Senin, 21 Sep 2026
light_mode

Menemukan Peradaban dalam Prasasti Sorik Marapi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2020
  • print Cetak

Askolani Nasution

Catatan : Askolani Nasution

Ketika melihat dokumen “Prasasti Sorik Marapi” saya segera berpikir banyak hal, hal yang saya tahu juga menjadi pikiran para arkeolog yang mendalami prasasti ini :

1) Di mana pusat peradaban sekitar Gunung Sorik Marapi, sehingga prasasti itu diletakkan di puncak gunung tertinggi di Kabupaten Mandailing Natal itu?

2) Untuk masyarakat mana prasasti itu dibuat,

3) Apakah kita manusia Mandailing yang sekarang adalah garis keturunan langsung dari manusia di kawasan Mandailing yang hidup pada masa prasasti itu dibuat?

Sebagai informasi awal, Prasasti Sorik Marapi ditemukan 1891, masa kolonialisme ketika perkebunan kopi telah mencapai puncaknya di kawasan Asisten Residen Angkola-Mandailing. Pada masa itu, Tano Bato, kota terdekat dari Gunung Sorik Marapi, sampai-sampai memiliki 22 PAL gudang kopi yang akan diekspor ke Eropah melalui Pelabuhan Pantai Barat.

Salah satu prasasti Sorik Marapi

Kolonialisme Belanda memang bukan hanya membawa ahli-ahli demografi, perkebunan, sosial budaya, agama, tetapi mereka juga membawa arkeolog dan antropolog ke daerah jajahan. Tentu saja maksudnya, selain untuk memahami tanah jajahan, juga untuk membuka kemungkinan peluang-peluang bagi keuntungan kolonialisme. Karena itulah prasasti ini ditemukan. Penemuan itu lebih awal dibanding penemuan candi Simangambat tahun 1920 oleh Schnitger. Prasasti Sorik Marapi kemudian disimpan di Museum Nasional, Jakarta dengan nomor inventaris D 53, D 65, D 83, dan D 84. Prasasti ini menjadi buku terbuka yang menarik para arkeolog dan sejarawan untuk mendeskripsikan kontekstualitas sosial masa itu.

Prasasti D84, misalnya, terdapat tulisan “Swasti çakawarsa atita 1164 bulan asuji suklapaksa trayodasi manggalawāra sana tatakala caitya bhagi sira”. Oleh epigrafis Damais (1911-1966) diterjemahkan sebagai “Selamat tahun saka setelah 1164 bulan asuji paruh terang tanggal 13 hari manggala, ketika bangunan suci diberikan kepada mereka/beliau).

Dari terjemahan tersebut dapat dipahami bahwa:

1) Prasasti itu dibuat tahun saka 1164. Tahun itu diyakini bersamaan dengan tanggal 27 Juli 1242. Menurut kitab “Pararaton”, masa itu adalah masa pemerintahan Anusapati (1227-1248) dari Kerajaan Singosari. Kerajaan itu bukan hanya meluaskan kekuasaannya ke seluruh Jawa, tetapi sampai ke Pulau Sumatera yang ketika itu dibawah pengaruh Kerajaan Sri Wijaya.

2) Ada bangunan suci yang diberikan kepada “beliau”. “Beliau” dalam prasasti tersebut diyakini merujuk kepada Ken Arok yang meninggal tahun 1227. Ken Arok adalah maharaja penting yang membawa kebesaran bagi Kerajaan Singosari dan diyakini sebagai titisan dewa.

Kembali ke asumsi awal, sebuah prasasti pada jamaknya selalu berada di dekat sebuah peradaban penting yang menjadi pusat kerajaan. Kota Yogyakarta misalnya, diyakini lahir dari sebuah peradaban gunung “Merapi”, yakni Kerajaan Mataram Kuno. Peradaban itu punah ketika Gunung Merapi meletus tahun 1006.

Ketika prasasti Sorik Marapi dibuat, tahun 1242 Masehi, sebelum periode kerajaan-kerajaan bermarga Nasution, kerajaan mana yang berperadaban tinggi di lembah gunung Sorik Marapi? Apakah peradaban itu, kalau ada di lembah Sorik Marapi, juga punah karena letusan?

Sebagai catatan, Sorik Marapi meletus pertama tercatat tahun 1830, jauh sebelum itu tentu pernah ada letusan lain tapi tidak tercatat. Karena sekalipun peradaban Mandailing misalnya telah mengenal aksara, tetapi aksara Mandailing tidak pernah digunakan untuk mencatat peristiwa. Sebab, budaya Mandailing lebih kuat dalam tradisi verbal, bukan literasi.

Adanya peradaban penting masa Prasasti Sorik Marapi bukan hal yang muskil. Pada abad 9 – 11 misalnya, atau bahkan disebut sejak abad ke lima, Mandailing sudah menjadi jalur perdagangan penting. Jalur itu disebut menghubungkan Barus – Barumun – Pasaman. Jalur pedalaman itu terkait dengan peran Sungai Batang Gadis, Batang Angkola dan Sungai Barumun sebagai jalur perdagangan penting.

Menurut arkeolog Ari Soedewo, asal kata Mandailing bisa juga terkait dengan kata [mandala]. Mandala adalah diagram berbentuk tertentu sebagai lambang alam semesta dan menjadi tempat meditasi. Jika terkait dengan sebutan “bangunan suci”, nama kawasan Mandala Sena, di Kecamatan Lembah Sorik Marapi, patut menjadi asumsi awal sebagai tempat meditasi dari bangunan suci dimaksud. Setidaknya, Desa Mandala Sena menyimpan jejak penting dalam peradaban prasasti Sorik Marapi. Tentu saja semuanya harus ditindaklanjuti dengan penelitian yang lebih mendalam. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saparuddin Haji Lubis: Strategi 60-10 Hingga Program Kopi Menyelamatkan Petani Karet

    Saparuddin Haji Lubis: Strategi 60-10 Hingga Program Kopi Menyelamatkan Petani Karet

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Membangun Madina itu bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi kuncinya adalah apakah kita semua mau bersama-sama membangun Madina? Itu kalimat calon bupati Madina Saparuddin Haji Lubis yang menjadi perhatian audiens dalam penyampaian visi misi calon bupati sebagai satu dari rangkaian tahapan penjaringan calon kepala daerah yang diselenggarakan PKB Madina […]

  • Jalur Medan-Berastagi Kembali Normal

    Jalur Medan-Berastagi Kembali Normal

    • calendar_month Minggu, 17 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pemilik Bus Rugi Puluhan Juta Pemilik Bus Rugi Puluhan Juta BERASTAGI, (MO)- Jalan Negara jalur Medan-Tanahkaro-Kutacane yang sempat mengalami lumpuh total Jumat ( 15/2), berangsur normal pada Sabtu (16/2). Kerja keras petugas menggunakan alat berat sejak Jumat malam, berhasil membuka jalur utama yang menghubungkan 2 propinsi dan 12 kabupaten ini. Setelah berfungsi normal sekira pukul […]

  • Wakil Bupati Madina, saat menerima tuntutan mahasiswa AMBM saat unjuk rasa. Kamis (20/10)

    Atika Jelaskan Soal Kewenangan Pemerintah Daerah dan Tim Investigasi PT SMGP

    • calendar_month Jumat, 21 Okt 2022
    • account_circle Sahrul Ramadhan Harahap
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (MANDAILING ONLINE) – Dalam sistem negara ini  Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah masing-masing memiliki kewenangan. Oleh karena itu, persoalan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) tak tepat bertumpu ke Pemerintah Daerah. Proyek PLTP di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), adalah proyek strategis nasional. Kewenangan menutup dan […]

  • Potret Buruk Akhlak Remaja Masa Kini

    Potret Buruk Akhlak Remaja Masa Kini

    • calendar_month Kamis, 1 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Radayu Irawan, S.Pt Penulis, tinggal di Padangsidimpuan Rusaknya akhlak remaja masa kini, kian hari kian menjadi. Jika dahulu, orangtua dijunjung tinggi dan disegani, kini malah di-bully. Viral-nya sebuah video remaja di Tapanuli Selatan yang menendang seorang nenek sontak meramaikan media massa. Netizen sangat geram dan kesal menyaksikan video tersebut. Timbul komentar-komentar dengan harapan, remaja […]

  • Kasus Derman Gultom, Bupati Madina Akan Surati Dirjen Pemasyarakatan

    Kasus Derman Gultom, Bupati Madina Akan Surati Dirjen Pemasyarakatan

    • calendar_month Sabtu, 25 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution berharap hukuman pidana dan pemecatan bagi Derman Gultom, pegawai Lapas Natal yang diduga menganiaya Said Rahman anak dibawah umur. Harapan itu dinyatakan bupati menjawab wartawan usai menjenguk anak dibawah umur itu di rumah orangtuanya, Desa Kampung Sawah, Kecamatan Natal, Sabtu (25/9/2021). Sukhari mengutuk keras tindakan […]

  • Asap, 28 penerbangan di Kuala Namu ‘delay’

    Asap, 28 penerbangan di Kuala Namu ‘delay’

    • calendar_month Senin, 3 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Kabut asap yang melanda Sumatera Utara, Minggu, membuat 28 penerbangan dari Bandara Kualanamu tertunda (delay) dan pesawat lain dari Aceh terpaksa mendarat di Kuala Lumpur, Malaysia. “Yah kalau ditotal sejak Minggu pagi hingga pukul 21.00 WIB, ada 28 penerbangan yang terpaksa menunda keberangkatan karena kabut asap sempat membuat jarak pandang di bawah 700 […]

expand_less