung GOR Banjar Sibaguri, Panyabungan III. Relawan berasal dari Kecamatan Panyabungan, Panyabungan Timur, Panyabungan Barat, Panyabungan Utara, Hutabargot, Naga Juang, Bukit Malintang […]

  • Pangdam I/BB terima calon Tamtama tahun 2012

    Pangdam I/BB terima calon Tamtama tahun 2012

    • calendar_month Selasa, 10 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk menjadi Tamtama Prajurit Karier TNI AD Tahun 2012. Bagi yang berminat menjadi Prajurit TNI AD dapat mendaftarkan diri, pendaftaran dimulai pada tanggal 9 sampai dengan 20 Januari 2012 atau sampai alokasi pendaftar terpenuhi sesuai ratio (tujuh kali alokasi). […]

expand_less