Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

KEK, realistis dan ilutif

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 19 Nov 2020
  • print Cetak

 

Peta sebaran KEK yang diupdate Dewan Nasional KEK RI tanggal 17 Februari 2020

Siapapun pasti ingin ada KEK di wilayahnya.

Daerah manapun pasti ingin ada KEK di daerahnya.

Kapitalis macammanapun pasti ingin ada KEK di basis usahanya.

Rakyat manapun pasti setuju ada KEK di kabupaten mereka.

Harapan itu wajar. Keingingan itu alamiah.

Karena KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) akan menguntungkan dari sisi pengembangan ekonomi.

Tetapi, berkhayal dan berilusi justru tidak sehat. Apalagi menghayalkan yang sulit terwujud.

Bahayanya justru ketika kepala daerah berilusi. Lalu memaksa rakyat ikut berilusi.

Ketika pemaksaan itu terjadi, maka bukan saja si bupati yang tidak realistis, rakyat yang termakan ilusi pun akan terjebak pada emosi ilutif.

Lalu, ketika ada pihak yang memiliki rasionalitas dan berpandangan realistis maka akan dituduh tidak  mendukung KEK, tidak mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di sini, akan terjadi bentrok dua kubu : kubu ilutif versus kubu rasional.

Sesungguhnya, yang menetapkan layak tidaknya KEK di suatu kawasan itu adalah Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia. Dewan ini berada di bawah komando Menko Perekonomian.

Daerah dibolehkan mengusulkan daerahnya untuk dijadikan KEK. Tetapi Dewan KEK lah yang menentukan “ya” atau “tidak” KEK di daerah itu.

Bagaimana Dewan Nasional KEK menentukan “ya” atau “tidak” itu?

Setidaknya ada dua unsur yang memberi masukan kepada Dewan Nasional KEK.

Pertama, unsur akademisi. Unsur ini adalah lembaga kajian yang di dalamnya diisi banyak ahli yang melakukan rangkaian penelitian, kajian, survey dan study kelayakan terhadap kawasan-kawasan di Indonesia tentang layak tidaknya dijadikan KEK.

Kedua, unsur bisnis. Unsur ini adalah kalangan pelaku usaha atau investor-investor. Kalangan inilah kelak yang akan menjalankan aktivitas industri dan aktivitas perdagangan di kawasan KEK. Karena esensi utama KEK adalah fasilitas yang disediakan kepada para pelaku usaha.

Artinya, Pemerintah Indonesia tidak akan mendirikan KEK di suatu kawasan jika investor tak mau berinvestasi di KEK itu.

Oleh karena itu, KEK tak bisa ditetapkan semudah membalik goreng pisang.

KEK tak semudah mengolah tipu-tipu administrasi. Karena KEK berhubungan dengan kalangan pelaku dunia usaha. Bisnis itu matematis.

Pelaku bisnis melihat kelayakan KEK itu dari sudut hitung matematis dan memutuskan secara realistis.

Dan Dewan KEK juga wajib melihat KEK dari sudut hitung matematis dan memutuskan secara realistis.

Dan, dari sisi letak geografis tentunya pemerintah Indonesia telah mengkaji jalur perdagangan secara realistis pula.

Sudut pandang realistis pemerintah itu adalah jalur pelayaran Selat Malaka yang berada di Pantai Timur Sumatera.

Di situs resmi kek.go.id  pada sub item Letak Geografis disebutkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki koneksi langsung dengan pasar terbesar dunia dengan Selat Malaka sebagai jalur laut paling aktif di dunia dan menjadi rute utama pelayaran global.

Apakah Batahan di Mandailing Natal (Madina) yang berada di pantai barat layak dijadikan KEK? Tentu Dewan Nasional KEK yang akan menjawabnya.

Saya pernah membayangkan siapapun bupati Madina hasil Pilkada 2020 bisa menyampaikan hal-hal yang realistis itu kepada rakyat. Agar rakyat di Pantai Barat Madina bisa menerima wacana KEK itu secara realistis pula.

NELAYAN

Saya juga membayangkan seandainya Pemkab Madina tidak menutup mata terhadap realita nelayan di Pantai Barat.

Bahwa daratan Pantai Barat itu sudah dikuasai para kapitalis yang memperoleh konsesi lahan untuk perkebunan sawit.

Rakyat asli Pantai Barat sudah bagaikan penonton di tanah sendiri.

Untunglah laut pantai barat tak masuk dalam kekuasaan para kapitalis. Sehingga nelayan masih bebas di wilayah sendiri.

Tetapi, kapal dan fasilitas tangkap ikan masih sederhana. Pun tak didukung fasilitas lainnya seperti pabrik es balok, TPI dan lainnya.

Nelayan di Pantai Barat seolah dibiarkan sendirian karena minim langkah penguatan.

Kondisi itu menyebabkan rakyat nelayan sulit menuju sejahtera. Padahal peluang itu ada sebagaimana nelayan Australia yang hidup makmur.

Seandainya pemimpin daerah memiliki kemampuan dan kemauan yang keras menguatkan nelayan, niscaya rakyat nelayan bisa makmur.

Asalkan ada political will dari pemimpim daerah maka mensejahterakan nelayan itu adalah program realistis yang mudah terrealisasi dalam beberapa tahun anggaran.

Karena penguatan nelayan itu lebih mudah ketimbang menunggu KEK.

Untuk posisi ini, saya melihat Atika Azmi Utammi Nasution,B.AppFin,MFin sangat realistis melihat perioritas pengembangan ekonomi rakyat di Pantai Barat. (Dahlan Batubara)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Satpol PP Tendangi Massa PP

    Satpol PP Tendangi Massa PP

    • calendar_month Jumat, 6 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Terjadi Saat Unjuk Rasa di Dinkes dan Kantor Bupati Unjuk rasa massa Pemuda Pancasila di Dinas Kesehatan Madina dan kantor bupati, Kamis (5/1) pagi, berlangsung ricuh. Massa dan Satpol PP terlibat bentrok. Mereka saling dorong. Seorang pendemo dipukul dengan pentungan. Pendemo lainnya, ditendangi. Ratusan pengunjuk rasa tiba di kantor Dinkes sekitar pukul 11.15 WIB dengan […]

  • Kilau Emas Madina yang Habis Jadi Asap

    Kilau Emas Madina yang Habis Jadi Asap

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Wartawan: Bang Ucok, saya perhatikan tiap sore banyak penambang turun dari bukit bawa hasil. Emas di Mandailing Natal ini kan melimpah. Logikanya, keluarga penambang sejahtera, pasar desa ramai, dan kampung ini cepat maju. Tapi kenapa kelihatannya ekonomi di sini jalan di tempat? Ucok (Penambang Lokal): (Menyesap kopi, tersenyum pahit) Kalau hitung-hitungan di atas kertas, betul […]

  • FPBB: Jalan Di Panyabungan Barat Banyak Yang Rusak

    FPBB: Jalan Di Panyabungan Barat Banyak Yang Rusak

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) : Forum Peduli Panyabungan Barat (FPPB) menyoroti banyaknya kerusakan badan jalan yang rusak berlobang-lobang di Panyabungan Barat, Mandailing Natal, terutama dari titik  Desa Sirambas hingga Longat. Jalan yang rusak juga ditemukan di titik Desa Huta Tonga sampai ke Desa Runding. Kondisi ini berdampak tingginya kost arus barang dan hasil pertanian […]

  • Job Fair Madina Dibuka, Saipullah Imbau Pemuda Tingkatkan Kompetensi

    Job Fair Madina Dibuka, Saipullah Imbau Pemuda Tingkatkan Kompetensi

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Dahlan Batubara
    • 0Komentar

      … PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal Saipullah Nasution membuka Job Fair (bursa kerja) di Gedung Serba Guna Amru Daulay, Panyabungan, Rabu (23/9/20206). Dia menyatakan apresiasi yang tinggi kepada 15 perusahaan yang menyediakan lowongan kerja di Job Fair itu. Saipullah berharap dunia usaha dan pemerintah daerah bisa melanjutkan kerja sama pelaksanaan Job Fair […]

  • Komplek Kantor Direksi PTPN II Dijadikan Lapak Judi

    Komplek Kantor Direksi PTPN II Dijadikan Lapak Judi

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    T Morawa, Tim Operasi Pekat Polsek Tanjung Morawa menggerebek lapak judi dadu di Komplek Kantor Direksi PTPN II, Desa Buntu Bedimbar, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, persis di areal parkir samping Kantin Gedung Puri Lapangan Golf, Kamis (12/05/2011) pukul 17.00 WIB. Dari lokasi itu, petugas hanya mengamankan seorang bandar sekaligus pengoncang dadu, Azhar (51) […]

  • DanaTak Cukup, Kontingen Porsadin Sumut Dimungkinkan Gagal Berangkat ke Tingkat Nasional

    DanaTak Cukup, Kontingen Porsadin Sumut Dimungkinkan Gagal Berangkat ke Tingkat Nasional

    • calendar_month Kamis, 9 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kontingen Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) dari Sumatera Utara dimungkinkan gagal berangkat ke ajang nasional di Pasuruan, Jawa Timur. Kemungkinan gagal itu diakibatkan oleh ketidakseriusan pemerintah daerah menyediakan biaya. Sebanyak 5 orang dalam kontingen yang akan ke tingkat nasional itu berasal dari Mandailing Natal (Madina) yang tampil menjadi […]

expand_less