Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Ari Rayo 1980

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
  • print Cetak

Catatan kecil: Askolani Nasution

Rabu, 13 Agustus 1980

Subuh terdengar nyaring takbir di mesjid. Bertalu-talu dengan suara bedug. Anak-anak berebut memukulinya dengan dua stik rotan yang sudah disiapkan.

“Allohu Akbar Walillahilhamdi….”

Tanpa dibangunkan, aku langsung duduk. Tentu saja, sejak semalaman tak nyenyak tidur karena menunggu hari raya.

Tikar pandan sudah digelar. Karung-karung berisi beras juga sudah ditata rapi. Ada atau tidak yang datang, tikar tetap digelar. Tidak satu dua, bisa lebih. Seolah-olah kalau Lebaran, siapa saja boleh datang untuk mencicipi alame dan lemang.

Aku berdiri dan melihat lemari. Ah, baju lebaran masih ada. Segera berlari ke mesjid membawa kain basahan dan sabun dalam ember kecil.

Pancuran sudah riuh. Semua yang tak biasa mandi pun, pagi itu mendadak mandi. Aku juga mesti dan sigap. Karena kakak dan abang juga menunggu sabun kami satu-satunya. Namanya anak paling kecil, aku diberi prioritas untuk pengguna pertama. Dan karena lebaran, sekali setahun kami pakai sabun mandi wangi. Tidak seperti biasa, hanya sabun batang yang dipotong dua bagian.

Selesai mandi, langsung menyorong baju baru. Ah, kebesaran ternyata. Karena Emak sengaja membeli ukuran untuk dua kali lebaran. Tentu saja, belum tentu tahun depan Emak sanggup membeli baju baru lagi.

Aku langsung menyelami Emak yang sudah berkemas sejak subuh tadi. Ketika aku menyorongkan tangan, Emak langsung memelukku.

“Ma nagodangan ko, Amang,” cetus Mak, seakan-akan untuk memuji dirinya sendiri. Tentu saja, ketika Ayah meninggal, aku aku belum lancar berbicara. Tiba-tiba sekarang sudah bisa menyebut maaf

Tak berlama-lama dalam kesedihan, Emak langsung menarikku makan. Harus makan katanya sebelum sholat Id. Lalu Emak mengambil gulai ayam, pahanya yang paling besar.

Dari mesjid terdengar pesan untuk membawa tikar ‘amparan’. Tentu karena kami sholat Id di tanah lapang. Emak sigap menarik beberapa tikar.

“Ayo,” kata Emak. Aku membawa tikar pandan yang lebih kecil. Emak membawa dua yang lebih besar. Sesekali aku menurunkan tikar karena kain sarungku melorot.

Anak-anak lain bersisihan jalan. Mereka juga bersama Ayah Ibu mereka. Semua tentu berbaju baru dan pakai minyak wangi. Wangi minyak merembes sepanjang jalan yang kita lalui.

Beberapa orang seusia abang dan kakak kita tentu memuji baju baru yang aku pakai. Ada yang sambil mencubit pipiku. Emak tertawa saja. Cubitan juga tanda sayang di kampung kami.

Gadis-gadis bergaya dengan sandal merek Lily. Tentu juga para pemuda dengan model yang berbeda. Juga dengan pangkas barunya. Tak lupa juga minyak rambut merek Lavender yang dibeli secuil semalam.

Anak gadis bergaya. Selendang mereka hanya dililitkan di bahu. Bahkan ada yang pakai sal yang dirajut sendiri selama ramadhan. Rambut ikal mereka dibiarkan tergerai. Rambut ikal dianggap modis. Itu jauh sebelum ada shampoo Sansilk yang menyebut cantik itu rambut hitam lurus tergerai.

Bahkan beberapa pemuda sengaja mengkritingkan rambut mereka. Meniru Ahmad Albar dan Junaidi Salat, pemeran film “Ali Topan Anak Jalanan.” Tapi celana mereka malah meniru gaya Arafiq, penyanyi dangdut dengan mode celana yang khas.

Anak-anak tentu juga dengan pangkas baru. Kemarin sampai malam tukang pangkas masih melayani banyak orang. Karena semua ingin bersih sekali setahun saat lebaran. Dan tentu juga pakai minyak rambut. Setidaknya dari santan kelapa. Tangan mereka juga diolesi santan, biar kesannya glowing.

Selesai sholat Id, anak-anak berebut jajan makan pecal, soto, dan cendol. Riuh. Penjualnya sigap melayani. Satu porsi hanya 25 perak. Dan hari itu, semua anak ingin memakan apa saja yang dijual, karena hanya sekali setahun mereka dikasih uang jajan lebih.

Tak lupa berkunjung ke rumah guru-guru. Salaman dan memohon maaf, sambil makan lemang yang diseduh dengan cytroop. Enak betul, legit dan manis. Warna merahnya menggoda. Belinya masih per sloki.

Ada juga mainan pistol air. Harganya 75 perak. Semua mendadak punya pistol air. Di isi dengan air atau gincu. Tentu kalau gincu tak boleh kena baju. Karena kita sayang betul dengan baju baru kita. Padahal anak-anak suka main perang-perangan.

Muda-mudi tentu berbeda. Mereka ingin nonton bioskop ke Panyabungan. Ramai menunggu angkot bermerek “Mandailing”. Anak muda naik ke atap angkot, atau bergayutan di tangga belakang, atau naik truk terbuka. Jalanan hilir mudik kenderaan.

Ada juga tukang foto keliling. Anak-anak gadis bergaya. Cetaknya setelah seminggu habis lebaran. Tidak afdol kalau berfoto tidak latar bunga. Karena itu, yang punya bunga bogenville di kampung akan menjadi sasaran objek foto. Eh, begitu dicetak, ternyata negatif filmnya terbakar. Padahal, itu foto sudah diniatkan jadi oleh-oleh buat pacar yang pulang kampung. Akhirnya hanya dikasih saputangan dan selembar surat kertas wangi.

4 x 4 = 16

Sempat tidak sempat harus dibalas.

Begitu surat itu ditutup sambil belajar membuat tanda tangan. Bangsat!

Poster bioskop bertebaran. Anak-anak berebut poster yang ditebar dari truk terbuka. Truk itu, sambil memajang poster besar di dindingnya, juga membagikan poster di setiap keramaian kampung, juga tanpa henti mengumumkan dari mic toa mereka tentang film yang akan tayang sepanjang hari hingga malam.

“Saksikan malam ini, duel seru antara Amitabachchan dengan Amjad Khan. Film Naseeb. Bersama Hema Malini. Jangan ketinggalan,” kata reporternya seakan-akan reporter bola di tv.

Kami anak-anak hapal nama-nama aktor India, sekalipun tak pernah menonton. Tentu karena poster-poster itu. Bahkan kami selipkan di buku pelajaran. Ada Amitabachchan, Darmendra, Rishi Kapoor, Sashi Kapoor, Jetendra, Sunil Duut, Rajesh Roshan. Ada juga Hemamalini, Jeenat Aman, Sharmila Tagore, Dimple Kapadia, dll. Poster film mereka selalu menarik dan bergaya.

Beberapa anak berkelahi. Tapi sesaat saja. Segera berteman lagi. Tidak ada musuhan sampai berhari-hari. Orang gampang berkelahi dan gampang juga berdamai. Tidak ada dendam yang disimpan.

Beberapa anak naik sepeda ke kampung tetangga. Tentu keluarga yang punya sepeda saja. Kalau bukan sepeda ontel, ya sepeda merek Phoenix yang sangat terkenal waktu itu.

Seharian kita bebas bermain. Bahkan Emak tak risau kalau kita tak pulang makan siang. Bukankah banyak jajanan di hari lebaran?

Beberapa bahkan ke sawah, mandi di kolam. Berkejaran atau adu cepat berenang. Tentu dengan telanjang karena baju baru tak boleh kumal.

Mandi tak pakai sabun juga tak mengapa. Siapa peduli odol merek Delident? Bahkan anak gadis tak peduli ada shampoo Sunsilk berbentuk bubuk layaknya Rinso.

Anak muda bersiul lagu-lagu India sambil menghisap rokok Commodore, Kansas, atau Lovely. Kalau dapat Gudang Garam merah sudah kren rasanya.

Selama lebaran Emak makan sendiri di rumah. Sekarang, ketika Emak sudah tiada, kita yang makan sendiri sambil mengenang masa kecil yang indah bersama Emak.

Ada orang-orang yang pulang kampung. Kita hanya ingin pulang ke masa kecil bersama Emak. Tapi kenangan memang hanya bisa melongok masa lalu, ia tak pernah punya jalan untuk bisa benar-benar kembali.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setelah Di Demo Guru, DPRD Akan Bahas 11 Ranperda

    Setelah Di Demo Guru, DPRD Akan Bahas 11 Ranperda

    • calendar_month Rabu, 11 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 10Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setelah didesak aksi unjuk rasa ribuan guru bersertifikasi, kini DPRD Mandailing Natal (Madina) segera menjadwalkan pembahasan 11 Rancangan Peraturan Daerah (ranperda). Salah satu ranperda itu adalah Ranperda Biaya Operasional Sekolah Daerah (Bosda). Perda Bosda itu sangat dibutuhkan sebagai payung hukum pencairan Bosda yang sudah tertahan lama di APBD 2013 akibat belum […]

  • Tiang Listrik di Tengah Jalan Bernilai Proyek 1,5 Miliar itu Akhirnya Dipindahkan

    Tiang Listrik di Tengah Jalan Bernilai Proyek 1,5 Miliar itu Akhirnya Dipindahkan

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Akhirnya ULP PLN Panyabungan pindahkan tiang listrik yang berada di tengah jalan Pagur-Panyabungan di Kecamatan Panyabungan Timur, Madina. Melalui Andy Yusuf Situmeang dari ULP PLN Panyabungan mengatakan pihaknya telah selesai memindahkan tiang tersebut. Keterlambatan pemindahan tiang karena masa siaga 17 san listrik tidak bisa padam. Ia juga mengungkapkan terkait biaya pemindahan […]

  • Fraksi Golkar Tantang Bupati Buat Perbup Salat Berjamaah untuk ASN

    Fraksi Golkar Tantang Bupati Buat Perbup Salat Berjamaah untuk ASN

    • calendar_month Senin, 6 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution pada apel pagi, Senin (29/11) menyampaikan akan membuat Peraturan Bupati (Perbub) yang mengatur siswa SD dan SMP salat Subuh berjamaah minimal satu kali dalam sepekan. Menanggapi hal itu Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) memberikan tantangan kepada Bupati Sukhairi membuat […]

  • Sungai Barumun dan Sosa Meluap, Ratusan Rumah Terendam

    Sungai Barumun dan Sosa Meluap, Ratusan Rumah Terendam

    • calendar_month Minggu, 17 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PALAS, (MO) – Dua sungai besar di Palas yaitu sungai Barumun dan Sosa, serta sungai kecil sungai Galanggang, sungai Sihoping meluap secara bersamaan Kamis malam (14/2) sekitar pukul 23.00 WIB. Akibatnya, ratusan rumah di sekitar aliran sungai terendam. Pantauan wartawan Kamis malam sekitar pukul 23.00 WIB, pasca hujan turun deras yang mengguyur Palas sekitar 3 […]

  • Negara, Judi Online, dan Kolonialisasi Kesadaran

    Negara, Judi Online, dan Kolonialisasi Kesadaran

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Ketika yang Dipertaruhkan Bukan Lagi Uang, Tetapi Manusia Itu Sendiri Di permukaan, judi online tampak seperti sekadar kriminalitas digital: situs ilegal, transaksi gelap, promosi vulgar, dan ledakan korban ekonomi rumah tangga. Negara pun terlihat sibuk. Situs diblokir. Rekening dibekukan. Konferensi pers digelar hampir setiap pekan. Tetapi semakin dalam fenomena […]

  • DPRD Minta Tunta Penerbitan HGU Kepada PT Randy

    DPRD Minta Tunta Penerbitan HGU Kepada PT Randy

    • calendar_month Senin, 18 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    foto gedung DPRD Madina PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Ilyas Siswadi meminta pemkab menunda penerbitan HGU kepada PT. Rendy Permata Raya sebelum status lahan tuntas. Pasalnya, kondisi di lapangan diduga terjadi tumpang tindih lahan antara yang diklaim perusahaan itu dengan lahan Trans Singkuang di Kecamatan Muara Batang Gadis. […]

expand_less