Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Kisah Imam Denmark Menemukan Cahaya Islam

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 28 Okt 2013
  • print Cetak

Reino Arild Pedersen, merupakan imam pertama pengisi khotbah Jumat di Denmark. Ia lebih terkenal dengan nama Abdul Wahid Pedersen, namanya setelah berislam. Siapa sangka, sang imam yang pengetahuan keislamannya luas itu merupakan seoran mualaf. Hingga mengenal Islam, perjalanannya pun tak singkat. Ia menempuh banyak perjalanan hingga mendapat manisnya hidayah.

Perjalanannya dimulai saat usianya masih 16 tahun. Saat itu ia memutuskan untuk meninggalkan agama Kristen yang ia anut dari kecil. Tujuannya meninggalkan gereja hanya satu, ia ingin bebas dari afiliasi agama apapun. Sejak itu, ia pun menjadi pemuda dengan pemikiran sangat bebas. Pedersen muda begitu liberal dan sekular.

Dengan kebebasan hidup yang ia klaim, Pedersen mencoba banyak hal. Ia kemudian menginginkan hidup penuh kasih dan damai. Ia pun mencoba menjadi vegetarian, namun gagal. Ia tak bisa berpuasa daging terus menerus.

Hingga usia 21 tahun, Pedersen hidup dibawah godaan kebebasan. Hingga suatu hari, ia meninggalkan Denmark bersama seorang teman karibnya. Kali ini ia ingin menerapkan Yin Yang dalam hidupnya. “Kami bepergian melalui Afrika, Asia dan Timur Tengah. Prinsip kami saat itu, perjalanan akan membimbing kami untuk hidup berdasar hukum alam Yin dan Yang,” ujarnya, tertawa mengenang masa lalu.

Selama perjalanan itu, Pedersen menemukan beragam budaya dan agama. Ia pun kemudian mulai tertarik hal tersebut. Pedersen bertanya pada diri sendiri, “Apa agamaku? Darimana aku berasal?” Namun ia tak mampu mendefinisikan kehidupannya. Ia pun kemudian belajar spiritual di Rajasthan, India. Tak lama, ia kemudian menjadi penganut Hindu.

Empat tahun ia memeluk agama Hindu. Selama itu, Pedersen justru tergugah mengenai konsep Tuhan. Saat tak lagi menjadi penganut Hindu, Pedersen masih digandrungi pertanyaan tentang Tuhan. “Itu membuka minatku pada Tuhan. Pencarian resmi akan Tuhan pun aku mulai,” tuturnya.

Ia pun mempelajari beragam agama. Ia mencari konsep Tuhan. Hasilnya, ia mendapati bahwa semua agama mengajarkan kebenaran. Namun Tuhan sesungguhnya hanyalah satu. Lalu dimana Tuhan itu.

Pedersen pun kembali ke Eropa. Ia menyendiri dan mencari eksistensi Tuhan. Dalam kesendirian dan kesunyian, ia berseru kepada Tuhan yang ia pun tak tahu ada dimana. “Jika Engkau memang ada, Engkau bisa mendengar saya. Jika Engkau memang ada, Engkau bisa melihat saya. Jika Engkau memang ada, Engkau tahu kebutuhan saya,” seru Pederson. Ia berharap Tuhan dapat membimbingnya.

Menemukan Islam
Saat pulang ke Denmark setelah perjalanan panjang, Pederson memilih pindah ke pedesaan dan merawat kebun. Disana ia mencoba menenagkan diri dalam pencarian Tuhan. Dalam beberapa waktu, iai seringkali duduk menyendiri di kamar, menyeru Tuhan. Ia berdoa agar Tuhan membimbingnya.

“Aku buta, tuli, bisu dan tak tahu apa yang baik untuk saya. Maka berilah saya jalan, bukakan pintu untuk saya, berilah saya bimbingan,” doa Pederson yang terus ia ulang setiap waktu.

Doanya terijabah. Suatu hari seorang teman lama mengunjunginya. Teman lamanya itu telah berislam. Ia mengajak Pederson untuk menjelajahi Gurun Sahara. “Dia merencanakan perjalanan ke gurun Sahara untuk belajar beberapa hal dari suku Tuareg . Dia memintaku untuk bergabung dengannya, karena ia tahu bahwa aku telah menyeberangi gurun Sahara sebelumnya. Aku langsung setuju untuk ikut. Gurun selalu membuatku tertarik. Sebelum berangkat, aku menegaskan bahwa aku tak tertarik untuk menjadi seorang Muslim. Aku tidak keberatan tinggal di antara muslim, tapi aku tidak akan masuk Islam,” ujar Pederson, mengenang.

Pederson pun melakukan perjalanan bersama muslimin. Banyak hal yang kemudian menjadi pengetahuan baru baginya. Bagaimana mereka shalat, berjamaah, berwudhu, berdoa. Ia juga kaget dengan adanya panggilan adzan.

“Melihat mereka aku merasa malu. Belum pernah aku merasa malu seperti itu. Aku malu karena tak rajin berdoa. Aku tak banyak meluangkan waktu untuk Tuhan. Waktu untuk Tuhan hanya di sisa waktuku saja. Ketika aku cenderung pada keinginan dan kebutuhan pribadi, orang-orang itu justru memberikan waktunya untuk Tuhan,” ujar Pederson.

Tak lama ia pun mulai mempelajari Islam. Ia mulai ikut serta dalam shalat mereka, berdoa bersama dan diskusi bersama. Saat itulah cahaya Allah memasuki hati Pederson. Ia merasakan kerinduan akan Tuhan yang teramat sangat. Ia jatuh hati pada Islam. Pederson kemudian memeluk agama Islam.

“Setalah masuk Islam, aku menyadari bahwa ini bukan hanya tentang apa yang aku cari selama ini. Karena kenyataannya, aku selalu menjadi muslim di hatiku. Aku sangat bersyukur menempuh jalan ini dan mendapat kebaikan Allah yang terus mengalir di hidupku,” ujar Pederson terharu.

Menjadi Cendekiawan Muslim
Pederson resmi menjadi muslim di tahun 1982. Sejak itu ia menghabiskan hidupnya untuk mempelajari Islam dan melakukan kegiatan keislaman. Pada tahun 1997, Pederson diangkat menjadi imam pertama di Denmark. Ia menerjemahkan banyak buku Islam ke dalam bahasa Denmark. Pedersen juga merupakan Wakil Presiden Muslims in Dialogue, sebuah organisasi multi-etnis Muslim Denmark yang mempromosikan Islam kepada masyarakat umum Denmark.

Ia juga merupakan pendiri dan kepala sekolah dari tiga sekolah swasta untuk anak-anak muslim Denmark. Ia juga pendiri Islamic Christian Study Center di Kopenhagen. Di luar Denmark, Pederson juga banyak menggalakan proyek bantuan ke berbagai negara.

Salah satu contohnya yakni pendirian sekolah di Kunar Afghanistan pra rezim Taliban. Ia juga pendiri Danish Muslim Aid yang membantu banyak muslimin di belahan dunia. Salah satu proyek DM-Aid yakni pembangunan 500 rumah untuk korban gempa di Kashmir Pakistan.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Agar Tak Terkorupsi, Bansos Pemprovsu di Madina Sebaiknya Uang Tunai

    Agar Tak Terkorupsi, Bansos Pemprovsu di Madina Sebaiknya Uang Tunai

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bantuan sosial dari Pemprov Sumut di Kabupaten Madina sebaiknya diedarkan dalam bentuk uang tunai. “Harus bentuk uang tunai agar tidak menjadi ajang korupsi,” ujar Irwansyah Nasution, pengamat Madina kepada Mandailing Online, Rabu (20/5/2020). Sebab kalau dalam bentuk bahan pangan akan mudah dikorupsi dari sisi kuantitas barang. “Hak orang yang mustahaq termasuk […]

  • PAD Naik 50 Persen di RPAPBD Madina 2021

    PAD Naik 50 Persen di RPAPBD Madina 2021

    • calendar_month Jumat, 24 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pendapatan Asli Daerah (PAD) naik 50 persen di Rancangan Perubahan APBD Mandailing Natal TA 2021. Pada APBD murni PAD ditarget sebesar Rp 100.203.036.445, pada RPAPBD ini menjadi 150.203.036.445. Kenaikan sebesar Rp 50.125.204.608. Itu diketahui dari nota keuangan Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RPAPBD) Mandailing Natal (Madina) TA 2021 yang […]

  • Oknum Pengurus Satu Ormas di Madina Minta Hentikan Pemberitaan PETI

    Oknum Pengurus Satu Ormas di Madina Minta Hentikan Pemberitaan PETI

    • calendar_month Sabtu, 15 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Maraknya pemberitaan Aktifitas penambangan emas tanpa izin ( PETI ) di Desa Lobung Kecamatan Lingga Bayu Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) yang terus beroperasi tanpa ada tindakan dari penegak hukum membuat seorang jurnalis yang bertugas di Madina merasa tertekan akibat adanya permintaan oknum pengurus salah satu organisasi masyarakat untuk […]

  • Relawan Harun-Ichwan Bajar Sehat Pastikan Coblos Nomor 1di Pilkada Madina

    Relawan Harun-Ichwan Bajar Sehat Pastikan Coblos Nomor 1di Pilkada Madina

    • calendar_month Minggu, 13 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online ): Puluhan emak emak mengatas namakan dirinya relawan Harun- Ichwan Banjar Sehat Kecamatan Panyabungan, cegat Calon Bupati Harun Mustafa Nasution saat hendak menjenguk seorang anak penderita penyakit tulang lunak Khoirin Nisa . ” pak Bupati singgah ditempat kami sebentar, kami adalah relawan Harun-Ichwan,” kata Khodijah selah seorang relawan Minggu 13/10. Bertepatan […]

  • Tertibkan Kafe Penyedia Wanita Penghibur!

    Tertibkan Kafe Penyedia Wanita Penghibur!

    • calendar_month Jumat, 4 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PALUTA, – Maraknya sejumlah kafe yang menyediakan wanita penghibur atau plus-plus di daerah Kecamatan Portibi, khususnya di Desa Padang Bulan akhir-akhir ini makin meresahkan. Untuk itu diminta kepada Satpol PP Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) untuk segera melakukan penertiban. Ketua Ikatan Mahasiswa Portibi dan sekitarnya, PR Harahap mengharapkan agar Pemkab Paluta melalui Satpol PP untuk […]

  • Seminar Kebangsaan di Madina

    Seminar Kebangsaan di Madina

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online)-Pemkab Mandailing Natal (Madina) mengadakan seminar sehari dan talk show peningkatan wawasan kebangsaan, Kamis (24/10/2019). Lika Saragih dari Kemendagri;  Prof. Dr Turmizi Lubis serta Ketua STAIN Madina Torkis Lubis menjadi narasumber. Seminar yang berlangsung di gedung Serbaguna, Panyabungan itu dihadiri organisasi-organisasi pemuda, ormas, usur polisi dan TNI, LSM, tokoh masyarakat, ASN […]

expand_less