Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Mengukur Risiko Gagal “Kampung Pisang”: Antara Jargon dan Fakta Lapangan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum*

 

Program “Kampung Pisang” di Mandailing Natal datang dengan bahasa yang meyakinkan: ada “general check-up” tanah, identifikasi hama dan penyakit, hingga “terapi awal” sebelum pengembangan kawasan. Sekilas, semua terdengar rapi—bahkan ilmiah.

Namun pertanyaannya sederhana: seberapa jauh istilah-istilah itu benar-benar mencerminkan kondisi faktual di lapangan?

Karena dalam banyak program pembangunan, kegagalan jarang dimulai dari niat yang buruk. Ia justru sering berawal dari jargon yang terdengar siap, sementara realitas teknisnya belum benar-benar teruji.

Apalagi ketika program ini sudah ditopang oleh MoU, yang seringkali lebih cepat mengikat daripada memberi ruang untuk mengoreksi.

Diagnosa atau Sekadar Kesan Awal?

Istilah “general check-up” memberi kesan bahwa lahan telah diperiksa secara menyeluruh. Tapi dalam praktik pertanian, pemeriksaan itu tidak cukup dengan observasi umum.

Yang dibutuhkan adalah:

* Uji pH tanah dan kandungan hara,
* Analisis bahan organik, serya
* Pemetaan spesifik organisme pengganggu tanaman.

Tanpa itu, “pemeriksaan” berisiko hanya menjadi kesan awal yang terlihat ilmiah, tetapi belum cukup kuat untuk menopang keputusan besar.

Hal yang sama berlaku untuk istilah “terapi”. Dalam pertanian, terapi bukan metafora—ia harus konkret: pengapuran, perbaikan struktur tanah, penggunaan agen hayati, hingga sanitasi kebun. Jika tidak dijelaskan secara terbuka, maka “terapi” mudah berubah menjadi kata yang menenangkan, bukan tindakan yang menyelesaikan.

Pisang Kepok: Tanaman yang Tidak Sesederhana Narasinya

Pisang kepok sering dipersepsikan sebagai tanaman yang mudah tumbuh. Padahal, di balik itu, ada risiko agronomis yang serius:

* kerentanan terhadap penyakit tanah seperti layu fusarium,
* ketergantungan tinggi pada kualitas lahan awal,
* serta dampak jangka panjang jika salah penanganan di fase awal.

Kesalahan kecil di tahap persiapan tidak berhenti di musim tanam pertama. Ia bisa menjadi masalah berulang yang sulit dipulihkan—bahkan ketika program sudah berjalan.

Di titik ini, optimisme tanpa kehati-hatian justru menjadi pintu masuk kegagalan.

MoU: Mempercepat atau Mengunci?

MoU sering diposisikan sebagai langkah maju—tanda keseriusan kerja sama. Namun dalam praktik kebijakan, ia juga bisa menjadi titik rawan.

Ketika MoU ditandatangani sebelum validasi teknis benar-benar matang, yang terjadi adalah:

* keputusan berjalan lebih cepat dari data,
* komitmen mendahului kesiapan,
* dan ruang koreksi menjadi semakin sempit.

Bagi pemerintah daerah, ini bukan sekadar soal program. Ini soal risiko kebijakan—di mana kegagalan tidak hanya berdampak pada proyek, tetapi juga pada kepercayaan publik.

Jangan Terburu-buru Menjual “Wisata”

Konsep agro-eco-edu-tourism memang menjanjikan. Tapi ia bukan titik awal—melainkan hasil akhir dari proses yang panjang.

Urutannya tidak bisa dibalik:

1. produksi harus stabil,
2. praktik budidaya harus berkelanjutan,
3. nilai edukasi harus terbentuk,
4. barulah wisata punya fondasi.

Jika langsung melompat ke “branding wisata”, yang sering terjadi adalah:

* kebun belum siap,
* pengunjung datang tanpa pengalaman yang kuat,
* dan program perlahan kehilangan arah.

Yang tersisa hanya nama besar tanpa isi yang konsisten.

Mengukur Risiko, Bukan Menolak Program

Tulisan ini bukan untuk menolak “Kampung Pisang”. Justru sebaliknya—untuk memastikan ia tidak gagal karena terlalu cepat merasa siap.

Ada beberapa langkah penting yang layak dipertimbangkan oleh Pemda Mandailing Natal:

Audit teknis independen terhadap kondisi tanah dan hama penyakit.
Uji coba terbatas (pilot project) sebelum perluasan skala.
Transparansi metode “terapi” yang benar-benar dilakukan di lapangan.
MoU berbasis tahapan (milestone), bukan komitmen sekaligus

Langkah-langkah ini mungkin terlihat memperlambat. Tapi dalam banyak kasus, justru itulah cara tercepat untuk menghindari kegagalan yang mahal.

Penutup

“Kampung Pisang” bisa menjadi langkah maju bagi Mandailing Natal. Tapi ia juga bisa menjadi contoh lain dari program yang tampak siap di atas kertas, namun rapuh di lapangan.

Di antara dua kemungkinan itu, satu hal menjadi kunci: keberanian untuk menguji fakta sebelum mempercayai jargon.

Karena dalam pembangunan, yang paling berbahaya bukan rencana yang gagal—
melainkan rencana yang terlalu cepat dianggap berhasil.***

 

*Mandailing Epicentum adalah wadah yang siap untuk terus memberi kritik, motivasi dan support untuk Pemkab Madina.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bantuan 500 Kartu BPJS Kerja: Ilusi Perlindungan atau Jurus Selamat?

    Bantuan 500 Kartu BPJS Kerja: Ilusi Perlindungan atau Jurus Selamat?

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        Oleh: Muhammad Ludfan Nasution Ketua Konfederasi Sarikat Buruh Muslim Indonesia (Sarbumusi) NU Mandailing Natal     Ada yang terasa janggal setiap kali buruh dirayakan dengan angka. Bantuan 500 kartu BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja rentan di Mandailing Natal dari Pemprov Sumut, memunculkan dugaan buruk. Seremoni dalam suasana yang rapi, penuh simbol, dan tentu saja […]

  • TNBG Madina : Kalau Ada Oknum Atasnamakan TNBG Madina Untuk Tambang Emas Ilegal, Segera Laporkan. Tambang Ilegal di Aek Bontar Segera Ditindak

    TNBG Madina : Kalau Ada Oknum Atasnamakan TNBG Madina Untuk Tambang Emas Ilegal, Segera Laporkan. Tambang Ilegal di Aek Bontar Segera Ditindak

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Masih beroperasinya aktifitas tambang emas ilegal dengan menggunakan alat berat jenis excavator di aek bontar Kecamatan Kotanopan yang merupakan kawaaan  Taman Nasional Batang Gadis ( TNBG ) Madina membuktikan Balai TNBG di Madina tak berdaya. Menanggapi hal ini, Kepala Tata Usaha (KTU) Balai TNBG Madina Herbert Aritonang menyampaikan, tidak pernah […]

  • Pengolahan Kakao Bagian 2

    • calendar_month Sabtu, 11 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Fermentasi menggunakan keranjang bambu •Keranjang bambu terlebih dahulu dibersihkan dan dialasi dengan daun pisang baru kemudian biji kakao dimasukkan (keranjang dapat menampung ± 50 kg biji kakao basah). •Setelah biji kakao dimasukkan keranjang ditutup daun pisang. •Pada hari ke 3 dilakukan pembalikan biji dan pada hari ke 6 biji-biji dikeluarkan dan siap untuk dijemur. Perendaman […]

  • Karena Pilpres, Penetapan Tersangka Taman Raja Batu Ditunda

    Karena Pilpres, Penetapan Tersangka Taman Raja Batu Ditunda

    • calendar_month Senin, 21 Jan 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

        MEDAN (Mandailing Online) : Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara belum juga menetapkan tersangka kasus pembangunan Taman Raja Batu dan Tapian Sirisiri di Mandailing Natal. Pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) beralasan tak mau mengganggu  penyelenggaraan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg). “Inikan mau pemilihan pilpres dan pileg, kita tidak mau mengganggu agenda pemerintah […]

  • KPU Tetapkan Hasil: Saipullah-Atika Menang

    KPU Tetapkan Hasil: Saipullah-Atika Menang

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menetapkan perolehan suara pasangan calon (Paslon) pada pemilihan bupati dan wakil bupati Madina, Selasa (3/12/2024) pukul 22.15 Wib di aula kantor KPU Madina. Hadir dalam penetapan perolehan suara Paslon yakni, lima orang komisioner termasuk Ketua KPU Madina Muhammad Ikhsan Matondang, Ketua Bawaslu Madina […]

  • Dana Bergulir di Desa Harus Diteruskan

    Dana Bergulir di Desa Harus Diteruskan

    • calendar_month Rabu, 27 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – Sekalipun Progam Nasional Pembangunan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan akan dilebur ke dalam program pembangunan desa sebagai Dana Desa, kegiatan dana bergulir Simpan Pinjam Perempuan (SPP) seharusnya terus bergulir seperti sebelum-sebelumnya. Selain tidak diperkenankan parkir di tangan pejabat atau staf kator camat, pergerakan SPP mesti harus berdasarkan kelompok. Ketua PDI Perjuangan […]

expand_less