Senin, 21 Sep 2026
light_mode

MERDEKANYA YANG MERDEKA

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 16 Agt 2024
  • print Cetak

Cerpen: Rina Youlida Nurdina

Duaarrrrr….

“Yeeyyy..mantap! Mantap! Sekarang coba giliranmu.”

Tupp…

“Hahaahaa…..”

Na bantat do mariammu. Songon ami puna on mantong na paten. Menyalaaa bestie.”

“Hhmmm..” sejak kemarin sore, aku merasa terganggu dengan suara bising dari aktifitas anak-anak di desaku yang beramai-ramai memeriahkan hari kemerdekaan. Bisa-bisanya mereka memainkan meriam tepat di samping kamar tidurku. Jelas saja aku jadi sangat terganggu. Kalau meriamnya bagus, suaranya meletus dengan keras, sementara yang masih pemula tak jarang jadi bahan ledekan karena meriamnya hanya seperti suara kentut saja. Pasti suara terbahak-bahak akan menggelegar mengejeknya.

Memang belum puncaknya di 17 Agustus, namun sudah seminggu ini ada banyak kegiatan yang diadakan pihak kecamatan, pemerintahan desa, juga Naposo Nauli Bulung sebagai ritual tahunan yang selalu dilakukan sebagai wujud rasa bangga atas kemerdekaan yang telah diraih. Suntuk dengan suara bising itu, akhirnya aku memutuskan keluar saja melihat-lihat keramaian yang ada di seberang rumahku. Ya, ada lapangan sepak bola di sana.

Pemandangan di lapangan sepak bola yang biasanya hanya ramai saat anak-anak bermain bola sore hari kini berubah. Hiruk pikuk ibu-ibu yang berjualan di sekeliling lapangan dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya berharap ada rezeki yang lebih untuk mereka dari dagangannya. Air es aneka rasa dan warna, bakso tusuk, martabak mini dan banyak lagi jenis jajanan yang dijajakan, mampu menarik minat warga untuk menikmatinya. Harganya tidak ada yang mahal, sesuailah untuk kantong anak-anak yang hanya dibekali uang jajan dua ribuan saja oleh orang tuanya.

Di tengah lapangan aku melihat  sebatang pinang berdiri kokoh. Bedanya sudah dilumuri oli bekas yang warnanya pasti kehitaman dan terpajang beragam hadiah di puncaknya. Bahagia betul nanti siapa yang bisa meraih hadiahnya pertama kali. Dilain sisi, ada yang tengah melakukan perlombaan lari goni, yang akan disusul dengan pertandingan lainnya seperti lomba makan kerupuk, memasukkan belut kedalam botol dan banyak lagi. Seru sekali melihatnya. Suara sorakan dan tawa terdengar di seluruh area lapangan itu.

Aku tidak mau dibilang iri karena tidak mengikuti satupun dari kegiatan itu. Dulu aku sangat jago panjat pinang, lomba lari goni, dan lain sebagainya. Hanya saja sekarang aku sudah tidak sekuat dulu dan aku tidak mampu lagi mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Sekarang Aku hanya bisa berperan sebagai penonton saja. Ya, namanya juga harus ada penerus, jadi sekarang sudah bukan eraku lagi.

Merdeka! Merdeka!

Apa sebenarnya makna kemerdekaan? Diusiaku yang sudah berkepala 5 ini, rasanya aku belum menemukan makna merdeka sesuai yang kuharapkan. Ok, aku akan bertanya saja pada orang-orang di sekitar lapangan ini, mana tahu ada jawaban yang mengena dihatiku, hitung-hitung menghabiskan waktu sore ini tanpa harus duduk di kursi roda seharian. Biarlah tongkat ini yang menemaniku menjelajahi lapangan ini walau dengan langkah yang tak bisa cepat lagi, ‘akan kutemukan jawabannya’, lirihku dalam hati.

Dengan pertanyaan yang sama aku mulai menanyakan “apa makna merdeka bagi kamu?”

Di tepi lapangan, sambil menonton kemeriahan acara, Ompung Oji  dengan kain sarung kotak lusuhnya, duduk dengan satu kakinya bersila dan satunya lagi ditekuk sebagai sandaran tangan kanannya sedang menikmati sepucuk rokok tembakau yang dibalut dengan pusuk menjawab “on maia na mangolu on. Masih bisa aku merokok dan menikmati goreng panas dengan sekepal ketan setiap pagi tanpa ada lagi yang merongrong minta jatah harta warisan, merdekalah sudah hidupku”.

“Kalau kutengok lembaran merah bergambar Soekrno Hatta tersenyum berbaris rapi di dompetku, merdekalah aku, hilang asam lambungku dan ringan kepalaku,” jawab Umak Butet.

Ayu, si gadis desa yang jelita menjawab, “kalau rumah sudah rapi semua, gak ada lagi pakaian dan piring kotor, uang jajan cukup serta punya pacar ganteng dan tajir, pasti Ayu merasa merdeka yang sesungguhnya”.

Tak lupa aku tanyakan juga pada Kodir, kepala desa yang baru saja dilantik. Ia pun menjawab bahwa merdeka baginya adalah ketika dalam sehari saja ia tidak mendengar suara repetan istrinya, terhidang makanan lezat di meja makan dan bisa jalan-jalan keluar kota, maka itu merdeka yang diidamkannya.

Tak sampai disitu saja. Etek Yanti bilang bahwa merdeka baginya adalah ketika ia masih mampu memberikan  setiap kali anaknya meminta uang untuk jajan, walau hanya dua ribu rupiah saja. Hatinya sakit seperti dijajah ratusan penjajah dan ditembak peluru tajam ketika tak ada yang bisa ia berikan untuk anaknya.

Sementara Kiara menjawab, merdeka baginya adalah saat ia memiliki keberanian penuh dengan perjuangan yang sangat sulit untuk mengambil keputusan bisa lepas dari cengkraman suami yang toxik dan tempramen walau ia harus menyandang gelar janda yang akan banyak menerima gunjingan tak sedap dari masyarakat, namun hatinya damai dan bahagia.

“Jika aku punya ATM yang isinya unlimited, bisa perawatan ke salon kecantikan kapanpun aku mau dan bisa menyekolahkan ke enam anak-anakku setinggi-tingginya, aaahhhh…merdekanya lah hidupku,” jawab Kardina yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sementara Ucok, si bocil kelas empat SD menjawab dengan lantang merdeka baginya adalah saat ayah ibunya memberi kebebasan bermain HP seharian dengan kuota data yang penuh dan full jaringan internet di tambah uang saku yang banyak untuk bisa jajan sepuasnya.

Hmmmm…sebaiknya aku pulang saja dan tidak melanjutkan lagi pertanyaanku ini. Ternyata merdeka bagi mereka bukanlah lagi soal adanya penjajah yang hendak menguasai negeri ini. Tapi merdekanya mereka adalah hal apa yang dapat membuat mereka merasa bahagia. Yaa, sesimpel itulah jawabannya.

Bahagia!

Aku juga akan memerdekakan diriku sendiri dari pikiranku selama ini yang menjerat erat kehidupanku. Jika aku bisa lebih bersyukur dan memaknai keindahan hidup ini, tak akan kusesali akibat perbuatanku yang lalai sehingga kini aku hanya bisa berjalan dengan bantuan tongkat kayu ini. Aku merdeka, aku merdeka. Akan kutanamkan itu dalam hatiku.

Sekarang rasanya hatiku sangat lapang dan aku bisa tersenyum manis pada siapapun yang ada di sekitarku.*

foto grafis: Naufan Noordyanto

Rina Youlida Nurdina adalah cerpenis / tinggal di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara / guru Bahasa Indonesia

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harimau Sumatera Mendekati Pemukiman di Tambangan

    Harimau Sumatera Mendekati Pemukiman di Tambangan

    • calendar_month Kamis, 15 Mar 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      TAMBANGAN (Mandailing Online) – Seekor diduga Harimau Sumatera berkeliaran di sekitaran pemukian 3 desa Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal sejak Rabu (14/3/2018). Jejak kaki harimau itu menimbulkan ketakutan di kalangan warga Desa Tambangan Jae, Tambangan Tonga dan Desa Simangambat sejak Rabu hingga Kamis terutama bagi warga yang hendak ke kebun dalam aktifitas menyadap karet. Informasi […]

  • Terpenting Pemuda Turut Andil Membangun Madina

    Terpenting Pemuda Turut Andil Membangun Madina

    • calendar_month Jumat, 12 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua KNPI Mandailing Natal (Madina) Khairil Amri yang baru saja dilantik menyebutkan pengurus tidak berharap banyak selain pemuda turut andil dalam membangun daerah. “Kami tidak berharap banyak, yang terpenting pemuda bisa turut andil dalam pembangunan Madina dan bisa dirasakan kesejahteraan seperti cita – cita kemerdekaan,” katanya dalam sambutannya, Jumat (12/8). Pelantikan […]

  • Kelulusan SMP/MTs di Madina 99,89 %

    Kelulusan SMP/MTs di Madina 99,89 %

    • calendar_month Senin, 3 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs tahun ini di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mencapai 99,89% dari jumlah peserta sebanyak 8.317 siswa. Demikian disampikan Kepala Bidang Dikmenujur Dinas Pendidikan Madina, Iwan Efendi Harahap, S.Pd. SH kepada wartawan usai menyerahkan hasil UN kepada setiap kepala sekolah, Sabtu (2/6) sore. Iwan mengatakan, dari […]

  • DCS Dapil 4 GERINDRA Madina

    DCS Dapil 4 GERINDRA Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 4 GERINDRA Madina

  • Hari Pertama Puasa, Pasar Pabukoan Masih Sepi

    Hari Pertama Puasa, Pasar Pabukoan Masih Sepi

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Hari pertama pasar parbukoan yang digelar di Kota Psp tepatnya di areal City Walk, Senin (1/8) belum terlalu ramai, baik itu pedagang maupun pembeli yang datang. Bahkan sebagian lapak masih belum juga diisi oleh pedagang. Borneo-Tapsel “Masih hari pertama, pedagang juga masih banyak yang belum mengisi lapaknya, makanya hari pertama ini masih agak sunyi,” kata […]

  • Madina Perpanjang Libur Sekolah Hingga 12 Juli

    Madina Perpanjang Libur Sekolah Hingga 12 Juli

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sistem belajar dari rumah untuk TK,SD,SMP/Mts diperpanjang di Madina hingga 12 Juli 2020. Sedangkan untuk SLTA di Sumut mengikuti perpajangan tanggap darurat Covid-19 hingga 7 Juni 2020. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Sahnan Pasaribu kepada wartawan, Jumat (29/5) menyampaikan, perpanjangan di Madina itu ditetapkan dalam Surat Edaran […]

expand_less