Sabtu, 7 Nov 2026
light_mode

Sektor Pertanian Landasan Pondamental Ekonomi Makro Madina Termarjinalkan? (bagian 2-habis)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 23 Sep 2014
  • print Cetak

 

Oleh : Saifuddin Lubis

 

Selain itu, juga pengembangan kuantitas dan kualitas SDM pertanian,perikanan dan kelautan serta kehutanan, pengembangan diversifikasi dan konsumsi pangan berbasis Sumber Daya Intern ( SPI), penataan administrasi asset, tersusunnya laporan SAI yang akuntabel dan berstatus wajar tanpa pengecualian (WTP).

Meningkatkan peran kelembagaan pertanian, penataan dan peningkatan sentra produksi dan distribusi serta penguatan institusi pasar, pengadaan sarana dan prasarana pertanian, mengoptimalkan upaya divesrifikasi dan rehabiltasi tanaman pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta menyediakan data dan pelayanan perima di sector pertanian.

Untuk mencapai perioritas RPJMD Madina 2011 – 2016 di sector ekonomi itu, maka ditetapkanlah Perioritas Pembangunan Daerah (RKPD) Madina 2014, antara lain Peningkatan ketahanan pangan dan pendapatan petani, Pengembangan methode , materi, sarana dan prasarana serta pembiayaan penyuluhan pertanian melaui penguasaan dan pemanpaatan tehknologi informasi dan komunikasi, Peningkatan wawasan agribisnis petani, Pengembangan kuantitas dan kapasitas SDM pertanian, kalutan, perikanan dan kehutanan.

Penataan dan peningkatan sentra produksi dan distribusi serta penguatan institusi pasar, Mengoptimalkan upaya diversifikasi, intensifikasi, dan rehabilitasi tanaman pertanian berkelaanjutan dan ramah lingkungan, Pengembangan lapangan pekerjaan baru dengan meningkatkan pemanfataan dan pengelolaan potensi pertanian, perikanan, dan kelautan, pertambangan serta kehutanan. Penguatan kelembagaan dan permodalan usaha pertanian dan perikanan, Mempertahankan swasembada beras.

Peningkatan dan penyediaan sarana dan prasarana pendukung pertanian, perikanan, kelautan serta kehutanan, Pengembangan kawasan agromarinepolitan, Pengembangan satu desa satu komoditas, Pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan, serta pengembangan sumber daya kelautan dan perikanan.

Bagi sekitar 425.000 jiwa rakyat Madina saat ini, rumusan dan kerangka pembangunan daerah sebagaimana tersusun indah dan rapi dalam RPJMD Madina 2011 – 2016 itu tentu sangat diharapkan realisasi dan aktualisasinya. Rakyat tahu itu, meski tidak sedetail dalam tulisan, sebab rumusan-rumusan itu tidak lain adalah merupakan penjabaran dari visi misi pasangan bupati dan wakil bupati terpilih pada Pilkada lalu yang kemudian dijabarkan kedalam RPJMD sebagai arah dan kebijakan pembangunan 5 tahun kedepannya.

Sekitar 70 hingga 80 % rakyat Madina hidup di sector pertanian, sedangkan sisanya juga akan terimbas pengaruh lemahnya ekonomi manakala sector pertanian gagal atau sebaliknya. Ketahanan ekonomi Madina tergantung pada pertumbuhan sector pertanian sebagai fundamental ekonomi makro masyarakatnya.

Pertanyaannya sekarang adalah, akankah rumusan-rumusan perioritas program dalam RKPD Madina 2014 itu akan terealisasi ?. Jawabnya tentu tidak, manakala para pengambil kebijakan di Madina sepakat untuk tidak memiliki political will yang baik dalam memandang persoalan dan kebutuhan rakyatnya. Sebab keseluruhan rumusan perioritas program itu tidak bisa berjalan atau terealisasi hanya dengan “ NIAT “ saja.

Lalu dikaitkan dengan RPJMD Madina 2011 – 2016 yang merupakan penjabaran visi misi Bupati – Wakil Bupati terpilih pada Pemilukada lalu di estimasikan akan “ gagal “ manakala tidak konsisten terhadap apa yang telah dituangkan dalam RPJMD sebagai arah kebijakan dan pembangunan daerah.

Salah satu program pembangunan nasional yang memerlukan peran optimal dari kelembagaan terutama di daerah adalah apa yang kemudian dikenal dengan empat suskses, yakni Pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; Percepatan Diversifikasi Pangan ; Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan ekspor ; dan Peningkatan Kesejahteraan Petani.

Program nasional itu terakumulasi dalam RPJMD Madina 2011 – 2016 dan RKPD Madina 2014. Namun ternyata tidak dibarengi dengan keinginan kuat dan niat baik ( political will ) untuk melaksanakannya. Faktanya adalah ketika P.APBD Madina 2014 memarjinalkan Sektor Pertanian kita.

Hemat penulis, selain tidak konsistennya para pengambil kebijakan terkait aspek-aspek yang menjadi skala perioritas pembangunan dalam RPJMD dan RKPD 2014 itu, ditengarai juga ada konsfirasi tidak sehat terutama dalam proses pembahasan R.PAPBD Madina 2014 di DPRD Madina yang ketika itu pembahasannya selain disebut asal tayang saja, juga dikarena waktu yang sudah mepet karena berpacu dengan agenda pembahasan lainnya termasuk diantaranya 10 Ranperda ditambah dengan agenda pelantikan anggota dewan baru hasil Pileg 2014.

Tetapi, apapun paktornya, yang pasti pemerintah daerah plus 40 anggota DPRD Madina periode 2009 -2014 yang mengesahkan PAPBD Madina 2014 itu telah menorehkan kekecewaan yang luas bagi mayoritas rakyat Madina yang hidup di sector pertanian.

 

PENUTUP

Hingga saat ini, RAPBD Madina 2015 belum dibahas di DPRD Madina. Diharapkan dengan semangat baru anggota dewan yang baru dilantik akn ada pergeseran orientasi kearah yang lebih konsisten terhadap RPJMD Madina 2011 – 2016 yang telah disepakati menjadi arah kebijakan pembangunan daerah 5 tahun berjalan.

Lebih dari itu, kiranya rumusan – rumusan kebijakan strategis dan prioritas pembangunan kita bisa menjadi prioritas pembangunan dalam arti nyata, sehingga semua dapat terukur, ter-evaluasi,danberjalan sesuai perencanaan awal.

Kondisi alam dan bumi seperti Madina tidak semua dimiliki daerah lain, potensi yang kita miliki itu senantiasa menjanjikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena itu kedepan yang terpenting adalah political will yang baik, komitmen dan konsistensi,mind set pemangku kebijakan,serta pembiayaan yang cukup. Semoga menjadi catatan dan ingatan bagi kita.

(Penulis adalah wartawan senior, Ketua Dewan Pengurus Daerah Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara RI Kabupaten Mandailing Natal).

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ratusan Mahasiswa Madina Tolak UU Cipta Kerja

    Ratusan Mahasiswa Madina Tolak UU Cipta Kerja

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) Sekitar 600 mahasiswa ujunkrasa di DPRD Mandailing Natal (Madina), Sumut, menolak UU Cipta Kerja, Jum’at (9/10/2020). Unjukrasa berjalan damai yang berlansung sejak pukul 10.00 WIB. Mereka mendesak DPRD Madina menyurati DPR RI bahwa masyarakat Madina menolak undang-undang tersebut tanpa ada alasan. Mahasiswa berasal dari gabungan Dema Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri(Stain) Madina […]

  • Status Tertinggal, Dana Desa Sopo Batu Tahun 2025 Rp 571 Juta. Untuk Energi Alternatif Rp130 Juta, Buat Jalan Desa Cuma Rp30 Juta

    Status Tertinggal, Dana Desa Sopo Batu Tahun 2025 Rp 571 Juta. Untuk Energi Alternatif Rp130 Juta, Buat Jalan Desa Cuma Rp30 Juta

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan|| Mandailing Online – Meski berstatus desa tertinggal, Desa Sopo Batu, Kecamatan Panyabungan, dari data yang diperoleh dari laman kementerian desa baru merealisasikan Dana Desa thun 2025 sebesar Rp571,3 juta dari total pagu Rp894 juta. Serapan anggaran itu setara 63,9%. Penyaluran dilakukan dua tahap. Tahap Satu Rp428,8 juta (75,06%) dan Tahap Dua Rp142,4 juta (24,94%). […]

  • Kasus Dugaan Korupsi Bansos 2007, Pejabat Pemko Siantar Masih Diperiksa KPK di Jakarta

    Kasus Dugaan Korupsi Bansos 2007, Pejabat Pemko Siantar Masih Diperiksa KPK di Jakarta

    • calendar_month Senin, 2 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PEMATANGSIANTAR: Lanjutan pemeriksaan terhadap sejumlah pejabar dan staf pegawai Pemko Pematangsiantar di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta masih berlanjut, Selasa (1/12). Juru Bicara KPK, Johan Budi saat dikonfirmasi mengatakan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan KPK itu untuk meminta keterangan terkait kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) tahun 2007 sebesar Rp16 miliar lebih. Menurutnya, […]

  • SK Honor Gratis, Pimpinan SKPD Jangan Memungut Apapun

    SK Honor Gratis, Pimpinan SKPD Jangan Memungut Apapun

    • calendar_month Selasa, 14 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Sekretaris Daerah Kabupaten Mandailing Natal, Daud Batubara, Selasa (14/2) menegaskan bahwa tidak ada pungutan apapun terhadap pegawai hororer dalam bentuk apapun, termasuk SK pengangkatan gratis. Dia memperingatkan seluruh pimpinan SKPD dan unit kerja di lingkungan Pemkab Madina agar jangan memungut apapun dari pegawai honor dalam bentuk apapun. Hal itu dikatakan Daud Batubara, […]

  • Dandim Evakuasi Napi Hamil

    Dandim Evakuasi Napi Hamil

    • calendar_month Senin, 19 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    LABUHAN RUKU, – Aparat baik dari TNI/Polri terus melakukan negosiasi dengan ratusan narapidana menyusul kerusuhan yang terjadi di lapas Labuhan Ruku yang berada di Kabupaten Batubara, Minggu (18/8). Negosiasi masih terus dilakukan tadi malam. Menurut Hermanto, napi narkoba penghuni Lapas Labuhan Ruku saat diwawancarai, dari hasil negosiasi tersebut, hanya petugas TNI yang diperkenankan masuk ke […]

  • Singkong, Kripik dan Home Industri Madina

    Singkong, Kripik dan Home Industri Madina

    • calendar_month Kamis, 16 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pelaku industri kripik di Madina sudah lama mengeluh soal bahan baku singkong berkualitas yang makin sulit diperoleh. Krisis bahan baku itu memperburuk perkembangan usaha mereka. Jangankan untuk mengembangkan, bertahan saja sudah syukur. Ubi kayu asal Madina memiliki cita rasa yang sangat bagus bagi bahan baku kripik. Tetapi, petani di Madina tak banyak menanam ubi kayu. […]

expand_less