Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Sekilas Budaya Mandailing (Bagian 3-Selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 27 Sep 2015
  • print Cetak

 

Oleh: Z Pangduan Lubis (in memoriam)

Pada masa sekarang, bahasa daun-daunan (hata bulung-bulung), dan penggunaannya sudah hilang dari tradisi budaya Mandailing. Demikian pula halnya dengan ragam-ragam bahasa yang tersebut di atas. Yang masih terus digunakan oleh warga masyarakat Mandailing di negeri mereka ialah hata somal (ragam bahasa sehari-hari). Sedangkan ragam bahasa yang lainnya, boleh dikatakan sudah hampir punah sama sekali. Karena selama ini warga masyarakat Mandailing tidak berusaha untuk melestarikannya. Kepunahan ragam-ragam bahasa Mandailing yang sangat kaya itu sangat merugikan kelompok etnis Mandailing, bahkan merugikan bangsa Indonesia. Karena ragam bahasa tersebut merupakan kekayaan budaya etnis, yang kalau sudah punah hampir mustahil untuk menghidupkannya kembali.

Disamping memiliki bahasa sendiri (Hata Mandailing), orang Mandailing juga memiliki aksara etnisnya sendiri yang dinamakan surat tulakt-tulak (bukan aksara Batak). Meskipun masyarakat Mandailing memiliki aksara tetapi boleh dikatakan aksara tersebut pada masa lalu tidak dipergunakan untuk mencatat atau menulis sejarah. Kalaupun aksara etnis tersebut dipergunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia hanya dipergunakan buat menuliskan tarombo (silsilah keluarga). Selain itu lebih banyak dipergunakan buat mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan dalam kitab tradisional yang disebut pustaha.

Oleh karena itu hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat tulak-tulak. Hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu Mandailing boleh dikatakan hanya terekam sebagai “Sejarah Lisan” berupa kisah-kisah Mandailing pada masa lalu yang kadang-kadang dituturkan oleh orang-orang yang masih mengingatnya dan sama sekali tidak dituliskan meskipun masyarakat Mandailing mempunyai aksara etnisnya sendiri.

Di Mandailing surat tulak-tulak dipergunakan untuk menulis pustaha. Ada pustaha yang terbuat dari kulit kayu atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu. Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara-cara penyembuhan tradisional. Selain itu ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.

Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978:102), bahwa tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Pada 18 Mei 1746, Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti Mandailing, Angkola, Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak) menggunakan gaya bahasa yang serupa.

Gaya bahasa tersebut, menurut Voarhoeve, adalah satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok-kelompok etnis tersebut, tetapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.

Fakta yang demikian ini mendukung kesimpulan yang diperoleh sebagai hasil perbandingan tulisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan untuk menulis pustaha mendapatkan aksaranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu ini menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri. Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, sehingga tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datu yang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.

Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-religius).

Harry Parkin (1978:101) menambahkan, bahwa ”aksara tersebut masuk ke daerah Toba dari Mandailing. Dari Toba jalan yang dilaluinya bercabang dua mengelilingi danau, satu cabang bergerak memasuki Simalungun, dan cabang yang satu lagi memasuki Dairi, dan dari sana masuk pula ke Karo. Hal ini terjadi secara bertahap dan alamiah…”. Sedangkan sarjana Barat lain yaitu Uli Kozok dalam bukunya Warisan Leluhur, Sastra dan Aksara Batak (1999:61-79) juga menggambarkan persebaran surat tulak-tulak dari Mandailing ke Utara (sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah peta).

Kalau penggunaan aksara surat tulak-tulak dipakai sebagai pertanda jaman sejarah di Mandailing, kita juga belum tahu sama sekali kapan waktunya warga Mandailing menggunakan aksara etnis tersebut. Itu berarti bahwa kita tidak tahu kapan mulai warga Mandailing mengawali jaman sejarahnya.

Barangkali tidak salah kalau sejarah Mandailing kita bicarakan dengan mengawalinya dengan jaman Hindu di Indonesia atau jaman Hindu di Mandailing. Karena kita tahu bangsa Hindu yang datang ke Indonesia termasuk Mandailing mempunyai aksara. Dalam hubungan ini ada beberapa pendapat (teori) yang mengatakan bahwa aksara-aksara etnis yang terdapat di Nusantara ini termasuk surat tulak-tulak berasal dari aksara Hindu yang disebut aksara Pallawa, Dewa Nagari dan Kala Nagari.

Kalau pendapat ini kita terima maka dapatlah kita katakan bahwa jaman sejarah di Mandailing mulai dari awal abad Masehi. Karena pada masa itulah orang Hindu dari India mulai masuk ke Mandailing antara abad pertama dan abad kelima Masehi. Sebab pada abad ke 2 Masehi orang Hindu dari India mulai sibuk mencari emas karena pasokan emas ke India pada waktu itu mulai terhenti akibat terjadinya kerusuhan besar di Asia Tengah akibat terjadinya penyerbuan bangsa Tar Tar dan bangsa Hun serta bangsa Mongol.

Kita tahu bahwa bangsa Hindu menyebut pulau Sumatera: Swarna Dwipa (Pulau Emas) yang menjadi tujuan orang Hindu dari India pada waktu mereka berusaha mencari emas. Di pulau Sumatera wilayah Mandailing (yang pada masa dahulu termasuk di dalamnya kawasan Pasaman) kaya dengan emas. Dari zaman dahulu sampai sekarang, Mandailing dinamakan Tano Rura Mandailing, Tano Omas Sigumorsing yang berarti Tanah Emas.***

Almarhum Z. Pangaduan Lubis adalah budayawan, sastrawan dan pengarang yang semasa hidupnya menetap di kota Medan. Pensiunan PNS RRI dan Dosen Luar Biasa Universitas Sumatera Utara (USU).

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sepanjang tahun 2025 ada 33 TKA di Madina, Didominasi Warga China 

    Sepanjang tahun 2025 ada 33 TKA di Madina, Didominasi Warga China 

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengakuan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Mandailing Natal Hingga November 2025 Ada 33 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) yang diketahui melakukan pekerjaan di Perusahaan atau PT yang beroperasi di Madina. Data orang Asing bersumber dari pihak Imigrasi yang dilaporkan pada Disnaker dengan data yang fluktuatif. Kamis, (06/11/2025). “Kalo datanya memang sampai ke […]

  • Pelaksanaan Pilkades 2022 Dimajukan

    Pelaksanaan Pilkades 2022 Dimajukan

    • calendar_month Selasa, 13 Des 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Gonjang-ganjing terkait jadwal Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) tahun 2022 terjawab sudah. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Mukhsin Nasution mengatakan sesuai hasil rapat dengan Forkopimda, Pilkades 2022 dipercepat satu hari. Dengan demikian, jadwal yang sebelumnya disepakati tanggal 20 Desember bergeser menjadi 19 Desember 2022. “Untuk jadwal Pilkades 2022 sesuai hasil […]

  • Keluarga Gus Dur sedih dengar pernyataan Sutan

    Keluarga Gus Dur sedih dengar pernyataan Sutan

    • calendar_month Selasa, 27 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Meski anggota DPR RI dari FPD Sutan Bhatoegana dan Ketua Umum DPP PD Anas Urbaningrum telah meminta maaf kepada keluarga almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), namun putri Gus Dur Zannuba Arifah Chafshoh atau Yenny Wahid merasa prihatin dengan pernyataan politisi Demokrat tersebut. Pasalnya, sebagai anggota dewan Sutan ternyata tidak tahu fakta […]

  • 43 Mobil Dinas DPRD Langkat Tak Masuk Dalam APBD

    43 Mobil Dinas DPRD Langkat Tak Masuk Dalam APBD

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Setelah memanggil mantan pejabat Pemkab Langkat dan sejumlah rekanan, Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Sumatera Utara (Kejatisu) kembali memanggil empat saksi terkait aliran dana APBD Langkat Tahun 2000 hingga 2007 senilai Rp102,7 milliar. Untuk mengetahui aliran dana selama tujuh tahun tersebut, kejaksaan pun menelusuri pengeluaran anggaran, termasuk diantaranya menelusuri pembelian sebanyak 43 unit mobil […]

  • Turnamen Tennis Meja Milenial SUKA Sukses

    Turnamen Tennis Meja Milenial SUKA Sukses

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Turnamen tennis meja tingkat kabupaten yang disponsori SUKA berakhir sukses, Ahad (06/09/2020) di Pasar Hilir, Panyabungan. Turnamen Milenial SUKA CUP I itu diikuti atlit-atlit milenial dari berbagawai kawasan Mandailing Natal (Madina) dalam beberapa pekan. Acara penutupan turnamen tennis meja itu dihadiri calon wakil bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution didampingi pimpinan […]

  • Senja di Pantai Natal

    Senja di Pantai Natal

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        BERANJAK –Seekor kerbau beranjak menuju daratan melintasi garis edar matahari dalam keremangan senja di pantai Panggautan, Natal, Kabupaten Mandailing Natal. Sejumlah titik pantai di Natal memiliki panorama alam yang eksotis dan indah, hanya saja belum dijamah untuk objek wisata.   Peliput: Holik Nasution Editor    : Dahlan Batubara

expand_less