Sabtu, 1 Agu 2026
light_mode

MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (4)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 18 Nov 2013
  • print Cetak

oleh : Z. Pangaduan Lubis

Mandailing dan Perang Paderi

Pada tanggal 13 agustus 1814, Inggris dan Belanda melakukan perjanjian yang isinya menyatakan bahwa jajahan Belanda di Kepulauan Nusantara yang telah diambil Inggris harus dikembalikan kepada Belanda. Dengan dijalankan perjanjian itu pada tahun 1816, maka Belanda kembali berkuasa di Padang.

Pada masa itu peperangan antara kaum Paderi dan kaum adat di Minangkabau sudah berlangsung beberapa tahun lamanya. Untuk menghadapai kekuatan kaum Paderi, pimpinan kaum adat meminta bantuan kepada Belanda. Dengan demikian maka terlibatlah Belanda dalam perang Paderi.

Gerakan kaum Paderi sudah mulai meluas ke wilayah Mandailing. Salah satu alasan kaum Paderi memasuki Mandailing adalah untuk melakukan pengislaman terhadap penduduknya yang masih menganut animisme yang dinamakan sipele begu (memuja roh).

Beberapa catatan mengatakan bahwa pada waktu kaum Paderi memasuki Mandailing, beberapa orang raja di Mandailing dan sejumlah penduduk sudah mulai menganut agama Islam. Kapan orang-orang Mandailing mulai menganut agama Islam untuk pertama kalinya belum diperoleh keterangan yang didukung oleh bukti-bukti sejarah yang otentik.

Tetapi setelah kaum Paderi menguasai Mandailing, mereka melakukan pengislaman terhadap semua penduduk, dan penduduk yang sudah menganut agama Islam dengan sendirinya memihak kepada kaum Paderi. Ada catatan yang mengatakan menjelang masuknya kaum Paderi ke Mandailing sudah ada orang-orang Mandailing yang pergi dan belajar agama Islam di Bonjol yang merupakan salah satu pusat kedudukan kaum Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol.

Pada waktu kaum Paderi sudah menguasai Mandailing, mereka menempatkan tokoh-tokoh pemuka agama Islam untuk mendampingi raja-raja Mandailing dalam menjalankan pemerintahan. Tokoh-tokoh pemuka agama Islam tersebut dinamakan kadi. Pada waktu kesatuan wilayah kerajaan-kerajaan kecil di Mandailing yang dinamakan janjian dijadikan oleh kaum Paderi sebagai kesatuan wilayah keagamaan yang disebut kariah. Dan di setiap kariah didudukkan oleh kaum Paderi seorang kadi untuk mendampingi raja dalam menyelenggara pemerintahan dan urusan agama Islam.

Setelah Belanda menbantu kaum adat menghadapi kaum Paderi, maka lama kelamaan boleh dikatakan perang Paderi berubah keadaannya dari perang antara kaum adat dan kaum Paderi menjadi perang antara Belanda dan kaum Paderi. Dalam keadaan yang demikian itu pihak Belanda bukan lagi hanya membantu kaum adat dan memerangi kaum Paderi, tetapi Belanda mulai menggunakan kekuataannya untuk meluaskan lagi penjajahannya dari wilayah Minangkabau ke wilayah lain di sebelah utara termasuk ke Mandailing.

Pada waktu perang Paderi makin meluas ke arah utara (ke arah Rao) yang berbatasan dengan wilayah Mandailing, niat Belanda untuk menaklukkan berbagai wilayah di bagian utara itu makin nyata. Dan ketika serdadu Belanda sampai di Sundatar yang terletak di sebelah selatan Rao, mereka sengaja menyiarkan kabar ke arah utara yaitu di kawasan Rao dan wilayah Mandailing jika rakyat di tempat tersebut tidak mau takluk kepada Belanda yang kuat persenjataannya mereka akan digempur dengan kekerasan (Radjab, 1964:163).

Sekitar tahun 1832, pada waktu pimpinan tentara Belanda Kolonel Elout dan Letnan Engelbert berad di Rao, Raja Gadombang dari Huta Godang di Mandailing datang menghadap mereka dengan maksud akan menawarkan bantuannya kepada tentara Belanda dalam perang membasmi kaum Paderi. Raja Gadombang sebenarnya dengan membantu tentara Belanda itu hendak membalaskan dendamnya dan dendam rakyat Mandailing yang telah bertahun-tahun diperintah, dianiaya dan dipelakukan sewenang-wenangnya oleh kaum Paderi (Radjab 1964: 166).

Pada tahun 1833, sewaktu tentara Belanda dikepung pasukan kaum Paderi dalam Benteng Amorengen di Rao, Raja Gadombang yang sudah diangkat oleh Belanda sebagai Regen Mandailing dengan ratusan pasukannya datang membantu Belanda. Ketika Benteng Amorengen hampir jatuh ke tangan kaum Paderi datang pula bantuan pasukan Belanda dari Natal dibantu oleh 500 orang Batak yang kemudian bergabung dengan pasukan Raja Gadombang dan mereka bersama-sama menggempur pasukan kaum Paderi. Seandainya tidak datang bantuan tersebut pada tanggal 21 Januari 1833, keesokan harinya pasti semua tentara Belanda di Rao akan musnah sama sekali. Sebab mereka sudah lemah karena lama tak makan dan pelurunya hampir habis (Radjab, 1964: 187).

Setelah kaum Paderi tidak ada lagi di sekitar Rao pada tanggal 22 Januari 1833, 3 (tiga) orang opsir Belanda mengadakan rapat yang dihadiri oleh Tuanku Natal yang pro Belanda, Regen Mandailing Raja Gadombang dan beberapa orang hulubalang Batak (Radjab, 1964: 188). Selain dari Raja Gadombang, Sutan Malayu raja dari Pakantan dan Patuan Gogar Tengah Hari raja dari Muarasipongi ikut juga membantu Belanda. Pada bulan September 1833 ketika pasukan Belanda dari Rao melakukan serangan terhadap kaum Paderi di Bonjol di bawah pimpinan Mayor Eilers, pasukan Raja Gadombang dan Sutan Malayu ikut membantu.

Dalam satu pertempuran di Lundar dekat Lubuk Sikaping ketika pasukan Raja Gadombang dan pasukan Sutan Malayu dalam perjalanan ke Bonjol, Raja Gadombang mengalami luka dan Sutan Malayu tewas dalam pertempuran tersebut (Radjab, 1964:261). Akhirnya serangan pasukan Belanda ke Bonjol yang dibantu oleh pasukan Raja Gadombang dan Sutan Malayu terpaksa mundur kembali ke Rao karena tak sanggup menghadapi kaum Paderi.

Pada bulan Oktober 1833, pasukan Belanda yang berada di Benteng Amorengen dikabarkan akan diserang oleh kaum Paderi dan rakyat Rao termasuk diantaranya yang dipimpin Tuanku Tambusai yang berada di sekitar tempat tesebut. Pada tanggal 20 Oktober 1833, rakyat dari Desa Padang Matinggi dekat Rao datang beramai-ramai menuju Benteng Amorengen dan mereka menembaki benteng tersebut.

Kemudian datang pula rakyat dari Desa Tarung-Tarung untuk membantu penyerangan ke Benteng Amorengen. Tangsi-tangsi pasukan Mandailing yang berada di sekitar Amorengen terus ditembaki oleh penduduk Rao. Keesokan harinya Raja Gadombang dan Datuk Gagah Tengah Hari datang bersama 800 orang pasukan Mandailing. Mereka memasuki tangsi-tangsi yang berada di sekitar Benteng Amorengen.

Dalam keadaan yang demikian itu, rakyat Rao terus berusaha untuk mengepung Benteng Amorengen dan membuat kubu-kubu pertahanan di sekitar benteng tersebut. Melihat keadaan yang demikian itu, pasukan Belanda sebahagian keluar dari benteng dengan dibantu oleh pasukan Raja Gadombang dan Datuk Gagah Tengah Hari menyerang pasukan Paderi yang berada di luar Benteng Amorengen. Pada waktu itu, pasukan Paderi sedang melakukan sembahyang zhuhur. Dan pada saat itulah pasukan Belanda menyerang mereka dari belakang sehingga banyak pasukan Paderi yang tewas.

Sepanjang bulan Oktober sampai bulan November 1833, pasukan Paderi terus memperkuatkan kepungan mereka terhadap pasukan Belanda yang berada di Benteng Amorengen. Oleh karena itu pasukan Belanda mulai kekurangan bahan makanan. Pada tanggal 18 November, serdadu Belanda keluar dari benteng untuk menyerang pasukan Paderi yang menghalangi jalan yang dapat menghubungkan pasukan Belanda di Benteng Amorengen Rao dengan Huta Godang di Mandailing. Pasukan Paderi mereka sergap ketika sedang tidur.

Namun demikian lama kelamaan pengepungan pasukan terhadap Benteng Amorengen semakin diperkuatkan sehingga keadaan pasukan Belanda yang berada di dalam benteng tersebut semakin sulit. Dalam keadaan yang demikian itu pemimpin pasukan Belanda mencoba berunding dengan kaum Paderi. Tetapi kaum Paderi menolaknya karena mereka dan rakyat Rao sudah mengambil keputusan untuk mengusir Belanda dari Rao dengan menghancurkan Benteng Amorengen. Kaum Paderi hanya mau berunding kalau pasukan Belanda bersedia meninggalkan Rao dan pergi ke pinggir pantai.

Pasukan Belanda mencari jalan untuk meninggalkan Benteng Amorengen karena tahu tidak akan sanggup lagi menghadapi serangan kaum Paderi yang semakin banyak jumlahnya mengepung terus Benteng Amorengen. Berulang kali pasukan Belanda keluar benteng untuk menyerang pertahanan pasukan Paderi yang menghalangi jalan ke Mandailing.

Dan sejak tanggal 24 November 1843, terjadi serang menyerang antara pasukan Belanda dan kaum Paderi yang silih berganti. Karena tidak sanggup lagi menghadapi kekuatan kaum Paderi akhirnya pimpinan pasukan Belanda memutuskan untuk meninggalkan perbentengan mereka di Rao dan memasuki daerah Mandailing untuk mencari tempat yang aman.

Untuk itu pimpinan pasukan Belanda Mayor Eilers mengutus seorang tawanan menemui pimpinan pasukan Paderi untuk berunding agar pasukan Belanda diperbolehkan meninggalkan Rao. Akhirnya pimpinan pasukan Paderi memperkenankan permintaan pihak Belanda tersebut. Pasukan Belanda dan pasukan Raja Gadombang meninggalkan Rao menuju Mandailing pada tanggal 28 November 1883.

Setelah pasukan Belanda meninggalkan Benteng Amorengen kaum Paderi menghancurkan benteng tersebut. Pada hari itu juga pasukan Belanda tiba di Limau Manis sebuah desa di kawasan Muarasipongi. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Madina Setengah Hati Benahi BBI. Kebutuhan Ikan Mas Didatangkan Dari Rao Sumbar

    Pemkab Madina Setengah Hati Benahi BBI. Kebutuhan Ikan Mas Didatangkan Dari Rao Sumbar

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online : Keberadaan Balai Benih Ikan (BBI) di Kabupatrn Mandailing Natal (Madina) ternyata belum mampu menutupi kebutuhan konsumen di Kabupaten ini, pasalnya BBI yang ada tidak terlalu di urus meskipun BBI tersebut dibawah naungan Dinas Perikanan Pemkab Madina. Pemerintah Daerah terkesan setengah hati membenahi BBI tersebut. Penelusuran Mandailing Online ke sejumlah pengusaha ikan […]

  • Ketua MK: Tidak Perlu Izin Presiden

    Ketua MK: Tidak Perlu Izin Presiden

    • calendar_month Kamis, 15 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA, – Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar menyatakan, kepolisian tidak perlu ragu melakukan upaya hukum terhadap kepala daerah yang terindikasi melakukan dugaan korupsi, termasuk Bupati Toba Samosir, Sumatera Utara, Kasmin Simanjuntak yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Alasannya sangat jelas, karena Mahkamah Konstitusi dalam sidang uji materi Pasal 36 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang […]

  • Tapian Sirisiri Masih Tersisa, Untuk Barang Bukti

    Tapian Sirisiri Masih Tersisa, Untuk Barang Bukti

    • calendar_month Selasa, 22 Jan 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tapian Sirisiri pasca dihantam arus Sungai Batang Gadis   Tapian Sirisiri yang berada di pinggiran Sungai Batang Gadis diterjang luapan arus sungai pada pekan pertama November 2018. Pantauan Mandailing Online, Selasa (22/1/2019), bangunan utama yang selama ini dijadikan panggung kehormatan untuk pelaksanaan upacara sudah hanyut. Tetapi terdapat dua bangunan lain yang masih berdiri meski sudah […]

  • Tanggul Jebol di Siabu akan Diperbaiki Dari APBD Provinsi

    Tanggul Jebol di Siabu akan Diperbaiki Dari APBD Provinsi

    • calendar_month Rabu, 8 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Pemkab Madina tahun 2012 ini akan memperbaiki 3 tanggul yang jebol di hantam banjir di Siabu yang terjadi akhir tahun 2011. Anggrannya akan menggunakan APBD Sumut. ”Kita sudah mengajukan atau mengusulkan perbaikan tanggul yang jebol itu. Dan rencananya tahun ini akan diperbaiki, itupun atas kebijaksanaan Pemprovsu karena anggaran di Madina tidak ada untuk itu,” […]

  • MENDIDIK ANAK BERPUASA

    MENDIDIK ANAK BERPUASA

    • calendar_month Jumat, 23 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nurlela Sari Aktivis dan ibu rumah tangga, tinggal di Madina Pada saat ini kita sedang berada dalam sebuah bulan yang begitu mulia. Seperti yang diketahui, bulan Ramadhan disebut juga dengan  syahrul mubarak (bulan penuh berkah) dan sebagai syahrut tarbiyah (bulan pendidikan) karena mendidik umat untuk selalu mensyukuri nikmat, menumbuhkan sifat sosial juga melakukan pembinaan […]

  • Sengketa Lahan Warga Suka Makmur-PT Alam Dahlan: Masyarakat dan Perusahaan Harus Jujur

    Sengketa Lahan Warga Suka Makmur-PT Alam Dahlan: Masyarakat dan Perusahaan Harus Jujur

    • calendar_month Kamis, 12 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Dahlan Hasan Nasution menegaskan, untuk menyelesaikan persoalan/sengketa lahan antara masyarakat Desa Suka Makmur, Kecamatan Muara Batang Gadis dengan PT Anugerah Langkat Makmur (Alam), maka kedua belah pihak harus mempunyai itikad yang baik, serta harus jujur. “Saya tidak ingin persoalan ini terus berlarut–larut, sehingga pada waktu kemarin, saat mengantar masyarakat […]

expand_less