Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Lagu Mandailing Tak Seistiqomah Lagu Toba

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 28 Jul 2016
  • print Cetak

KOLOM

Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

Dahlan Batubara

Dahlan Batubara

Para pencipta lagu-lagu Toba itu sangat setia kepada bahasa Toba, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Toba.

Para pencipta lagu-lagu Minangkabau itu sangat setia kepada bahasa Minang, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Minangkabau.

Para pencipta lagu-lagu Karo itu sangat setia kepada bahasa Karo, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Kesetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah keistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Karo.

Tetapi, para pencipta lagu-lagu Mandailing masa kini tak lagi setia kepada bahasa Mandailing, bahasa mereka, bahasa leluhur, jati diri mereka. Ketidaksetiaan mereka kepada bahasa mereka itu sebagai sebuah ketidakistiqomahan pada kebudayaan mereka, budaya Mandailing.

Bahwa bahasa adalah elemen terluhur dari suatu bangsa, suatu etnis, suatu kaum. “Tidak ada elemen terluhur dari suatu bangsa selain bahasa” kata Ernst Moritz Ardnt.

Bahasa adalah hasil budidaya para orang-orang terdahulu selama berabad-abad dan diwariskan secara generasi ke generasi.

Orang-orang masa kini boleh-boleh saja berbahasa dari hasil pengasimilasian bahasa, hasil pengaruhisasian bahasa, perkawinanisasian bahasa dalam percakapan sehari-harin sebagai bahasa pasar. Tetapi, nyanyian tak boleh melibatkan diri atau mengorbankan diri dalam pengasimilasian- pengaruhisasian dan  perkawinanisasian bahasa itu, karena nyanyian adalah salah satu sub kebudayaan dari suatu etnis atau bangsa.

Kalau orang-orang mencakapkan “ho maia cintaku”, maka para pencipta lagu Mandailing tak seharusnya mencakapkan kata “cintaku” di dalam nyanyian yang mereka karyakan. Karena nyanyian adalah sub kebudayaan suatu etnis, karena nyanyain adalah sang penjaga kebudayaan suatu etnis.

Si penjaga tak boleh ikut mengorbankan diri dalam pengaruhisasian bahasa itu, karena si penjaga kebudayaan itu berposisi sebagai “kiper”.

Mempertahankan bahasa asli dari serbuan pengaruh bahasa lain bukanlah suatu perbuatan demodernisasi atau kekolotanisasi, atau bukan anti termutakhir, atau bukan anti yang terbaru.

Nyanyian tak boleh dikatakan nyanyian kolot atau tak gaul atau ketinggalan zaman jika bahasa di nyanyain itu mempertahakan bahasa asli kaumnya. Tidak..!!!. Sebab, nyanyian itu adalah jati diri kebudayaan, bukan barang mainan yang harus dikorbankan sesuai dengan selera pasar, selera kaula muda, selera perdagangan album lagu, selera pasar album Tapsel-Madina, selera nafsu komersialisme.

Tentu, mengadopsi kata atau kosa kata bahasa Indonesia atau bahasa asing ke dalam bahasa Mandailing sah-sah saja, wajar saja bahkan berhukum wajib, sepanjang kata atau kosa kata dimaksud tidak ditemukan di dalam bahasa Mandailing. Adopsi diperlukan agar bahasa Mandailing itu tidak kaku, tidak statis, bahkan dinamis dalam dinamika perjalanan kebudayaan Mandailing, agar bahasa Mandailing tak menyandera kebudayaan Mandailing dalam posisi stagnan atau di “katak dalam tempurung”-nya budaya Mandailing di cakrawala geliat ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Karena, bahasa Indonesia sendri juga berkewajiban mengadopsi bahasa daerah, bahasa Inggris, bahasa Arab hingga bahasa Sansekerta. Bahasa Indonesia harus mengadopsi kata “kuantitas” dari  “quantity”-nya Inggris; kata “ramadan” dari “ramadhan”-nya bahasa Arab.

Karena bahasa Indonesia sendri juga berkewajiban mengadopsi dari luar dirinya, maka bahasa Mandailing juga berkeharusan mengadopsi bahasa dari luar dirinya. Bahasa Mandailing harus mengadopsi kata “televisi” karena televisi dahulu kala tak ada di Mandailing, sehingga ketika tehnologi televisi datang di hadapan masyarakat Mandailing maka bahasa Mandailing juga harus mengadakan bahasa-nya dengan menyebutnya “televisi” atau “talevisi”.

Tetapi mengadopsi bukanlah menukar. Keduanya berbeda. Mengadopsi dilakukan disebabkan ketiadaan, kebelumadaan. Dari tiada menjadi ada. Karena belum ada, maka diadakan, sehingga ada. Sedangkan menukar itu dari ada menjadi ada, sudah ada tapi diadakan lagi dengan yang  lain.

Ketika para pencipta lagu memakai kata “sayang” dari bahasa Indonesia, maka pencipta lagu itu telah menukar kata, karena sudah ada kata “holong” di dalam bahasa Mandailing. Mereka telah menukar “horjami” dengan “pesta pernikahanmi”. Menukar bahasa sedemikian itulah yang menjadi takaran penilaian bahwa para pencipta lagu tak beristiqomah kepada bahasa Mandailing, tak setia kepada bahasa Mandailing di lagu yang mereka sebut lagu Mandailing atau lagu Tapsel-Madina.

Para pencipta lagu-lagu Mandailing masa kini itu sudah begitu familiar dengan “kasihsayangku tu ho”; “ulang siksa batinku” – “kerinduanku sabagas ni laut”; “apalagi dung sannari”; “percintaanta”; “pesta pernikahanmi” dan lain-lain yang menggantikan bahasa Mandailing dengan bahasa Indonesia.

Ketidakistiqomahan para pencipta lagu Mandailing terhadap bahasa Mandailing itu tak sesetia para pencipta lagu Toba, tak sesetia pencipta lagu Mingangkabau.

“Holong na ias dibahen ho / Mangarahut holong hi di ho / Roha na serep dipelehonho / Mangaririt rohaki di ho / Gomos do tangiangmu tu Tuhan I / Asa ho saut di ahu / Godang di bahenho nauli nadenggan / Tu damang dohot sisolhot I / Tagam si tutu dipatuduhonho / Burjumi tu natua-tuaki” kata si pencipta lagu Toba “Sirokkap ni Tondi”

“Bukiktinggi Koto Rang Agam oi andam oi / Mandaki janjang ampek puluah / Basimpang jalan ka Malalak / Sakik sagadang bijo bayam o andam oi / Sakik nan raso ka mambunuah / Diubek indak amuah cegak” kata si pencipta lagu Minang “Andam Oi”.

“Aso ma songoni / kejamna dirimu / sampai hati ma ho maninggalkon au” kata si pencipta lagu Mandailing (judul lagunya saya lupa, karena lagu ini sudah ada sejak saya masih kanak-kanak). “kejam”-“dirimu”-“sampai hati” dan kata “maninggalkon” bukanlah bahasa Mandailing.

Lalu, mengapa lagu-lagu Mandailing masa kini sudah terjerumus kepada kekacaubalauan bahasa? Percampuran dengan bahasa Indonesia? Ada apa dengan para pencipta lagu Mandailing masa kini? Ada apa dengan pencipta lagu Tapsel-Madina? Entahlah. Itu masih dari segmen bahasa, belum masuk sisi genre musik.

Yang pasti, para pencipta lagu Mandailing diharapkan agar kembali “bertaubat” saja agar nyanyian Mandailing kembali kepada pelukan budaya Mandailing, dan diyakini akan mampu menerobos pasar Nasional karena akan terasa “asing”, yang tentunya pula bukan bergenre dangdut, melainkan ketukan “sibaso”, ketukan “raja-raja”, ketukan “roba namosok” ketukan “batu magulang”. Memilki kaldu Mandailing, bukan kaldu dangdut.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Raja-raja Mandailing Dukung Edy Rahmayadi

    Raja-raja Mandailing Dukung Edy Rahmayadi

    • calendar_month Kamis, 4 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Raja-raja Mandailing bersepakat memberikan dukungan kepada Edy Rahmayadi untuk kembali maju sebagai bakal calon Gubernur Sumatera Utara. Kesepakatan itu dilahirkan pada Sidang Adat di Sopo Godang Hutasiantar, Kotasiantar, Panyabungan, Mandailing Natal, Rabu (3/7/2024). Sekitar 80-an Anak ni Raja, Anak ni Namora hadir pada sidang adat tersebut. Meliputi Raja Panusunan, Raja Huta, Raja Ripe […]

  • Mandailing, Mahasiswa dan Literasi

    Mandailing, Mahasiswa dan Literasi

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Muhammad Anwar Lubis Sejak 2017 silam, ketika saya masih semester tujuh di UIN Jakarta, saya aktif sebagai ketua seksi sosial-keagamaan dalam sebuah perhimpunan mahasiswa Mandailing Natal Jakarta, himpunan itu bernama HM Madina (Himpunan Mahasiswa Mandailing Natal). Saya terlibat banyak obrolan dengan teman-teman HM Madina, terutama soal kemandailingan: sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama. […]

  • Pelacur Remaja Merebak di Madina, Ludfan Nasution Tawarkan Strategi

    Pelacur Remaja Merebak di Madina, Ludfan Nasution Tawarkan Strategi

    • calendar_month Jumat, 10 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penyakit Masyarakat (Pekat) jenis pelacuran yang melibatkan remaja sudah menjadi permasalahan besar dan kompleks di Mandailing Natal. Setidaknya sudah mencuat dari beberapa postingan di medsos selama sepekan terakhir dan bahas bersama MUI dan Pemkab Madina. Anggota DPRD Madina dari PKB, Muhammad Ludfan Nasution,S.Sos mengungkapkan tanggapannya melalui akun pribadinya. Menurutnya, permasalahan […]

  • Nasib Guru Honorer yang Masih Terpinggirkan, Mestinya Setara UMR

    Nasib Guru Honorer yang Masih Terpinggirkan, Mestinya Setara UMR

    • calendar_month Jumat, 2 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JANJI ANGKAT: Presiden SBY saat menghadiri Kongres PGRI ke-XXI di Istora Senayan Jakarta. Jutaan guru honorer masih belum memperoleh penghasilan atau gaji yang layak. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memperjuangkan supaya guru honorer itu mendapatkan gaji minimal setara dengan upah minimum kabupaten atau kota. Mereka telah melayangkan surat permintaan itu langsung ke Presiden Susilo Bambang […]

  • Malaysia Babat Habis Hutan RI

    Malaysia Babat Habis Hutan RI

    • calendar_month Selasa, 4 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Anggaran Ludes, Kemenhut Batasi Operasi JAKARTA- Cukong-cukong Malaysia semakin giat melancarkan operasi penggundulan hutan ilegal di wilayah Indonesia. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyatakan, tindak kejahatan kehutanan dan pembalakan liar meningkat tajam pada Desember. Kejadian itu karena para pelaku ilegal logging tahu bahwa kementerian sudah tidak memilki anggaran untuk operasi pengawasan hutan. “Pengambilan kayu dilakukan dengan […]

  • Ops Ketupat Toba 2012,  Polisi Bersenjata Disiagakan

    Ops Ketupat Toba 2012, Polisi Bersenjata Disiagakan

    • calendar_month Sabtu, 11 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, (MO)- Personil polisi bersenjata akan disiagakan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) guna memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang hendak mudik. “Hal ini merupakan upaya mengurangi gangguan keamanan menjelang maupun saat perayaan Idul Fitri 1433 Hijriah,” ujar Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro usai apel gelar Pasukan Operasi (Ops) Ketupat Toba […]

expand_less